Archive for the ‘ Cerpen ’ Category

Lir ilir

doc

Genap satu minggu ini suasana kampungku sedikit aneh. Semenjak kecelakaan maut di jembatan kecil itu terjadi. Jembatan yang menghubungkan kampung kami dengan kampung sebelah. Sebuah sepeda motor terjungkal masuk ke dalam sungai. Kecelakaan ini menyebabkan pengendara motor meninggal dunia di tempat kejadian. Dan sejak itu, perasaan kami dihantui rasa yang serba tak enak. Mungkin itu hanya perasaan-perasaan yang kami ciptakan dan kami kembangkan sendiri. Perasaan takut berlebihan yang memunculkan cerita-cerita di luar logika.

Sore itu, ketika aku berada di warung Mak Inah untuk membeli sabun, banyak warga yang mulai bercerita mengaku mendengar suara aneh saat melewati jembatan. Ah, seperti sudah menjadi tradisi, warung adalah salah satu tempat untuk berbagi kisah dan cerita. Tempat pertama sebuah berita diluncurkan dan kemudian berkembang dengan cepat. Inilah yang membuatku sedikit khawatir jika Ibu berbelanja di warung sendirian. Alhasil, aku mengalah untuk membantunya berbelanja segala sesuatu keperluan rumah tangga. Meskipun aku anak lelaki dan anak satu-satunya di keluarga, rutinitas belanjaku bukanlah hal yang luar biasa bagiku. Inilah salah satu bentuk cinta kita pada orang tua.

“Mas Arya, semalem kita denger lagi hantunya, hiii…” kata Udin, bocah sepuluh tahun yang tinggal tak jauh dari rumahku.

“Hmm, hantu apa, itu cuma kuping kamu aja yang salah denger,” jawabku mencoba menenangkan.

“Iya kok Nak Arya, saya juga pernah denger lho pas pulang dari kerja, padahal itu baru jam tujuh malam, masak hantunya sudah keluar,” sambung Bu Mila tak mau kalah.

“Terus terang saya belum pernah dengar Bu, ya semoga itu bukan apa-apa,” kataku sambil tersenyum. Ibu-ibu yang lain pun mulai menimpali dengan berbagai dugaan, perkiraan, serta pertanyaan yang jawabannya mereka reka sendiri.

Memang aku belum melewati jembatan kampung di malam hari sejak kecelakaan maut itu. Meskipun aku anak lelaki, tapi aku tak hobi keluar malam seperti pemuda pada umumnya yang hanya sekedar nongkrong di warung. Paling keluar malam hari untuk pertemuan karang taruna atau menemani Bapak menghadiri pertemuan warga. Kuliah juga tak membuatku pulang malam karena memang jarak kampus dengan rumahku tak seberapa. Terjangkau dengan angkutan umum pula.

Mungkin karena aku anak Pak RT di kampung ini, warga menganggap aku juga harus bertindak bagaimana agar hantu, setan, atau apalah itu bisa pergi dan tidak mengganggu. Meskipun dalam lubuk hati yang terdalam, aku sendiri masih ragu, apa benar ada makhluk halus yang menghuni jembatan itu dan mengganggu? Apa itu hanya ketakutan warga saja yang berlebihan usai insiden kecelakaan maut kala itu? Jelas-jelas setan itu aneh benar. Biasanya hal-hal sejenis itu munculnya tengah malam. Tapi di kampungku kini jam tujuh malam sudah terasa sepi. Mereka takut keluar rumah karena pada jam sekitar itulah suara-suara aneh mulai terdengar. Lagipula menurut pengakuan beberapa warga yang telah mendengarnya, suara itu mirip dengan nyanyian lagu Lir Ilir. Lagu dengan bahasa Jawa yang sarat akan makna. Masak iya, setan menyanyikan lagu Lir Ilir? Otakku tak mampu mencernanya.

Warga mungkin sudah menambah dan mengurangi informasi sebenarnya yang entah bermula dari siapa. Beredar kabar bahwa korban kecelakaan meninggal adalah seorang sinden. Meskipun pada kenyataannya kita tidak mengenal siapa dia karena bukan warga kampung kami maupun kampung sebelah. Dia meninggal dalam keadaan yang tak wajar sehingga arwahnya gentayangan. Berdiam diri dan menjadi penunggu jembatan. Menyanyi sesuka hati karena itu hobi atau pekerjaan selama hidupnya. Suaranya yang melengking membuat hati siapa saja yang mendengarnya berdesir dan merinding. Tak peduli atau mungkin tak tahu jika hal itu meresahkan warga. Arwah gentayangan baru, belum tahu bahwa yang dilakukannya tetap mengerikan dari sudut pandang manapun. Mungkin demikian pikiran dan asumsi yang berputar di benak warga.

Warga tak ada yang berani melewati jembatan itu setelah sholat isya’. Bahkan tak ada lagi yang nongkrong di warung seperti biasanya. Mereka lebih banyak belajar Al Quran di mushola atau di rumah masing-masing. Mereka percaya bahwa munculnya hantu dadakan ini untuk menyampaikan pesan kepada warga kampung yang mulai luntur ibadahnya. Yah, setiap orang memiliki pemikiran masing-masing. Meskipun aku juga menjadi rajin mempelajari makna di balik lagu Lir Ilir, tapi aku tak menjadikan hantu itu sebagai pembawa pesan atau apalah itu.

Cerita-cerita yang berkembang di masyarakat membuatku semakin penasaran. Aku harus mengambil tindakan. Aku tak peduli bagaimana rupa setan itu. Aku tak peduli sekacau apa suaranya saat menyanyikan lagu yang warga bilang mirip Lir Ilir itu. Aku tak peduli.

Sudah tak sabar aku menunggu datangnya malam. Setan ini benar-benar menarik perhatianku. Aku tak bicara pada siapa pun tentang rencanaku untuk menemui setan jembatan, takutnya malah akan jadi tontonan.

Setelah sholat isya’, aku putuskan untuk tetap berada di mushola. Beberapa warga juga masih tetap di sana belajar Al Quran. Aku menyendiri. Mempersiapkan segala hal mulai dari mental hingga materi. Melafalkan ayat-ayat Al Quran untuk memastikan tidak ada bacaan yang tercecer saat aku menghadapi setan itu sebentar lagi, seorang diri. Mulai dari Al Fatihah hingga ayat kursi terus menerus bibir ini menekuni. Rencananya aku akan mulai bergerilya beberapa puluh menit lagi.

Suasana kampung makin terasa sepi. Dinginnya malam sedikit menggetarkan nyaliku. Tapi ini bukanlah rencana yang dengan sembarangan aku putuskan. Aku harus melakukan ini. Demi kampungku. Aku raih setang sepedaku dengan penuh keyakinan. Kugenggam erat-erat untuk melawan dingin juga. Jalan setapak gelap mulai kujelajahi. Benar, ini baru pukul tujuh lebih setengah, tapi sepinya seolah-olah seisi kampungku musnah. Warung Mak Inah sudah tutup. Langkahku mulai ragu-ragu, apa yang kulakukan saat ini aku mulai tak tahu. Tak yakin. Mau maju otakku sudah mulai terganggu, mau mundur tak terasa jembatan itu sudah ada di depanku. Tanggung. Ingatanku mulai memutar kembali cerita-cerita warga kampung. Cerita-cerita yang sudah ditambah dan dikurangi dari bibir ke bibir. Cerita yang semakin panjang semakin menyeramkan kisahnya. Bagaimana jika bentuknya mengerikan? Bagaimana jika suaranya lebih mengerikan? Tegang.

Kakiku menapak perlahan di papan jembatan setelah kuletakkan sepedaku begitu saja. Gelap. Jembatan ini begitu kuat. Meskipun yang menjadi penahan kaki kami adalah susunan papan dari kayu, tapi rangka yang menahan di bawahnya terbuat dari besi baja. Umurnya lebih muda lima tahun dariku. Jadi kira-kira usia jembatan ini 12 tahun kurang 2 bulan.

Gemercik aliran sungai yang tak begitu deras mengiringi langkahku. Tak kurasakan sedikitpun keanehan atau keseraman seperti dalam cerita-cerita warga beberapa hari ini. Semua tampak dan terasa biasa saja. Dingin memang, gelap memang, tapi tak ada tanda-tanda munculnya setan atau nyanyian Lir Ilir itu. Aku berdiri di tengah jembatan. Kulongokkan kepalaku ke sungai. Udara dingin lama-lama terasa segar di kepala. Baru kali ini malam-malam aku berdiam diri di jembatan. Meskipun misi utamanya adalah menemui penunggu jembatan yang katanya ada itu, tapi aku mulai menikmati kesunyian ini. Dan yang paling menyenangkan adalah sepertinya setan itu tak muncul.

“Ah, sepi gini, katanya ada setan,” gumamku.

Tiba-tiba suara aneh terdengar. Bukan nyanyian yang seperti diceritakan warga. Tapi lebih seperti gesekan. Aku mulai panik tapi tetap berusaha tenang. Jadi aneh gerakan dan mimik wajahku saat itu, mungkin. Aku mundur beberapa langkah hingga kaki ini tak lagi menapak di papan jembatan. Sebuah kebun kecil yang berada di dekat jembatan kini menjadi sasaranku. Suaranya semakin jelas terdengar. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitku. Padahal udara begitu dingin dan gerakannya lumayan aktif. Suaranya bersumber tepat di atas kepalaku sekarang. Jelas sekali kudengar. Bagaimana ini, apa aku harus lari?

Kepalang tanggung jika aku lari. Akan aku hadapi apapun itu. Kuberanikan diri untuk melongok ke atas. Memastikan ada apa sebenarnya di atas sana. Dengan cepat-cepat kuhadapkan kepalaku ke atas. Entah karena terlalu berani atau justru takut.

“Hah? Tak ada apa-apa?”

Kurogoh saku celanaku. Kukeluarkan sebuah senter kecil sebagai sumber cahaya. Tepat di samping kananku berdiri sebuah pohon pisang. Aku arahkan lampu senterku ke atas. Suara itu selalu terdengar tepat ketika udara yang bergerak aktif berhembus membelai tubuhku. Dan aku temukan sumber suara itu. Daun pisang yang saling bersinggungan karena angin malam.

“Sial, daun pisang rupanya,” gumamku.

Udara dingin semakin menyeruak ke dalam tulangku. Kuputuskan untuk kembali ke rumah. Kesimpulannya, tak ada arwah gentanyangan seperti dalam cerita warga kampung. Mungkin mereka memiliki khayalan yang terlalu tinggi hingga berhalusinasi atau berfantasi.

***

Langit tanpa awan mendung bergantung menaungi kampungku pagi ini. Cerah. Secerah hati dan pikiranku. Setelah semalam aku berdiam diri menjelma menjadi “penunggu jembatan” tanpa bertemu penunggu jembatan asli yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Aku yakin tak ada yang perlu ditakutkan lagi untuk melewati jembatan itu di malam hari. Aman.

Tak sabar aku ingin segera menyebarkan kabar gembira ini pada warga. Dengan alasan membeli kopi aku berpamitan pergi sebentar pada Bapak. Aku berniat pergi ke warung Mak Inah. Berharap banyak ibu atau bapak yang bisa kuajak berbagi cerita positif ini di sana. Ya, warung yang sudah seperti kantor berita dan menjadi pusat bertukarnya informasi. Aku membayangkan cerianya wajah mereka nanti setelah mendengar ceritaku. Mereka dapat melewati jembatan itu kapan saja mereka mau. Tanpa rasa was-was atau takut karena harus mendengar lagu Lir-Ilir yang tak jelas siapa yang menyanyikan di jembatan.

Kukayuh kereta anginku dengan kencang. Entah karena suasana hatiku yang sangat baik atau memang aku sudah benar-benar tak sabar membagi kegembiraan yang membuncah di hati ini. Ah, keduanya sepertinya sama saja.

Aku mulai memasuki jalan setapak yang kondisinya cukup baik untuk ukuran kampung dengan perlahan. Biasanya anak-anak kecil berlarian sepanjang jalan ini untuk mengejar layang-layang yang terputus benangnya. Aku tak mau laju sepedaku berakibat fatal nantinya. Kira-kira dua puluh meter lagi sampai di warung Mak Inah, seorang anak kecil yang juga mengendarai sepeda mengejutkanku dari arah berlawanan. Aku tak sanggup menghindar karena laju sepedanya begitu kencang.

Braaaak!

Kami berdua terjatuh bersama sepeda kami masing-masing. Dia tampak kesakitan dan ketakutan. Aku dekati dia untuk memastikan tak ada luka serius di badannya.

“Kamu terluka?”

Nggak kok Mas, sa… sa…saya minta maaf Mas,” katanya dengan ketakutan.

Aku tersenyum. Ternyata anak ini menyadari kesalahannya. Itu sudah cukup bagiku.

“Lain kali hati-hati ya, jalan ini kan sempit, untung Mas-nya cuma naik sepeda, nah kalau motor, bahaya kan,” kata Pak Hasan yang baru kusadari kehadirannya. Beberapa warga kampung sudah mulai berkumpul untuk menolong kami.

“Iya Pak, maaf, soalnya saya terburu-buru,” katanya sambil beranjak berdiri.

“Rumahmu dimana?” lanjut Pak Hasan.

“Saya, Kampung Pandan Pak.”

“Memangnya mau kemana Dek?” tanyaku

“Mau ke jembatan Mas.”

“Jembatan???”

“Iya Mas, sepertinya senter saya ketinggalan di bawah jembatan,” jawabnya sambil membersihkan tanah yang melekat di celananya.

“Senter?”

“Eh, iya senter Mas, akhir-akhir ini kan saya sering ke sana, belajar.”

“Belajar?”

“Iya Mas, ada tugas dari Bu Guru nyanyi lagu Lir Ilir di sekolah, kalau latihan di rumah keluarga saya pada protes Mas, berisik katanya, yah memang suara saya tak terlalu bagus Mas, jadi saya pergi ke jembatan, saya latihan di bawah jembatan Mas” jawabnya dengan malu-malu.

Aku dan warga yang lain terdiam.

“Ehm, kata Bu Guru lagu Lir Ilir itu maknanya bagus lho Mas,” lanjutnya sambil memamerkan deretan gigi-gigi kecilnya..

Aku mendengus.

“Iya, memang bagus maknanya,” jawabku.

Dan sekarang bukan hanya aku yang yakin bahwa penunggu jembatan yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan itu tak ada. Pesan memang tersampaikan, tapi bukan hantu yang membawanya. Biarlah kisah lagu Lir Ilir ini menjadi pengingat warga kampung. Menjadi cerita tersendiri. Tentang bangkitnya semangat beribadah kami.

Cerpen Endah Aibara

******

Iklan

Anak-anak Masa Lalu

Anak-anak Masa Lalu
BILA tidak ingin celaka, jangan melintas di Jembatan Sinamar pada waktu-waktu lengang, apalagi tepat di saat berserah-terimanya ashar dan magrib! Bukankah begitu sejak dulu, petuah para tetua, perihal jembatan yang tak pernah lekang dan usang itu? Namun, sebagaimana titian biasa runtuh, pantangan biasa dilanggar, bukankah pula, dari masa ke masa, selalu ada gerombolan anak-anak kampung ini, yang diam-diam hendak menyingkap rahasia tersuruk di sebalik pantang dan larang yang terus dimaklumatkan?

Maka, dengan segelimang gamang yang tak ditampakkan, mengendap-endaplah bocah-bocah kerempeng itu, tepat pada waktu terlarang. Mula-mula, sayup-sayup terdengar jerit dan rintih anak-anak seusia mereka, bagai sedang didera rasa sakit yang tak tertanggungkan. Seiring rembang petang, makin terang kedengarannya, hingga mereka memercayai suara gaib yang membuat bulu kuduk meremang itu berasal dari lantai Jembatan Sinamar. Menimbang keriuhan yang kian meninggi, rasa-rasanya asal jerit-rintih itu bukan dari satu orang, mungkin dua atau tiga. Lalu, di benak mereka, terbayang jasad anak-anak yang terjepit dalam jejaring beton bertulang. Mereka lekas berbalik, lari pontang-panting, seperti benar-benar sedang diburu hantu petang hari.

Dua hari selepas petang itu, Tongkin turun tangan. Sebab, Alimba, salah satu dari gerombolan anak-anak pelanggar pantang itu kesurupan. Ia mencak-mencak, lalu membanting barang-barang pecah-belah di rumahnya. Beling dari piring yang berserak di lantai, satu per satu ia kunyah, seperti mengunyah keripik singkong, hingga berderuk-deruk di tenggorokannya. Lantaran tingkah Alimba makin liar, dua penambang pasir Sungai Sinamar meringkusnya, hingga ia menghentak-hentak sambil mengeluarkan pekik yang membuat pedih gendang telinga. Tongkin, dukun pilih tanding, mengerahkan segenap kesaktian, guna merenggut makhluk halus itu dari jasad Alimba.

”Rumahku di sini, di kampung ini, bukan di Jembatan Sinamar!” ancam Alimba, dengan tatap bengis.

Tongkin tak peduli gertakan itu. Mulutnya terus komat-kamit, melafalkan mantra-mantra.

”Kau tak akan sanggup mengusirku,” bentaknya lagi.

Sesaat Tongkin mundur, ia memperkokoh posisi duduknya. Rupanya ia sedang berhadapan dengan lawan bersengat.

”Siapa kau sebenarnya?” tanya Tongkin dengan napas terengah-engah.

”Jangan pura-pura tidak tahu! Aku salah satu dari tiga anak yang kepalanya dibenamkan di lantai Jembatan Sinamar.”

Orang-orang terperangah. Tongkin menghela napas dalam-dalam. Tak biasanya, roh jahat yang merasuk ke dalam tubuh kasar mengungkap asal-muasalnya. Sesaat kemudian, Alimba tumbang, lalu pingsan.

***

Dulu, bila ada yang kesurupan, Tongkin selalu berkilah bahwa makhluk halus yang merasuk hanyalah penghuni Sungai Sinamar yang terusik sejak pembangunan jembatan. Namun, setelah Alimba kerasukan, rahasia Jembatan Sinamar mulai tersingkap. Tongkin membenarkan bahwa riwayat usang tentang pemenggal kepala bukan cerita bohong. Kekejaman pemenggal kepala yang telah menjadi kabar petakut di Kampung Subarang, ternyata bukan sekadar dongeng pengantar tidur bagi anak-anak malas yang lebih banyak bermain gundu ketimbang membantu orang tua di ladang. Mulai dari ibu-bapak Alimba, tetangga-tetangga dekat hingga tersiar ke seluruh penjuru kampung, Tongkin membeberkan bahwa jika Jembatan Sinamar hanya dipancangkan dengan beton-beton bertulang, menimbang usianya yang sudah uzur, tentu sudah rubuh. Namun, tiga kepala yang dibenamkan bersama adukan cor, telah membuatnya bagai tiada pernah lekang dimakan usia. Saat gempa dahsyat memporak-porandakan rumah-rumah warga Kampung Subarang, Jembatan Sinamar jangankan runtuh, terguncang pun tidak. Tiang-tiangnya masih menancap kokoh, apalagi lantainya, meski setiap hari truk pasir bermuatan sarat lalu-lalang melintasinya. Dan, itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Di masa lalu, Kampung Subarang pernah gempar lantaran kehilangan tiga bocah laki-laki, sepulang menonton pacuan sapi, tak jauh dari tepian Sungai Sinamar. Mereka dikabarkan hanyut saat menyeberangi sungai itu. Begitu hasil penerawangan batin para dukun yang melacak keberadaan mereka. Berhari-hari Sungai Sinamar diselami, dari hilir hingga hulu, tapi mayat mereka tak ditemukan. Setelah semua daya-upaya dilakukan, akhirnya ketiga orang tua anak-anak yang hilang tak jelas rimbanya itu memercayai bahwa mereka telah diculik orang bunian. Tidak meninggal sebagaimana yang diperkirakan, tapi mustahil kembali, karena mereka sudah terhisap ke dalam alam halus. Orang-orang Subarang merelakan tiga bocah itu menjadi anak-anak masa lalu yang tak pernah lagi diungkit-ungkit riwayatnya.

Padahal, mereka tergoda oleh iming-iming dua lelaki asing namun berperawakan ramah dan baik hati. Mereka dibujuk dengan ajakan menonton pertunjukan kelompok sirkus yang waktu itu sedang manggung di kota kabupaten. Dua lelaki itu mengendarai mobil bak, dan sudah pasti mereka akan dibolehkan bergelantungan di mobil itu. Pengalaman yang mahal untuk ukuran anak-anak Kampung Subarang masa itu.

Namun, sebelum sampai di kota, di sebuah tempat lengang, mobil tiba-tiba berhenti. Salah satu dari dua lelaki asing turun, mendekati tiga bocah yang sedang asyik bergelantungan.

”Sebelum masuk ke arena sirkus, kalian harus pakai ini,” katanya, sembari membagikan topi warna hijau.

Sekilas topi itu mirip lackpetyang biasa dipakai tentara zaman dulu. Bila cuaca dingin, dua sisi bawahnya dapat dikancingkan di dagu. Sementara di sisi belakang, yang bersentuhan langsung dengan kuduk, menyembul dua ujung kawat halus sepanjang empat senti. Kawat baja itu tersembunyi di dalam kain yang akan melingkari leher.

”Arena sirkus akan ramai pengunjung. Topi itu memudahkan kami mencari kalian, begitu pertunjukan usai.”

”Bila tidak, kalian bisa hilang dalam keramaian.”

Mereka bergegas menyarungkan topi di kepala masing-masing, dan memasang kancing di bawah dagu. Ada yang berdetak di kuduk, bunyinya seperti gembok yang terkunci, hingga leher mereka bagai tercekik. Anak-anak yang telah masuk perangkap diminta turun. Mereka tidak membantah lantaran tenggorokan yang tersekat, sementara topi tidak bisa dibuka lagi. Dengan posisi menyilang dua lelaki itu menyentakkan kawat baja di kuduk anak-anak itu. Seketika kepala mereka lepas dari badan. Nyaris tak ada pekikan. Penyembelihan yang dingin. Lebih lekas dari menggorok leher sapi. Tiga topi berisi kepala menggelinding di dalam mobil bak, segera diserahkan kepada pimpinan proyek pembangunan Jembatan Sinamar.

***

Setelah meraih gelar insinyur dengan predikat cum laude dari sebuah universitas ternama di Jawa, belasan tahun lalu, Alimba memang belum pernah pulang. Namun, sosoknya seumpama layang-layang yang sedang tegak-tinggi tali. Jauh, namun tampak dekat. Dekat, tapi tampak jauh. Selalu ada yang berkabar bahwa di tanah Jawa, insinyur Alimba, telah menjadi pemborong besar, utamanya dalam proyek pembangunan jembatan layang. Kualitas konstruksi yang dikerjakan oleh perusahaan milik Alimba telah teruji. Tiga dari lima tender proyek jembatan layang selalu dimenangkan PT Sinamar Jaya Karya. Tak terbayangkan, Alimba bocah kerempeng dari Kampung Subarang, terlahir dari keluarga susah, kini menjadi kontraktor dengan reputasi tak tertandingi, bahkan konstruksi jembatan karya para insinyur tamatan luar negeri tak sanggup mengimbangi karya-karyanya.

Kalaupun ada kelemahan Alimba, itu hanya soal suara-suara gaib yang menyeruak dari setiap jembatan yang pernah dibangunnya. Tepat di saat bertimbang-terimanya ashar dan magrib, akan terdengar jerit dan rintih anak-anak yang seolah-olah sedang terjepit di dalam jejaring beton bertulang. Siapa yang melintas pada waktu terlarang itu, bakal celaka. Bila tidak tabrakan beruntun, setidaknya kendaraan terguling lantaran kecepatan yang tak terkendali. Sejauh ini sudah tak terhitung jumlah korbannya.

”Pasti ada yang tidak beres! Mesti diungkap. Bila kita tidak ingin terus kalah tender,” begitu sinisme seorang pesaing Alimba.

”Bagaimana cara membuktikan setan-setan jembatan itu?” tanya anak buahnya.

”Alimba terlalu kuat. Sekuat konstruksi jembatan hasil karyanya.”

”Ah, apalah guna mutu, bila setiap bulan selalu menagih darah?”

***

Bila di masa lalu, Subarang heboh karena kehilangan tiga bocah laki-laki yang telah direlakan menjadi anak-anak masa lalu, kini kampung itu kembali gempar setelah TV dan koran-koran menayangkan kabar tentang seorang kontraktor proyek jembatan layang yang diduga sebagai otak di balik penemuan potongan-potongan tubuh mayat yang belakangan ini telah meresahkan. Dikabarkan, buronan bernama Alimba itu telah membenamkan ratusan butir kepala anak-anak jalanan di dalam jejaring beton bertulang, sebagai tumbal demi kekokohan konstruksi setiap jembatan yang dibangunnya. Orang-orang suruhan Alimba berkhianat, dan menyebarkan jasad-jasad tanpa kepala di setiap penjuru kota, hingga reputasi PT Sinamar Jaya Karya tak terselamatkan.

Dari kejauhan, orang-orang Subarang berdoa semoga Alimba, si pemenggal kepala, beroleh tempat bersembunyi yang tidak bakal terlacak siapa pun. Betapapun sadisnya perbuatan Alimba, ia telah menghidupi anak-anak muda yang dulu hanya pemadat jalan di Kampung Subarang, kini menjadi orang-orang yang beruntung di perantauan. Alimba menampung dan mempekerjakan mereka.

”Ini salah Tongkin,” umpat salah seorang tetua Kampung Subarang.

”Tongkin sudah mati. Ia jangan dibawa-bawa!”

”Bukankah Tongkin yang membeberkan cerita tentang pemenggal kepala, dan Alimba mengambil pelajaran dari situ?”

Daruih, dukun muda pewaris kesaktian Tongkin, menyanggah. Baginya, kabar yang telah menjadi aib Kampung Subarang bukan salah Tongkin, bukan pula Alimba, tapi ulah salah seorang dari anak-anak masa lalu, tumbal Jembatan Sinamar. Arwah yang pernah merasuki Alimba semasa kanak-kanak tak sungguh-sungguh pergi, hingga kini bahkan masih bersarang di tubuh insinyur hebat itu. Ia melunaskan dendam lewat tangan Alimba…

cahaya titis, 2010

Cerpen Damhuri Muhammad
Dimuat di Jawa Pos

Orang yang Ingin Menjadi Setan

Hari itu ketika hujan panas turun, Midun sudah duduk di teritis rumahnya sebelah utara. Dia dapat mendengar suara orang-orang yang berteriak di jalanan, karena lapak-lapak kaki lima mereka dihalau air langit. Dia juga dapat melihat sebentuk pelangi yang memintal cakrawala. Kabarnya peri-peri akan turun di sana. Entak di mana kaki pelangi jatuh, di situlah dia turun untuk mandi. Tapi Midun tak sanggup menunjuk ke sana. Sebab pantangan. Dari nenek moyangnya telah menjadi perundang-undangan, bahwa barang siapa yang menunjuk pelangi, maka jari-jarinya akan bercabang.
Dia tak ingin melihat peri-peri cantik turun. Sebab istrinya yang berbadan bulat itu, lebih cantik dan ramah. Dia hanya ingin dipertemukan dengan orang langit yang bisa memberikan kekayaan. Bisa merubah gubuk reyotnya menjadi istana. Bisa membuat istrinya bergelang emas melingkar-lingkar. Lalu anak-anaknya bersekolah di kelas-kelas elite. Mobil-mobil silih berganti. Juga, mungkin kesempatan berpoligami. Midun maniak seks. Nafsu badak. Demi meluruskan keinginan, tak apalah menambah istri-istri yang berbadan bulat juga ramah.
Tiba-tiba kaki pelangi menyentuh pekarangan belakang rumah Midun. Seseorang berpakaian hitam,-hitam, bertopi kerucut, turun melalui pelangi seperti melompat dari unta pemalas. Dia bersendawa. Dia menenangkan Midun yang tergeragap. bagaikan unta bodoh. Kau Midun? tanyanya.
Benar!
Ingin kaya? tanyanya lagi.
Benar!
Maka kau berhak kaya jika berteman dengan setan sepertiku.
Midun kebingungan. Tapi dia akhirnya tersenyum, sebab ketertarikannya pada kata k-a-y-a lebih dominan daripada kata s-e-t-a-n. Dia boleh bersahabat dengan orang berjubah itu, asal dia diberikan kepuasan duniawi.
Jangan bingung. Seharusnya peri-peri yang turun dari langit. Tapi sekarang kugantikan. Karena kau butuh kaya. Bukan butuh kecantikan peri-peri. Apalagi butuh nasehat-nasehat. Karena kepalamu sudah muntah oleh nasehat-nasehat pemerintahmu yang menyesatkan.
Akhirnya Midun dan setan bersahabat. Sejak saat itu Midun menjadi kaya mendadak. Dia dengan mudah memaling harta tetangganya, karena dilindungi setan. Lalu mengembalikannya seperseratus bagian, sebagai penambah simpati atas kemalangan orang-orang yang kemalingan itu.
Dia menjadi pujian dan pujaan orang. Dia mengumbar janji-janji ke mana-mana. Bergaya membeli tanah, tapi ujung-ujungnya merampok. Sayang, orang-orang malahan kesenangan. Banyak yang membelanya, sebab dia tak segan mengeluarkan uang banyak demi meluluskan segala rencana. Dia dibekingi puluhan preman, puluhan aparat, sehingga sepertinya sepakterjangnya selalu mulus dan jujur. Padahal menyengsarakan tetangga-tetangganya yang hanya dapat mengelus dada. Ya, hanya dada mereka yang pantas dielus karena masih dapat dibusungkan. Bukan perutnya, sebab mereka lebih sering busung lapar ketimbang kenyang.
Lambat-laun kekayaan Midun melimpah-ruah. Keluarganya menjadi orang-orang pongah. Jiwa Midun yang dulu lembut, tiba-tiba kasar. Amat sangat mudah dia menempeleng orang-orang yang membangkang. Bahkan tak jarang dia membunuh seseorang dengan perpanjangantangan peluru aparat, berikut dalih bahwa orang yang mati bukan ditembak, melainkan tertembak pada saat mengamankan kerusuhan.
Ambisinya menjadi ketua rt, lalu ketua rw, lurah mejadi-jadi Dia mempergunakan kekayaan, dibantu setan untuk mewujudkan cita-cita itu. Berbagai orang diberikannya derma, diberikan fasilitas. Kemudian dipaksa memilihnya menjadi sang ketua.
Anehnya semua berjalan mulus. Orang-orang senang membantunya. Bukan diakibatkan uang pemberian Midun saja, melainkan lebih dititikberatkan pertemanan Midun dengan setan. Orang-orang, banyak yang berjiwa dan berpikiran setan. Maka, wajar mereka senang kepada setan. Jadinya, bukan setan yang dirayu, tapi manusia yang merayu.
Midun berhasil menjadi ketua rt. Menjadi ketua rw. Menjadi lurah. Lalu mentok. Dia tak dapat lagi naik lebih tinggi, misalnya menjadi camat. Dia bukan orang sekolahan. Pernah bersekolah, itu pun sampai kelas lima esde. Paling tidak menjadi camat itu seorang sarjana, serta sudah dididik di lembaga pemerintahan.
Tapi bukan Midun namanya. Dia dapat membeli ijazah. Baik itu ijazah sarjana S1, S2, S3 maupun es teler. Yang penting, ada uang. Dia dapat membeli nilai-nilai bagus dari para dosen yang menganggapnya dewa.
Perjuangannya berjalan mulus. Orang-orang membelanya, sebab dapat memberi derma. Orang-orang tak butuh janji, sebab tak jarang itu berujung caci-maki. Bagi orang-orang yang membangkang, maka usaha mereka diganggu. Keluarganya diganggu. Bahkan diusir, dan sekali-sekali dibunuh, juga melalui dalih tak ada unsur kesengajaan. * * *
Dalam kehidupan yang mapan, Midun sekarang menjabat sebagai gubernur. Dia bernafsu menjadi presiden, sebagai jabatan tertinggi dan mentereng di sebuah pemerintahan. Lalu dia pun merayu setan sahabatnya.
Aku mau menjadi calon presiden. Tolong bantu, Man! katanya memanggil setan dengan sebutan teman. Apakah ilmumu cukup? Setan menggoda.
Lebih dari cukup.
Butuh biaya banyak untuk menjadi presiden. Butuh banyak nyawa.
Biaya, aku ada. Nyawa, punya siapa mau dicabut sebagai tumbal? Aku sanggup melaksanakannya hari ini. Aku ingin nyawa Mirna!
Midun tersentak. Mirna ini sama dengan nama istrinya. Mirna mana? Dia berharap bahwa nama itu bukan milik istrinya. Istrimu!
Tak bisa!
Setan mendelik. Dia paling tak ingin dibantah oleh Midun, juga orang-orang yang menyembahnya sebagai tuhan. Perjuangan itu butuh resiko. Kalau ingin terkabul, turutilah peraturan setan. Sebab di negaramu ini, orang-orang yang menuruti peraturan malaikat atau peri-peri, akan tergencet gepeng. Mereka malahan disebut sebagai setan-setang penghambat pembangunan. Dia tertawa.
Karena merasa sedikit bosan beristrikan Mirna, akhirnya dia mengiyakan. Tak menunggu waktu berapa hari, Mirna mati. Diagnosa dokter yang telah disogok Midun, istrinya itu mati terkejut. Lebih tepat terkena serangan jantung. Padahal Midun, dengan perpanjangantangan aparat, telah meracun jantung istrinya. Ternyata Midun belum sukses menjadi presiden.
Kau masih kurang tumbal, jawab setan berkilah, ketika Midun mempertanyakan ketakberhasilannya menjadi presiden. Nyawa siapa lagi yang dijadikan tumbal, Man?
Manto! Setan menyebut nama anak pertama Midun
Midun melaksanakan niat busuknya. Manto sengaja ditabrak dengan mobil oleh aparat yang menjadi perpanjangan tangannya. Lalu mati. Tapi Midun tetap tak terpilih menjadi presiden.
Nyawa siapa lagi yang butuh?
Minta! Setan menyebut nama anak kedua Midun. Lalu putranya itu mati dibunuh. Masih kurang! keluh setan ketika bertemu lagi dengan Midun. Nyawa siapa lagi?
Kamu!
Maksudnya?
Ya, kamu yang mati selanjutnya!
Midun kelabakan. Dia belum ingin mati. Dia masih ingin menjadi presiden. Namun setan lebih menyukainya mati, biar kekerabatan mereka abadi.
Teman, kata setan perlahan, aku sangat salut kepadamu. Demi ambisi, kamu rela membunuh rakyatmu. Rela membunuh istrimu. Anak-anakmu. Sementara aku, demi meluluskan ambisi, tak sanggup membunuh rakyatku, juga keluargaku. Jadi, kalau kau mati, aku ingin kau menjadi presiden setan. Untuk apa menjadi presiden manusia yang banyak berlagak malaikat, tapi jiwanya setan. Dia tertawa. Midun meringis. Pada saat setan meminta malaikat pencabut nyawa bekerja dengan sebilah tombak yang ujungnya clurit tajam, Midun langsung berontak.
Aneh! Tiba-tiba dia sudah berada di teritis utara rumahnya. Hujan benar-benar telah berhenti. Sedangkan dia tersadar hanya berhalusinasi. Dalam kelinglungan, Manto, anaknya, datang mendekat. Pak, aku minta uang pembeli narkoba!
Seketika Midun seperti melihat setan sahabatnya, menggeliat di mata anaknya.

Cerpen Rifan Nazip
Dimuat di Bangka Pos

Malam Rajam

JELANG dini hari. Di sebuah ranjang berkelambu coklat muda. Kau terlelap tanpa dengkur. Telanjang dada. Bersarung sebatas lutut. Di sampingmu, terbaring sebatang tubuh molek yang hanya dibalut kain lasem sebatas dada, hingga terintip ceruk di antara dua bukit tinju yang ditutupinya. Selingkaran lehernya menyerak tanda merah sebesar ujung jempol, bagai habis dihisap-kecap. Air muka kalian menyemburatkan lelah yang tak biasa. Tengah malam tadi kalian khatamkan sebuah pertarungan yang tertunda sekian lama. Bukan hanya dengan keringat, tapi kalian juga melakoninya dengan hasrat yang mendahaga. Tak ada yang ditetapkan sebagai pamuncak. Kalian sama-sama kuasa. Kalian pula sama-sama kalah. Bakda itu, lelap kalian adalah sebenar lelap. Untuk apalah bermimpi lagi bila angan-angan itu baru saja tertunai?! Tertunai di atas nama pertautan-halal; di atas ranjang yang berseprai anyar; di atas malam yang dipilahku untuk merajam. Membalas dendam!

***

SIANG tadi pesta perkawinanmu digelar dengan mewah. Kau memang seorang istimewa. Anak tunggal pemilik panglong kayu terbesar di kampung. Jadi, adalah mahfum bila perempuan yang baru datang dari kota itu tertawan olehmu. O, jangan-jangan ia yang menawanmu?! Ah, tak penting itu. Perkaranya adalah, aku tak rela kau meminangnya. Tidak!

Memang, kepergianku ke kampung orang tuaku dua pekan silam tanpa sepengetahuanmu dan keluargamu. Tapi, yang membuatku murka adalah sikapmu (juga keluargamu) ketika mengetahui aku raib. Tenang-tenang saja. Ketika itu, mendidihlah darahku. Ingin sekali aku melabrakmu. Bila perlu membuatmu mati-tercekat karena mendapati kedatanganku yang tiba-tiba. Namun, rencana itu kujegal sementara. Aku benar-benar ingin tahu musabab ketakpedulianmu pada diriku, gadis yang kaujanjikan untuk dikawini. O, apakah ketaktahuanmu tentang di mana tepatnya ranah kediamanan orang tuakukah yang membuatmu tak mencariku? Kini, jujur, aku merasa sangat bodoh. Mengapa dulu aku terburu-buru mengambil ketetapan itu. Pergi meninggalkanmu. Berkelana ke kampung ayah-ibu yang justru tak kunjung kuketahui keberadaannya.

***

AKU benar-benar benci pada perawan itu. O, sungguh, kau harus tahu bahwa semua ini bukan salahku!

Apakah kau tak tahu seperti apa pembantu di rumahmu dipekerjakan? Adalah sahih bahwa titah demi titah orang tuamu telah merampas waktuku: sedari subuh hingga malam meninggi. Jadi, bagaimana mungkin aku main-gila dengan laki-laki lain?! Apakah harus kuceritakan perihal aku yang jatuh dari pohon nangka karena keponakanmu dari kecamatan minta diambilkan layangan yang tersangkut di sana; apakah harus jua kukeluhkan bahwa aku pernah terjerengkang di dapur karena ibumu berteriak memintaku gegas menyiapkan air hangat untuk mandi di subuh kau akan diwisuda dua bulan lalu; apakah jua harus kutumpahkan kekesalan bahwa, beberapa kali aku terjerembab dari kereta unta ketika mengantar rantang-rantang para tukang yang merampungkan rumah baru kalian di simpang pasar… ; dan apakah harus kumeraung dalam suara yang pasti memarau untuk semua akibat yang dimunculkan kesialan-kesialan itu: selangkanganku sakit, perih, bahkan ketika terpeleset di kamar mandi yang akan kusikat di pagi Ahad, bercak-bercak merah tiba-tiba saja mengerubungi celana dalamku. Pedihnya tak tepermanai. Bukan hanya membayangkan bahwa beberapa hari bakda itu, aku akan berjalan sedikit mengangkang, namun…lebih dari itu. Menangis tak berbunyi aku bila membayangkan air muka lelaki yang suatu hari nanti mengawiniku di malam pertama kami (di bawah lampu kamar yang bercahaya remang).

***

BERTAMBAH masailah aku ketika suatu hari kau menanam tebu di bibir. Kau tak hanya, dengan lembut dan syahdu, mengatakan (sekaligus memuji); hidungku bangir, wajahku bulat telur, bibirku merah penuh, kulitku putih rotan, mataku kilap kelereng, alisku semut yang berbaris, rambutku sutera-hitam, daguku lekuk-mangga, bahkan telingaku kaukias bak cawan Persia. Aku luruh. Aku tahu, kau tak menuang air hingga tumpah. Kau menyampaikan yang sebenar. Ayahmu yang sudah empat kali naik haji saja sering ”nakal” padaku. Beberapa kali si tua bangka itu meremas pantatku ketika aku ngepel. Beberapa kali pula ia mencoba menciumkul namun selalu gagal karena derap langkah ibumu keburu menyambangi.

”Kau bersyukurlah kami pungut di tepian rel dulu. Sekarang nak bertingkah kau!” hardiknya ketika aku menghindari cengkeramannya di pinggangku.

Ayahmu juga sangat pandai mengganti muka. Di depan ibumu ia bagai singa yang sedang memerintahkan musang menyeret ayam. Bila aku lamban atau bahkan tak melaksanakan apa-apa yang dititahkan, maka aku akan dirajam. Demikian istilah yang sering dipakai keluargamu bila aku dirundung kesialan. Ya, selain keluargamu, tak banyak yang tahu (atau bahkan memang tak ada yang tahu) bahwa ayahmu seringkali merajamku dengan pecut kuda yang disimpan di kolong ranjangnya, bila aku kedapatan melakukan hal-hal yang tak berkenan di hadapannya dan ibumu. Walaupun tidak melakukannya dengan cambuk-maut itu, ibumu tak kalah ganas. Ketika marahnya membara, barang apa saja yang ada di dekatnya akan dicangking-rajamkan ke arahku. Kau tahu, bakat biru di bahu belakangku adalah bukti yang paling makbul atas guci China dan tatakan piring keramik Turkmenistan yang ia pecahkan ke tubuhku. Kau tahu, sejak itu, aku selalu tidur dalam keadaan telentang. Sedikit saja kumiringkan tubuh karena tiba-tiba ingin memeluk guling misalnya, tulang belakangku serasa bersigesek. Linu yang menyayat.

Dan… kau bagai mengimani peribahasa yang tampaknya tak bercelah: orang tua adalah guru berteladan yang mustajab.

Ya, kau kerap menjambak rambutku bila telur mata sapi kegemaranmu tak kugoreng seperti yang kau inginkan. Kuningnya terlalu masaklah, putihnya terlalu keringlah, minyaknya masih berlumuranlah…. Namun kau sangat berbeda dengan orang tuamu. Rajammu adalah rajam yang membuat lenguhanku bersicepat dengan denyut nadi dan geletar jantung. Kau biasanya menyeretku ke sudut dapur yang jauh dari imbas cahaya pir kuning yang menjuntai di plafon. Melumat bibirku, menggigit-geli leherku, menjilat lekuk telingaku…. Kau melakukan semua dengan tangan yang sigap membuka kancing-kancing baju-katunku. Seolah kau benar-benar hafal bahwa jarak masing-masing pengait baju itu adalah 12 sentimeter. Tapi… kau tak melakukan (atau meminta) lebih jauh. Kau kerap berhenti ketika aku mulai menikmati rajamanmu.

”Percayalah, aku bukan iblis. Aku hanya pemuda biasa yang tak dapat menyembunyikan naluri lelakinya. Percayalah, kau bagai bidadari saban habis mandi. Dan aku takkan menghamilimu hanya karena itu. Aku hanya ingin bercumbu dengan perawan di malam pertamaku. Dan itu adalah kau….”

Aku diam. Terharu. Bangga padamu bakal suamiku (benarkah?!). Lalu meradang dalam bayang kesedihan yang siap tumpah demi membayangkan malam-sakral itu tiba suatu waktu.

Tapi… oh, seperti yang kaukatakan. Kau adalah pemuda biasa. Hanya ditambah beberapa kelebihan: tampan, kaya, berpendidikan, dan (jujur kukatakan) menggoda. Pada suatu malam yang mendung, ketika kedua orang tuamu berhelat ke kampung sebelah, memenuhi undangan hajatan kawan lama, kau kembali merajamku. Tapi bukan karena aku tak menggoreng telur ayam itu dengan baik. Kau merajamku karena kau pemuda biasa katamu dulu, pemuda yang memiliki naluri kelelakian (atau kebinatangan?!). O sungguh, harus jujur kukatakan, aku juga bagai terasuk setan-binal malam itu. Bila kau memintaku menumpahkan isi telur di kuali, aku akan melakukannya serampangan. Bahkan, akan kunaikkan putaran gas hingga api menyala sejadi-jadinya. Akan kuhidangkan telur pekang, gosong-arang! Ya, aku ingin kau menghukumku. Merajamku!

Dan kau melakukannya tanpa ada pasal telur goreng itu. Tapi tak seperti biasa, kali ini kau meminta lebih. Tentu saja, aku menolaknya. Bukan, bukan karena tak yakin kau akan bertanggung jawab (entah, aku begitu percaya padamu bahwa kau takkan menyia-nyiakanku), tapi karena kau belum meyakinkanku apakah ayah-ibumu akan bersetuju dengan pilihanmu; seorang pembantu tanpa orang tua dan sanak saudara.

Kau bagai membaca kegundahanku. Kau katakan betapa istimewanya dirimu. Siapa yang berani menolak permintaan anak tunggal?! Sungguh cantik kau meliuk lidah. Ya, kau tak menanyakan mengapa aku berani menolak permintaan seorang anak majikan. O, betapa ketika itu kau menguapkan sikap yang meluluh-lantakkan tembok pertahananku.

Menanglah kau! Aku gelap-pikiran. Aku tak tahu bila tebu di bibirmu sebentar lagi akan ditebas (dan hilanglah gulali itu tak lama kemudian!). Aku hanya membayangkan betapa gadis sebatangkara sepertiku akan menjadi bagian dari keluarga terhormatmu. Ohhh….

Namun, kenyataan bersibelakang dengan ramalan. Kau mulai mengganas. Kausingkap kain lasemku. Dan… berserempakan dengan petir yang bergemuruh jauh, dan air langit yang bersitumpah satu-satu; mukamu keruh seketika!

Kau mendorongku hingga terjerengkang. Kau kenakan pakaian dengan tergesa-gesa. Kau tuding aku sundal. Kau tak memberiku kesempatan untuk mengurai sebab-akibat….

Tengah malam, kutinggalkan rumahmu. Memapas jalan-jalan kelam kampung yang lengang….

***

SEDARI pagi, aku memang tak sabar menyambut malam. Di antara kerumunan tetamu, kusaksikan bagaimana ijab-kabul dilewati tanpa hambatan. Sejak duha hingga bakda asar, orkes melayu mengoar-bingar panggung dan seantero kampung. Kalian bagai menginjak-injak luka-lebamku. Dan, bakda isa, aku menuju kediamanmu. Dari balik jendela, kuintip orang tuamu menghitung isi amplop yang diterima, para keponakan yang bersuka-ria menyobek bungkus kado-kado yang menyerak di kamar depan, beberapa tamu jauh yang tak henti memuji keserasian kalian….

Malam pun meninggi. Sedikit saja jarum jam yang lebih panjang tergelincir, maka hari akan bernama baru. Lamat-lamat aku menyelinap. Kalian lupa bahwa aku sangat paham leliku rumah besar itu. Aku segera menuju kamar bergorden merah jambu dengan beberapa tangkai anyelir menyelip di kaitannya. Syabas! Begitu mudah kukuak pintu kamar. O o, aku datang di waktu yang gemintang. Kalian baru akan memulai ritual wajib pengantin baru. Aku berdoa dari balik pintu, semoga selangkangan gadis itu berkembar-nasib dengan selangkanganku.

O, apakah benar yang kulihat? Kau menggumulinya dengan lunas. Apakah gadis itu masih perawan? Atau… kau tak peduli lagi perihal darah yang muncrat di antara bonggol paha itu? Puihhh!!!! Laki-laki pembual, kau!

Maka, ketika kalian lelap oleh lelah yang memuaskan… kusambangi ranjang harum melati itu. Kusingkap kelambu. Kutatap kalian satu-satu. Kubersijingkat menaiki ranjang. Sangat hati-hati, hingga tanpa bunyi derit. Aku kini sudah mengangkangimu. Ups! Setengah meloncat aku membebankan tubuh di atas perutmu….

***

AKU terkakak hingga air mataku menyeruak. Kedua bola matamu mendelik sempurna ke arahku. Kurajam kau kini! Kucekik lehermu sejadi-jadinya. Kau mengejang. Aku makin terbahak. Pun ketika perempuan di sampingmu terjaga. Ia menyangka kau tengah mengigau. Mimpi buruk.

Sejak kapan mimpi buruk bertandang di malam punai, hah?! Perempuan bengak!

Perempuan itu menarik-narik kedua tanganmu yang memegangi leher seolah kau tengah melepaskan cengkeramanku yang memelintir tonggak kepalamu. Mana bisa?! Mati kau?!

Perempuan itu berteriak ketakutan. Keluarga dan sanak-kerabatmu menggedor-gedor pintu yang masih terkunci. Tak lama, mereka mengerumunimu. Berteriak sejadi-jadinya. Ya, siapa yang tak meradang ditinggal mati anak-bujang seorang?!

***

AKU masih tertawa ketika, di antara sikaduduk yang menyemak di sudut pemakaman umum, tempat akan digalinya liang untukmu, orang-orang menemukanku teronggok dikerumuni belatung. Beberapa bagian tubuhku ditutupi bahan katun, kain lasem yang buram coraknya, dan tentu saja tali tambang yang masih bergelung di tengkorak kepala. Itu adalah tali yang kuambil dari dapurmu di malam aku meninggalkan rumah itu. Kukaitkan di dahan beringin yang paling besar; demi beroleh restu ayah-ibu untuk merajammu malam tadi.

Lubuklinggau, Oktober 2009 s.d April 2010

Cerpen : Benny Arnas
Dimuat di jawapos.

D e l a

“Saudara sebagai seorang ketua sangat tidak bertanggung jawab! Ketika semua bekerja keras, Anda malah tidak datang dengan alasan ketiduran! Ketua macam apa itu!”
Dia berkata dengan keringat yang menetes dan muka merah sambil menunjukkan jarinya kepadaku. Entah bagaimana ekspresi wajahku waktu itu, yang kurasakan hanyalah cengkeraman tangan Adi di bahuku.
“Kami bukannya budak yang dapat saudara suruh seenaknya. Kami di sini belajar berorganisasi, bekerja sama, dan membina persaudaraan, bukannya memupuk sikap diktator dan tak tahu diri!”
“Kamu keterlaluan!” Aku sudah tidak sabar mendengarkan omongannya. Telingaku rasanya terbakar.
“Kamu tidak berhak menuduh saya demikian! Apa buktinya kalau saya bersikap diktator?”
Sungguh di luar dugaan, dia tersenyum! Sungguh! Dia melihat seluruh peserta rapat dengan senyum tipis di bibirnya. Semua peserta terdiam.
“Coba Anda tanyakan pada peserta rapat tentang sikap Anda. Instrospeksi dirilah Bung!” Dia duduk di kursinya. Suara kursi bergeser itu terasa menyakitkan telinga dan ruangan itu kembali sepi seperti kuburan. Kupandangi mereka satu per satu dan mereka hanya menunduk.
Tiba-tiba dering bel mengejutkan kami. Kepala mereka tengadah menatapku. Segera aku berusaha menguasai diriku, “Baik, silakan Pendamping Kelas kembali ke posisi masing-masing dan bagian inspeksi segera bergabung dengan kelompoknya masing-masing!” Begitu aku selesai bicara, ruangan itu dengan cepat berubah menjadi kosong. “Raka, ayo, kita harus segera inspeksi!” Kutatap mata Adi, dia menunduk. “Kamu juga setuju dengan dia Di?”
“Ah sudahlah, jangan dipikir, kerja kita masih banyak.”
Memang benar katanya. Ini adalah hari kedua Penataran P4 siswa baru. Masih ada empat hari lagi. Tapi kata-kata Dela tidak bisa kuabaikan begitu saja. Di dalam organisasi ini dia tergolong orang baru walaupun dia berkemampuan tinggi. Dia tidak seperti aku atau Adi, juga Ratna, Sari, Joko, Fitri, dan Dimas yang sudah dua tahun ikut organisasi di SMU ini. Begitu beraninya dia mempermalukan aku di depan orang banyak. Rasanya aku ingin menonjoknya, untung saja dia cewek. “Ayo Raka!” Adi sudah tidak sabar.
“Sudah, kamu saja yang inspeksi, aku malas.”
“Lho, Raka!” Kutinggalkan Adi begitu saja.
Ya, memang salahku tidak datang pada hari pertama Penataran P4, dan otomatis Dela sebagai wakilku yang harus menanggung semua itu. Bukankah itu sudah tugasnya? Aku tahu kemampuannya walau dia masih baru, dan itulah sebabnya dia terpilih jadi wakilku. Tapi sungguh tidak adil kalau dia mempermalukan aku sebegitu rupa.
Sejenak kuamati papan pengumuman itu. Rupanya daftar kelas tiga yang baru sudah disusun. Ah, aku memang keterlaluan, aku tahu kalau kertas itu sudah menempel di situ sejak seminggu yang lalu, dan selama itu aku santai-santai di kamarku sambil sesekali nonton tivi dengan mama. Aku memang meninggalkan tugasku begitu saja, dan justru kata-kata Dela yang jujur seolah-olah menelanjangiku di depan orang banyak.
Dela Ardiana! Sialan, aku harus sekelas dengannya. Entahlah, tiba-tiba suatu pikiran jahat menelusup otakku. ooOoo
Dengan cueknya dia mengecat kertas itu. Kuakui dia memang jago melukis. Herannya, orang bilang kalau seniman (yah, setidak-tidaknya dia pantas disebut seperti itu) itu perasaannya halus. Tapi tidak dengannya, dia berkali-kali melakukan tindakan ‘kasar’ seperti menolak cinta seorang laki-laki (yah, dalam hal ini aku tahu dari Adi, karena Adi sendiri pernah ditolaknya) dengan kata-kata yang mengejutkan, muka tak berekspresi dan meninggalkan mereka tanpa salam atau kata-kata halus. Selain itu dia tidak suka bercanda dengan cowok. Kata-katanya pendek-pendek dan tenang, ah, bukan tenang, tapi tegas. Dia juga tidak suka ngumpul-ngumpul di pesta ulang tahun. Benar-benar cewek yang menjengkelkan!
“Aduh!” Dilihatnya cat air merah itu tumpah dan membasahi kertas itu. Dia memandangku dengan tajam.
“Waduh, maaf ya, nggak sengaja, makanya kalau naruh cat jangan sembarangan! Kalau gini, madingnya nggak jadi-jadi!” Dia memalingkan mukanya dan menyobek kertas itu sambil melirikku dengan pandangan mata yang tajam. Sekejap aku merasa seram melihat roman mukanya.
“Mas Raka, ayo pulang dong!” suara manja Tika seolah-olah menyelematkanku dari pandangan mata Dela. “Ayo!” Kuambil tas ranselku dan kupeluk pinggang Tika menjauh darinya. “Lho, kok Mas Raka senyum-senyum sendiri?”
“Nggak apa-apa kok Tik.”
Usahaku tidak berhenti sampai di sana. Mading yang ditempelnya tiga hari kemudian diam-diam kucopot dan kurobek-robek lalu kubuang di sampah. Kubuat sedemikian rupa sehingga mudah dikenali. Dan benarlah! Satu sekolah gempar!
Dan kulihat wajahnya menegang, merah, berkeringat, dan berkerut-kerut. Sepanjang hari itu dia terlihat gelisah di kelas. Aku tahu hal inilah yang paling membuatnya susah. Dia sangat menghargai karya seni, terutama karyanya sendiri. Apalagi mading itu adalah mading terakhir di penghujung masa tugasnya. Rasakan! ooOoo
“Raka, ada temannya datang!” Mama memanggilku dengan suara soprannya.
“Sebentar Ma! Sialan, siapa yang datang jam segini. Seharusnya mereka tahu kalu jam segini waktuku untuk bersiap-siap untuk apel ke rumah Tika.
Dela tersenyum di kursi merah itu. Kulihat wajahnya berkeringat. Aneh tidak seharusnya orang berkeringat di malam seperti ini. “Maaf mengganggu Raka.”
“Ya, ada apa?”
Dia mengetuk-ngetukkan jarinya di lengan kursi.
“Dela mau minta maaf. Dela merasa bersalah karena mading…” dia menatapku, aku mencoba tenang sambil mengangguk-anggukkan kepalaku.
“Sudahlah, memang jahat orang yang melakukan itu, tapi aku sudah maklum kok Del.” Aku ingin segera menyelesaikan pembicaraan. Aku ingin dia pergi secepatnya dari hadapanku. “Terima kasih. Ah, iya, Dela mau minta tolong sama Raka.” “Ya?” Aku mulai curiga.
“Sebentar.” Dela keluar, kuikuti dia. Dia berjalan ke Katana merahnya dan kembali dengan sebuah gulungan kertas. “Ini, maaf kalau tidak sebagus yang dulu, Dela sudah mulai ada try out.” “Lalu?”
“Tolong Raka yang menempelkan, mungkin lebih aman. Tak ada yang berani menyobek kalau Raka yang menempelkan kan?” Dia tersenyum. Sungguh! Senyumnya membuatku merasa seperti ditusuk-tusuk sebilah pisau tajam. Dia seperti tahu semuanya. Dia seolah-olah menganggapku anak kecil yang ketahuan berbohong kepada ibunya. “Ma kasih ya Ka, Dela pulang dulu.” Dia pergi dengan kepulan asap mobilnya.
Aku sudah tidak ingin pergi ke rumah Tika, juga menerima telepon dari Adi atau Irwan yang mengajakku jalan-jalan. ooOoo
Entahlah, sejak saat itu aku sangat suka melihatnya. Kuperhatikan bagaimana eskpresi mukanya ketika mendengar sesuatu yang lucu. Keringatnya yang menetes ketika sinar matahari begitu kejam meradiasi kulitnya yang kuning langsat, juga bagaimana dia selalu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan guru. Sesungguhnya dia sangat cerdas dan berani.
Dia juga agak pendiam. Dia tidak suka mendengar pembicaraan yang kacau atau ngerumpi seperti biasa yang dilakukan cewek-cewek. Dia juga tidak pernah naik Katana-nya ke sekolah. Dia lebih suka membonceng di belakang Rahma, teman sebangkunya yang berjilbab itu, dan dia suka sekali berjalan-jalan ketika istirahat. Entah ke kantin, ke perpustakaan, atau sekadar berjalan! “Lihat apa Ka?” Sodokan lengan Adi membuatku kaget. Aku diam. “Kamu lihat-lihat Dela lagi.” Nadanya seperti mengeluh.
“Aku tidak suka kalau kau mengejarnya, kamu sudah cukup menyakitinya!”
“Siapa sih yang ingin dekat dengan anak sombong seperti dia?” Adi menatap mataku tajam-tajam. Matanya menyelidik seolah-olah ingin menelanjangiku.
“Kita duel pulang sekolah nanti di rumahku!” Lalu Adi berdiri dan permisi ke belakang.
Sudah kesal rasanya menjelaskan pada Adi bahwa aku tidak bermaksud mendekati Dela dan memujanya. Dia selalu bilang padaku bahwa dia tidak pernah tergila-gila pada seorang perempuan seperti itu.
“Kamu suka dia! Bangsat! Pengecut!” Tiga hantaman dari tangannya yang berat menghantam rahangku.
Aku tahu kalau aku akan kalah. Dia pandai berkelahi, dan terlebih dia ikut karate sejak SMP. “Ayo ngomong! Satu tinju lagi mendarat di perutku.
“Di, sudah! Sudah!” Tak ada yang dapat kuperbuat selain menghindar. Tak ada yang akan memberiku pertolongan walaupun aku menjerit sekuat tenaga. Halaman rumah Adi luasa, dan rumahnya kosong! Pembantu-pembantu itu tak akan bisa berbuat apa-apa. “Ngomong bangsat!” Lalu satu pukulan lagi. Dan aku terkapar!
“Oke, oke, kamu benar! Oke!” Kurasakan nafasku hampir mencekik tenggorokanku.
“Ya, aku mulai menyukai dia! Ya, mungkin aku jatuh cinta padanya!” Mataku terasa berkunang-kunang.
“Pulanglah!” Dia melemparkan ranselku dan sebuah agenda. Kucoba untuk duduk di rerumputan itu. Seorang pembantu Adi yang kutahu bernama Inah membawakan segelas air es. “Agenda siapa ini?”
“Dela.”
“Dari mana kau dapatkan dini?”
“Kamu tak usah tahu. Buka halaman terakhir!”
Kubuka agenda hitam berlogo OSIS itu. Sebaris puisi tertulis dengan rapi: Pertengkaran
Untuk Raka
Atmosfir dingin melingkupi kami
Bukan hal yang terbaik dari keinginanku
bicara jujur
itu saja
karena selebihnya aku cinta padamu
Dan kau mengembalikan cintaku dengan
sebuah tusukan jitu
tepat di nyawaku
Surabaya, 26 Agustus 1997
Tiba-tiba perasaanku sangat kacau. Kulihat wajah Adi, sebuah genangan air di sekitar matanya. “Di, kamu?”
“Ya, aku menangis. Kau sudah tahu kan sekarang? Pergilah! Pulanglah!” Suaranya bergetar, aku tahu dia sangat sedih.
Dengan langkah gontai kutinggalkan Adi yang menekuk mukanya. Kepalaku masih pusing dan kurasakan darah menetes di sela bibirku. ooOoo
Sungguh di luar dugaanku. Kukira Dela tidak punya perasaan dan kaku. Kukira dia selama ini sebuah patung agung yang hanya bisa kupandang. Ya Tuhan…., ternyata dia mencintaiku.
Aku tak bsia bersikap ketika pagi itu dia masuk dengan sikap yang biasa dan mengucapkan salam. Aku tak pernah tahu dia sebegitu pandai berakting sehingga perasaannya seolah tak ada.
Ah, bodohnya aku! Bukankah pandangan matanya waktu itu, ketika di datang ke rumahku, keringatnya yang menetes di malam yang sedingin itu….Ah, sialan! Aku tak bisa menebaknya. Aku tak akan tahu kalau Adi tidak menunjukkan agenda itu padaku.
Adi……., dia pindah ke bangku belakang sejak pertengkaran kami siang itu. Sekarang aku duduk sendiri. Aku memang tak seberuntung Adi yang mudah disukai siapa saja.
Aneh memang kalau Dela menolak cowok seperti Adi. Apa kurangnya dia? Dia keren, tinggi, putih, cerdas, dan beken.
Dengan penasaran kubuka sebuah buku tulis tebal di bangku Dela. Waktu itu kelas sepi. Hanya ada Retno dan Fajar yang asyik pacaran. Dan seperti dugaanku buku itu penuh dengan puisi dan coretan. Beberapa kali kuperhatikan dia menulis sesuatu dengan serius di buku itu, dan karena itulah aku curiga dan penasaran dengan isinya. Kubalik lembarannya dengan cepat. Maaf
kepada Adi
gumpalan kata yang kau ucapkan waktu itu…
beberapa kali mengendap di hatiku
walau kau tahu betapa tenangnya aku
Allah….
Cepat-cepat kubalik lagi lembaran kertas itu, aku ingin menemukan puisinya tentang diriku di buku itu. Untuk Raka:
Pergilah dengan tenang
Tuhan…., berdosakah aku?
Tuhan…., dia memandangku
tajam seperti elang
menyayatku menjadi tujuh bagian dan
membawaku ke neraka
Tuhan….., bencinya menggunung
dan dia
bodoh!
Ya Allah!
berikan sedikit kasih-Mu untuk
mengusirnya dari hatiku
Pergilah kau dengan tenang.
Surabaya, 10 September 1997
Ah, bukankah ini adalah waktu dia tahu kalau madingnya kusobek? Tiba-tiba terlonjak ketika mendengar suaranya. Cepat-cepat kututup buku itu dan berpura-pura mencoret sebuah kertas kosong. “Raka, pindah sana, aku mau duduk”
Apa ini, tak kudengar geratan suaranya ketika dia menyebut namaku. Dia bersikap biasa. Bahkan matanya juga terlihat tenang. Apa maksudnya? Bukankah dia seharusnya gugup karena aku ada di kursinya, terlebih-lebih buku tebalnya ada di hadapanku? Bukankah seharusnya dia curiga? ooOoo
Aku benar-benar penasaran dengan Dela. Dia teramat tenang untuk gadis yang sedang jatuh cinta. Tika sudah kuputus dua hari yang lalu. Masih jelas dalam ingatanku wajahnya yang memelas dan air matanya yang turun satu-satu. “Memangnya Tika salah apa sama Mas Raka, Mas?”
“”Tika nggak salah”
“Lalu, apa alasan Mas mutusin Tika?” dia terisak.
“Nggak ada.”
“Bohong! Tika tahu Mas bohong! Mas Adi bilang kalau Mas Raka jatuh cinta sama Mbak Dela.” Aku diam, aku tidak bisa membantahnya. Haruskah aku berbohong?
“Seharusnya Tika tahu kalau semuanya bakal begini, seharusnya Tika tahu!” Kubiarkan dia pergi meninggalkanku. Dia lari ke kamarnya. Dan dengan kikuk aku pamit pulang kepada mamanya. Mamanya tahu semuanya. Dia memandangku dengan benci.
Tapi walau bagaimanapun ini adalah keputusanku. Tidak bisa aku membiarkan Tika tersiksa terus menerus oleh sikapku yang acuh sejak aku membaca puisi-puisi Dela. Sejak aku jatuh cinta. ooOoo
Sedikit gelisah aku memperbaiki sikap dudukku. Dela mendekatiku dengan langkah yang biasa (itu yang tak kusuka darinya). Dia membawa selembar kertas bergaris biasa, mungkin sobekan dari salah satu bukunya. Dia tersenyum sambil meletakkan kertas itu di atas mejaku. Buat Raka:
Perpisahan
Bertemu adalah untuk berpisah
Melalui mata
kutahu, kita berdosa….
Masa bergerak menebas kita tanpa ampun
Dan sebagian dari kita terlibas
Mati!
Dalam sepi
Telusuri tasbih dan asma suci-Nya
Kembali
Kembalilah
Dalam pelukan-Nya
Kita berpisah untuk bertemu
walau sepahit apapun
berpisah untuk dipertemukan-Nya
bila kau percaya
dan Dia berkehendak
Dela
Aku terlongo setelah membaca tulisan itu. Rupanya ini balasan dari surat cinta yang kukirim kemarin.
Dan keesokan harinya kulihat dia memakai jilbab panjang dan duduk dengan manis di kursinya. Dan diam. Dia tak lagi menatapku dengan pandangan yang tajam. Dan aku berusaha tidak menatapnya sejak saat itu. Aku tahu, aku terlalu kerdil untuknya.

Gresik, 12 Nopember 1997

Dimuat di MRI PERMATA

Dua Mata Perak

Malam liris.Bulan seperti terpaku di kiri bahuku. Seingatku,di sini,ini tidak biasa.Biasanya ia selalu malu hadir di sini.Selimutnya,awan gelap,selalu mengelambunya lekat-lekat,dan sayap-sayap kelelawar seolah menjadi cadarnya.

Tapi tidak untuk malam ini. Cahayanya yang melingkar seakan begitu menantang, menelusur semua labirin, hingga mataku beberapa kali menoleh ke arahnya. Kau nampak tidak tenang, Sayang? Aku mencoba tersenyum, Masak sih,Mas? Atau kau sudah tidak sabar? Ia mengerling nakal. Tangannya yang sedari tadi sudah mendarat di pantatku,mencubit dengan gemas. Mas,bisa aja. Ah,ada apa dengan aku hari ini? Kenapa ranting-ranting yang menghalangi lingkarannya seakan membuatku semakin penasaran untuk terusmeliriknya? Apa karena cahayanya begitu mengingatkanku pada mata Aritha? Mata yang perak dan tidak bergerak-gerak? Ya mungkin saja. Bukankah dulu setiap menatap matanya kerap melagukan tangisanku,seakan ada sebuah kabel penghubung di antara keduanya.

Padahal semua tahu aku bukanlah perempuan yang cengeng. Semua beban kerasnya hidup, sudah kurasakan, seakan memang terajah di tubuhku sejak dulu. Tapi entah, melihat Aritha di saat itu, selalu saja membuat aku jatuh? Aku terpuruk di depannya.Memunculkan sisi lembutku yang selama ini kuanggap telah hilang dari jiwaku. Walau sekuat apapun aku mengingkarinya, aku pasti akan kembali menyentuhnya, merasakan auranya dan menatap mata peraknya. Gimana,kita mulai? Mas udah pengen bangetnih. Mas Yono semakin menempel tubuhku.Sekilas dapat kulihat gundukan di balik celananya. Aku tersenyum. Segera ku tuntunnya menjauh dari warung angkringan,menuju pondokanku yang tak jauh darisana. Aku membuka pintu pelanpelan, berusaha meredam suara.

Namun,Mas Yono begitu pintu kembali tertutup, seketika saja menciumiku hingga napasnya yang terengah merusak keheningan. Pelan-pelan, Mas! Aku mengingatkan. Sebenarnya, entah mengapa malam-malam terakhir ini aku tidak begitu bersemangat.Terutama malam ini.Walau saat tangan Mas Yono mulai menyelusup di balik bajuku pun, aku tak begitu bereaksi. Aku hanya membiarkannya. Sebentar! Aku membuatnya menghentikan gerakannya, aku ke belakang sebentar. Tanpa menunggu persetujuannya, aku langsung meninggalkan Mas Yono. Aku melangkah perlahan ke kamar belakang. Membuka pintunya, dan meyakinkan kalau Aritha tertidur. Ini adalah kebiasaan baruku. Dulu biasanya aku tak begitu peduli dengannya. Ia terlalu kecil untuk tahu apa yang kulakukan.

Umurnya baru enam tahun.Apalagi bukankah mata peraknya tak mungkin melihatnya? Dan tentunya, ia tak akan memprotes! Tapi sejak kemarin, semuanya berubah. Semuanya berawal dari ketukan pelan tangan kecil Aritha, di kamarku, saat hampir tengah malam, Ada apa? Dengan kekagetan, kubuka pintu sedikit,membiarkan kepalaku saja yang keluar.Tapi saat itu Aritha tak menjawab apa-apa. Dua mata peraknya hanya memandangiku lekat-lekat. Ekspresi wajahnya tak bisa kulukiskan.Tapi sungguh, aku belum pernah melihatnya menatapku seperti itu.Kedua mata perak itu seakan menusukku, melihat ketelanjangan ku.Bahkan aku merasa mata itu juga dapat menembus pintu kamarku, melihat laki-laki yang sedang bertelanjang menantiku di pembaringan. Aku merasa gerah. Namun, sebelum aku kembali membentaknya, Aritha sudah meninggalkanku dengan langkah tertatih.

Sejak itu dua mata peraknya seakan membayangiku. Mengamati setiap detik gerakanku dan setiap uraian imajiku. Aku berusaha bersikap biasa. Selalu menepisnya, saat imajiku kembali terusik. Bahkan esok paginya, aku merutinkan seperti biasa. Aku tetap membangunkannya,dan menyiapkan baju dan sarapan untuknya. Setiap pagi memang selalu seperti itu.Aritha akan berangkat ke sekolah sekitar pukul delapan. Sekolah yang kumaksud, sebenarnya hanya tempat sebuah LSM yang sedikit peduli memberi pendidikan bagi anak-anak di kompleks ini. Lain kali, aku membuka keheningan saat kami berdua ada di meja makan, Bila ibu sedang ada di dalam kamar, kau tak boleh mengganggu! Aku menuangkan air putih untuknya.

Dan Aritha tak menyahut. Ia menyendok makanannya pelanpelan, dengan wajah lurus ke depan. Sedikit aku dapat melihat kedua matanya nampak sembab.Aku terpana. Sungguh,ini jarang sekali terjadi. Aritha yang kukenal adalah anak yang kuat.Ia sangat jarang menangis! Apakah mungkin ia sudah cukup dewasa untuk mengerti pekerjaanku? Kemudian menyesali kalau ia hanya sekadar anak seorang pelacur? Tapi nanti dulu! Entah mengapa tiba-tiba aku sepertinya dapat melihat sesuatu di dua mata perak itu.Sebuah bayang samar yang menari di lingkaran kecil itu. Saat ini jarak kami berdua hanya dipisahkan sebuah meja kecil. Aku memajukan tubuhku sedikit.Sesuatu di matanya, tiba-tiba saja dapat membuat jantungku seakan berhenti sesaat. Aku merasakan kedinginan yang sangat di sekujur poriku. Di dua mata perak itu, aku dapat melihat sebuah bayangan kematian!

Aritha adalah anakku. Ia lahir dari rahimku. Sekarang aku bersyukur telah melahirkannya. Karena dulu aku sempat berusaha membunuhnya, melenyapkannya dengan berbagai cara. Tapi aku selalu kalah.Aku merasakan di dalam sana ia selalu melawan dengan keras.Semua racun yang kuminum selalu dimuntahkannya, dan semua gerakan kasar ke tubuhnya, selalu tertepis. Aku merasa ia begitu ingin hidup! Kalau sudah lewat 5 bulan,kau harus melahirkannya! mami Resno yang tiap kali menemaniku memberi masukan saat itu. Jangan ambil risiko. Toh, nanti bayimu bisa dijual. Lumayan harganya bisa buat kau sedikit bersenangsenang! Aku menyeringai. Dulu, memang sama sekali tak pernah ada dalam pikiranku untuk memelihara bayi ini.Namun, semuanya berubah sejak ia muncul pertama kali dari selangkanganku.

Saat itu tangisannya kudengar begitu aneh. Seperti tersendat, tak lepas, seakan ada sesuatu yang mengganjalnya untuk keluar.Tapi aku terlalu lemah untuk menganalisa lebih jauh. Aku hanya ingat tangisan itu begitu menyesakkanku, Terlebih saat dari pembaringanku, aku menatap matanya, dua mata yang perak. Sungguh, saat itu, begitu saja aku putuskan untuk membesarkannya. Mami Resno langsung memaki-maki ku habis-habisan. Dia cacat! teriaknya berulang-ulang, Lihatlah! Melihat tidak bisa, bicara juga tak bisa. Kau akan terbebani olehnya! Ingat siapa kau ini? Tapi aku tak peduli. Aku menyewa sebuah rumah kecil di pinggir kompleks. Seorang pelanggan dermawan,yang mungkin bisa saja ayahnya, memberiku uang lebih saat tahu kondisiku. Lalu aku membesarkannya!

Aku sama sekali tak pernah tahu siapa lelaki penebar benih itu. Dulu, sering aku memandanginya mencoba mengingat-ingat tamutamuku saat itu.Tapi nampaknya tidak ada yang begitu pas kuingat. Mata peraknya seakan menyamarkan semuanya, membuat wajah wajah laki-laki yang pernah tepat berada di atas tubuhku, hanya sekadar lenguhan! Lalu aku tak pernah mencoba mengingat-ngingat lagi.Yang kutahu ia kemudian tumbuh sekuat diriku. Aku selalu dapat melihatnya. Dua mata perak itu, walau orang lain selalu menganggap melemahkannya, kurasakan malah menguatkannya! Kecuali hari ini! Yahari ini.Saat ia pulang tepat jam dua belas siang. Aku menyambutnya di depan pintu. Biasanya ia akan tersenyum dan mencium tanganku.Tapi tidak kali ini.Sembab di matanya masih saja kulihat bayangan kematiannya itu!

Aku terbangun pagi ini. Suara dangdutan dari rumah sebelah, selalu menjadi wekerku setiap pagi. Mas Yono yang mem-booking-ku semalam, sudah tak ada di sampingku. Di meja tak ada lembaran uang yang biasanya terlihat. Sialan! aku bergegas bangun, apa aku tertipu lagi? Tapi baju-baju Mas Yono masih kulihat berhamburan di lantai. Aku menjadi sedikit lebih tenang. Mungkin ia hanya sedang ke belakang. Aku keluar kamarku. Di ruang makan, kulihat Aritha sedang duduk terdiam. Kau lihat teman mama?Aku mendekat padanya. Aritha tak langsung menjawab, sebelum akhirnya menggeleng.

Kurasakan gerakannya begitu acuh.Tapi aku tak peduli.Kelak ia harus mengerti keadaan ini, karena dia juga makan setiap sendoknya dari selangkanganku ini! Aku segera ke belakang.Tapi tak kutemui siapa pun. Sungguh, ini seperti kejadian kemarin. Pelanggan ku lari begitu saja dengan meninggalkan baju-bajunya begitu saja. Ah, terserah merekalah.Yang penting dompetnya selalu ditinggal! Sehingga aku bisa mengambil semuanya! Tapi perkiraanku salah! Hal ini ternyata tidak sesederhana pikiranku. Beberapa hari berselang beberapa orang polisi mendatangi pondokanku. Semuanya berawal dari laporan warga tentang bau tak sedap yang menyebar seantero kompleks. Dan ternyata setelah ditelusuri bersama, pusatnya tepat berasal dari belakang rumahku! Mereka memeriksa, diikuti penduduk kompleks lainnya yang memandangi dari luar.

Dan aku sama sekali tak menyangka mereka akhirnya benar-benar mendapati sesosok mayat di sumur belakang rumah! Tidak hanya satu, namun dua! Aku terperangah.Aku mengenal keduanya. Mereka tamutamuku beberapa hari lalu. yang menghilang di pagi hari tanpa membawa pakaiannya! Semua mata tertuju padaku. Seakan menuduhku yang melakukan semua itu. Di sini, di kompleks ini, kejadian seperti ini sebelumnya memang kerap terjadi.Pelacur membunuh pelanggannya, atau pelanggannya membunuh pelacurnya. Itu hanya sebuah hari lain dari hari-hari biasa.Seperti sebuah hari libur bagi orang-orang awam Tapi aku sama sekali tidak melakukannya. Aku segera mendekati Aritha,dengan perasaan tak tentu. Di rumah ini, tak ada orang lain yang datang beberapa hari ini.

Hanya ada kami. Aku dan dia. Ini yang membuat sebuah pikiran mendadak memanah otakku, menyentakku dengan rasa perih menyayat. Lalu aku ingat perasaan saat aku menatap dua mata peraknya, sebuah bayangan kematian! YaTuhan,apakah benar ia yang membunuhnya? Aritha? Aku menyibakkan sebagian rambut panjangnya yang terurai, mencoba menatap mata peraknya secara langsung. Dapat kulihat mata itu masih terlihat begitu sembab,seakan ia menangis semalaman ini tanpa henti. Sayang, apakah kau yang melakukannya? Ia tak menjawab.Namun, dua mata peraknya yang kemudian menjawab. Aku bergidik. Tubuhku menggigil. Tapi sungguh, kali ini dua mata perak itu semakin jelas membayangkannya. Di situ samar-samar aku melihat Aritha, dengan mata sembabnya, mendorong tubuh laki-laki itu ke arah sumur.

Ya aku melihatnya begitu jelas di mata itu! Aku terpuruk.Menangis menggugu, di antara tubuh-tubuh tegak polisi yang mengelilingi kami. Begitu kecewakah ia padaku, hingga ia sanggup membunuh lakilakiku seperti itu? Mengapa, Sayang? Mengapa? masih,gumamku berkali-kali di antara tangis tak mengerti. Dan Aritha tetap tak menjawab. Ia hanya menangis kali ini. Mengabutkan mata peraknya hingga aku tak bisa melihat bayangan yang membayang di situ. Aku sudah terlalu jatuh.Namun, andai aku masih bisa melihatnya, akan terlihat bayangan samar sosok lakilaki yang mengangkat tubuh kecilnya dan menelentangkannya di meja.

Disusul tangan kekarnya yang kemudian membekap mulut kecil itu,merenggut celana dalamnya dengan paksa, dan membiarkan dua mata peraknya hanya bisa menatap langit-langit Aku tak melihat itu, namun dingin tiba-tiba begitu kurasakan menembus tulangku!

Cerpen: Yudhi Herwibowo

Dimuat diharian seputar Indonesia

Lelaki Di Atas Sungai Seine

Oleh: Arum Suprihatin

Di atas sungai Seine yang mengalir tenang, waktu seakan berhenti berputar. Di dalamnya, aku adalah seorang musafir yang tersesat dan kehabisan bekal. Tenggelam dalam kepedihan di tengah keindahan Paris yang menakjubkan. Dengan menara Eiffel yang angkuh menjulang dan gemerlap cahaya lampu di sepanjang L’avenue des Champs-Elysees. Aku rindu maman dan grand-pere.
Namaku Renaud Durand. Lahir dua puluh tiga tahun yang lalu di Toulouse, ibukota Midi-Pyrenees, sebuah daerah di sebelah selatan Prancis. Ibuku adalah seorang wanita yang cantik dan lembut. Ayahku? Aku tak pemah mengenalnya. Melihat fotonya pun belum pernah. Kenangan tentang ayahku ada di benak seorang balita yang bertanya tentang ayah kepada ibunya. Maman, ibuku, menyentuh lembut hidungku sambil berkata: “Papa sudah pergi, mignon. Dia tak kan kembali. Tak akan pernah.”
Ya. Papaku pergi dan tak kan kembali. Jawaban maman membuatku sedih dan berhenti bertanya tentang papa.
Pada umur tujuh tahun, maman membawaku pulang ke Toulouse. Waktu itu ia kehabisan uang. Karirnya sebagai model di Paris mulai surut. Aku suka Toulouse. Suasananya lebih tenang dan iklim mediterane yang kering dan panas membuat udara di Toulouse lebih hangat dari Paris. Dan yang paling penting di sana ada grand-pere, kakekku.
Grand-pere adalah idolaku, pengganti ayah yang tak pernah kukenal. Sifat-sifatnya hampir sama dengan maman, lembut dan penuh kasih sayang. Tetapi wajah mereka tidak mirip. Wajah maman oval dengan hidung lancip dan rambut pirang. Sementara wajah grand-perepersegi dengan hidung agak besar dan rambut coklat tersaput uban keperakan. Hanya mata mereka saja yang sama, besar berwama biru terang.
Kurasa maman lebih mirip grand-mere, nenekku. Aku pernah melihatnya sekali, dalam sebuah acara keluarga beberapa tahun sebelumnya. Dari situ aku tahu kalau maman dan grand-mere tidak akur. Maman membenci ibunya yang telah meninggalkan dia dan ayahnya. Ketika grand-mere pergi, maman baru berumur enam belas tahun.
Sekarang grand-mere tinggal di Marseille bersama kekasih yang dinikahinya. Kakekku pun pernah menikah sekali lagi, tetapi kemudian bercerai.
Dulu grand-pere adalah seorang pegawai negeri. Setelah pensiun ia membuka sebuah toko roti di dekat rumah untuk mengisi hari tuanya. Aku sering menemani kakek melayani para pelanggan.
Setiap hari minggu, grand-peremengajakku pergi ke sebuah gereja kecil di dekat rumah. Gereja itu sepi sekali. Hanya orang-orang tua dan anak-anak kecil saja yang rajin berkunjung. Di sini orang-orang muda adalah makhluk langka.
Di situlah pertama kali aku diperkenalkan kepada Tuhan. Maman tak pemah mengajariku hal semacam itu. Aku juga belajar di sekolah negeri yang menerapkan sistem sekuler. Sistem ini memisahkan moral dari agama. Agama dan moral adalah dua hal yang berbeda.
Di gereja itu aku melihat patung tuhan di pajang. Temyata tuhan adalah seorang lelaki yang meninggal di kayu salib. Kata kakek, tuhan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan manusia. Tetapi aku tidak mengerti. Barangkali karena aku masih terlalu kecil. Pertanyaan pertama yang muncul di kepalaku ketika itu adalah: “Siapa Tuhan itu?”
“Tuhan adalah yang menciptakan semuanya. Kau, aku dan ibumu.” “Apakah Dia juga yang menciptakan ayahku?”
“Ya, tentu saja.”
“Dapatkah Tuhan membuat ayahku kembali?”
Grand-pere menghela nafas. Latu menatapku dengan wajah sedih. “Berdoalah, mon petit. Tuhan akan mengabulkan doa kita.”
Sejak itu grand-pere menjadi lebih sayang padaku. Seakan ia ingin menggantikan figur ayah yang kurindukan. Aku pun jadi sering berdoa. Meminta apa saja yang kuinginkan. Aku tahu grand-pere tidak bohong. Tuhan akan mengabulkan doaku.
Sementara itu, maman mulai menjalani hidupnya yang baru. Setelah beberapa minggu sibuk mencari pekerjaan, akhimya ia diterima bekerja sebagai resepsionis di sebuah hotel di pusat kota.
Maman kembali sibuk seperti dulu. Untunglah sekarang ada grand-pere yang selalu menemaniku. la suka mengajakku jalan-jalan naik metro. Kami melihat hotel-hotel tua, mengunjungi museum, mengagumi gereja Saint Semin yang megah atau menikmati keindahan sungai Garonne.
Berbeda sekali dengan ketika kami masih tinggal di Paris dulu. Maman memang menyayangiku, namun nyaris tak punya waktu untukku. Aku lebih sering dititipkan pada orang tuanya Jean Paul, teman sekelasku yang kebetulan tinggal di apartemen yang sama. Di rumah pun kami jarang bertemu karena ia selalu pergi.
Bahkan pada hari libur pun maman tetap sibuk. Kali ini bukan mencari uang, tapi mengurusi Louis, pacamya yang photographer itu. Kadang-kadang aku menangis karena jengkel. Maman lebih sayang Louis dari pada aku. Maman hanya diam sambil mengecup mataku yang basah.
Hingga suatu hari ada kabar gembira. Maman dan Louis putus. Maman sedih dan menangis. Kemudian ia mulai minum-minum. Bersamaan dengan itu pekerjaannya sebagai model mulai berantakan. Suatu pagi di musim panas ia berkata: “Ayo kita ke rumah grand-pere!”
ooOoo
Tiga tahun kemudian maman menikah dengan anak pemilik hotel tempat ia bekerja. Namanya Jerome Durand, putera seorang konglomerat pemilik hotel, bank, dan beberapa perusahaan industri teknologi di Toulouse. Jerome adalah seorang pria tampan berusia tiga puluh tahun. Maman sungguh beruntung.
Hanya grand-pere yang tampak sedih. Mungkin karena ia tahu babwa sebentar lagi kami akan berpisah.
Akhimya aku dan maman memang pindah ke rumah Jerome yang mewah di pinggiran kota. Aku senang sekali. Semua yang kubutuhkan ada di sini. Ada taman bunga yang indah, kamar-kamar yang besar dan nyarnan, perabotan lux, kolam renang yang bagus, dan dapur yang rapi dan bersih.
Jerome juga melengkapi kamarku dengan berbagai jenis alat elektronik yang mahal dan canggih. Ada TV, komputer, radio-tape, DVD, dan berbagai macam gim yang paling baru. “Bagaimana Renaud? Kamu suka?”
“Oui! Merci, Jerome!” aku memeluk Jerome kegirangan. Semuanya seperti mimpi. “Cheri, sekarang dia tak akan mau belajar,” keluh maman pada suami barunya.
Tahun-tahun pertama kehidupan kami adalah hari-hari yang penuh suka cita. Apalagi jika liburan tiba. Kami mengunjungi berbagai tempat yang belum pernah kulihat.
Aku senang pergi ke Quebec, tempat asal keluarga Jerome. Di sana banyak danau besar dan hutan berwama indah pada musim semi.
Jerome juga sering mengajak kami ke Monaco, yang jaraknya hanya lima belas menit dari Cote d’ Azure. Di sana Jerome biasa menghabiskan uangnya di casino-casino di Monte Carlo. Aku pun melupakan grand-pereyang sendiri dan kesepian di rumahnya.
Memasuki tahun ketiga pemikahan mereka, segalanya mulai berubah. Maman dan Jerome mulai seeing berdebat kecil-kecilan. Masalah sepele bisa menimbulkan keributan. Mula-mula mereka saling berteriak. Kemudian tamparan-tamparan mulai singgah di pipi maman. la membalas dengan lemparan gelas champagne atau benda-benda keramik di dekatnya.
Aku bersembunyi di dalam kamarku, menangis dan berdoa: “Ya Tuhan, hentikanlah pertengkaran ini.”
Namun teriakan mereka semakin keras. Rumah yang besar itu tiba-tiba menjadi sempit dan pengap. Selanjutnya, jika mereka sedang bertengkar, aku menyelinap diam-diam dan pergi naik metro ke rumah grand-pere. Aku tak pemah menceritakan masalah yang sebenamya pada grand-pere.
“Tu me manque, grand-pere,” hanya itu alasanku ketika ia bertanya tentang kedatanganku yang mendadak.
Aku sendiri tidak tahu persis apa masalah mereka sebenarnya. Kadang Jerome marah jika maman terlalu sering keluar rumah dan memboroskan uang. Kadang ia cemburu ketika maman berbicara terlalu lama dengan Oom Patrick, sahabatnya.
Maman pun tak mau kalah. Ia balas menuduh Jerome terlalu pencemburu, egois dan mulai pelit dalam memberinya uang.
Kurasa kedua-duanya benar. Namun aku tak menyangka bahwa masalah itu semakin lama semakin serius.
Maman mulai tidak betah di rumah. Ia lebih sering menghabiskan waktunya di cafe atau di diskotik bersama teman-temannya. Kadang-kadang sampai pagi. Sementara itu, Jerome jarang pulang ke rumah. Jika pulang sering kali ia dalam keadaan mabuk.
Ulang tahunku yang ke empat belas dirayakan dengan kejutan yang menyedihkan. Mereka bertengkar lagi. Jerome menuduh maman telah berselingkuh. Ia memaki maman dengan kasar: “Putain!”
Lalu la mulai menampar, memukul, mencekik dan menendang. Maman tak mampu melawan. Aku berusaha menolongnya dengan menggigit lengan Jerome. Temyata itu membuatnya semakin kalap.
Kali ini giliranku yang menjadi sasaran amukannya. Pukulan-pukulannya pun mendarat di kepala, mata, hidung, dan bibirku. Sayup-sayup kudengar maman berteriak-teriak seperti orang gila. Kemudian aku tak ingat apa-apa lagi.
Dua hari lamanya aku berbaring di rumah sakit. Semua itu hanya karena aku ingin menolong maman. Kalau tidak, barangkali sekarang ia sudah mati.
“Tinggalkan dia, maman!” pintaku sambil meringis memegangi kepalaku yang dibalut verban.
“Lupakan saja. Sekarang yang terpenting adalah kau, mignon. Yang terpenting adalah kamu bisa mendapatkan semua yang kau inginkan,“ jawabnya datar. Yang kuinginkan adalah Jerome berhenti memukulimu, sahutku dalam hati. Saat itu aku tak melihat kakekku. Ke mana grand-pere?
Kabar buruk itu akhirnya harus kuterima. Grand-pere telah tiada. Setelah mendengar cerita maman, ia terkena serangan jantung. Maka lengkaplah sudah kepedihanku.
Di dekat makam grand-pere aku berdiri lemah sambil terisak. Kini aku benar-benar kehilangan kakek sekaligus ayah yang menyayangiku. Kali ini aku tidak berdoa, tetapi memprotes Tuhan karena telah mengambil orang yang salah. Seharusnya Jerome yang mati! Saat itu aku benar-benar marah. Aku merasa Tuhan bersikap tidak adil pada kami.
Temyata Jerome adalah seorang laki-laki frustasi yang hidup di bawah bayangbayang kesuksesan keluarganya. Sejak peristiwa itu, ia sering menyakitiku. Aku kerap pergi ke sekolah dengan bilur-bilur di punggungku. Aku bertahan demi maman. Dan maman bertahan demi uang Jerome! Menurut maman, uang bisa membeli segalanya. Termasuk kebahagiaan. Nyatanya, kami tidak bahagia.
Pada usia tujuh belas tahun, barulah aku berani melawan. Ketika itu ia baru saja membuat memar di seputar mata maman.
“Assez!” teriakku sambil melayangkan tinju yang paling keras ke rahangnya yang halus. Ia terjerambab dan menghantam karpet dengan keras.
Sejak itu, ia merasa bahwa aku sudah terlalu besar untuk dijadikan alat latihan tinjunya. Ia mengusirku dari rumah. Aku pergi. Dan maman menangis. Itulah terakhir kali aku melihatnya. Aku sudah muak dengan semuanya. Aku meninggalkan rumah dengan perasaan sedih. Di kota ini aku merasa sendiri dan kesepian. ooOoo
Kepergian itu mengantarkanku kepada Julien Delvaux, seorang perancang muda yang baru saja menyelesaikan sekolahnya. Aku mengenalnya di sebuah restauran tempat aku bekerja sebagai pelayan. Julien adalah seorang pria yang ramah dan simpatik. Ia juga seorang pendengar yang baik. Kami pun bersahabat. Ia menampung semua keluh-kesah dan cerita sedihku. Bukan hanya itu, ia juga memberi masukan, nasihat dan pertolongan ketika aku membutuhkan. “C’est la vie,” begitu katanya selalu.
“Kamu harus kuat menghadapi hidup ini.”
Temyata ia seorang gay. Dan ia menyukaiku! Tentu saja aku merasa risih dan canggung ketika mengetahui hal itu. Aku adalah seorang heteroseksual. Julien bukanlah orang yang kuharapkan.
Mula-mula aku menganggapnya sebagai teman baik. Lama-kelamaan hal itu berubah. Kesabaran dan kehangatan Julien telah merebut hatiku. Kekecewaan dan luka hatiku membuatku perlahan-lahan jatuh dan masuk ke dalam dunianya. Dari Julien-lah untuk pertama kali, aku benar-benar merasakan bagaimana dicintai dan mencintai.
Jadilah kami sepasang kekasih yang tak terpisahkan satu sama lain. Aku juga tak pernah menyangka ini akan terjadi padaku. Tetapi aku merasa nyaman dan bahagia bersamanya. Kadang-kadang perasaan bersalah menghantuiku. Namun dapat kuatasi. Saat itu Tuhan entah di mana. Julien sendiri tidak punya Tuhan.
“Tuhan mana yang mau menerima keberadaan seorang gay sepertiku?” begitu dalihnya.
“Hidup tanpa Tuhan membuatku merasa lebih kuat dan tidak membutuhkan siapapun,” tambahnya mantap.
Ketika mendapat pekerjaan di rumah mode Channel, Julien membawaku hijrah ke Paris. Ia juga mendorongku untuk belajar di sebuah sekolah mode paling elit di Paris atas biayanya. Kesibukanku sebagai mahasiswa membuatku semakin melupakan ibuku nun jauh di Toulouse.
Penduduk Paris tidak pernah menganggap kami sebagai pasangan yang rendah. Kehidupan di sana sangat modern dan bebas. Aku pun larut dalam arus kehidupan Paris yang membius. Kehangatan kafe-kafe teras dengan obrolan-obrolan akrabnya, restauran-restauran dan diskotik yang bergairah pada malam hari, dan kehidupan cintaku dengan Julien.
Hingga suatu hari, seusai liburan musim dingin, aku merasa ada sesuatu yang salah dengan tubuhku. Aku sering merasa cepat lelah dan berat badanku dalam dua bulan terakhir terus merosot. Aku juga sangat mudah terserang penyakit-penyakit ringan seperti influenza. Dan batukku tak kunjung sembuh.
Ketakutan mulai menyergapku. Aku berharap semua ini tidak benar. Aku hanya terlalu sibuk dan kecapekan.
Dengan hati berdebar, kuperiksakan darahku ke laboratorium. Dan hasilnya? HIV positif. Saat itu juga seluruh dunia runtuh dan menimpa kepalaku. Semua menjadi gelap. Tempatku berpijak seolah bergoyang.
Dengan perasaan remuk kutinggalkan rumah sakit. Entah apa yang harus kukatakan pada Julien. Kususuri Paris dengan langkah gontai. Tak tahu ke mana akan pergi dan tak tahu kepada siapa harus kernbali.
Ketika sampai di sungai Seine yang tenang, langkahku terhenti. Pertanyaan demi peitanyaan terus bermunculan di kepalaku. Siapa ayahku? Kenapa grand-pere yang baik begitu cepat pergi? Kenapa maman yang cantik selalu menderita? Kenapa Jerome yang kaya tidak bahagia? Dan kenapa aku harus mati muda? Jiwaku yang goyah berusaha mencari pegangan. Namun tak kudapati.
Lalu kenangan hidupku pun bermunculan. Semua diputar secara kilas balik seperti sebuah film. Perjalanan hidupku seolah telah diatur, diset dan dimainkan. Di dalamnya aku hanyalah seorang aktor. Lalu siapa sebenarnya sang sutradara? Tuhan? Siapakah Tuhan itu? Bayangan grand-pere menari di kepalaku. “Tuhan adalah yang menciptakan semuanya. Kau, aku dan ibumu.”
Bagi kakekku, tuhan adalah lelaki yang mati di kayu salib. Bagi maman, tuhan adalah uang Jerome. Bagi Julien, tuhan adalah kesenangan dan kebebasan. Dan bagiku? Kadang-kadang aku masih mencari-cariNya. Bukan di gereja seperti kakekku, tetapi di buku-buku filsafat karya flisuf-filsuf besar Prancis. Atau dari ajaran Budha yang luhur. Semua tak mampu menjawab kekeringan jiwaku.
Jauh di lubuk hatiku yang paling bersih, aku percaya bahwa ada tangan kokoh yang begitu kuat. KekuasaanNya absolut dan tak bisa dilawan. Ia sangat perkasa. Dialah Tuhan. Hanya saja aku tak mengenalnya. Cuma sebatas itu yang berhasil kuserap dari buku-bukunya Montesqieu, Rousseau atau Voltaire. Hiruk pikuk kehidupan membuatku tak sempat mencariNya lebih jauh lagi.
Dan kini, di atas sungai Seine yang indah, bateau mouchemembawaku membelah Paris, menyusuri kehidupan. Melewati gereja Notre-Dame, museum Louvre dengan piramidnya yang terkenal, lalu terus dan terus…
Tak terasa air mataku mengalir. Aku seperti seorang musafir yang tersesat. Terdampar di kota Paris yang gemerlapan. Kini aku harus menghadapi takdir yang tak mampu kulawan. Kesedihan mencabik-cabikku. Aku akan mati secara pelan-pelan dan menyakitkan. Kuharap aku sempat mengenal siapa yang memberiku hidup sebelum ini.
“Anda menangis, Tuan?” sebuah suara lembut menyentak lamunanku. Seorang gadis mengulurkan selembar tissu padaku. Sejak tadi ia berdiri di depanku, memperhatikanku.
“Merci,” sahutku sambil menerima tissu itu. Ia tersenyum dan mengangguk sambil membetulkan letak kerudungnya. Wajahnya khas Timur Tengah. Barangkali ia warga Prancis keturunan Aljazair atau Maroko. Seorang gadis muslim pemberani di tengah belantara Paris yang xenophobe.

Catatan:
L’avenue des Champs-Elysees : nama sebuah jalan protokol yang terkenal di Paris Metro : kereta cepat bawah tanah
Mignon : manis
Mon petit : sayangku
Merci : terima kasih
Oui : ya
Cheri : sayang
Quebec : sebuah daerah di Kanada
Monaco : kerajaan terkecil dan tertua di Eropa
Cote d’ Azure : daerah wisata terkenal di Prancis
Marseille : kota pelabuhan di Prancis
Tu me manque : aku rindu padamu
Putain : perempuan jalang
Assez : cukup
C’est la vie : begitulah kehidupan
Montesqieu, Rousseau, Voltaire: filsuf-filsuf besar Prancis
Bateau mouche: kapal pesiar untuk wisatawan di sungai Seine
Xenophobe : rasa benci atau tidak suka kepada orang asing