Posts Tagged ‘ sepeda motor ’

Lir ilir

doc

Genap satu minggu ini suasana kampungku sedikit aneh. Semenjak kecelakaan maut di jembatan kecil itu terjadi. Jembatan yang menghubungkan kampung kami dengan kampung sebelah. Sebuah sepeda motor terjungkal masuk ke dalam sungai. Kecelakaan ini menyebabkan pengendara motor meninggal dunia di tempat kejadian. Dan sejak itu, perasaan kami dihantui rasa yang serba tak enak. Mungkin itu hanya perasaan-perasaan yang kami ciptakan dan kami kembangkan sendiri. Perasaan takut berlebihan yang memunculkan cerita-cerita di luar logika.

Sore itu, ketika aku berada di warung Mak Inah untuk membeli sabun, banyak warga yang mulai bercerita mengaku mendengar suara aneh saat melewati jembatan. Ah, seperti sudah menjadi tradisi, warung adalah salah satu tempat untuk berbagi kisah dan cerita. Tempat pertama sebuah berita diluncurkan dan kemudian berkembang dengan cepat. Inilah yang membuatku sedikit khawatir jika Ibu berbelanja di warung sendirian. Alhasil, aku mengalah untuk membantunya berbelanja segala sesuatu keperluan rumah tangga. Meskipun aku anak lelaki dan anak satu-satunya di keluarga, rutinitas belanjaku bukanlah hal yang luar biasa bagiku. Inilah salah satu bentuk cinta kita pada orang tua.

“Mas Arya, semalem kita denger lagi hantunya, hiii…” kata Udin, bocah sepuluh tahun yang tinggal tak jauh dari rumahku.

“Hmm, hantu apa, itu cuma kuping kamu aja yang salah denger,” jawabku mencoba menenangkan.

“Iya kok Nak Arya, saya juga pernah denger lho pas pulang dari kerja, padahal itu baru jam tujuh malam, masak hantunya sudah keluar,” sambung Bu Mila tak mau kalah.

“Terus terang saya belum pernah dengar Bu, ya semoga itu bukan apa-apa,” kataku sambil tersenyum. Ibu-ibu yang lain pun mulai menimpali dengan berbagai dugaan, perkiraan, serta pertanyaan yang jawabannya mereka reka sendiri.

Memang aku belum melewati jembatan kampung di malam hari sejak kecelakaan maut itu. Meskipun aku anak lelaki, tapi aku tak hobi keluar malam seperti pemuda pada umumnya yang hanya sekedar nongkrong di warung. Paling keluar malam hari untuk pertemuan karang taruna atau menemani Bapak menghadiri pertemuan warga. Kuliah juga tak membuatku pulang malam karena memang jarak kampus dengan rumahku tak seberapa. Terjangkau dengan angkutan umum pula.

Mungkin karena aku anak Pak RT di kampung ini, warga menganggap aku juga harus bertindak bagaimana agar hantu, setan, atau apalah itu bisa pergi dan tidak mengganggu. Meskipun dalam lubuk hati yang terdalam, aku sendiri masih ragu, apa benar ada makhluk halus yang menghuni jembatan itu dan mengganggu? Apa itu hanya ketakutan warga saja yang berlebihan usai insiden kecelakaan maut kala itu? Jelas-jelas setan itu aneh benar. Biasanya hal-hal sejenis itu munculnya tengah malam. Tapi di kampungku kini jam tujuh malam sudah terasa sepi. Mereka takut keluar rumah karena pada jam sekitar itulah suara-suara aneh mulai terdengar. Lagipula menurut pengakuan beberapa warga yang telah mendengarnya, suara itu mirip dengan nyanyian lagu Lir Ilir. Lagu dengan bahasa Jawa yang sarat akan makna. Masak iya, setan menyanyikan lagu Lir Ilir? Otakku tak mampu mencernanya.

Warga mungkin sudah menambah dan mengurangi informasi sebenarnya yang entah bermula dari siapa. Beredar kabar bahwa korban kecelakaan meninggal adalah seorang sinden. Meskipun pada kenyataannya kita tidak mengenal siapa dia karena bukan warga kampung kami maupun kampung sebelah. Dia meninggal dalam keadaan yang tak wajar sehingga arwahnya gentayangan. Berdiam diri dan menjadi penunggu jembatan. Menyanyi sesuka hati karena itu hobi atau pekerjaan selama hidupnya. Suaranya yang melengking membuat hati siapa saja yang mendengarnya berdesir dan merinding. Tak peduli atau mungkin tak tahu jika hal itu meresahkan warga. Arwah gentayangan baru, belum tahu bahwa yang dilakukannya tetap mengerikan dari sudut pandang manapun. Mungkin demikian pikiran dan asumsi yang berputar di benak warga.

Warga tak ada yang berani melewati jembatan itu setelah sholat isya’. Bahkan tak ada lagi yang nongkrong di warung seperti biasanya. Mereka lebih banyak belajar Al Quran di mushola atau di rumah masing-masing. Mereka percaya bahwa munculnya hantu dadakan ini untuk menyampaikan pesan kepada warga kampung yang mulai luntur ibadahnya. Yah, setiap orang memiliki pemikiran masing-masing. Meskipun aku juga menjadi rajin mempelajari makna di balik lagu Lir Ilir, tapi aku tak menjadikan hantu itu sebagai pembawa pesan atau apalah itu.

Cerita-cerita yang berkembang di masyarakat membuatku semakin penasaran. Aku harus mengambil tindakan. Aku tak peduli bagaimana rupa setan itu. Aku tak peduli sekacau apa suaranya saat menyanyikan lagu yang warga bilang mirip Lir Ilir itu. Aku tak peduli.

Sudah tak sabar aku menunggu datangnya malam. Setan ini benar-benar menarik perhatianku. Aku tak bicara pada siapa pun tentang rencanaku untuk menemui setan jembatan, takutnya malah akan jadi tontonan.

Setelah sholat isya’, aku putuskan untuk tetap berada di mushola. Beberapa warga juga masih tetap di sana belajar Al Quran. Aku menyendiri. Mempersiapkan segala hal mulai dari mental hingga materi. Melafalkan ayat-ayat Al Quran untuk memastikan tidak ada bacaan yang tercecer saat aku menghadapi setan itu sebentar lagi, seorang diri. Mulai dari Al Fatihah hingga ayat kursi terus menerus bibir ini menekuni. Rencananya aku akan mulai bergerilya beberapa puluh menit lagi.

Suasana kampung makin terasa sepi. Dinginnya malam sedikit menggetarkan nyaliku. Tapi ini bukanlah rencana yang dengan sembarangan aku putuskan. Aku harus melakukan ini. Demi kampungku. Aku raih setang sepedaku dengan penuh keyakinan. Kugenggam erat-erat untuk melawan dingin juga. Jalan setapak gelap mulai kujelajahi. Benar, ini baru pukul tujuh lebih setengah, tapi sepinya seolah-olah seisi kampungku musnah. Warung Mak Inah sudah tutup. Langkahku mulai ragu-ragu, apa yang kulakukan saat ini aku mulai tak tahu. Tak yakin. Mau maju otakku sudah mulai terganggu, mau mundur tak terasa jembatan itu sudah ada di depanku. Tanggung. Ingatanku mulai memutar kembali cerita-cerita warga kampung. Cerita-cerita yang sudah ditambah dan dikurangi dari bibir ke bibir. Cerita yang semakin panjang semakin menyeramkan kisahnya. Bagaimana jika bentuknya mengerikan? Bagaimana jika suaranya lebih mengerikan? Tegang.

Kakiku menapak perlahan di papan jembatan setelah kuletakkan sepedaku begitu saja. Gelap. Jembatan ini begitu kuat. Meskipun yang menjadi penahan kaki kami adalah susunan papan dari kayu, tapi rangka yang menahan di bawahnya terbuat dari besi baja. Umurnya lebih muda lima tahun dariku. Jadi kira-kira usia jembatan ini 12 tahun kurang 2 bulan.

Gemercik aliran sungai yang tak begitu deras mengiringi langkahku. Tak kurasakan sedikitpun keanehan atau keseraman seperti dalam cerita-cerita warga beberapa hari ini. Semua tampak dan terasa biasa saja. Dingin memang, gelap memang, tapi tak ada tanda-tanda munculnya setan atau nyanyian Lir Ilir itu. Aku berdiri di tengah jembatan. Kulongokkan kepalaku ke sungai. Udara dingin lama-lama terasa segar di kepala. Baru kali ini malam-malam aku berdiam diri di jembatan. Meskipun misi utamanya adalah menemui penunggu jembatan yang katanya ada itu, tapi aku mulai menikmati kesunyian ini. Dan yang paling menyenangkan adalah sepertinya setan itu tak muncul.

“Ah, sepi gini, katanya ada setan,” gumamku.

Tiba-tiba suara aneh terdengar. Bukan nyanyian yang seperti diceritakan warga. Tapi lebih seperti gesekan. Aku mulai panik tapi tetap berusaha tenang. Jadi aneh gerakan dan mimik wajahku saat itu, mungkin. Aku mundur beberapa langkah hingga kaki ini tak lagi menapak di papan jembatan. Sebuah kebun kecil yang berada di dekat jembatan kini menjadi sasaranku. Suaranya semakin jelas terdengar. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitku. Padahal udara begitu dingin dan gerakannya lumayan aktif. Suaranya bersumber tepat di atas kepalaku sekarang. Jelas sekali kudengar. Bagaimana ini, apa aku harus lari?

Kepalang tanggung jika aku lari. Akan aku hadapi apapun itu. Kuberanikan diri untuk melongok ke atas. Memastikan ada apa sebenarnya di atas sana. Dengan cepat-cepat kuhadapkan kepalaku ke atas. Entah karena terlalu berani atau justru takut.

“Hah? Tak ada apa-apa?”

Kurogoh saku celanaku. Kukeluarkan sebuah senter kecil sebagai sumber cahaya. Tepat di samping kananku berdiri sebuah pohon pisang. Aku arahkan lampu senterku ke atas. Suara itu selalu terdengar tepat ketika udara yang bergerak aktif berhembus membelai tubuhku. Dan aku temukan sumber suara itu. Daun pisang yang saling bersinggungan karena angin malam.

“Sial, daun pisang rupanya,” gumamku.

Udara dingin semakin menyeruak ke dalam tulangku. Kuputuskan untuk kembali ke rumah. Kesimpulannya, tak ada arwah gentanyangan seperti dalam cerita warga kampung. Mungkin mereka memiliki khayalan yang terlalu tinggi hingga berhalusinasi atau berfantasi.

***

Langit tanpa awan mendung bergantung menaungi kampungku pagi ini. Cerah. Secerah hati dan pikiranku. Setelah semalam aku berdiam diri menjelma menjadi “penunggu jembatan” tanpa bertemu penunggu jembatan asli yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Aku yakin tak ada yang perlu ditakutkan lagi untuk melewati jembatan itu di malam hari. Aman.

Tak sabar aku ingin segera menyebarkan kabar gembira ini pada warga. Dengan alasan membeli kopi aku berpamitan pergi sebentar pada Bapak. Aku berniat pergi ke warung Mak Inah. Berharap banyak ibu atau bapak yang bisa kuajak berbagi cerita positif ini di sana. Ya, warung yang sudah seperti kantor berita dan menjadi pusat bertukarnya informasi. Aku membayangkan cerianya wajah mereka nanti setelah mendengar ceritaku. Mereka dapat melewati jembatan itu kapan saja mereka mau. Tanpa rasa was-was atau takut karena harus mendengar lagu Lir-Ilir yang tak jelas siapa yang menyanyikan di jembatan.

Kukayuh kereta anginku dengan kencang. Entah karena suasana hatiku yang sangat baik atau memang aku sudah benar-benar tak sabar membagi kegembiraan yang membuncah di hati ini. Ah, keduanya sepertinya sama saja.

Aku mulai memasuki jalan setapak yang kondisinya cukup baik untuk ukuran kampung dengan perlahan. Biasanya anak-anak kecil berlarian sepanjang jalan ini untuk mengejar layang-layang yang terputus benangnya. Aku tak mau laju sepedaku berakibat fatal nantinya. Kira-kira dua puluh meter lagi sampai di warung Mak Inah, seorang anak kecil yang juga mengendarai sepeda mengejutkanku dari arah berlawanan. Aku tak sanggup menghindar karena laju sepedanya begitu kencang.

Braaaak!

Kami berdua terjatuh bersama sepeda kami masing-masing. Dia tampak kesakitan dan ketakutan. Aku dekati dia untuk memastikan tak ada luka serius di badannya.

“Kamu terluka?”

Nggak kok Mas, sa… sa…saya minta maaf Mas,” katanya dengan ketakutan.

Aku tersenyum. Ternyata anak ini menyadari kesalahannya. Itu sudah cukup bagiku.

“Lain kali hati-hati ya, jalan ini kan sempit, untung Mas-nya cuma naik sepeda, nah kalau motor, bahaya kan,” kata Pak Hasan yang baru kusadari kehadirannya. Beberapa warga kampung sudah mulai berkumpul untuk menolong kami.

“Iya Pak, maaf, soalnya saya terburu-buru,” katanya sambil beranjak berdiri.

“Rumahmu dimana?” lanjut Pak Hasan.

“Saya, Kampung Pandan Pak.”

“Memangnya mau kemana Dek?” tanyaku

“Mau ke jembatan Mas.”

“Jembatan???”

“Iya Mas, sepertinya senter saya ketinggalan di bawah jembatan,” jawabnya sambil membersihkan tanah yang melekat di celananya.

“Senter?”

“Eh, iya senter Mas, akhir-akhir ini kan saya sering ke sana, belajar.”

“Belajar?”

“Iya Mas, ada tugas dari Bu Guru nyanyi lagu Lir Ilir di sekolah, kalau latihan di rumah keluarga saya pada protes Mas, berisik katanya, yah memang suara saya tak terlalu bagus Mas, jadi saya pergi ke jembatan, saya latihan di bawah jembatan Mas” jawabnya dengan malu-malu.

Aku dan warga yang lain terdiam.

“Ehm, kata Bu Guru lagu Lir Ilir itu maknanya bagus lho Mas,” lanjutnya sambil memamerkan deretan gigi-gigi kecilnya..

Aku mendengus.

“Iya, memang bagus maknanya,” jawabku.

Dan sekarang bukan hanya aku yang yakin bahwa penunggu jembatan yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan itu tak ada. Pesan memang tersampaikan, tapi bukan hantu yang membawanya. Biarlah kisah lagu Lir Ilir ini menjadi pengingat warga kampung. Menjadi cerita tersendiri. Tentang bangkitnya semangat beribadah kami.

Cerpen Endah Aibara

******

Iklan