Cinta Sejati Seorang Ibu

Ada seorang ibu yang sedang melahirkan, dalam gegap gempita rintihan kesakitan yang tak terhingga, lahirlah si buah hati yang lama di impikan. ‘mana anakku’ bisik sang ibu.
Lalu suster membawa si kecil ke ibu.
Betapa terkejutnya sang ibu sambil menjerit melihat si kecil yang lahir tanpa kedua daun telinga.
Meski dalam keada’an duka sang ibusangat menyayangi si buah hati dengan penuh kasih sayang.
Hari-hari berlalu sang anak tumbuh menjadi pemuda dewasa, fisiknya gagah perkasa dan di segani. Pada suatu hari sang bapak bertemu dengan seorang dokter.

Mereka bercengkerama
‘Saya mau menolong anak bapak dengan mem-beri-kan ke dua daun telinga,’ kata sang dokter.

‘Betul-kah apa yang dokter kata-kan’ sergah sang bapak.

‘Ya, asal-kan ada seseorang yang mau mendonorkan ke dua daun telinga.’ jawab sang dokter.

Lalu sang bapak pun pamit dan berlalu pulang.
Pagi hari-nya mencari orang yang mau mendonor daun telinga-nya (anggota tubuh) hari-hari sudah terlewati, sang bapak menemui sang anak.

‘ Ada seseorang, yang tak mau di sebut namanya, beliu bersedia mendonor-kan ke dua daun telinga-nya untuk-mu, Bapak antar kamu ke rumah sakit untuk oprasi’

Hari itu juga sang anak menjalani operasi kedua daun telinga.

Dengan hati yang berbunga, sang anak menitip pesan kepada
Bapaknya, untuk beliau tersebut. ’saya sangat berterima kasih atas segala kebaikannya.’

Hari-hari-nya pun di lewati dengan semangat,
Di samping rasa bahagia sang anak.
Sang ibu dalam keda’an sakit parah jauh kemungkinan berharap untuk sembuh.
Dan akhirnya sang ibu pun meninggal dunia dalam suasana berkabung bapak di dampingi anak ingin melihat raut wajah istrinya untuk terakhir kalinya.

Bisik hatinya, ‘kamu memang cantik, istriku dan selalu tabah dalam menjalani kehidupan yang penuh manis pahit’

Sembari tangan sang bapak membelai rambut-nya yang panjang.
Pernah suatu hari sang ibu berkata, ‘aku ingin sekali memanjangkan rambutku.’

Sang anak tiba-tiba histeris setelah melihat raut muka ibunya.
Ternyata di balik rambut yang panjang, ibunya menyembunyikan sesuatu, ternyata yang mendonor-kan dau telinganya adalah ibunya sendiri.

________________

Dalam keidupan membutuhkan cinta kasih.
Cerita tersebut menggambarkan betapa besar-nya kasih sayang ibu terhadap anaknya.
Mari kita tebarkan rasa kasih sayang dalam keluarga, lingkungan dan di mana saja.

Sang ibu sangat besar dalam pengorbanan demi sang anak yangmempunyai cacat fisik, meskipun dalam keada’an kesusahan demi terpenuhi kehidupanya. Anggota tubuhnya pun rela di ambil- demi sang anak.

Pada hakikatnya itu sifat wujud dari:
“CINTA dan KEBAHAGIA’AN SEJATI”

Di Kutip Dari Buku “surga di depan mata”

Orang yang Ingin Menjadi Setan

Hari itu ketika hujan panas turun, Midun sudah duduk di teritis rumahnya sebelah utara. Dia dapat mendengar suara orang-orang yang berteriak di jalanan, karena lapak-lapak kaki lima mereka dihalau air langit. Dia juga dapat melihat sebentuk pelangi yang memintal cakrawala. Kabarnya peri-peri akan turun di sana. Entak di mana kaki pelangi jatuh, di situlah dia turun untuk mandi. Tapi Midun tak sanggup menunjuk ke sana. Sebab pantangan. Dari nenek moyangnya telah menjadi perundang-undangan, bahwa barang siapa yang menunjuk pelangi, maka jari-jarinya akan bercabang.
Dia tak ingin melihat peri-peri cantik turun. Sebab istrinya yang berbadan bulat itu, lebih cantik dan ramah. Dia hanya ingin dipertemukan dengan orang langit yang bisa memberikan kekayaan. Bisa merubah gubuk reyotnya menjadi istana. Bisa membuat istrinya bergelang emas melingkar-lingkar. Lalu anak-anaknya bersekolah di kelas-kelas elite. Mobil-mobil silih berganti. Juga, mungkin kesempatan berpoligami. Midun maniak seks. Nafsu badak. Demi meluruskan keinginan, tak apalah menambah istri-istri yang berbadan bulat juga ramah.
Tiba-tiba kaki pelangi menyentuh pekarangan belakang rumah Midun. Seseorang berpakaian hitam,-hitam, bertopi kerucut, turun melalui pelangi seperti melompat dari unta pemalas. Dia bersendawa. Dia menenangkan Midun yang tergeragap. bagaikan unta bodoh. Kau Midun? tanyanya.
Benar!
Ingin kaya? tanyanya lagi.
Benar!
Maka kau berhak kaya jika berteman dengan setan sepertiku.
Midun kebingungan. Tapi dia akhirnya tersenyum, sebab ketertarikannya pada kata k-a-y-a lebih dominan daripada kata s-e-t-a-n. Dia boleh bersahabat dengan orang berjubah itu, asal dia diberikan kepuasan duniawi.
Jangan bingung. Seharusnya peri-peri yang turun dari langit. Tapi sekarang kugantikan. Karena kau butuh kaya. Bukan butuh kecantikan peri-peri. Apalagi butuh nasehat-nasehat. Karena kepalamu sudah muntah oleh nasehat-nasehat pemerintahmu yang menyesatkan.
Akhirnya Midun dan setan bersahabat. Sejak saat itu Midun menjadi kaya mendadak. Dia dengan mudah memaling harta tetangganya, karena dilindungi setan. Lalu mengembalikannya seperseratus bagian, sebagai penambah simpati atas kemalangan orang-orang yang kemalingan itu.
Dia menjadi pujian dan pujaan orang. Dia mengumbar janji-janji ke mana-mana. Bergaya membeli tanah, tapi ujung-ujungnya merampok. Sayang, orang-orang malahan kesenangan. Banyak yang membelanya, sebab dia tak segan mengeluarkan uang banyak demi meluluskan segala rencana. Dia dibekingi puluhan preman, puluhan aparat, sehingga sepertinya sepakterjangnya selalu mulus dan jujur. Padahal menyengsarakan tetangga-tetangganya yang hanya dapat mengelus dada. Ya, hanya dada mereka yang pantas dielus karena masih dapat dibusungkan. Bukan perutnya, sebab mereka lebih sering busung lapar ketimbang kenyang.
Lambat-laun kekayaan Midun melimpah-ruah. Keluarganya menjadi orang-orang pongah. Jiwa Midun yang dulu lembut, tiba-tiba kasar. Amat sangat mudah dia menempeleng orang-orang yang membangkang. Bahkan tak jarang dia membunuh seseorang dengan perpanjangantangan peluru aparat, berikut dalih bahwa orang yang mati bukan ditembak, melainkan tertembak pada saat mengamankan kerusuhan.
Ambisinya menjadi ketua rt, lalu ketua rw, lurah mejadi-jadi Dia mempergunakan kekayaan, dibantu setan untuk mewujudkan cita-cita itu. Berbagai orang diberikannya derma, diberikan fasilitas. Kemudian dipaksa memilihnya menjadi sang ketua.
Anehnya semua berjalan mulus. Orang-orang senang membantunya. Bukan diakibatkan uang pemberian Midun saja, melainkan lebih dititikberatkan pertemanan Midun dengan setan. Orang-orang, banyak yang berjiwa dan berpikiran setan. Maka, wajar mereka senang kepada setan. Jadinya, bukan setan yang dirayu, tapi manusia yang merayu.
Midun berhasil menjadi ketua rt. Menjadi ketua rw. Menjadi lurah. Lalu mentok. Dia tak dapat lagi naik lebih tinggi, misalnya menjadi camat. Dia bukan orang sekolahan. Pernah bersekolah, itu pun sampai kelas lima esde. Paling tidak menjadi camat itu seorang sarjana, serta sudah dididik di lembaga pemerintahan.
Tapi bukan Midun namanya. Dia dapat membeli ijazah. Baik itu ijazah sarjana S1, S2, S3 maupun es teler. Yang penting, ada uang. Dia dapat membeli nilai-nilai bagus dari para dosen yang menganggapnya dewa.
Perjuangannya berjalan mulus. Orang-orang membelanya, sebab dapat memberi derma. Orang-orang tak butuh janji, sebab tak jarang itu berujung caci-maki. Bagi orang-orang yang membangkang, maka usaha mereka diganggu. Keluarganya diganggu. Bahkan diusir, dan sekali-sekali dibunuh, juga melalui dalih tak ada unsur kesengajaan. * * *
Dalam kehidupan yang mapan, Midun sekarang menjabat sebagai gubernur. Dia bernafsu menjadi presiden, sebagai jabatan tertinggi dan mentereng di sebuah pemerintahan. Lalu dia pun merayu setan sahabatnya.
Aku mau menjadi calon presiden. Tolong bantu, Man! katanya memanggil setan dengan sebutan teman. Apakah ilmumu cukup? Setan menggoda.
Lebih dari cukup.
Butuh biaya banyak untuk menjadi presiden. Butuh banyak nyawa.
Biaya, aku ada. Nyawa, punya siapa mau dicabut sebagai tumbal? Aku sanggup melaksanakannya hari ini. Aku ingin nyawa Mirna!
Midun tersentak. Mirna ini sama dengan nama istrinya. Mirna mana? Dia berharap bahwa nama itu bukan milik istrinya. Istrimu!
Tak bisa!
Setan mendelik. Dia paling tak ingin dibantah oleh Midun, juga orang-orang yang menyembahnya sebagai tuhan. Perjuangan itu butuh resiko. Kalau ingin terkabul, turutilah peraturan setan. Sebab di negaramu ini, orang-orang yang menuruti peraturan malaikat atau peri-peri, akan tergencet gepeng. Mereka malahan disebut sebagai setan-setang penghambat pembangunan. Dia tertawa.
Karena merasa sedikit bosan beristrikan Mirna, akhirnya dia mengiyakan. Tak menunggu waktu berapa hari, Mirna mati. Diagnosa dokter yang telah disogok Midun, istrinya itu mati terkejut. Lebih tepat terkena serangan jantung. Padahal Midun, dengan perpanjangantangan aparat, telah meracun jantung istrinya. Ternyata Midun belum sukses menjadi presiden.
Kau masih kurang tumbal, jawab setan berkilah, ketika Midun mempertanyakan ketakberhasilannya menjadi presiden. Nyawa siapa lagi yang dijadikan tumbal, Man?
Manto! Setan menyebut nama anak pertama Midun
Midun melaksanakan niat busuknya. Manto sengaja ditabrak dengan mobil oleh aparat yang menjadi perpanjangan tangannya. Lalu mati. Tapi Midun tetap tak terpilih menjadi presiden.
Nyawa siapa lagi yang butuh?
Minta! Setan menyebut nama anak kedua Midun. Lalu putranya itu mati dibunuh. Masih kurang! keluh setan ketika bertemu lagi dengan Midun. Nyawa siapa lagi?
Kamu!
Maksudnya?
Ya, kamu yang mati selanjutnya!
Midun kelabakan. Dia belum ingin mati. Dia masih ingin menjadi presiden. Namun setan lebih menyukainya mati, biar kekerabatan mereka abadi.
Teman, kata setan perlahan, aku sangat salut kepadamu. Demi ambisi, kamu rela membunuh rakyatmu. Rela membunuh istrimu. Anak-anakmu. Sementara aku, demi meluluskan ambisi, tak sanggup membunuh rakyatku, juga keluargaku. Jadi, kalau kau mati, aku ingin kau menjadi presiden setan. Untuk apa menjadi presiden manusia yang banyak berlagak malaikat, tapi jiwanya setan. Dia tertawa. Midun meringis. Pada saat setan meminta malaikat pencabut nyawa bekerja dengan sebilah tombak yang ujungnya clurit tajam, Midun langsung berontak.
Aneh! Tiba-tiba dia sudah berada di teritis utara rumahnya. Hujan benar-benar telah berhenti. Sedangkan dia tersadar hanya berhalusinasi. Dalam kelinglungan, Manto, anaknya, datang mendekat. Pak, aku minta uang pembeli narkoba!
Seketika Midun seperti melihat setan sahabatnya, menggeliat di mata anaknya.

Cerpen Rifan Nazip
Dimuat di Bangka Pos

Paman Google Tak Selamanya Baik

Seorang wanita menuntut Google karena mengklaim dibawa ke jalur yang sangat sibuk, sehingga tertabrak kendaraan lain karena mengikuti layanan Map milik Google.

Kasus Lauren Rosenberg itu diajukan di Pengadilan Distrik AS di Utah. Selain Rosenberg, Patrick Harwood (orang yang menabrak Rosenberg) juga masuk dalam tuntutan tersebut.
Baik Harwood dan Google dituntut dalam kasus dengan kerusakan ‘lebih dari US$100 ribu (Rp 910 juta)’
Rosenberg menggunakan Google Maps pada 19 Januari lewat BlackBerry miliknya untuk mendapatkan infomasi jalan 96 Daily Street, Park City dan 1710 Prospector Avenue, Park City, Utah.
Google menyediakan informasi soal ini di mana menyarankan Rosenberg untuk mengambil rute setengah mil dari jalur yang disebut ‘Deer Valley Drive’.
Ini merupakan nama alternatif untuk rute Utah 224, sebuah jalur yang tidak memiliki trotoar, tulis dalam kasus tersebut.
Rosenberg tidak diperingatkan soal ini, dan menganggap Google bertanggung jawab atas kesalahan yang menyebabkan kecelakaan itu.
Google Map menyarankan Rosenberg untuk menuju Deer valley Drive atau State Route 224, jalur pedesaan dengan tanpa trotoar, dan sebuah jalan yang memungkinkan pengendara motor melakukan perjalan dengan kecepatan tinggi di mana ini sangat tidak aman bagi para pejalan kaki.
Google dituntut atas dasar kecerobohan, tidak hati-hati dan lalai dalam memberikan saran perjalanan yang tidak aman. Akibatnya Lauren Roesenberg mengikuti arah jalan yang berbahaya sehingga tertabrak oleh pengendara motor
Sementara pihak google setelah dimintai keterangan dia hanya menjawab dengan singkat ” ups para insinyuur akan segera mengatasi”[adb]. (inilah.com)

Malam Rajam

JELANG dini hari. Di sebuah ranjang berkelambu coklat muda. Kau terlelap tanpa dengkur. Telanjang dada. Bersarung sebatas lutut. Di sampingmu, terbaring sebatang tubuh molek yang hanya dibalut kain lasem sebatas dada, hingga terintip ceruk di antara dua bukit tinju yang ditutupinya. Selingkaran lehernya menyerak tanda merah sebesar ujung jempol, bagai habis dihisap-kecap. Air muka kalian menyemburatkan lelah yang tak biasa. Tengah malam tadi kalian khatamkan sebuah pertarungan yang tertunda sekian lama. Bukan hanya dengan keringat, tapi kalian juga melakoninya dengan hasrat yang mendahaga. Tak ada yang ditetapkan sebagai pamuncak. Kalian sama-sama kuasa. Kalian pula sama-sama kalah. Bakda itu, lelap kalian adalah sebenar lelap. Untuk apalah bermimpi lagi bila angan-angan itu baru saja tertunai?! Tertunai di atas nama pertautan-halal; di atas ranjang yang berseprai anyar; di atas malam yang dipilahku untuk merajam. Membalas dendam!

***

SIANG tadi pesta perkawinanmu digelar dengan mewah. Kau memang seorang istimewa. Anak tunggal pemilik panglong kayu terbesar di kampung. Jadi, adalah mahfum bila perempuan yang baru datang dari kota itu tertawan olehmu. O, jangan-jangan ia yang menawanmu?! Ah, tak penting itu. Perkaranya adalah, aku tak rela kau meminangnya. Tidak!

Memang, kepergianku ke kampung orang tuaku dua pekan silam tanpa sepengetahuanmu dan keluargamu. Tapi, yang membuatku murka adalah sikapmu (juga keluargamu) ketika mengetahui aku raib. Tenang-tenang saja. Ketika itu, mendidihlah darahku. Ingin sekali aku melabrakmu. Bila perlu membuatmu mati-tercekat karena mendapati kedatanganku yang tiba-tiba. Namun, rencana itu kujegal sementara. Aku benar-benar ingin tahu musabab ketakpedulianmu pada diriku, gadis yang kaujanjikan untuk dikawini. O, apakah ketaktahuanmu tentang di mana tepatnya ranah kediamanan orang tuakukah yang membuatmu tak mencariku? Kini, jujur, aku merasa sangat bodoh. Mengapa dulu aku terburu-buru mengambil ketetapan itu. Pergi meninggalkanmu. Berkelana ke kampung ayah-ibu yang justru tak kunjung kuketahui keberadaannya.

***

AKU benar-benar benci pada perawan itu. O, sungguh, kau harus tahu bahwa semua ini bukan salahku!

Apakah kau tak tahu seperti apa pembantu di rumahmu dipekerjakan? Adalah sahih bahwa titah demi titah orang tuamu telah merampas waktuku: sedari subuh hingga malam meninggi. Jadi, bagaimana mungkin aku main-gila dengan laki-laki lain?! Apakah harus kuceritakan perihal aku yang jatuh dari pohon nangka karena keponakanmu dari kecamatan minta diambilkan layangan yang tersangkut di sana; apakah harus jua kukeluhkan bahwa aku pernah terjerengkang di dapur karena ibumu berteriak memintaku gegas menyiapkan air hangat untuk mandi di subuh kau akan diwisuda dua bulan lalu; apakah jua harus kutumpahkan kekesalan bahwa, beberapa kali aku terjerembab dari kereta unta ketika mengantar rantang-rantang para tukang yang merampungkan rumah baru kalian di simpang pasar… ; dan apakah harus kumeraung dalam suara yang pasti memarau untuk semua akibat yang dimunculkan kesialan-kesialan itu: selangkanganku sakit, perih, bahkan ketika terpeleset di kamar mandi yang akan kusikat di pagi Ahad, bercak-bercak merah tiba-tiba saja mengerubungi celana dalamku. Pedihnya tak tepermanai. Bukan hanya membayangkan bahwa beberapa hari bakda itu, aku akan berjalan sedikit mengangkang, namun…lebih dari itu. Menangis tak berbunyi aku bila membayangkan air muka lelaki yang suatu hari nanti mengawiniku di malam pertama kami (di bawah lampu kamar yang bercahaya remang).

***

BERTAMBAH masailah aku ketika suatu hari kau menanam tebu di bibir. Kau tak hanya, dengan lembut dan syahdu, mengatakan (sekaligus memuji); hidungku bangir, wajahku bulat telur, bibirku merah penuh, kulitku putih rotan, mataku kilap kelereng, alisku semut yang berbaris, rambutku sutera-hitam, daguku lekuk-mangga, bahkan telingaku kaukias bak cawan Persia. Aku luruh. Aku tahu, kau tak menuang air hingga tumpah. Kau menyampaikan yang sebenar. Ayahmu yang sudah empat kali naik haji saja sering ”nakal” padaku. Beberapa kali si tua bangka itu meremas pantatku ketika aku ngepel. Beberapa kali pula ia mencoba menciumkul namun selalu gagal karena derap langkah ibumu keburu menyambangi.

”Kau bersyukurlah kami pungut di tepian rel dulu. Sekarang nak bertingkah kau!” hardiknya ketika aku menghindari cengkeramannya di pinggangku.

Ayahmu juga sangat pandai mengganti muka. Di depan ibumu ia bagai singa yang sedang memerintahkan musang menyeret ayam. Bila aku lamban atau bahkan tak melaksanakan apa-apa yang dititahkan, maka aku akan dirajam. Demikian istilah yang sering dipakai keluargamu bila aku dirundung kesialan. Ya, selain keluargamu, tak banyak yang tahu (atau bahkan memang tak ada yang tahu) bahwa ayahmu seringkali merajamku dengan pecut kuda yang disimpan di kolong ranjangnya, bila aku kedapatan melakukan hal-hal yang tak berkenan di hadapannya dan ibumu. Walaupun tidak melakukannya dengan cambuk-maut itu, ibumu tak kalah ganas. Ketika marahnya membara, barang apa saja yang ada di dekatnya akan dicangking-rajamkan ke arahku. Kau tahu, bakat biru di bahu belakangku adalah bukti yang paling makbul atas guci China dan tatakan piring keramik Turkmenistan yang ia pecahkan ke tubuhku. Kau tahu, sejak itu, aku selalu tidur dalam keadaan telentang. Sedikit saja kumiringkan tubuh karena tiba-tiba ingin memeluk guling misalnya, tulang belakangku serasa bersigesek. Linu yang menyayat.

Dan… kau bagai mengimani peribahasa yang tampaknya tak bercelah: orang tua adalah guru berteladan yang mustajab.

Ya, kau kerap menjambak rambutku bila telur mata sapi kegemaranmu tak kugoreng seperti yang kau inginkan. Kuningnya terlalu masaklah, putihnya terlalu keringlah, minyaknya masih berlumuranlah…. Namun kau sangat berbeda dengan orang tuamu. Rajammu adalah rajam yang membuat lenguhanku bersicepat dengan denyut nadi dan geletar jantung. Kau biasanya menyeretku ke sudut dapur yang jauh dari imbas cahaya pir kuning yang menjuntai di plafon. Melumat bibirku, menggigit-geli leherku, menjilat lekuk telingaku…. Kau melakukan semua dengan tangan yang sigap membuka kancing-kancing baju-katunku. Seolah kau benar-benar hafal bahwa jarak masing-masing pengait baju itu adalah 12 sentimeter. Tapi… kau tak melakukan (atau meminta) lebih jauh. Kau kerap berhenti ketika aku mulai menikmati rajamanmu.

”Percayalah, aku bukan iblis. Aku hanya pemuda biasa yang tak dapat menyembunyikan naluri lelakinya. Percayalah, kau bagai bidadari saban habis mandi. Dan aku takkan menghamilimu hanya karena itu. Aku hanya ingin bercumbu dengan perawan di malam pertamaku. Dan itu adalah kau….”

Aku diam. Terharu. Bangga padamu bakal suamiku (benarkah?!). Lalu meradang dalam bayang kesedihan yang siap tumpah demi membayangkan malam-sakral itu tiba suatu waktu.

Tapi… oh, seperti yang kaukatakan. Kau adalah pemuda biasa. Hanya ditambah beberapa kelebihan: tampan, kaya, berpendidikan, dan (jujur kukatakan) menggoda. Pada suatu malam yang mendung, ketika kedua orang tuamu berhelat ke kampung sebelah, memenuhi undangan hajatan kawan lama, kau kembali merajamku. Tapi bukan karena aku tak menggoreng telur ayam itu dengan baik. Kau merajamku karena kau pemuda biasa katamu dulu, pemuda yang memiliki naluri kelelakian (atau kebinatangan?!). O sungguh, harus jujur kukatakan, aku juga bagai terasuk setan-binal malam itu. Bila kau memintaku menumpahkan isi telur di kuali, aku akan melakukannya serampangan. Bahkan, akan kunaikkan putaran gas hingga api menyala sejadi-jadinya. Akan kuhidangkan telur pekang, gosong-arang! Ya, aku ingin kau menghukumku. Merajamku!

Dan kau melakukannya tanpa ada pasal telur goreng itu. Tapi tak seperti biasa, kali ini kau meminta lebih. Tentu saja, aku menolaknya. Bukan, bukan karena tak yakin kau akan bertanggung jawab (entah, aku begitu percaya padamu bahwa kau takkan menyia-nyiakanku), tapi karena kau belum meyakinkanku apakah ayah-ibumu akan bersetuju dengan pilihanmu; seorang pembantu tanpa orang tua dan sanak saudara.

Kau bagai membaca kegundahanku. Kau katakan betapa istimewanya dirimu. Siapa yang berani menolak permintaan anak tunggal?! Sungguh cantik kau meliuk lidah. Ya, kau tak menanyakan mengapa aku berani menolak permintaan seorang anak majikan. O, betapa ketika itu kau menguapkan sikap yang meluluh-lantakkan tembok pertahananku.

Menanglah kau! Aku gelap-pikiran. Aku tak tahu bila tebu di bibirmu sebentar lagi akan ditebas (dan hilanglah gulali itu tak lama kemudian!). Aku hanya membayangkan betapa gadis sebatangkara sepertiku akan menjadi bagian dari keluarga terhormatmu. Ohhh….

Namun, kenyataan bersibelakang dengan ramalan. Kau mulai mengganas. Kausingkap kain lasemku. Dan… berserempakan dengan petir yang bergemuruh jauh, dan air langit yang bersitumpah satu-satu; mukamu keruh seketika!

Kau mendorongku hingga terjerengkang. Kau kenakan pakaian dengan tergesa-gesa. Kau tuding aku sundal. Kau tak memberiku kesempatan untuk mengurai sebab-akibat….

Tengah malam, kutinggalkan rumahmu. Memapas jalan-jalan kelam kampung yang lengang….

***

SEDARI pagi, aku memang tak sabar menyambut malam. Di antara kerumunan tetamu, kusaksikan bagaimana ijab-kabul dilewati tanpa hambatan. Sejak duha hingga bakda asar, orkes melayu mengoar-bingar panggung dan seantero kampung. Kalian bagai menginjak-injak luka-lebamku. Dan, bakda isa, aku menuju kediamanmu. Dari balik jendela, kuintip orang tuamu menghitung isi amplop yang diterima, para keponakan yang bersuka-ria menyobek bungkus kado-kado yang menyerak di kamar depan, beberapa tamu jauh yang tak henti memuji keserasian kalian….

Malam pun meninggi. Sedikit saja jarum jam yang lebih panjang tergelincir, maka hari akan bernama baru. Lamat-lamat aku menyelinap. Kalian lupa bahwa aku sangat paham leliku rumah besar itu. Aku segera menuju kamar bergorden merah jambu dengan beberapa tangkai anyelir menyelip di kaitannya. Syabas! Begitu mudah kukuak pintu kamar. O o, aku datang di waktu yang gemintang. Kalian baru akan memulai ritual wajib pengantin baru. Aku berdoa dari balik pintu, semoga selangkangan gadis itu berkembar-nasib dengan selangkanganku.

O, apakah benar yang kulihat? Kau menggumulinya dengan lunas. Apakah gadis itu masih perawan? Atau… kau tak peduli lagi perihal darah yang muncrat di antara bonggol paha itu? Puihhh!!!! Laki-laki pembual, kau!

Maka, ketika kalian lelap oleh lelah yang memuaskan… kusambangi ranjang harum melati itu. Kusingkap kelambu. Kutatap kalian satu-satu. Kubersijingkat menaiki ranjang. Sangat hati-hati, hingga tanpa bunyi derit. Aku kini sudah mengangkangimu. Ups! Setengah meloncat aku membebankan tubuh di atas perutmu….

***

AKU terkakak hingga air mataku menyeruak. Kedua bola matamu mendelik sempurna ke arahku. Kurajam kau kini! Kucekik lehermu sejadi-jadinya. Kau mengejang. Aku makin terbahak. Pun ketika perempuan di sampingmu terjaga. Ia menyangka kau tengah mengigau. Mimpi buruk.

Sejak kapan mimpi buruk bertandang di malam punai, hah?! Perempuan bengak!

Perempuan itu menarik-narik kedua tanganmu yang memegangi leher seolah kau tengah melepaskan cengkeramanku yang memelintir tonggak kepalamu. Mana bisa?! Mati kau?!

Perempuan itu berteriak ketakutan. Keluarga dan sanak-kerabatmu menggedor-gedor pintu yang masih terkunci. Tak lama, mereka mengerumunimu. Berteriak sejadi-jadinya. Ya, siapa yang tak meradang ditinggal mati anak-bujang seorang?!

***

AKU masih tertawa ketika, di antara sikaduduk yang menyemak di sudut pemakaman umum, tempat akan digalinya liang untukmu, orang-orang menemukanku teronggok dikerumuni belatung. Beberapa bagian tubuhku ditutupi bahan katun, kain lasem yang buram coraknya, dan tentu saja tali tambang yang masih bergelung di tengkorak kepala. Itu adalah tali yang kuambil dari dapurmu di malam aku meninggalkan rumah itu. Kukaitkan di dahan beringin yang paling besar; demi beroleh restu ayah-ibu untuk merajammu malam tadi.

Lubuklinggau, Oktober 2009 s.d April 2010

Cerpen : Benny Arnas
Dimuat di jawapos.

D e l a

“Saudara sebagai seorang ketua sangat tidak bertanggung jawab! Ketika semua bekerja keras, Anda malah tidak datang dengan alasan ketiduran! Ketua macam apa itu!”
Dia berkata dengan keringat yang menetes dan muka merah sambil menunjukkan jarinya kepadaku. Entah bagaimana ekspresi wajahku waktu itu, yang kurasakan hanyalah cengkeraman tangan Adi di bahuku.
“Kami bukannya budak yang dapat saudara suruh seenaknya. Kami di sini belajar berorganisasi, bekerja sama, dan membina persaudaraan, bukannya memupuk sikap diktator dan tak tahu diri!”
“Kamu keterlaluan!” Aku sudah tidak sabar mendengarkan omongannya. Telingaku rasanya terbakar.
“Kamu tidak berhak menuduh saya demikian! Apa buktinya kalau saya bersikap diktator?”
Sungguh di luar dugaan, dia tersenyum! Sungguh! Dia melihat seluruh peserta rapat dengan senyum tipis di bibirnya. Semua peserta terdiam.
“Coba Anda tanyakan pada peserta rapat tentang sikap Anda. Instrospeksi dirilah Bung!” Dia duduk di kursinya. Suara kursi bergeser itu terasa menyakitkan telinga dan ruangan itu kembali sepi seperti kuburan. Kupandangi mereka satu per satu dan mereka hanya menunduk.
Tiba-tiba dering bel mengejutkan kami. Kepala mereka tengadah menatapku. Segera aku berusaha menguasai diriku, “Baik, silakan Pendamping Kelas kembali ke posisi masing-masing dan bagian inspeksi segera bergabung dengan kelompoknya masing-masing!” Begitu aku selesai bicara, ruangan itu dengan cepat berubah menjadi kosong. “Raka, ayo, kita harus segera inspeksi!” Kutatap mata Adi, dia menunduk. “Kamu juga setuju dengan dia Di?”
“Ah sudahlah, jangan dipikir, kerja kita masih banyak.”
Memang benar katanya. Ini adalah hari kedua Penataran P4 siswa baru. Masih ada empat hari lagi. Tapi kata-kata Dela tidak bisa kuabaikan begitu saja. Di dalam organisasi ini dia tergolong orang baru walaupun dia berkemampuan tinggi. Dia tidak seperti aku atau Adi, juga Ratna, Sari, Joko, Fitri, dan Dimas yang sudah dua tahun ikut organisasi di SMU ini. Begitu beraninya dia mempermalukan aku di depan orang banyak. Rasanya aku ingin menonjoknya, untung saja dia cewek. “Ayo Raka!” Adi sudah tidak sabar.
“Sudah, kamu saja yang inspeksi, aku malas.”
“Lho, Raka!” Kutinggalkan Adi begitu saja.
Ya, memang salahku tidak datang pada hari pertama Penataran P4, dan otomatis Dela sebagai wakilku yang harus menanggung semua itu. Bukankah itu sudah tugasnya? Aku tahu kemampuannya walau dia masih baru, dan itulah sebabnya dia terpilih jadi wakilku. Tapi sungguh tidak adil kalau dia mempermalukan aku sebegitu rupa.
Sejenak kuamati papan pengumuman itu. Rupanya daftar kelas tiga yang baru sudah disusun. Ah, aku memang keterlaluan, aku tahu kalau kertas itu sudah menempel di situ sejak seminggu yang lalu, dan selama itu aku santai-santai di kamarku sambil sesekali nonton tivi dengan mama. Aku memang meninggalkan tugasku begitu saja, dan justru kata-kata Dela yang jujur seolah-olah menelanjangiku di depan orang banyak.
Dela Ardiana! Sialan, aku harus sekelas dengannya. Entahlah, tiba-tiba suatu pikiran jahat menelusup otakku. ooOoo
Dengan cueknya dia mengecat kertas itu. Kuakui dia memang jago melukis. Herannya, orang bilang kalau seniman (yah, setidak-tidaknya dia pantas disebut seperti itu) itu perasaannya halus. Tapi tidak dengannya, dia berkali-kali melakukan tindakan ‘kasar’ seperti menolak cinta seorang laki-laki (yah, dalam hal ini aku tahu dari Adi, karena Adi sendiri pernah ditolaknya) dengan kata-kata yang mengejutkan, muka tak berekspresi dan meninggalkan mereka tanpa salam atau kata-kata halus. Selain itu dia tidak suka bercanda dengan cowok. Kata-katanya pendek-pendek dan tenang, ah, bukan tenang, tapi tegas. Dia juga tidak suka ngumpul-ngumpul di pesta ulang tahun. Benar-benar cewek yang menjengkelkan!
“Aduh!” Dilihatnya cat air merah itu tumpah dan membasahi kertas itu. Dia memandangku dengan tajam.
“Waduh, maaf ya, nggak sengaja, makanya kalau naruh cat jangan sembarangan! Kalau gini, madingnya nggak jadi-jadi!” Dia memalingkan mukanya dan menyobek kertas itu sambil melirikku dengan pandangan mata yang tajam. Sekejap aku merasa seram melihat roman mukanya.
“Mas Raka, ayo pulang dong!” suara manja Tika seolah-olah menyelematkanku dari pandangan mata Dela. “Ayo!” Kuambil tas ranselku dan kupeluk pinggang Tika menjauh darinya. “Lho, kok Mas Raka senyum-senyum sendiri?”
“Nggak apa-apa kok Tik.”
Usahaku tidak berhenti sampai di sana. Mading yang ditempelnya tiga hari kemudian diam-diam kucopot dan kurobek-robek lalu kubuang di sampah. Kubuat sedemikian rupa sehingga mudah dikenali. Dan benarlah! Satu sekolah gempar!
Dan kulihat wajahnya menegang, merah, berkeringat, dan berkerut-kerut. Sepanjang hari itu dia terlihat gelisah di kelas. Aku tahu hal inilah yang paling membuatnya susah. Dia sangat menghargai karya seni, terutama karyanya sendiri. Apalagi mading itu adalah mading terakhir di penghujung masa tugasnya. Rasakan! ooOoo
“Raka, ada temannya datang!” Mama memanggilku dengan suara soprannya.
“Sebentar Ma! Sialan, siapa yang datang jam segini. Seharusnya mereka tahu kalu jam segini waktuku untuk bersiap-siap untuk apel ke rumah Tika.
Dela tersenyum di kursi merah itu. Kulihat wajahnya berkeringat. Aneh tidak seharusnya orang berkeringat di malam seperti ini. “Maaf mengganggu Raka.”
“Ya, ada apa?”
Dia mengetuk-ngetukkan jarinya di lengan kursi.
“Dela mau minta maaf. Dela merasa bersalah karena mading…” dia menatapku, aku mencoba tenang sambil mengangguk-anggukkan kepalaku.
“Sudahlah, memang jahat orang yang melakukan itu, tapi aku sudah maklum kok Del.” Aku ingin segera menyelesaikan pembicaraan. Aku ingin dia pergi secepatnya dari hadapanku. “Terima kasih. Ah, iya, Dela mau minta tolong sama Raka.” “Ya?” Aku mulai curiga.
“Sebentar.” Dela keluar, kuikuti dia. Dia berjalan ke Katana merahnya dan kembali dengan sebuah gulungan kertas. “Ini, maaf kalau tidak sebagus yang dulu, Dela sudah mulai ada try out.” “Lalu?”
“Tolong Raka yang menempelkan, mungkin lebih aman. Tak ada yang berani menyobek kalau Raka yang menempelkan kan?” Dia tersenyum. Sungguh! Senyumnya membuatku merasa seperti ditusuk-tusuk sebilah pisau tajam. Dia seperti tahu semuanya. Dia seolah-olah menganggapku anak kecil yang ketahuan berbohong kepada ibunya. “Ma kasih ya Ka, Dela pulang dulu.” Dia pergi dengan kepulan asap mobilnya.
Aku sudah tidak ingin pergi ke rumah Tika, juga menerima telepon dari Adi atau Irwan yang mengajakku jalan-jalan. ooOoo
Entahlah, sejak saat itu aku sangat suka melihatnya. Kuperhatikan bagaimana eskpresi mukanya ketika mendengar sesuatu yang lucu. Keringatnya yang menetes ketika sinar matahari begitu kejam meradiasi kulitnya yang kuning langsat, juga bagaimana dia selalu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan guru. Sesungguhnya dia sangat cerdas dan berani.
Dia juga agak pendiam. Dia tidak suka mendengar pembicaraan yang kacau atau ngerumpi seperti biasa yang dilakukan cewek-cewek. Dia juga tidak pernah naik Katana-nya ke sekolah. Dia lebih suka membonceng di belakang Rahma, teman sebangkunya yang berjilbab itu, dan dia suka sekali berjalan-jalan ketika istirahat. Entah ke kantin, ke perpustakaan, atau sekadar berjalan! “Lihat apa Ka?” Sodokan lengan Adi membuatku kaget. Aku diam. “Kamu lihat-lihat Dela lagi.” Nadanya seperti mengeluh.
“Aku tidak suka kalau kau mengejarnya, kamu sudah cukup menyakitinya!”
“Siapa sih yang ingin dekat dengan anak sombong seperti dia?” Adi menatap mataku tajam-tajam. Matanya menyelidik seolah-olah ingin menelanjangiku.
“Kita duel pulang sekolah nanti di rumahku!” Lalu Adi berdiri dan permisi ke belakang.
Sudah kesal rasanya menjelaskan pada Adi bahwa aku tidak bermaksud mendekati Dela dan memujanya. Dia selalu bilang padaku bahwa dia tidak pernah tergila-gila pada seorang perempuan seperti itu.
“Kamu suka dia! Bangsat! Pengecut!” Tiga hantaman dari tangannya yang berat menghantam rahangku.
Aku tahu kalau aku akan kalah. Dia pandai berkelahi, dan terlebih dia ikut karate sejak SMP. “Ayo ngomong! Satu tinju lagi mendarat di perutku.
“Di, sudah! Sudah!” Tak ada yang dapat kuperbuat selain menghindar. Tak ada yang akan memberiku pertolongan walaupun aku menjerit sekuat tenaga. Halaman rumah Adi luasa, dan rumahnya kosong! Pembantu-pembantu itu tak akan bisa berbuat apa-apa. “Ngomong bangsat!” Lalu satu pukulan lagi. Dan aku terkapar!
“Oke, oke, kamu benar! Oke!” Kurasakan nafasku hampir mencekik tenggorokanku.
“Ya, aku mulai menyukai dia! Ya, mungkin aku jatuh cinta padanya!” Mataku terasa berkunang-kunang.
“Pulanglah!” Dia melemparkan ranselku dan sebuah agenda. Kucoba untuk duduk di rerumputan itu. Seorang pembantu Adi yang kutahu bernama Inah membawakan segelas air es. “Agenda siapa ini?”
“Dela.”
“Dari mana kau dapatkan dini?”
“Kamu tak usah tahu. Buka halaman terakhir!”
Kubuka agenda hitam berlogo OSIS itu. Sebaris puisi tertulis dengan rapi: Pertengkaran
Untuk Raka
Atmosfir dingin melingkupi kami
Bukan hal yang terbaik dari keinginanku
bicara jujur
itu saja
karena selebihnya aku cinta padamu
Dan kau mengembalikan cintaku dengan
sebuah tusukan jitu
tepat di nyawaku
Surabaya, 26 Agustus 1997
Tiba-tiba perasaanku sangat kacau. Kulihat wajah Adi, sebuah genangan air di sekitar matanya. “Di, kamu?”
“Ya, aku menangis. Kau sudah tahu kan sekarang? Pergilah! Pulanglah!” Suaranya bergetar, aku tahu dia sangat sedih.
Dengan langkah gontai kutinggalkan Adi yang menekuk mukanya. Kepalaku masih pusing dan kurasakan darah menetes di sela bibirku. ooOoo
Sungguh di luar dugaanku. Kukira Dela tidak punya perasaan dan kaku. Kukira dia selama ini sebuah patung agung yang hanya bisa kupandang. Ya Tuhan…., ternyata dia mencintaiku.
Aku tak bsia bersikap ketika pagi itu dia masuk dengan sikap yang biasa dan mengucapkan salam. Aku tak pernah tahu dia sebegitu pandai berakting sehingga perasaannya seolah tak ada.
Ah, bodohnya aku! Bukankah pandangan matanya waktu itu, ketika di datang ke rumahku, keringatnya yang menetes di malam yang sedingin itu….Ah, sialan! Aku tak bisa menebaknya. Aku tak akan tahu kalau Adi tidak menunjukkan agenda itu padaku.
Adi……., dia pindah ke bangku belakang sejak pertengkaran kami siang itu. Sekarang aku duduk sendiri. Aku memang tak seberuntung Adi yang mudah disukai siapa saja.
Aneh memang kalau Dela menolak cowok seperti Adi. Apa kurangnya dia? Dia keren, tinggi, putih, cerdas, dan beken.
Dengan penasaran kubuka sebuah buku tulis tebal di bangku Dela. Waktu itu kelas sepi. Hanya ada Retno dan Fajar yang asyik pacaran. Dan seperti dugaanku buku itu penuh dengan puisi dan coretan. Beberapa kali kuperhatikan dia menulis sesuatu dengan serius di buku itu, dan karena itulah aku curiga dan penasaran dengan isinya. Kubalik lembarannya dengan cepat. Maaf
kepada Adi
gumpalan kata yang kau ucapkan waktu itu…
beberapa kali mengendap di hatiku
walau kau tahu betapa tenangnya aku
Allah….
Cepat-cepat kubalik lagi lembaran kertas itu, aku ingin menemukan puisinya tentang diriku di buku itu. Untuk Raka:
Pergilah dengan tenang
Tuhan…., berdosakah aku?
Tuhan…., dia memandangku
tajam seperti elang
menyayatku menjadi tujuh bagian dan
membawaku ke neraka
Tuhan….., bencinya menggunung
dan dia
bodoh!
Ya Allah!
berikan sedikit kasih-Mu untuk
mengusirnya dari hatiku
Pergilah kau dengan tenang.
Surabaya, 10 September 1997
Ah, bukankah ini adalah waktu dia tahu kalau madingnya kusobek? Tiba-tiba terlonjak ketika mendengar suaranya. Cepat-cepat kututup buku itu dan berpura-pura mencoret sebuah kertas kosong. “Raka, pindah sana, aku mau duduk”
Apa ini, tak kudengar geratan suaranya ketika dia menyebut namaku. Dia bersikap biasa. Bahkan matanya juga terlihat tenang. Apa maksudnya? Bukankah dia seharusnya gugup karena aku ada di kursinya, terlebih-lebih buku tebalnya ada di hadapanku? Bukankah seharusnya dia curiga? ooOoo
Aku benar-benar penasaran dengan Dela. Dia teramat tenang untuk gadis yang sedang jatuh cinta. Tika sudah kuputus dua hari yang lalu. Masih jelas dalam ingatanku wajahnya yang memelas dan air matanya yang turun satu-satu. “Memangnya Tika salah apa sama Mas Raka, Mas?”
“”Tika nggak salah”
“Lalu, apa alasan Mas mutusin Tika?” dia terisak.
“Nggak ada.”
“Bohong! Tika tahu Mas bohong! Mas Adi bilang kalau Mas Raka jatuh cinta sama Mbak Dela.” Aku diam, aku tidak bisa membantahnya. Haruskah aku berbohong?
“Seharusnya Tika tahu kalau semuanya bakal begini, seharusnya Tika tahu!” Kubiarkan dia pergi meninggalkanku. Dia lari ke kamarnya. Dan dengan kikuk aku pamit pulang kepada mamanya. Mamanya tahu semuanya. Dia memandangku dengan benci.
Tapi walau bagaimanapun ini adalah keputusanku. Tidak bisa aku membiarkan Tika tersiksa terus menerus oleh sikapku yang acuh sejak aku membaca puisi-puisi Dela. Sejak aku jatuh cinta. ooOoo
Sedikit gelisah aku memperbaiki sikap dudukku. Dela mendekatiku dengan langkah yang biasa (itu yang tak kusuka darinya). Dia membawa selembar kertas bergaris biasa, mungkin sobekan dari salah satu bukunya. Dia tersenyum sambil meletakkan kertas itu di atas mejaku. Buat Raka:
Perpisahan
Bertemu adalah untuk berpisah
Melalui mata
kutahu, kita berdosa….
Masa bergerak menebas kita tanpa ampun
Dan sebagian dari kita terlibas
Mati!
Dalam sepi
Telusuri tasbih dan asma suci-Nya
Kembali
Kembalilah
Dalam pelukan-Nya
Kita berpisah untuk bertemu
walau sepahit apapun
berpisah untuk dipertemukan-Nya
bila kau percaya
dan Dia berkehendak
Dela
Aku terlongo setelah membaca tulisan itu. Rupanya ini balasan dari surat cinta yang kukirim kemarin.
Dan keesokan harinya kulihat dia memakai jilbab panjang dan duduk dengan manis di kursinya. Dan diam. Dia tak lagi menatapku dengan pandangan yang tajam. Dan aku berusaha tidak menatapnya sejak saat itu. Aku tahu, aku terlalu kerdil untuknya.

Gresik, 12 Nopember 1997

Dimuat di MRI PERMATA

Bulu Kucing bertuliskan “Allah”

Lafaz Allah SWT terlihat menempel pada bagian tubuh seekor kucing betina yang diberi nama Emeng di Bandung, Jawa Barat. Lafaz Allah tersebut tertulis jelas pada bagian bulu binatang yang berwarna putih itu.

Kucing yang tergolong unik tersebut saat ini dipelihara oleh Agung Finandita, pemilik toko Cathy Pet Shop, penjual hewan peliharaan Jalan AH Nasution No 147 Badung.

“Sekitar dua minggu lalu, ada pasangan suami istri yang mengaku tinggal di daerah Bandung Timur, datang ke toko saya dengan membawa foto seekor kucing berlapad Allah,” kata Agung di toko miliknya.

Selang beberapa hari, lanjut Agung, suami istri itu datang lagi ke toko sambil membawa kucing yang berisi lafad tersebut. “Mereka datang untuk menitipkan kucing itu, ya saya terima saja,” ujarnya menjelaskan.

Saat menyaksikan lewat foto, Agung mengaku ragu tentang adanya sebuah fenomena ganjil pada binatang rumahan itu. “Awalnya saya benar-benar ngak percaya. Tahu-tahu, subhanallah beneran ada lafad Allah-nya,” kata Agung keheranan.

Ia mengatakan, saat ini kucing unik berwarna “redblotstaby” tersebut dipelihara dalam satu kandang dengan sejumlah koleksi kucing lainnya.

“Sebelum menitipkan ke saya, si pemilik kucing itu hanya berpesan untuk menjaga dan merawat kucingnya dengan baik. Dia tidak minta imbalan apapun, dan mudah-mudahan kucing ini jadi berkah,” katanya.

Selama merawat kucing tersebut, Agung mengaku sering mendapatkan tingkap pola yang cukup unik dan aneh.

“Selama dua minggu saya rawat, ada kebiasaan unik yang ditunjukkan si Emeng, yakni tiap jam 04.30 pagi dia selalu membangunkan saya untuk shalat subuh. Kucing lainnya tidak pernah melakukan itu,” ujarnya.

Hingga saat ini sudah dua orang yang berminat untuk membeli si Emeng.

“Sampai saat ini sudah ada dua orang yang mau beli kucing ini. Orang pertama nawar Rp6 juta, sedangkan yang kedua berani membeli kucing ini seharga Rp20 juta. Tapi maaf, tidak saya jual karena saya merasa menanggung amanat untuk memelihara kucing ini,” katanya.

Agung mengaku mendapatkan berkah dengan merawat kucing tersebut. “Alhamdulilah, semenjak ada si Emeng, ada saja rezeki buat toko ini,” katanya dengan wajah sumeringah. (tvone)

Meja Dan Kayu

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

***

Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Dari sahabat