Archive for the ‘ Sastra ’ Category

Lir ilir

doc

Genap satu minggu ini suasana kampungku sedikit aneh. Semenjak kecelakaan maut di jembatan kecil itu terjadi. Jembatan yang menghubungkan kampung kami dengan kampung sebelah. Sebuah sepeda motor terjungkal masuk ke dalam sungai. Kecelakaan ini menyebabkan pengendara motor meninggal dunia di tempat kejadian. Dan sejak itu, perasaan kami dihantui rasa yang serba tak enak. Mungkin itu hanya perasaan-perasaan yang kami ciptakan dan kami kembangkan sendiri. Perasaan takut berlebihan yang memunculkan cerita-cerita di luar logika.

Sore itu, ketika aku berada di warung Mak Inah untuk membeli sabun, banyak warga yang mulai bercerita mengaku mendengar suara aneh saat melewati jembatan. Ah, seperti sudah menjadi tradisi, warung adalah salah satu tempat untuk berbagi kisah dan cerita. Tempat pertama sebuah berita diluncurkan dan kemudian berkembang dengan cepat. Inilah yang membuatku sedikit khawatir jika Ibu berbelanja di warung sendirian. Alhasil, aku mengalah untuk membantunya berbelanja segala sesuatu keperluan rumah tangga. Meskipun aku anak lelaki dan anak satu-satunya di keluarga, rutinitas belanjaku bukanlah hal yang luar biasa bagiku. Inilah salah satu bentuk cinta kita pada orang tua.

“Mas Arya, semalem kita denger lagi hantunya, hiii…” kata Udin, bocah sepuluh tahun yang tinggal tak jauh dari rumahku.

“Hmm, hantu apa, itu cuma kuping kamu aja yang salah denger,” jawabku mencoba menenangkan.

“Iya kok Nak Arya, saya juga pernah denger lho pas pulang dari kerja, padahal itu baru jam tujuh malam, masak hantunya sudah keluar,” sambung Bu Mila tak mau kalah.

“Terus terang saya belum pernah dengar Bu, ya semoga itu bukan apa-apa,” kataku sambil tersenyum. Ibu-ibu yang lain pun mulai menimpali dengan berbagai dugaan, perkiraan, serta pertanyaan yang jawabannya mereka reka sendiri.

Memang aku belum melewati jembatan kampung di malam hari sejak kecelakaan maut itu. Meskipun aku anak lelaki, tapi aku tak hobi keluar malam seperti pemuda pada umumnya yang hanya sekedar nongkrong di warung. Paling keluar malam hari untuk pertemuan karang taruna atau menemani Bapak menghadiri pertemuan warga. Kuliah juga tak membuatku pulang malam karena memang jarak kampus dengan rumahku tak seberapa. Terjangkau dengan angkutan umum pula.

Mungkin karena aku anak Pak RT di kampung ini, warga menganggap aku juga harus bertindak bagaimana agar hantu, setan, atau apalah itu bisa pergi dan tidak mengganggu. Meskipun dalam lubuk hati yang terdalam, aku sendiri masih ragu, apa benar ada makhluk halus yang menghuni jembatan itu dan mengganggu? Apa itu hanya ketakutan warga saja yang berlebihan usai insiden kecelakaan maut kala itu? Jelas-jelas setan itu aneh benar. Biasanya hal-hal sejenis itu munculnya tengah malam. Tapi di kampungku kini jam tujuh malam sudah terasa sepi. Mereka takut keluar rumah karena pada jam sekitar itulah suara-suara aneh mulai terdengar. Lagipula menurut pengakuan beberapa warga yang telah mendengarnya, suara itu mirip dengan nyanyian lagu Lir Ilir. Lagu dengan bahasa Jawa yang sarat akan makna. Masak iya, setan menyanyikan lagu Lir Ilir? Otakku tak mampu mencernanya.

Warga mungkin sudah menambah dan mengurangi informasi sebenarnya yang entah bermula dari siapa. Beredar kabar bahwa korban kecelakaan meninggal adalah seorang sinden. Meskipun pada kenyataannya kita tidak mengenal siapa dia karena bukan warga kampung kami maupun kampung sebelah. Dia meninggal dalam keadaan yang tak wajar sehingga arwahnya gentayangan. Berdiam diri dan menjadi penunggu jembatan. Menyanyi sesuka hati karena itu hobi atau pekerjaan selama hidupnya. Suaranya yang melengking membuat hati siapa saja yang mendengarnya berdesir dan merinding. Tak peduli atau mungkin tak tahu jika hal itu meresahkan warga. Arwah gentayangan baru, belum tahu bahwa yang dilakukannya tetap mengerikan dari sudut pandang manapun. Mungkin demikian pikiran dan asumsi yang berputar di benak warga.

Warga tak ada yang berani melewati jembatan itu setelah sholat isya’. Bahkan tak ada lagi yang nongkrong di warung seperti biasanya. Mereka lebih banyak belajar Al Quran di mushola atau di rumah masing-masing. Mereka percaya bahwa munculnya hantu dadakan ini untuk menyampaikan pesan kepada warga kampung yang mulai luntur ibadahnya. Yah, setiap orang memiliki pemikiran masing-masing. Meskipun aku juga menjadi rajin mempelajari makna di balik lagu Lir Ilir, tapi aku tak menjadikan hantu itu sebagai pembawa pesan atau apalah itu.

Cerita-cerita yang berkembang di masyarakat membuatku semakin penasaran. Aku harus mengambil tindakan. Aku tak peduli bagaimana rupa setan itu. Aku tak peduli sekacau apa suaranya saat menyanyikan lagu yang warga bilang mirip Lir Ilir itu. Aku tak peduli.

Sudah tak sabar aku menunggu datangnya malam. Setan ini benar-benar menarik perhatianku. Aku tak bicara pada siapa pun tentang rencanaku untuk menemui setan jembatan, takutnya malah akan jadi tontonan.

Setelah sholat isya’, aku putuskan untuk tetap berada di mushola. Beberapa warga juga masih tetap di sana belajar Al Quran. Aku menyendiri. Mempersiapkan segala hal mulai dari mental hingga materi. Melafalkan ayat-ayat Al Quran untuk memastikan tidak ada bacaan yang tercecer saat aku menghadapi setan itu sebentar lagi, seorang diri. Mulai dari Al Fatihah hingga ayat kursi terus menerus bibir ini menekuni. Rencananya aku akan mulai bergerilya beberapa puluh menit lagi.

Suasana kampung makin terasa sepi. Dinginnya malam sedikit menggetarkan nyaliku. Tapi ini bukanlah rencana yang dengan sembarangan aku putuskan. Aku harus melakukan ini. Demi kampungku. Aku raih setang sepedaku dengan penuh keyakinan. Kugenggam erat-erat untuk melawan dingin juga. Jalan setapak gelap mulai kujelajahi. Benar, ini baru pukul tujuh lebih setengah, tapi sepinya seolah-olah seisi kampungku musnah. Warung Mak Inah sudah tutup. Langkahku mulai ragu-ragu, apa yang kulakukan saat ini aku mulai tak tahu. Tak yakin. Mau maju otakku sudah mulai terganggu, mau mundur tak terasa jembatan itu sudah ada di depanku. Tanggung. Ingatanku mulai memutar kembali cerita-cerita warga kampung. Cerita-cerita yang sudah ditambah dan dikurangi dari bibir ke bibir. Cerita yang semakin panjang semakin menyeramkan kisahnya. Bagaimana jika bentuknya mengerikan? Bagaimana jika suaranya lebih mengerikan? Tegang.

Kakiku menapak perlahan di papan jembatan setelah kuletakkan sepedaku begitu saja. Gelap. Jembatan ini begitu kuat. Meskipun yang menjadi penahan kaki kami adalah susunan papan dari kayu, tapi rangka yang menahan di bawahnya terbuat dari besi baja. Umurnya lebih muda lima tahun dariku. Jadi kira-kira usia jembatan ini 12 tahun kurang 2 bulan.

Gemercik aliran sungai yang tak begitu deras mengiringi langkahku. Tak kurasakan sedikitpun keanehan atau keseraman seperti dalam cerita-cerita warga beberapa hari ini. Semua tampak dan terasa biasa saja. Dingin memang, gelap memang, tapi tak ada tanda-tanda munculnya setan atau nyanyian Lir Ilir itu. Aku berdiri di tengah jembatan. Kulongokkan kepalaku ke sungai. Udara dingin lama-lama terasa segar di kepala. Baru kali ini malam-malam aku berdiam diri di jembatan. Meskipun misi utamanya adalah menemui penunggu jembatan yang katanya ada itu, tapi aku mulai menikmati kesunyian ini. Dan yang paling menyenangkan adalah sepertinya setan itu tak muncul.

“Ah, sepi gini, katanya ada setan,” gumamku.

Tiba-tiba suara aneh terdengar. Bukan nyanyian yang seperti diceritakan warga. Tapi lebih seperti gesekan. Aku mulai panik tapi tetap berusaha tenang. Jadi aneh gerakan dan mimik wajahku saat itu, mungkin. Aku mundur beberapa langkah hingga kaki ini tak lagi menapak di papan jembatan. Sebuah kebun kecil yang berada di dekat jembatan kini menjadi sasaranku. Suaranya semakin jelas terdengar. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitku. Padahal udara begitu dingin dan gerakannya lumayan aktif. Suaranya bersumber tepat di atas kepalaku sekarang. Jelas sekali kudengar. Bagaimana ini, apa aku harus lari?

Kepalang tanggung jika aku lari. Akan aku hadapi apapun itu. Kuberanikan diri untuk melongok ke atas. Memastikan ada apa sebenarnya di atas sana. Dengan cepat-cepat kuhadapkan kepalaku ke atas. Entah karena terlalu berani atau justru takut.

“Hah? Tak ada apa-apa?”

Kurogoh saku celanaku. Kukeluarkan sebuah senter kecil sebagai sumber cahaya. Tepat di samping kananku berdiri sebuah pohon pisang. Aku arahkan lampu senterku ke atas. Suara itu selalu terdengar tepat ketika udara yang bergerak aktif berhembus membelai tubuhku. Dan aku temukan sumber suara itu. Daun pisang yang saling bersinggungan karena angin malam.

“Sial, daun pisang rupanya,” gumamku.

Udara dingin semakin menyeruak ke dalam tulangku. Kuputuskan untuk kembali ke rumah. Kesimpulannya, tak ada arwah gentanyangan seperti dalam cerita warga kampung. Mungkin mereka memiliki khayalan yang terlalu tinggi hingga berhalusinasi atau berfantasi.

***

Langit tanpa awan mendung bergantung menaungi kampungku pagi ini. Cerah. Secerah hati dan pikiranku. Setelah semalam aku berdiam diri menjelma menjadi “penunggu jembatan” tanpa bertemu penunggu jembatan asli yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Aku yakin tak ada yang perlu ditakutkan lagi untuk melewati jembatan itu di malam hari. Aman.

Tak sabar aku ingin segera menyebarkan kabar gembira ini pada warga. Dengan alasan membeli kopi aku berpamitan pergi sebentar pada Bapak. Aku berniat pergi ke warung Mak Inah. Berharap banyak ibu atau bapak yang bisa kuajak berbagi cerita positif ini di sana. Ya, warung yang sudah seperti kantor berita dan menjadi pusat bertukarnya informasi. Aku membayangkan cerianya wajah mereka nanti setelah mendengar ceritaku. Mereka dapat melewati jembatan itu kapan saja mereka mau. Tanpa rasa was-was atau takut karena harus mendengar lagu Lir-Ilir yang tak jelas siapa yang menyanyikan di jembatan.

Kukayuh kereta anginku dengan kencang. Entah karena suasana hatiku yang sangat baik atau memang aku sudah benar-benar tak sabar membagi kegembiraan yang membuncah di hati ini. Ah, keduanya sepertinya sama saja.

Aku mulai memasuki jalan setapak yang kondisinya cukup baik untuk ukuran kampung dengan perlahan. Biasanya anak-anak kecil berlarian sepanjang jalan ini untuk mengejar layang-layang yang terputus benangnya. Aku tak mau laju sepedaku berakibat fatal nantinya. Kira-kira dua puluh meter lagi sampai di warung Mak Inah, seorang anak kecil yang juga mengendarai sepeda mengejutkanku dari arah berlawanan. Aku tak sanggup menghindar karena laju sepedanya begitu kencang.

Braaaak!

Kami berdua terjatuh bersama sepeda kami masing-masing. Dia tampak kesakitan dan ketakutan. Aku dekati dia untuk memastikan tak ada luka serius di badannya.

“Kamu terluka?”

Nggak kok Mas, sa… sa…saya minta maaf Mas,” katanya dengan ketakutan.

Aku tersenyum. Ternyata anak ini menyadari kesalahannya. Itu sudah cukup bagiku.

“Lain kali hati-hati ya, jalan ini kan sempit, untung Mas-nya cuma naik sepeda, nah kalau motor, bahaya kan,” kata Pak Hasan yang baru kusadari kehadirannya. Beberapa warga kampung sudah mulai berkumpul untuk menolong kami.

“Iya Pak, maaf, soalnya saya terburu-buru,” katanya sambil beranjak berdiri.

“Rumahmu dimana?” lanjut Pak Hasan.

“Saya, Kampung Pandan Pak.”

“Memangnya mau kemana Dek?” tanyaku

“Mau ke jembatan Mas.”

“Jembatan???”

“Iya Mas, sepertinya senter saya ketinggalan di bawah jembatan,” jawabnya sambil membersihkan tanah yang melekat di celananya.

“Senter?”

“Eh, iya senter Mas, akhir-akhir ini kan saya sering ke sana, belajar.”

“Belajar?”

“Iya Mas, ada tugas dari Bu Guru nyanyi lagu Lir Ilir di sekolah, kalau latihan di rumah keluarga saya pada protes Mas, berisik katanya, yah memang suara saya tak terlalu bagus Mas, jadi saya pergi ke jembatan, saya latihan di bawah jembatan Mas” jawabnya dengan malu-malu.

Aku dan warga yang lain terdiam.

“Ehm, kata Bu Guru lagu Lir Ilir itu maknanya bagus lho Mas,” lanjutnya sambil memamerkan deretan gigi-gigi kecilnya..

Aku mendengus.

“Iya, memang bagus maknanya,” jawabku.

Dan sekarang bukan hanya aku yang yakin bahwa penunggu jembatan yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan itu tak ada. Pesan memang tersampaikan, tapi bukan hantu yang membawanya. Biarlah kisah lagu Lir Ilir ini menjadi pengingat warga kampung. Menjadi cerita tersendiri. Tentang bangkitnya semangat beribadah kami.

Cerpen Endah Aibara

******

Iklan

Matahari Islam Berpendar-Pendar

Matahari Islam Berpendar-Pendar

oleh Emha Ainun Nadjib

SAYA sedang menikmati pemandangan indah: berpendar-pendarnya matahari terbit kebangkitan Islam di Indonesia. Kekuatan mana di muka bumi ini yang berani melawan kedahsyatan simpanan kekuatan umat Islam, kalau santri sekelas Amrozi dan rombongannya saja mampu mengguncang dunia dan memerangahkan bumi? Dengan kemampuan teknologi bom yang ultramodern? Ini baru level santri. Belum kiai ini, kiai itu. Belum Syekh Fulan atau Polan, Habib sana atau Habib sini, atau Gus Anu atau Gus Ano. Beberapa santri saja sudah cukup membuat Polri, BIN, Mossad, CIA, dan dinas intelijen Australia porak-poranda kesombongannya. Baru sekadar Amrozi! Itu baru Lamongan sayap dusun luar –dunia sudah guncang. Belum Lamongan bagian Langitan dan kantong-kantong kekuatan bom Islam lainnya di kabupaten itu. Belum Bojonegoro, Tuban, Gresik. Jangankan lagi omong Pasuruan, Probolinggo, Jember, Situbondo –dan jangan pula sebut Jombang! Tandingan Jombang bukan pasukan-pasukan elite kelas dunia. Jombang disiapkan untuk menaklukkan ultra-sophisticated teknologi perang Dajjal yang kini ditatar di kedalaman laut Bermuda Triangle.
Kalau semua kekuatan Islam itu, cukup Jawa Timur saja, pada suatu hari serempak ber-triwikrama, mateg aji, unjuk kebolehan, pastilah Amerika dan Eropa rata tanah, seluruh permukaan bumi jadi padang pasir!
***
Memang, sebagian kecil kaum muslimin berprihatin dan bersedih hati atas persangkaan dihancurkankannya citra ulama dan kiai, dirusaknya nama baik dunia pesantren oleh kasus-kasus terorisme belakangan ini –atas yang mereka sangka tentang nasib Amrozi dan Imam Samudra. Atas seolah terpecahnya kepemimpinan Islam. Berserak-serak dan tercerai-berainya kekuatan umat Islam. Atas mitos dan prasangka tentang krisis moral, krisis akhlak, krisis bermacam-macam yang akhirnya disebut krisis total, dan sebagainya.
Padahal, Tuhan kasih kunci: “Engkau menyukai sesuatu yang sebenarnya buruk bagimu, dan engkau membenci sesuatu yang sesungguhnya baik bagimu.” Apa yang kau sangka pengikisan nilai Islam ternyata pembangkitan nilai Islam. Sebaliknya, apa yang kau pikir mengibarkan nilai Islam nanti terbukti justru merusaknya. Apa yang kau kira de-Islamisasi sesungguhnya memiliki rahasia Islamisasi. Sebaliknya, apa yang kau yakini sebagai Islamisasi nanti kau jumpai sebagai proses penyirnaan Islam.
Kalau pengetahuanmu tidak rangkap dan gampang dijebak oleh sesuatu yang seolah-olah menyenangkan atau seakan-akan menjengkelkan, engkau akan sangat kaget jika suatu hari mendengar Amrozi memberikan pengakuan bahwa sesungguhnya dia jualah yang meledakkan Gunung Papandayan. Dan kalau para aparat tidak mau ngemong hati orang Islam, siap-siap suatu hari ada pasukan santri siluman lagi yang meledakkan Gunung Semeru, meletuskan Merapi, serta menumpahkan air samudra ke permukaan Pulau Jawa.
Hendaknya para penguasa membatasi keangkuhannya dengan menyadari bahwa para santri memegang warisan kekuatan-kekuatan dari masa silam: tongkat Nabi Musa, kapak Ibrahim, keris Kolomunyeng Sunan Giri, tongkat pendek Syekh Abdul Qodir Jaelani, serban Sunan Kalijaga, Setan Kober Penangsang, Sangkelat Karebet, dan belum lagi ilmu-ilmu sirrul asror dari Mbah Hamid, Sakajiwa-nya Adipati Kolopaking, kain mandarnya Imam Lapeo, atau air liur mustajabnya Gus Ud Kedungcangkring.
Itu semua simpanan baku tradisional umat Islam. Santri macam Samudra dan Amrozi bukan pemegang warisan kelas utama. Kalau nanti yang bergerak adalah mbahurekso kaum muslimin benar-benar, akibatnya tan kinoyo ngopo tan keno kiniro. Tak bisa Anda bayangkan dan rumuskan.
Sementara itu, jangan disangka umat Islam adalah kaum yang sibuk membangga-banggakan khazanah masa silam. Kalau engkau pelajari dengan saksama, kekuatan mutakhir yang dibangun umat Islam juga tidak bisa diremehkan siapa pun. Baik di bidang politik dan kekuasaan, di bidang pemikiran, di bidang tarikat dan batiniah, maupun di bidang teknologi dan budaya.
***
Apalagi kekuatan tasawuf kaum muslimin. Nashrudin Hoja, sesudah keledainya dicuri orang di halaman masjid, malah masuk masjid lagi dan bersujud lama sekali. Orang-orang bertanya: kehilangan kendaraan kok malah bersujud? Nashrudin menjawab: “Saya tadi melakukan sujud syukur. Sungguh saya berterima kasih kepada Allah bahwa hanya keledai saya yang hilang, sedangkan diri saya ini tidak ikut dicuri orang…”
Ini bukan hanya bermakna kritik atas hilangnya kepribadian manusia yang dicuri kekuatan nafsu kekuasaan, keserakahan kapitalistik, ditelan ideologi dan bukan me-manage ideologi pilihannya, dehumanisasi oleh industri, depersonalisasi oleh komunalisme, lenyapnya kemanusiaan oleh kepandaian atau oleh kebodohan. Tak hanya itu. Kisah Nashrudin ini juga bermakna sufistik, misalnya bahwa rezeki itu tidak hanya berbentuk memperoleh atau mendapatkan, melainkan bisa juga berbentuk kehilangan. Keuntungan tidak selalu berarti memiliki, bisa juga pada saat tidak memiliki. Kemenangan tidak hanya berarti menang dalam perebutan dan kenduri, kemenangan malah mungkin terjadi pada seseorang yang berpuasa dari perebutan, pesta pora, dan kerakusan.
Orang mengatakan bahwa kekuatan politik umat Islam terpecah-pecah, karena ia tidak tahu bahwa itu memang strategi yang disengaja. Politisi Islam tahu, jangan sampai terjadi hegemoni Islam di negara yang bukan Islam. Islam itu ngemong, bukan menguasai. Apa yang tampak terpecah-pecah itu sesungguhnya dinamika pluralisme dalam tubuh umat Islam. Islam itu memerdekakan, membuka pintu tafsir atau interpretasi seluas jumlah pemeluknya. Bisa ada sejuta mazhab dalam Islam. Jangankan sekadar beberapa puluh partai politik Islam.
Orang bilang ekonomi kaum muslimin terpuruk, karena mereka tidak mengerti pilihan utama pemeluk Islam berada di tengah-tengah. Ada level ghony, kaya. Ada level miskin dan ada level fakir. Orang Islam tidak memilih kaya, tapi juga menolak menjadi fakir. Cukup pilih miskin saja. Rasulullah Muhammad sendiri adalah ‘abdan nabiyya: Nabi yang rakyat jelata. Beliau ditawari punya kekuasaan dan kekayaan seperti Nabi Sulaiman, namun menolak. Itu pun, umumnya kaum muslimin masih tergolong kaya dibandingkan dengan Nabi Muhammad, yang rumah tinggalnya bersama Siti Aisyah panjangnya hanya 4,80 m, lebarnya 4,62 m. Itu pun tanpa kulkas, tanpa VCD player, AC, furnitur, dan aksesori. Jadi, kalau dari sisi negatif, perekonomian umat Islam seperti terpuruk, dari sisi positif hal itu menunjukkan bahwa mereka lebih memilih kekayaan akhirat daripada kekayaan dunia.
***
Jadi, apa yang perlu dicemaskan dari keadaan umat Islam di Indonesia? Kalau dikalahkan di dunia, toh engkau menang di akhirat. Dunia cuma sekejap, akhirat abadi. Apa keberatanmu?
Kalau namamu dicoreng kehinaan di bumi, engkau memperoleh kemuliaan di langit. Bumi hanya mikrokosmos, sedangkan langit makrokosmos. Apa alasanmu untuk tidak bersyukur?
Makin namamu dihancurkan, ditangkap, dihukum di dunia, makin populer dan tinggi indah kursimu di surga. Nikmat Allah yang mana yang masih engkau dustakan?
Allah menagih jihadmu, dan tidak mempertanyakan kemenangan duniawimu. Allah menantikan syahidmu, dan membayar penderitaan duniamu dengan pendaran-pendaran cahaya wajah-Nya sendiri yang abadi menggiurkanmu. Katakanlah kita mulai kehilangan Buya Hamka, kita memiliki yang lebih dari itu: Quraish Shihab. Kita kehilangan Muhammad Natsir, malah muncul Yusril Ihza Mahendra. Mulai kehilangan Cak Nurcholish Madjid, malah dianugerahi Ulil Abshar Abdalla. Umpamanya pun kehilangan Ustad Zainuddin MZ, kita punya yang lebih dimensional: Aa Gym. Dan kalaupun akhirnya pada suatu hari nanti Gus Dur uzur,(skrng beliau sdh wafat) kita punya Saifullah Yusuf. Kita punya banyak tokoh Islam fenomenologis. Pemikiran-pemikirannya mungkin menggelisahkan dan menjengkelkan ulama-ulama tua, tapi lambat laun orang-orang tua harus belajar kepada anak-anaknya.
Mereka itu letaknya di pinggir, tak terlalu dianggap kental Islamnya, tapi nanti akan ternyata keilmuannya memang ijtihadiyah –hanya saja, kita orang-orang tua terlambat memahaminya.
Kita punya banyak Nashrudin lain. Kecenderungan sikapnya seolah bertentangan dengan tradisi konvensional kaum tua. Padahal, sungguh kritik mereka sangat menohok. Setelah kaum muslimin “kehilangan keledai”, Nashrudin-Nashrudin ini seakan tidak menunjukkan sikap militan untuk mengutuk si pencuri. Mereka malah kelihatan seperti melakukan sujud syukur atas tertangkapnya Ustad Ba’asyir, Amrozi, dan Samudra.
Bahkan terdengar seakan memuji-muji pihak yang dianggap musuh dan justru kaannahum mengutuk saudara-saudaranya seagama.
Itu semata-mata karena model kritisisme Nashrudin memang mempersyaratkan kecerdasan pikiran tingkat tinggi, kepekaan dan kejernihan hati yang sungguh-sungguh –untuk mampu menangkapnya. Itulah sebabnya, “yang kau anggap baik ternyata berbahaya, yang kau anggap buruk malah sebenarnya baik”. Islam liberal malah dicurigai, sementara Islam sensual justru dibiarkan saja merajalela di mana-mana dari kampus-kampus hingga mal-mal. ***
Sungguh saya menikmati berpendarnya matahari kebangkitan Islam di Nusantara, terutama selama Ramadan, ketika siang, malam, pagi, sore, kita diguyur kenikmatan dan kemuliaan acara-acara Ramadan di sekian banyak siaran (syiar) televisi.

Dunia serba tuhan atawa tuhan makin banyak

Dunia serba tuhan atau tuhan makin banyak

oleh A. Mustofa Bisri

Di mana-mana semakin banyak tuhan
Di Irak dan Iran
Di Israel dan Afganistan
Di Libanon dan Nikaragua
Di India dan Srilangka
Di Jepang dan Cina
Di Korea dan Pilipina

Tuhan semakin banyak
Di Amerika dan Rusia
Di Eropa dan Asia
Di Afrika dan Australia
Di NATO dan Pakta Warsawa
Di PBB dan badan-badan dunia

Dimana-mana tuhan, ya Tuhan
Disini pun semua serba tuhan
Disini pun tuhan merajalela
Memenuhi desa dan kota
Mesjid dan gereja
Kuil dan pura
Menggagahi mimbar dan seminar
Kantor dan sanggar
Dewan dan pasar
Mendominasi lalu lintas
Orpol dan ormas
Swasta dan dinas

Ya Tuhan, di sana-sini semua serba tuhan
Pernyataanku pernyataan tuhan!
Kebijaksanaanku kebijaksanaan tuhan!
Keputusanku keputusan tuhan!
Pikiranku pikiran tuhan!
Pendapatku pendapat tuhan!
Tulisanku tulisan tuhan!
Usahaku usaha tuhan!
Khutbahku khutbah tuhan!
Fatwaku fatwa tuhan!
Lembagaku lembaga tuhan
Jama’ahku jamaah tuhan!
Keluargaku keluarga tuhan!
Puisiku puisi tuhan!
Kritikanku kritikan tuhan!
Darahku darah tuhan!
Akuku aku tuhan!

Ya Tuhan!

Dua Keinginan

Dua Keinginan
oleh Khalil Gibran

Di keheningan malam, Sang Maut turun dari hadirat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan sang lelap.
Ketika rembulan tersungkur kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam legam, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di tengah pemukiman berhati-hati tidak menyentuh apapun sampai tiba di sebuah istana. Dia masuk dan tak seorang pun kuasa menghalangi. Dia tegak di sisi sebuah ranjang dan menyentuh pelupuk matanya, dan orang yang tidur itu bangun dengan ketakutan.
Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan, “Menyingkirlah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau masuk istana ini? Apa yang kau inginkan? Minggatlah, karena akulah empunya rumah ini. Enyahlah kamu, kalau tidak, kupanggil para budak dan para pengawal untuk mencincangmu menjadi kepingan!”
Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, “Akulah kematian, berdiri dan membungkuklah kepadaku.”
Dan si kaya berkuasa itu bertanya, “Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika pekerjaanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kuat seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri oleh taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku bergetar menatap sayap-sayapmu yang menjijikan dan tubuhmu yang memuakkan.” Setelah diam beberapa saat dan tersadar dari ketakutannya, ia menambahkan, “Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah emasku seperlunya atau nyawa salah seorang dari budak, dan tinggalkanlah diriku… Aku masih memperhitungkan kehidupan yang masih belum terpenuhi dan kekayaan pada orang-orang yang belum terkuasai. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, dan pada hasil bumi yang belum tersimpan. Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya selir, cantik bagai pagi hari, untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putra tunggal yang kusayangi, dialah biji mataku. Ambillah dia juga, tapi tinggalkan diriku sendirian.”
Sang Maut itu menggeram, engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak tahu diri. Kemudian Maut mengambil tangan orang itu, mencabut kehidupannya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk memeriksanya. Dan maut berjalan perlahan di antara orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling kumuh yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, “Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah ruhku, impianku yang mengejawantah dan hakikat harapanku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, karena kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Jangan tinggalkan daku.”
“Aku telah memanggilmu berulang kali, namun kau tak mendengarkan. Tapi kini kau telah mendengarku, karena itu jangan kecewakan cintaku dengan peng-elakan diri. Peluklah ruhku, Sang Maut terkasih.”
Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruhnya di bawah sayap-sayapnya. Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang ke dunia dan dalam bisikan ia berkata, “Hanya mereka yang di dunia mencari Keabadian-lah yang sampai ke Keabadian itu.”
(dari “Kelopak-Kelopak Jiwa” – Gibran Khalil Gibran)