Archive for the ‘ Wasiat ’ Category

Berusahalah Untuk Mengatasi Sifat Egoisme Dalam Dirimu!

Maulana Shaykh Nazim Adil Al-Haqqani qsMaulana Shaykh Nazim Adil Al-Haqqani qs
Lefke Cyprus, 10 Juni 2010

Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem.

A`udzu billahi min asy-Shaytaani ‘r-rajeem. Bismillahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Setiap manusia mempunyai sifat-sifat kebinatangan. Begitu banyak di antara kamu yang telah di kuasai oleh sifat-sifat kebinatangan. Seperti seorang anak kecil yang pergi bersama ibunya masuk ke Pasar Raya. Anak kecil itu kagum dengan beraneka jenis barang-barang mainan yang dipamerkan, dan anak kecil itu tiba tiba menangis dengan keras,”Ibu belikan aku mainan yang ini, belikan aku” anak itu menagis keras karena menginginkan sesuatu yang menarik perhatiannya, sehingga ibunya kebingungan dan panik mencoba denga berbagai upaya untuk menenangkan si anak. Si ibu itu telah di kuasai oleh tangisan anaknya tersebut.

Maka manusia adalah seperti anak kecil itu, mereka tidak dapat menguasai Ego mereka dan sifat-sifat kebinatangan dalam diri mereka, maka perilaku mereka seperti binatang. Lihatlah bagaimana seorang dewasa (si ibu) di kuasai oleh anak kecil yang menangis, sehingga dia menjadi kebingungan dan mencoba untuk menenangkan sekaligus memuaskan kehendak anak kecil tersebut. Begitu juga, akal kamu di kuasai oleh sifat-sifat liar Ego sehingga ia hanya mencari jalan untuk memuaskan nafsu egomu.

Tetapi, mereka yang mentaati orang-orang alim, maka tidak sedemikian sifat mereka, mereka dapat mengendalikan ego mereka dan mengendalikan sifat kebinatangan mereka, maka mereka adalah orang-orang yang baik. Mereka ini dapat menunggangi ego mereka dan mengarahkan kuda egonya untuk menta’ati Tuhan. Bagaimanapun kebanyakan manusia zaman ini tidak dapat mengendalikan diri mereka, mereka tidak dapat menguasai sifat binatang tunggangan mereka, sehingga mereka sebaliknya mentaati kehendak binatang tersebut.

Manusia terbagi kedalam dua golongan. Satu golongan bersifat binatang, dan satu lagi sebaliknya bersifat manusia yang baik. Golongan pertama taat kepada ego mereka, mereka hidup untuk memuaskan ego mereka. Mereka tidak memikirkan tujuan hidup mereka yang sebenarnya. Allah swt mengutus para Nabi dalam bentuk manusia, tiada yang di utus dalam bentuk malaikat. Allah mengutus Wakil2Nya dalam bentuk manusia – sehingga mereka mempunyai sifat-sifat manusia dan rupa manusia.

Mereka yang taat kepada binatang tunggangan mereka (ego mereka), selalu menentang para Nabi. Mereka selalu berkata, “Jika kamu berdkwan mengajak kami, dan kamu di utus oleh Sang Ilahi, kami tidak akan menerima haqiqat itu melainkan kamu di utus dalam bentuk malaikat. Kami tidak dapat menerima bahwa Allah mengutus manusia biasa seperti kami untuk membimbing kami.” Itulah bantahan kaum yang menta’ati ego mereka. Mereka menolak manusia yang di utus, mereka menanti malaikat untuk di utus kepada mereka.

Ummat Muhammad (saw) pun bertanya, “Mengapa Allah mengutus Nabi yang yatim? Mengapa Allah tidak memilih, sebagai manusia pilihanNya, para pemimpin Makkah dan Madina atau para Raja yang hebat?” Itulah persoalan mereka yang bermakna mereka membantah pilihan Allah, mereka memandang dari sudut yang berlainan. Mereka tidak dapat menerima bahwa seorang manusia BIASA dapat membawa risalah surgawi. Oleh sebab itu manusia sentiasa menentang para Nabi yang diutus, dan membantah ajaran2 mereka. Para Nabi datang untuk menjelaskan sifat Ego kebinatangan yang ada di dalam diri manusia, tetapi sebaliknya mereka pula di tentang dan di serang oleh Ummat mereka yang bersifat binatang dan menolak keNabian mereka.

Mereka yang membantah berkata, “Jika kamu benar-benar seorang Nabi, bawalah khazanah untuk kami, atau tunjukkan kami malaikat-malaikat disekeliling mu.” Mereka tidak memahami bahawa wakil Allah tersebut di utus untuk menyelamatkan mereka, malahan mereka menentang wakil yang dikirim Allah! Allah berfirman, “Mereka adalah seperti binatang!” Ayat ini menerangkan keadaan manusia yang menentang wakil-wakil Allah. Pemahaman ini adalah seperti perilaku seekor binatang!

Allah berfirman, “Muhammad adalah manusia yang paling mulia di sisiKU, manusia yang menentang keNabian Baginda, adalah seperti binatang.” Mereka memiliki sifat-sifat kebinatangan dalam diri mereka! Allah menujukan Ayat ini khusus kepada semua manusia yang menentang Rasulullah (saw), hingga hari qiyamat. Ayat ini menenangkan hati Nabi Muhammad (saw), bahwa mereka yang menentang Baginda Nabi Sallallahu alayhi wasalam adalah seperti binatang, maka Nabi di anjurkan supaya tidak menghiraukan perilaku buruk mereka.

Ayat ini juga ditujukan kepada semua yang menentang Nabi, bukan saja pada zaman Baginda Nabi saw, tetapi Ayat ini juga ditujukan kepada semua yang menentang Nabi Muhammad saw pada zaman2 selepas wafatnya Baginda Nabi saw. Mereka yang menentang Nabi saw maka sifat-sifat kebinatangan telah menguasaii sifat-sifat kemanusiaan dalam diri mereka.
Allah swt memberitahukan Baginda Nabi Muhammad saw, akan adanya manusia yang lebih zalim dari mereka yang menentang Nabi dalam zamannya. “Akan ada jutaan dan milyaran manusia pada masa yang akan datang, dari Ummat mu, Wahai Muhammad saw, yang akan menolak keNabian mu! Dan mereka semua berada di bawah derajat manusia yang menentang mu dalam zaman mu ini!”

Wahai ulama’ Al-Azhar, wahai salafi ulama terangkanlah Ayatul Karimah kepada semua manusia. Nasihati manusia, kerana manusia zaman ini membelakangi dan menolak ajaran Rasulullah (saw), mereka menolak ajaran surgawi, dalam kitab suci dan mereka memandang ilmu ilmiah mereka lebih hebat dari Ilmu Qur’an, sehingga mereka mengharamkan Kitab-kitab Suci dalam Universitas dan sekolah-sekolah mereka. Zaman ini, hampir semua Doktor-doktor Islam, dan para Professor, mengklaim diri mereka telah mencapai puncak ketinggian ilmu, dan mereka tidak lagi memerlukan apapun ilmu yang dikirim oleh manusia-manusia surgawi! Tetapi mereka tidak sadar bahwa derajat mereka adalah di bawah orang-orang jahil! Ummat ini sekarang berada dalam zaman KEJAHILAN, manusia tidak memandang Al-Quran lagi. Mereka menolak AL Quran! Maka tahap pemahaman manusia yang seperti ini berada di bawah tahap pemahaman binatang!

Ya karena manusia menolak Al-Qur’an, sebagai sumber dari segala ilmu dalam zaman ini, Dan mereka memakai dan mengambil pemahaman mereka dari sumber yang kotor. Maka ilmu manusia zaman ini sangat kotor dan menyesatkan manusia. Wahai Ulama, mengapa kalian para ulama tidak menerangkan semua ini kepada murid kalian? Mengapa para Doktor Syariat tidak membangkitkan pengikut mereka. Kami memerlukan orang yang dapat membangunkan Ummat ini. Kami berharap agar Allah Yang Maha Esa akan mengirimkan sebenar-benarnya ulama’, bukan ulama’-ulama palsu. Ulama’-ulama palsu hanya pandai berkata-kata, dari buku-buku yang mereka karang sendiri, dari pemahaman dari ego mereka mereka yang kotor. Ilmu mereka tidak muncul dari dalam hati mereka dengan bimbingan Ilhiah. Hati adalah pusat yang mengandungi cahaya Ilahi, cahaya itu menunjukkan kepada manusia apakah yang hitam dan apa yang putih apa yang Haqq dan apa yang Batil, apa yang benar dan apa yang salah. Maka jangan mengklaim dirimu adalah orang yang pandai dan berilmu.

Seorang Alim dari warisatul Anbiya, Mawlana Jallaudin Rumi berkata dalam kitabnya, “Fihi ma fihi”, segala yang kamu cari, berada di dalam Al-Quran, seluruh kemusykilan kamu akan terjawab, tiada yang ketinggalan dalam kitab suci Qur’an, ia adalah lautan yang mencukupi untuk kamu, ia adalah kurnia Ilahi kepada manusia. Maka para Ulama’ haruslahi berpegang kepada Al-Quran. Rasulullah (saw) adalah Guru bagi seluruh makhluk, termasuk makhluk surgawi. Hanya Baginda Nabi saw yang dapat memetik haqiqat-hakikat yang sesuai untuk mu, sehingga kamu akhirnya dapat mencapai kemuliaan yang sangat tinggi sekali.

Sebahagian manusia mempunyai sifat-sifat manusia, dan sebahagian lagi mempunyai sifat-sifat kebinatangan maka berhenti dari mengikut sifat2 binatang. Hadirlah dalam pengajian ini, dengarkanlah nasihat2 yang di berikan dan amalkan apa yang Allah swt telah kurniakan kepada mu agar kamu benar-benar menjadi manusia. Dengar dan belajar dan keluarkan dan bersihkan diri dari berperangai seperti binatang, cobalah dan berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan diri agar menjadi manusia yang sebenarnya.

Ya Allah, ampunilah kami, demi kemulian Nabi Muhammad (saw), kirimkan lah kepada kami pemimpin yang akan membawa kefahaman kepada dunia Islam dan juga kepada orang-orang kafir juga, karena hal ini adalah sesuatu yang amat bermanfaat bagi dunia ini. Kami berada dalam zaman yang kacau balau, kerana manusia tidak mahu meninggalkan sifat2 dan tingkah laku kebinatangan mereka, mereka menghancurkan dan membinasakan segalanya, mereka tidak mau membersihkan sifat2 kebinatangan dari diri mereka, untuk menjadi manusia sebenarnya. Mereka yang membuat kehancuran di atas muka bumi ini, maka mereka akan di lenyapkan oleh Allah swt. Semoga Allah melindungi kami.

Fatihah.

Wa min Allah at Tawfiq.

Sumber Tulisan

Lihat Videonya di sini

Sholat Syari’at & Sholat Thoriqoh

Jangan Jadikan Agama Alat Menumpuk Harta

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany- Hari Jum’at Pagi tanggal 5 Rajab 545 H. di Madrasahnya

Rasulullah Saw. Bersabda: “Jenguklah orang yang sakit, dan iringilah jenazah mereka, karena sesungguhnya hal demikian bisa mengingatkanmu akan akhirat.” (Hr. Ahmad)
Rasulullah Saw, bermaksud agar kalian mengingat akhirat, sementara menghindari mengingat akhirat, lebih cinta
pada dunia. Padahal dalam waktu dekat segala apa yang anda miliki akan diambil oleh Allah tanpa ada yang bisa menghalangi. Padahal anda sedang bersenang-senang dengan dunia, hingga yang muncul adalah rasa sakit hati sebagai ganti dari riang gembiramu.

Hai orang yang alpa, yang sedang berpuas-puas dengan dunia, anda diciptakan bukan untuk dunia. Anda diciptakan untuk akhirat.
Hai orang alpa, apa yang seharusnya anda lakukan dari Allah itu? Sedangkan hasratmu hanya demi menuruti syahwat dan kenikmatan-kenikmatan. Agama kau jadikan untuk menumpuk dinar. Engkau sibuk dengan permainan-permainan, padahal sudah di ingatkan akan kehidupan akhirat dan kematian. Namun anda mengatakan , “Aku masih susah hidupku dan masih berutang sekian dan sekian.” Padahal peringatan maut telah datang melalui ubanmu, sementara anda mencukur atau menyemir dengan warna hitam, ketika ajalmu tiba, mana amalmu?

Ketika Malaikat maut tiba dengan perangkatnya, dengan cara apa anda menolaknya? Jika rezeki-mu sudah habis dan usiamu sudah selesai, dengan cara bagaimana anda merekayasa?
Tinggalkan dirimu dari kerumitan ini. Dunia dibangun untuk kepentingan amal perbuatan baik, jika anda beramal akan ada pahala. Jika tidak apa yang akan diberikan padamu? Dunia adalah negeri amal dan negeri kesabaran atas bencana. Dunia negeri kepayahan dan akhirat negeri santai. Orang beriman itu menyibukkan dirinya, jelas akan ada istirahatnya. Sedangkan anda tergesa-gesa untuk santai, tetapi menunda-nuda taubat, berlarut-larut hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, hingga selesai ajalmu. Dalam sekejap jadi penyesalan.

Bagaimana anda menerima nasehat, bagaimana anda sadar dan benar, sedang anda tak pernah membenarkan? Hati-hati, atap rumah kehidupanmu telah terbelah. Hai orang yang tertipu, bengkak-bengkak tubuhmu kehidupanmu telah tiba. Negeri ini, dimana anda telah roboh, mestinya anda beralih ke akhirat. Carilah negeri akhirat dan langkahkan kakimu ke sana. Langkah apakah itu? Langkah amal yang saleh. Langkahkah apa yang anda punya menuju akhirat hingga bertemu denganNya.

Hai orang yang terpedaya dunia, hai orang yang terus berburu tanpa mendapatkan sesuatu. Hai orang yang meninggalkan pasukan, malah sibuk dengan pembantu-pembantu dunia. Hati-hati, akhirat itu tidak mau berpadu dengan dunia, karena akhirat tidak ingin menjadi pembantu dunia.

Keluarkanlah dunia dari hatimu, engkau akan melihat akhirat, bagaimana akhirat datang dan menguasai hatimu. Jika sudah sempurna maka dengarkan panggilan taqarrub dari Allah Azza-wa-Jalla, maka pada saat itulah lepaskan akhirat dan carilah Allah Swt. Disanalah kemudian qalbu menjadi benar dan rahasia qalbu menjadi bening.
Jika hatimu benar, maka Allah menyaksikannya, begitu juga para malaikat dan mereka yang diberi ilmu oleh Allah, yang menyaksikan kebenaran hati anda. Jika sudah demikian anda menjadi kokoh seperti bukit tak akan runtuh oleh badai, tidak pernah sirna karena gempuran dan di dalam hatimu tidak lagi terpengaruh oleh pandangan makhluk, tidak terpengaruh oleh pergaulan. Tidak ada haru biru di hatimu juga tidak ada kotoran yang merusak kebeningan rahasia jiwamu.
Hai kaumku, awas! Siapa yang beramal demi dipandang dan diterima makhluk maka dia adalah hamba yang minggat dan sekaligus musuh Allah Azza wa-Jalla. Ia telah mengkafiriNya dan telah terhijab dari nikmat, terkena dendam dan laknatNya.

Makhluk telah merampas hati, kebajikan, agama dan membuat diri kalian jadi musyrik, melupakan Tuhanmu Azza wa-Jalla. Mereka menginginkan kamu bukan membahagiakanmu. Sedangkan Allah menginginkan kamu untuk kebahagiaan dan keselamatanmu, bukan untuk mereka.

Carilah yang menghendakimu dan sibuklah bersamaNya. Karena sibuk bersamaNya itu lebih utama dibanding sibuk dengan yang menghendakimu untuk dirinya. Kalau toh anda harus mencari, maka carilah dari Allah, bukan dari makhlukNya.

Sebab yang paling dibenci Allah manakala hambaNya mencari dunia dari makhlukNya. Minta tolonglah kepada Allah, karena Allah itu Maha Kaya, sedangkan semua makhluk itu miskin dan fakir. Bahkan para makhluk itu tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan terhadap dirinya sendiri, apalagi terhadap makhluk lain, baik suka maupun dukanya.[pagebreak]
Carilah kasih sayangNya, karena Dialah yang menghendakimu. Semula anda menjadi murid (yang berkehendak padaNya) dan Allah yang engkau kehendaki. Akhirnya anda menjadi Murod (yang dikehendakiNya) dan Allah yang menghendakimu.

Seorang anak ketika kecil selalu mencari ibunya dan ia dicari oleh ibundanya ketika besar. Jika Allah Tahu akan kebenaran hasratmu padaNya, pastilah Dia menghendakimu. Jika Allah mengetahui kebenaran cintamu padaNya pastilah Dia mencintaimu, meraih hatimu dan kedekatanmu. Bagaimana anda bahagia sedangkan tangan nafsumu, kesenangan dan watak alamimu, syetanmu justru anda biarkan di depan kedua matamu? Awaslah dengan penguasaan seperti itu, sementara anda telah melihat banyak kenyataan. Lawanlah dirimu dengan perjuangan dan kontra pada nafsumu. Buanglah kekuasaan mereka, hawa nafsu, kesenangan alamimu dan syetanmu, pasti anda menemukan Allah.

Buanglah semua itu, karena hijab telah tersingkap antara dirimu dengan Allah Azza wa-Jalla, hingga anda melihat segalanya dan selain Allah, bersama Allah Azza wa-Jalla.

Anda melihat aib-aibmu, hingga engkau menghindarinya, dan anda melihat aib selain dirimu dan engkau lari dari aib mereka. Bila semua sudah sempurna padamu, itulah taqarrubmu dan Allah memberikan sesuatu yang tak pernah terlintas pandangan, tak pernah terdengar dan tak pernah terbesit di hati manusia. Allah membentengi pendengaran hatimu dan rahasia hatimu, serta kedua matahatimu, meluruskan dan memberikan pakaian. Allah menghiaskan pakaian padamu melalui pakaian kemuliaanNya yang dilimpahkan padamu dengan kewalian dariNya. Memberikan penegasan nyata padamu, memberikan penguasaan padamu, memberikan kekuasaan ruhani padamu untuk seluruh makhlukNya, hingga engkau menjadi penjaga hatimu. Bahkan para malaikat pun menjadi pembantumu. Allah pun memperlihatkan ruh-ruh para Nabi dan Rasul padamu, maka tak ada yang tersembunyi padamu, sesuatu yang tersembunyi pada
makhlukNya.

Anak-anak sekalian…Carilah posisi itu, berharaplah dan jadikanlah sebagai hasratmu. Tinggalkan sibuk ria duniawi, karena dunia tak pernah memuakanmu, apa pun selain Allah tak membuatmu kenyang. Maka sibuklah denganNya, Dia akan memberikan kenyang padamu. Jika sukses, berarti anda telah sukses dunia akhirat.

Hai orang yang alpa,kembalilah pada yang menghendakimu dan carilah yang mencarimu. Cintailah yang mencintaimu. Sibuklah dengan Dzat yang rindu kepadamu.

Dengarkan firmanNya:
“Dia mencintai mereka dan mereka mencintaiNya..” (Al-Maidah 54).

Maksudnya, “Aku lebih rindu untuk bertemu dengan kalian…” Allah telah menciptakanmu untuk ibadah padaNya, karena itu jangan main-main. Dia menghendakimu agar beserta denganNya, karenanya jangan sibuk dengan selainNya.

Jangan mencintai siapapun selain mencintaiNya, cinta yang penuh kasih, sayang dan lembut. Boleh mencintai selainNya hanya sebagai cinta nafsu. Tapi cinta hati, tidak boleh selain kepadaNya, begitu juga cinta sirri (rahasia hati paling dalam), tidak boleh kecuali kepadaNya.

Nabi Adam as, ketika mulai mencintai syurga dan posisi di syurga, tiba-tiba ia berpisah denganNya dan ia dikeluarkan dari syurga, melalui cara memakan buah (khuldi). Begitu juga ketika hatinya mulai cinta dengan Siti Hawa’, tiba-tiba malah berpisah dengan Siti Hawa’ dalam jarak tiga ratus tahun perjalanan. Adam as di Sarnadib sedangkan Siti Hawa di Jeddah.

Nabi Ya’qub as, ketika mulai sayang sekali pada puteranya Nabi Yusuf as, maka Allah memisahkan keduanya. Begitu juga Nabi kita Muhammad Saw, ketika ada sedikit pesona kepada isterinya Aisyah, tiba-tiba Allah memberlakukan takdir cobaan berupa tuduhan dan berita bohong dari orang munafiq yang menimpa Aisyah, berhari-hari Rasul Saw, tidak melihat Aisyah.

Maka sibukkah hatimu bersama Allah Azza wa-Jalla, bukan dengan yang lainNya. Jangan merasa mesra dengan selainNya. Jadikan makhluk itu tetap di luar hatimu, sebagai bagian dari upaya menuju kepadaNya.[pagebreak] Hai orang-orang yang bergelimang kebatilan, hai orang-orang pemalas, hai orang-orang yang tak pernah datang kepadaku, jika anda menerima dariku dan mengamalkan atas ucapanku, maka semua akan kembali bagimu. Jika kalian tidak mengamalkan, maka itu juga resiko kalian akan mendapatkan amarah dan keterhalangan dengan Allah.

Allah Ta’ala sudah berfirman:
“Baginya apa yang telah dilakukan, dan (resiko) pada apa yang dilakukannnya..” (Al-Baqarah 286).

“Bila kalian berbuat baik, maka kebaikan itu kembali pada kalian. Bila kalian berbuat buruk, juga kembali kepadamu.” (Al-Isro 7)

Itulah esok akan bertemu pahalanya amal di syurga, sedangkan siksaan amal buruk akan bertemu di neraka.
Nabi saw, bersabda:
“Berilah makan pada orang-orang yang taqwa, dan berikanlah pakaianmu kepada orang-orang beriman.”

Jika engkau memberikan sajian makan kepada orang yang taqwa dan anda membantu urusan dunianya, berarti anda adalah kawan orang yang taqwa, dalam hal amaliyahnya, dan bahkan sama sekali pahalanya tidak berkurang. Karena anda telah ikut menolong dan meraih tujuannya dan ikut mempercepat jalannya menuju Tuhannya Azza wa-Jalla.

Namun jika engkau menyajikan makanan pada orang munafiq, kepada orang yang suka riya’, suka maksiat, dan menolong masalah dunianya, berarti anda adalah kawannya dan keburukannya kembali padamu.
Hai orang bodoh, belajarlah. Jangan sampai anda beribadah tanpa ilmu. Tidak ada kebaikan sedikit pun dalam keyakinan tanpa ilmu. Raihlah ilmu dan amalkan, maka anda akan bahagia dunia dan akhirat. Kalau anda tidak sabar untuk mencari ilmu dan mengamalkan ilmu bagaimana anda bahagia? Ilmu itu ketika diberikan, justru kita akan mendapatkan keuntungannya padamu.

Sebagian Ulama – semoga Allah merahmatinya – ditanya, “Bagaimana anda
meraih pengetahuan yang anda miliki?” Ia menjawab, “Melalui upaya seperti bangau di pagi hari yang sudah terbang, seperti kesabaran unta, seperti semangat babi dan hasrat setia anjing. Sejak dini aku mendatangi pintu-pintu Ulama, seperti semangat diniharinya bangau untuk terbang, aku bersabar terhadap beban-beban seperti kesabaran unta memikul beban. Aku semangat mencari ilmu seperti semangatnya babi yang rakus pada makanan, dan aku dengan penuh kesetiaan menghamba pada pintu seperti anjing pada tuannya yang berharap memberikan makanan.”

Hai pencari pengetahuan dengarkanlah makalah sang alim itu, amalkanlah, jika engkau berkehendak terhadap ilmu dan kebahagiaan. Ilmu itu kehidupan, dan kebodohan adalah kematian.
Orang alim yang mengamalkan ilmunya, yang ikhlas dalam beramal, yang sabar dalam mengajar demi kebenaran Tuhannya azza wa-Jalla, tak akan pernah mati. Karena kalau dia mati, ia bertemu Tuhannya Azza wa-Jalla dan abadi hidup bersamaNya.
Ya Allah limpahilah kami rezeki pengetahuan dan ikhlas di dalamnya.

http://www.sufinews.com/

Sholat Syari’at & Sholat Thoriqoh

Sholat Syari’at & Sholat Thoriqoh

Syeik Abdul Qodir al-Jilany
Sholat Syari’ah, anda sudah tahu ayat: “Peliharalah sholat-sholat…” (Al-Baqoroh: 238)
yang disana tentu ada rukun-rukun sholat secara lahiriyah dengan gerakan-gerakan jasmani, seperti berdiri, ruku’, sujud, duduk, suara dan lafadz yang diucapkan. Semua itu masuk dalam ayat,
“Peliharalah….”

Sedangkan Sholat Thoriqoh, adalah sholatnya qalbu, yaitu sholat yang diabadikan. Dalam ayat itu berlanjut :
“Dan sholat yang di tengah..”

atau disebut sebagai Sholat Wustho, yaitu sholatnya qalbu, karena qalbu itu diciptakan posisinya di tengah, antara kanan dan kiri, antara bawah dan atas, antara bahagia dan sengsara, sebagaimana sabda Nabi Saw, : “Qalbu berada diantara dua Jemari dari Jemari-jemari
Ar-Rahman, dimana Allah membolak-balikkannya semauNya…” (Hr. Muslim, dan juga dikutip oleh Al-Ghazali dalam Al-Ihya’).

Yang dimaksud dengan Dua Jemari adalah dua sifatNya, Al-Qahr (Yang Maha Memaksa) dan Al-Luthf (Yang Maha Lembut), sebab Allah Maha Suci dari Jemari-jemari. Maka menjadi jelas maksud ayat tersebut adalah Sholat Qalbu. Apabila Sholat Qalbu rusak, maka Sholatnya pun rusak termasuk sholat jasmaninya, sebagaimana hadits Nabi Saw, “Tidak ada sholat melainkan dengan hati yang hadir
di hadapan Allah.”

Orang yang sholat bermunajat kepada Tuhannya, dan tempat munajat itu qalbu (hati). Jika hatinya alpa, maka rusak pula sholatnya. Hati adalah pokoknya, yang lain hanyalah pengikutnya, sebagaimana dalam hadits Nabi Saw. “ Ingatlah! Sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal daging, apabila ia bagus maka bagus pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ingatlah, daging itu adalah qalbu…” (Hr. Bukhori).

Sholat syariat itu ada waktunya, setiap hari dan malam, lima kali. Disunnahkan berjama’ah di masjid dan harus menghadap Ka’bah, mengikuti iman, tanpa ada sikap pamer dan popularitas.

Sedangkan Sholat Thoriqoh itu adalah Dzikrullah sepanjang hidup. Masjidnya adalah qalbunya. Jama’ahnya adalah perkumpulan kekuatan-kekuatan batin, untuk sibuk terus menerus mengingat Nama-nama Allah dan mentauhidkan Allah dengan lisan batin. Imamnya adalah rasa rindu dalam spirit qalbu (Fuad). Dan kibaltnya adalah Al-Hadrah al-Ahadiyah (Manunggal hamba-Allah dalam KeesaanNya) dan Keindahan ShomadiyahNya, itulah kiblat Hakikat. Qalbu dan Ruh sibuk dengan sholat Thariqat ini sepanjang zaman. Karena Qalbu tidak mati dan tidak tidur. Ia sibuk dalam tidur dan jaga dengan kehidupan qalbu, tanpa suara, tanpa berdiri dan tanpa duduk. Itulah yang disebut oleh Allah swt:
“Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan…” (Al-Fatihah, 5)

Mengikuti Jejak Nabi Saw
Dalam Tafsir Al-Baidhowi, Anwarut Tanzil wa Asdrorut Ta’wil, beliau mengatakan, “Dalam ayat tersebut ada isyarat bagi orang yang ma’rifat kepada Allah, dan transformasinya dari kondisi dimana ia tidak hadir jiwanya menjadi hadir di hadapan Allah Ta’ala. Maka ia berhak mendapatkan tugas ini, sebagaimana sabda Rasululllah saw: “Para Nabi dan para wali senantiasa sholat dalam kuburnya sebagaimana mereka sholat di rumah-rumah mereka.”

Maksudnya mereka terus sibuk bersama Allah dan munajat bagi kehidupan qalbunya. Bila Sholat Syariat dan Sholat Thoriqoh telah berpadu, lahir dan batin, maka sempurnalah sholatnya, dan meraih pahala yang agung dalam taqarrub dengan alam ruhaninya. Dan dia juga meraih derajat jasmaniyah, lalu si hamba menjadi seorang ‘abid secara dzohir, dan ‘arif secara batin.

Jika seseorang tidak berhasil sholat Thoriqoh dengan hati yang hidup, maka ia tergolong tidak sempurna, dan pahalanya tidak sampai pada derajat taqarrub kepada Allah Ta’ala.

http://www.sufinews.com/

Singkirkan Syetan-Syetan-mu

Singkirkan Syetan-Syetan-mu

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany
Rasulullah Saw. Bersabda:
“Singkirkan syetan-syetanmu dengan ucapan Laailaaha Illallah Muhammadur-Rasulullah, karena syetan itu diikat dengan kalimat itu sebagaimana kalian memembebani derita untanya dengan banyaknya tumpangan dan beban-beban yang dipikulnya.”

Singkirkan syetan-syetanmu dengan ikhlas dalam ucapan Laailaaha Illallah, bukan sekadar ucapan verbal. Karena tauhid itu membakar syetan Jin dan syetan manusia, karena tauhid adalah neraka bagi syetan dan cahaya bagi orang yang manunggal (tauhid) pada Allah. Bagaimana anda mengucapkan Laailaaha Illallah sedangkan dalam hati anda banyak Tuhan?

Segala sesuatu yang anda jadikan pegangan dan anda andalkan selain Allah, maka sesuatu itu adalah berhala anda. Tauhid verbal (ucapan) tidak ada artinya jika qalbu anda musyrik. Tidak ada artinya menyucikan fisik sedangkan hati tetap najis.

Orang bertauhid itu menepiskan syetannya, sedangkan orang musyrik malah diperdaya oleh syetannya. Ikhlas adalah isi dari ucapan dan perbuatan, karena tanpa keikhlasan ucapan hanyalah kulit belaka, tanpa isi, yang tidak layak melainkan neraka belaka. Dengarkan ucapanku dan amalkan, karena mengamalkannya bisa mematikan neraka tamakmu dan menghancurkan duri nafsumu. Janganlah anda datangi suatu tempat yang bisa mengobarkan api watakmu yang bisa merobohkan rumah agama dan imanmu, dimana watak nafsu dan syetan berkobar lalu menghapus agama, iman dan yaqinmu. Karena itu jangan anda dengarkan ucapan mereka yang munafik yang penuh dengan kepura-puraan penuh dengan retorika keindahan. Nafsu itu senang dengan gaya seperti itu, seperti adonan roti yang masih mentah tanpa garam yang malah bisa merusak perut dan membuat hancur se-isi rumah.

Pengetahuan itu diambil dari ucapan para tokoh. Diantara para tokoh itu ada tokohnya Allah Azza wa-Jalla. Mereka adalah kaum Muttaqin, yang hatinya meninggalkan dunia, yang menjadi pewaris, dan yang ahli ma’rifat, mengamalkan ilmu dengan ikhlas. Dan segalanya tanpa ketaqwaan hanyalah sia-sia dan batil.

Kewalian itu hanya bagi orang yang taqwa di dunia dan di akhirat. Seluruh fondasi dan bangunan, dunia dan akhirat dari jiwa mereka. Sesungguhnya Allah mencintai hamba-hambaNya yang taqwa dan berbuat kebajikan, yang sabar. Manakala anda punya intuisi yang benar, pasti anda akan mengenal mereka, mencintai mereka dan mensahabati mereka.

Intuisi itu benar manakala dicahayai oleh kema’rifatan kepada Allah dalam hati. Karena itu jangan berpijak pada intuisi-mu jika belum ditimbang dengan ma’rifatullah Azza wa-Jalla, hingga jelas benar informasi mengenai kebenaran dan kebajikan.

Tutuplah matamu dari perkara yang haram, dan kendalikan dirimu dari syahwat, lalu kembalikan dirimu pada makanan yang halal, serta jagalah batinmu dengan muroqobah kepada Allah Azza-Wajalla, lahiriyahmu mengikuti jejak Sunnah Nabi saw. Maka intuisimu akan benar dan layak, benar pula ma’rifatmu kepada Allah Azza wa-Jalla Akal
dan hatimu anda didik. Sedangkan watak dan nafsu serta kebiasaan sehari-hari yang buruk, tidak bisa dididik dan tidak ada
kemuliaannya.
Anak-anak sekalian…Belajarlah dan ikhlaslah, hingga anda bersih dari duri kemunafikan, lalu ikatlah. Carilah ilmu karena Allah Azza wa-Jalla, bukan demi kepentingan makhluk dan dunia.

Tanda anda mencari ilmu karena Allah Azza-wa-Jalla, adalah rasa takut dan gentarmu dari Allah ketika perintah dan laranganNya tiba, dan anda sangat fokus di sana, merasa hina di hadapanNya, tawadlu terhadap sesama namun tanpa kepentingan pada mereka, sama sekali tidak berharap dari apa yang menjadi milik mereka.
Anda malah harus bersedekah karena Allah Azza wa-Jalla dan konsisten. Karena shadaqah yang diberikan bukan karena Allah Azza-wa-Jalla adalah musuh, dan berpijak pada tindakan seperti itu akan musnah. Pemberian yang motivasinya bukan karena Allah adalah kegagalan.

Nabi Saw, bersabda:
“Iman ini ada dua bagian; sebagian sabar dan sebagian lagi syukur.”

(Hr. As-Suyuthy dari Anas ra)

Bila anda tidak sabar atas derita, tidak syukur atas nikmat, maka anda belum beriman. Karena hakikat Islam adalah Istyislam (pasrah diri total pada Allah).

Ya Allah hidupkan hati kami dengan tawakkal kepadaMu, dengan taat dan dzikir hanya bagiMu, dengan berserasi padaMu, dengan Tauhid hanya bagiMu.

Kalau bukan karena tokoh-tokoh Allah di muka bumi yang ada di hatimu, pastilah sudah hancur kalian semua. Sebab Allah azza wa-Jalla mengalihkan adzabNya, karena doa mereka itu. Rupa Nabi memang sudah tiada, namun maknanya senantiasa abadi sampai kiamat. Bila tidak, bagaimana mungkin senantiasa ada 40 tokoh Ilahi yang senantiasa muncul di muka bumi? Dimana hati mereka ada makna-makna nubuwwah, hatinya seperti satu hati dari para Nabi. Diantara mereka ada Khalifah Allah dan rasul-rasulNya di muka bumi, yaitu para Ulama yang menggantikan sebagai pewaris Nabi.
Nabi Saw; bersabda:
“Para Ulama adalah pewaris para Nabi.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, Abu Dawud, dan Ibnu Hajar).

Merekalah pewaris, penjaga, baik tindakan maupun ucapan. Karena ucapan tanpa tindakan sama sekali tidak menyamainya, dan itu hanya pengakuan-pengakuan belaka tanpa bukti, sama sekali tidak sama (tidak berhak menyandang pewaris).
Anak-anak sekalian, aku jelaskan agar kalian memegang teguh Kitab dan Sunnah serta mengamalkan keduanya, ikhlas dalam beramal.
Aku melihat Uama-ulama kalian bodoh-bodoh. Yang anda anggap zuhud malah memburu dunia, berserah diri pada makhluk, namun alpa pada Al-Khaliq Azza wa-Jalla. Percaya pada selain Allah Azza wa-Jalla adalah penyebab laknat. Nabi saw, bersabda:
“Dilaknati! Dilaknati! Makhluk yang kepercayaannya pada makhluk sesamanya”.

Sabdanya pula:
“Siapa yang menggantungkan rasa butuhnya pada makhluk maka dia menjadi hina.”

Sungguh! Bila anda keluar dari makhluk maka anda akan bersama Sang Khaliq Azza wa-Jalla, Dia Yang Maha Tahu apa yang membahagiakanmu dan mencelakakanmu. Bedakan apa yang membahagiakan bagimu dan apa yang bagi orang lain.
Hendaknya anda tetap teguh dengan langgeng di pintuNya Azza wa-Jalla, dan memutuskan dunia dari hatimu, maka anda bakal menemukan kebajikan dunia dan akhirat. Dan hal demikian tidak bisa sempurna, ketika makhluk dan riya’ ada di hatimu, yang lain dan segala selain Allah Azza wa-Jalla tetap di hatimu, maka tak bisa dinilai sedikit pun hati anda.
Jika anda tidak sabar anda tidak bisa beragama, tidak ada modal bagi iman anda.
Nabi saw, bersabda:
“Sabar itu bagian dari iman, seperti kepala bagi fisik tubuh” (H.r. Al-Hindy dan al-Iraqy).

Makna sabar, berarti anda tidak pernah mengeluh, tidak bergantung pada sebab akibat dunia, dan tidak membenci cobaan, juga tidak senang hilangnya cobaan. Seorang hamba ketika tawadlu karena Allah Azza wa-Jalla saat fakir dan sangat butuh, dan ia sabar bersamaNya untuk mengikuti kehendakNya, tidak tidak congkak dengan sifat-sifatnya, lalu meraih pencerahan dalam ibadah di tengah kegelapan, berusaha dengan pandangan mata kasih sayang, maka Allah akan mencukupinya dan keluarganya dengan kecukupan tiada terduka.
Allah swt berfirman:
“Siapa yang bertaqwa kepada Allah maka bakal diberi jalan keluar, dan diberi rizki yang tak terhingga.” (Ath-Thalaq 2).

Anda ini seperti tukang bekam yang mengeluarkan penyakit orang lain, sedangkan dirimu penuh penyakit yang tak bisa anda keluarkan. Saya melihat anda semua sepertinya bertambah ilmunya secara lahiriyah, namun secara batin malah tampak tolol.
Dalam kitab Taurat disebutkan: “Siapa yang bertambah ilmunya, maka bertambahlah sedihnya.”[pagebreak]

Sedih apakah itu? Sedih karena takut kepada Allah dan rasa hina di hadapanNya maupun merasa hina dibanding hambaNya. Carilah ilmu, manakala anda tidak berilmu. Jika anda berilmu tapi anda tidak mengamalkan, dan tidak ikhlas mengamalkannya, tidak punya adab dan husnudzon kepada para Syeikh, bagaimana akan datang pengetahuan padamu? Hasratmu malah dunia, dalam sekejap dunia akan menjadi hambatan besar antara dirimu.

Dimana posisimu diantara para hamba Allah yang hasratnya hanya satu, muroqobah kepada Allah dalam jiwanya sebagaimana mereka menjaga badannya. Mereka membersihkan qalbunya, sampai paripurna, hingga hasratnya terkekang dengan sendirinya. Di hatinya tidak ada lagi hasrat, kalau toh pun masih ada hasrat, maka hasrat itu adalah menuju Allah Azza-wa-Jalla, mendekat kepadaNya, dan mencintaiNya saja.

Ada kisah Bani Israil yang ditimpa musibah dahsyat. Lalu mereka berkumpul menemui salah satu Nabi mereka. Mereka mengatakan, “Berilah kami berita apa yang diridloi oleh Allah Azza wa-Jalla, hingga kami bisa mengikutiNya, dan menjadi penyebab hilangnya cobaan ini dari kami.”

Lalu sang Nabi itu memohon kepada Allah Azza-waJalla. Maka Allah Azza wa-Jalla memberikan wahyu padanya, “Katakan pada mereka, “Jika kalian hendak meraih RidloKu, maka ridlolah pada orang-orang miskin. Jika kalian ridlo pada mereka maka Aku pun ridlo. Namun jika kalian membenci mereka, Aku pun benci padamu…”
Hai dengarkan orang-orang berakal. Kalian semua terus menerus nmembenci orang-orang miskin, sementara kalian menginginkan ridlo Allah Azza

wa-Jalla. Apa yang kalian dapat dari ridlo-Nya? Bahkan anda terbalik-balik dalam kebencian Allah Ta’ala. Pegang teguh atas ucapanku yang keras ini, kalian pasti bahagia.

Teguh itu akan menumbuhkan pohon. Namun, sepanjang anda tidak lari dari ucapan para syeikh, peringatan kerasnya, tetapi anda malah membutakan diri dari bencana-bencana. Dari mereka datang padaku, tapi saya diam, namun anda tidak sabar terhadap ucapan mereka itu. Anda ingin bahagia, tapi tidak anda dapatkan. Ingin kemuliaan, tapi tidak anda jumpai. Anda tidak bahagia manakala anda tidak berserasi dengan takdirNya, baik yang indah maupun yang pahit, disamping berguru pada para syeikh dengan menghilangkan kecurigaan menurut emosi anda. Hendaknya pula anda mengikuti jejaknya dalam berbagai situasi dan kondisi, maka anda dapatkan kebahagiaan dunia
akhirat.
Pahamilah apa yang kusampaikan ini. Faham saja tapi tidak mengamalkan tidak sama sekali disebut faham. Namun mengamalkan tanpa keikhlasan, sungguh merupakan ketamakan. Thama’ (Tha’ Mim ‘Ain) semua hurufnya kosong bolong. Orang awam tidak mengerti apa yang anda buka. Anda mengajarkan kepada mereka hingga mereka hati-hati padamu.

Jika anda sabar bersama Allah azza wa-Jalla, pasti anda akan tahu keajabian-keajaiban dari Kemaha lembutanNya. Nabi Yusuf as, ketika sabar dalam deritanya dan diperbudak, dipenjara dandihina, namun berselaras dengan tindakan Tuhannya Azza wa-Jalla maka ia malah sukses dan menjadi raja. Allah mengalihkan dari kehinaan menjadi kemuliaan, dari kematian menuju kehidupan.Begitu juga anda, jika mengikuti syariat dan anda sabar bersama Allah azza wa-Jalla, anda takut padaNya, berharap padaNya, dan kontra pada nafsu anda, syetan anda, kesenangan anda, anda pun akan berpindah dari situasi saat ini, dari situasi yang anda benci menuju situasi yang anda sukai. Karena itu seriuslah dan berjuanglah. Karena perjuangan itu melahirkan kebaikan. Siapa yang bersikeras dalam perjuangannya maka akan meraihnya. Berjuanglah untuk makan makanan halal, karena bisa mencahayai hati anda dan mengeluarkan dari kegelapan hatimu. Akal yang paling berguna adalah yang mengenalkanmu pada nikmat Allah azza wa-Jalla dan menempatkan dirimu pada posisi syukur padaNya, membantumu untuk berkenalan dengan nikmat dan kriterianya.

Anak-anak sekalian…Siapa yang mengenal dengan mata yaqin, bahwa Allah Azza wa-Jalla telah membagi semuanya dan sudah tuntas pembagian itu, malah ia malu untuk memintaNya. Ia lebih senang sibuk berdzikir padaNya, tidak ingin meminta dipercepat bagianNya, dan tidak menginginkan yang diberikan pada yang lain. Perilaku mereka malah sembunyi, diam, dan beradab yang bagus serta meninggalkan kontra pada Allah Azza wa-Jalla.

Mereka tidak pernah mengadu pada makhlukNya, baik sedikit kebutuhannya maupun banyak. Menurutku mengeluh pada makhluk dalam hati pun, sudah dianggap berkeluh kesah dengan lisan. Secara hakiki tidak ada bedanya.

Hati-hati. Apa anda tidak malu mencari sesuatu selain pada Allah Azza wa-Jalla, sedangkan Dia itu lebih dekat padamu dibanding lainNya. Anda mencari sesuatu dari sesama, sesuatu yang tidak anda butuhkan pada Allah Azza wa-Jalla. Padahal anda sudah kaya raya, namun anda masih mencari sesuap dari orang-orang miskin. Jika anda mati baru anda malu, karena cacatmu sudah tampak, tetangga-tetanggamu mencacimu.

Kalau anda berakal, anda mestinya meraih sejumput dari iman agar anda bertemu Allah azza wa-Jalla dengan imanmu itu, apalagi anda berguru pada orang shaleh, beradab dengan mereka melalui ucapan dan tindakan mereka, hingga ketika imanmu dan yaqinmu sempurna, anda paripurna bersih menuju Allah Azza wa-Jalla hanya bagi Allah Azza wa-Jalla, dan Allah memberikan wilayah adab padamu, perintah dan larangan bagimu dari dalam hatimu.

Wahai penyembah berhala riya’ bagaimana anda bisa mencium aroma taqarrub pada Allah Azza wa-Jalla, dunia dan akhirat!
Hai musyrik! Hai orang yang menghiba pada sesama dengan hatinya, palingkan dirimu dari mereka. Bahaya! Tidak ada gunanya, tak ada anugerah dan tak bisa menggagalkan pula.
Jangan sampai anda mengaku bertauhid pada Allah Azza wa-Jalla dengan kemusyrikan pada hatimu yang terus menancap.
Anda tidak akan meraih apa-apa.

http://www.sufinews.com/

Siapa Yang Tidak Punya Guru Maka Gurunya Adalah Iblis

Siapa Yang Tidak Punya Guru Maka Gurunya Adalah Iblis

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany – Hari Juma’at pagi, 12 Rajab Akhir 545 H di Pesantrennya.

Jika anda menginginkan jadi raja dunia dan akhirat, maka jadikanlah seluruh dirimu hanya untuk Allah Azza wa-Jalla, hingga dirimu menjadi pemimpin dan pemuka atas dirimu dan atas yang lain. Sungguh aku telah menasehatimu, dan aku benar-benar meluruskanmu maka terimalah pembenaran dariku. Jika anda mendustai, maka anda berdusta, maka dusta itu kembali padamu. Jika anda membenarkan, dan melakukan tindak kebenaran, berarti anda benar dan kebenaran itu kembali bagimu, “Sebagaimana anda beragama, maka agama itu milikmu…”.
Ambillah dariku obat bagi penyakit agamamu, amalkanlah, maka akan sembuh.

Orang terdahulu telah berkeliling mengitari timur hingga barat hanya untuk mencari Wali-wali yang saleh, dimana mereka adalah dokter-dokter hati dan dokter agama. Jika mereka dapatkan salah seorang dari mereka, maka mereka mencari obat bagi agamanya.
Sedangkan anda dewasa ini, malah membenci Ulama, Fuqoha’, para Wali, dimana mereka itu adalah orang-orang yang mengajari adab dan mengajarkan pengetahuan. Tidak aneh jika anda saat ini tidak menemukan obat itu.

Celakanya, setiap hari anda dapatkan pengetahuan dariku, obat dariku, dan aku bangunkan fondasi, tetapi setiap hari pula kalian merusaknya. Aku berikan obat padamu, tapi anda tidak mengamalkannya. Setiap hari kukatakan, “Jangan makan makanan ini, karena di dalamnya ada racun. Makan saja yang ini, karena di dalamnya ada obat. Tapi anda malah makan yang ada racunnya. Sebentar lagi anda pasti merobohkan agama dan imanmu.

Aku memberikan nasehat padamu. Aku tidak takut dengan pedangmu. Juga tidak sama sekali berharap emasmu. Siapa pun yang bersama Allah Azza wa-Jalla, tidak akan lari karena jumlah banyak (yang melawan) baik dari kalangan Jin, Manusia, hamparan makhluk bumi, dan seluruh binatang buas lainnya.

Jangan sekadar bangga dengan para Syeikh, lalu anda tidak mengamalkan ilmunya. Kalian semua adalah orang yang begitu tolol pada Allah Azza wa-Jalla, pada RasulNya, pada orang-orang saleh, yang senantiasa teguh bersamaNya dan ridlo atas tindakanNya. Seluruh keselamatan terletak pada kerelaan hati atas rencanaNya, dan pendeknya angan-angan anda, disamping zuhud di dunia. Jika anda melihat bahwa diri anda sesungguhnya lemah, maka cukuplah anda mengingat kematian dan pendek angan-angan. Rasulullah saw, menceritakan tentang hadits Qudsy:
“Tak ada yang lebih utama bagi yang mendekat dari orang-orang yang mendekat kepadaKu dibanding orang yang melaksanakan fardlu yang Aku wajibkan pada mereka.

Dan senantiasa hambaKu mendekat kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku mencintainya. Bila Aku mencintainya, maka Aku adalah Pendengaran baginya, Penglihatan, Tangan dan Pengokoh baginya.
DenganKu ia mendengar, dan denganKu ia melihat, dan denganKu ia memukul.”

Ia memandang seluruh perbuatannya bersama Allah Azza wa-Jalla, bersamaNya ia keluar dari upayanya, kekuatannya, dan memandang dirinya dan lainnya, hingga gerak dan upayanya serta kekuatannya bersama Allah Azza wa-Jalla. Tidak bersama dirinya dan tidak bersama makhluk-makhlukNya. Ia orientasikan dirinya, dunianya, akhiratnya, sebagai ketaatan kepada Allah Azza wa-Jalla, apalagi pasti ketaatannya adalah taqarrubnya yang menjadi sebab cintanya Allah Azza wa-Jalla kepadanya.

Dengan ketaatannya ia mencintai dan taqarrub. Dengan kemaksiaatan yang ada, ia marah dan benci, serta menjauhi. Dengan taatnya ia bahagia, dan dengan maksiat ia lari. Karena siapa yang berbuat buruk akan lari. Dengan jejak syara’ ia raih kebajikan. Dengan kontra pada Allah ia dapatkan keburukan. Siapa yang dalam upayanya tidak berselaras dengan aturan Ilahi maka ia tergolong orang yang paling hancur.

Karena itu beramal dan tekunlah, tapi jangan anda bersandar pada amal. Orang yang tidak pernah beramal ibadah ia senantiasa tama’. Dan orang yang mengandalkan amalnya senantiasa kagum pada diri sendiri dan terpedaya.

Manusia ada yang berdiri antara dunia dan akhirat.
Ada yang berdiri antara syurga dan neraka.
Ada yang berdiri antara makhluq dan Khaliq.
Jika anda orang zuhud, posisi anda berada diantara dunia dan akhirat.
Jika anda orang yang takut pada Allah, posisi anda diantara syurga dan neraka.
Jika anda orang ‘arif posisi anda berdiri antara makhluk dan Khaliq. Di satu sisi anda melihat makhluk, dan disi lain anda Melihat
Khaliq.

Anda mengenal mereka, dimana mereka melihat situasi akhirat dan hisabnya, serta seluruh apa yang ada di dalamnya. Tidak! Bahkan anda anda diberi tahu apa yang anda saksikan dan anda lihat. Tak ada berita yang lebih nyata dibanding melihat secara nyata. Ada kalangan yang sangat menunggu bertemu Allah Azza wa-Jalla, mereka senantiasa berharap di seluruh waktunya. Mereka tidak takut akan kematian, karena kematian sebagai sebab bertemu Allah Azza wa-Jalla Sang Kekasih. Berpisahlah sebelum engkau dipisahkan. Tinggalkan sebelum engkau ditinggalkan. Hijrahlah sebelum dihijarhi oleh keluarga dan seluruh makhluk. Raihlah apa yang berguna ketika kamu dikuburan. Bertobatlah dari ambisi meraih hal-hal yang dibolehkan namun dengan cara menuruti nafsu.

Hai kaum Sufi, hati-hatilah dalam seluruh tingkahmu. Hati-hati itu adalah pakaian agama. Carilah pakaianmu dariku bagi agamamu. Ikuti aku, karena aku senantiasa teguh berpijak pada jejak rasulullah saw. Aku pengikutnya dalam soal makanan, minuman, perkawinan dan perilakunya. Apa pun yang ditunjukkannya menuju kepada Allah Azza wa-Jalla, senantiasa aku berserasi demikian, hingga aku berselaras dengan kehendak allah Azza wa-Jalla, tanpa pikir panjang. Hanya dengan memuji Allah, bahkan aku tak terlintas dengan pujian dan cacianmu, dengan pemberian dan hambatanmu, dengan kebaikan maupun kejahatanmu, dengan penerimaan maupun penolakanmu.

Anda memang bodoh. Dan orang bodoh tidak peduli dengan Allah Azza wa-Jalla. Jika anda merasa menang dan bahagia, serta menyembah Allah Azza waJalla, maka ibadahmu itu tertolak. Karena ibadahmu bersamaan dengan kebodohanmu, sedangkan seluruh kebodohan itu merusak.

Nabi saw, bersabda:
“Siapa yang menyembah Allah Azza wa-Jalla dengan cara yang bodoh, maka unsur yang merusak lebih banyak dibanding yang menimbulkan kebaikan.” (Ditakhrij oleh al-‘Ajluny).

Anda tidak beruntung selama tidak mengikuti jejak Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. Sebagian Sufi mengatakan: “Siapa yang yang tidak punya guru, maka gurunya adalah Iblis.”

Karena itu ikutilah jejak para Syeikh, para Ulama Billah, yang berpegang teguh pada Kitab dan Sunnah, yang mengamalkan keduanya, dan berhusnudzonlah kepada mereka. Anda belajar dari mereka dan beradablah yang sopan dengan mereka serta keluarga mereka, anda akan bahagia. Sebaliknya jika anda tidak mengikuti jejak Kitab dan Sunnah serta tidak berguru pada para Syeikh yang arif, anda tidak akan beruntung selamanya.
Ingatlah kata-kata, “Siapa yang mengandalkan pikirannya, akan tersesat.”

Bersihkan dirimu dengan berguru pada para Syeikh yang lebih alim dibanding anda, sibukkan dirimu untuk diperbaiki olehnya, baru kamu pindah ke pembersihan berikutnya.

Nabi saw, bersabda:
“Mulailah dari dirimu, kemudian pada orang sekitarmu.” (Hr. Bukhari).
“Tak ada nilai sedekah sedangkan keluarga dekat sangat membutuhkannya.” (Hr Ahmad).

http://www.sufinews.com/

Siapa Yang Anda Prioritaskan?

Siapa Yang Anda Prioritaskan?

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany – Hari Juma’at pagi, 14 Rajab Akhir 545 H di Pesantrennya.

Nabi saw, bersabda:
“Apabila Allah swt menghendaki kebajikan pada hambaNya maka sang hamba diberi pemahaman dalam agama, dan ditampakkan cacat-cacat dirinya.” (H.r. Al-Hindy riwayat dari Anas ra.) Faham dalam agama adalah factor yang menyebabkan manusia mengenal dirinya. Dan siapa yang mengenal Tuhannya Azza wa-Jalla, maka ia mengenal segalanya. Maka bersama Allahlah ibadah kepadanya menjadi benar, dan terbebaskan dari perbudakan selain Allah azza-waJalla.

Kalian semua tidak akan beruntung dan tidak pula selamat sepanjang anda tidak memperioritaskan Allah Azza wa-Jalla atas lainnya. Anda harus memprioritaskan agamamu dibanding kesenanganmu, memprioritaskan akhiratmu dibanding duniamu. Menomorsatukan Penciptamu dibanding ciptaanNya. Anda menjadi rusak karena anda mendahulukan syahwat kesenangan anda dibanding Allah Azza wa-Jalla.

Lakukanlah prioritas Allah dibanding yang lain maka Allah bakal mencukupi anda. Sedangkan anda saat ini terhijab dari Allah Azza wa-Jalla, maka tidak ada ijabah bagi anda.
Padahal Ijabah itu akan muncul setelah memohon Ijabah. Allah mengijabahi anda dengan amaliyah anda ketika anda memohon kepadaNya.
Panen itu akan anda raih setelah menanam. Bertanamlah anda akan panen.

Nabi saw. Bersabda:
“Dunia adalah tempat bertanam bagi akhirat.” (Hr.
Al-‘Ajluny)

Bertanamlah dengan tanaman dalam hatimu dan badanmu, yaitu iman. Anda berkebun dengan menyiram air pada kebun itu melalui amal yang saleh. Jika dalam hati anda ada kelembutan, kasih sayang, rahmat pasti akan tumbuh di dalamnya. Manakala di dalamnya ada keras kepala dan keras hati, maka buminya juga gersang tidak akan ditumbuhi apa pun. Sama seperti anda menanam di puncak bukit batu, tidak akan pernah tumbuh di sana.

Nabi saw, bersabda:
“Minta tolonglah kalian atas segala pekerjaan menurut kemampuan terbaik ahlinya.” (Ditakhrij As-Suyuthy dan al-Ajluny)

Kalian sibuk dengan bertanam dunia bukan bertanam akhirat. Bukankah pemburu dunia tak akan bahagia di akhirat? Ia tak akan melihat Allah Azza wa-Jalla. Jika anda ingin akhirat maka tinggalkan duniawimu, jika anda inginkan Allah Azza wa-Jalla maka tinggalkan bagian diri dan unsur kemakhlukanmu, maka anda benar-benar wushul. Bila benar apa yang anda lakukan justru akhirat, seluruh makhluk, dunia, anda dapatkan semuanya, dengan penuh kepatuhan maupun dengan terpaksa.
Sebab pokoknya sudah bersama anda, sedangkan cabangnya hanya mengikuti. Karena itu berakal sehatlah anda. Namun anda malah tidak berakal sehat, tidak pandai, dengan cara anda bergumul dan bergabung dengan makhluk, lebur dengan mereka. Jika anda tidak taubat, maka justru anda
hancur.

Datanglah ke jalan thariqat sufi, anda datangi pintu mereka. Jangan jejali mereka dengan dengan ketiak tubuhmu, dengan kemunafikanmu, sedangkan hatimu tidak. Padahal mereka terpenuhi oleh hati dan rahasia hati, dengan lengan-lengan kepasrahan dan kesabaran terhadap cobaan, kerelaan dan bagian dari Allah Azza wa-Jalla.

Hai anak-anak sekalian, jadikan dirimu di hadapan Allah Azza wa-Jalla ketika derita menerpamu, maka anda tegak di atas pijakan cintaNya, bahkan tidak berubah, tidak sirna oleh penjuru dan angin, badai dan hujan bahkan oleh debu-debu yang menabur, karena anda tetap teguh lahir dan batin, teguh dalam maqom yang disana tak ada lagi makhluk, dunia, akhirat, tak ada hak dan bagian-bagian kepentingan, tak ada derita, tak ada pertanyaan “bagaimana”, bahkan tak ada selain Allah Azza wa-Jalla. Jangan sampai jiwamu dikotori oleh urusan makhluk, urusan keluarga, dirimu tak berubah karena bagian yang sedikit atau pun banyak, tidak pula berubah karena cacian dan pujian, tidak pula diterima maupun ditolak, dan secara global anda berada dibalik semuanya, manusia, jin, malaikat dan seluruh makhluk, bersama Allah.
Betapa indah apa yang dikatakan oleh seorang Sufi, “Jika anda membenarkan (silakan) jika tidak, jangan ikuti kami.!”
Sabar, ikhlas dan jujur dalam membenarkan merupakan asas, sebagaimana kami jelaskan apdamu. Kalian datang padaku, apakah aku membuatmu munafik? Dan ketika aku bicara lembut padamu, dirimu suka dan kagum, lalu anda menyangka ada kepentingan? Tidak! Tak ada kemuliaan dengan cara begitu. Aku dan api, dan tak ada yang mampu di atas api kecuali Samandil yang bertelur, beranak, dan anaknya berdiri dan duduk di atas api. Jadilah dirimu seperti Samandil di atas api derita dan perjuangan serta kepayahan, bersabar di lorong-lorong ketentuan dan takdir, hingga kalian sabar dalam berguru kepadaku, mendengarkan kalamku, kerasnya ucapan serta mengamalkannya lahir, batin, hakiki dan syar’y. Pertama-tama anda khalwat, lalu keluar, lalu eksistensial. Jika anda sukses, maka anda bahagia dunia akhirat bersama kehendak dan takdir Allah Azza wa-Jalla.
Aku tidak menyertai siapa pun selain hanya untuk Allah Azza wa-Jalla, dan diantara keharusannya adalah aku tidak menoleh pada siapapun dari mereka dalam segala hal tanpa suatu tanda. Bahkan aku sangat takut kepada Allah dalam melaksanakan HakNya terhadap makhlukNya, aku tidak boleh lemah, dan aku kuat dengan diriku, lalu aku berserasi dengan mereka dalam jiwa mereka (demi keselamatan mereka).

Diantara para Sufi – semoga rahmat Allah bagi mereka — mengatakan, “Berserasilah pada Allah Azza wa-Jalla dalam jiwa mereka, tetapi janganlah berserasi dengan mereka ketika di dalam ibadah kepada Allah.” Maka runtuhlah mereka yang hancur, dan selamatlah mereka yang selamat. Maka aku peduli, sedangkan anda terus menerus maksiat kepada Allah Azza wa-Jalla, menghina perintah dan laranganNya, kontra padaNya, baik dalam ketentuan maupun takdirNya. Siang dan malam anda dibenci dan dilaknati.
Diantara firmanNya Azza wa-Jalla dalam sebagian kitabNya:

“Jika kamu patuh maka Aku ridlo kepadamu. Jika Aku ridlo, maka kamu mendapatkan barokah kebajikan. Sedangkan barokahKu tak ada batasnya. Namun jika kamu maksiat, Aku marah. Dan ketika Aku marah, kamu terlaknat, hingga laknat-Ku sampai tujuh turunan…”
Zaman ini adalah zaman dimana agama dijual dengan debu yang hina, zaman yang panjang khayalnya dan ambiusnya. Karena itu seriuslah kalian, jangan sampai tergolong orang yang difirmankan oleh Allah swt :

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqon: 23)

Setiap amal yang diorientasikan selain Allah Azza wa-Jalla maka ia telah menjadi debu yang terbang.
Hati-hati! Apabila masalahmu tersembunyi dari kalangan awam, maka tidak tersembunyi bagi kalangan khusus yang kokoh, mereka menyembunyikan pekerjaannya dari anda, bukannya orang bodoh yang menyembunyikan orang alim, tidak. Karena itu beramallah dan ikhlaslah dalam amalmu. Sibukkan hatimu pada allah Azza wa-Jalla, tinggalkan hal-hal yang mengganggumu yang tidak berarti, karena itu jangan repot dengan hal-hal yang tak berarti bagimu.[pagebreak]

Mestinya anda lebih fokus pada nafsumu, hingga anda bisa mengekang dan merendahkannya, sampai kau mampu mengendalikannya dalam perjalanan dari dunia menuju akhirat. Anda bisa memutuskan diri dari makhluk dan sampai di hadapan Allah Azza wa-Jalla.

Sampai anda sempurna dan kuat, memberi kebajikan pada lainnya, dimana dunia telah anda keluarkan, dan kepada Allahlah anda datang. Suapan hikman engkau jadikan konsumsimu.
Anda harus benar dalam bicara, jangan direkayasa, karena bisa terkena tipudaya. Jangan takut pada makhluk dan jangan pula menaruh harapan pada mereka, karena sikap demikian bisa melemahkan iman.

Luhurkan cita-citamu, maka engkau akan menjadi luhur. Karena Allah Azza wa-Jalla memberikan anugerah padamu menurut kadar cita hasratmu, kejujuran dan keikhlasanmu.
Maka seriuslah, berjuanglah, dan tegaslah. Carilah, karena semuanya tidak datang dengan sendirinya.

Anda harus memikul tugas dalam meraih amal yang saleh sebagaimana anda serius dalam meraih rizki. Syetan mempermainkan umumnya orang, sebagaimana sang penunggang kuda mempermainkan, dimana diantara mereka berputar-putar sekehendaknya, anda pun juga memutar-mutar binatang tunggangannya sekehendaknya. Bagaimana syetan memukul-mukul leher mereka dan memperbudak mereka, mengeluarkan mereka dari arena perjuangan dan nafsu terus membantunya untuk suksesnya syetan, menyediakan
instrumennya.

Anak-anak sekalian, Cambuklah nafsu dirimu dengan cambuk lapar dan mencegah syahwat, kenikmatan dan kelalaian. Cambuklah hatimu dengan cambuk rasa takut dan muroqobah kepada Allah swt. Jadikanlah Istighfar sebagai kesungguhan dirimu, hatimu dan sirr-mu, karena masing-masing dalam nafsu, qalbu maupun sirr-mu ada ukuran dosa tertentu. Karena itu disiplinkan semuanya dengan berselaras dan mengikuti jejak Nabi saw, dalam segala perilaku.

Hai orang yang yang sangat minim mutiaranya, bila takdir tidak mungkin kau hindari, tidak bisa merubah dan menghapusnya maka janganlah anda menolak kehendak Allah.

Jika tidak akan tiba melainkan apa yang Dia kehendaki. Janganlah anda berkehendak manakala Dia tidak berkehendak. Maka jangan hampakan diri dan hatimu di dalamnya. Pasrahkan dirimu semua kepada Tuhanmu Azza wa-Jalla. Gantungkan pada rahmatNya dengan tangan taubatmu. Jika engkau bisa konsisten dengan kondisi itu, maka dunia akan sirna dari pandangan mata-hatimu dan mata kepalamu.

Segala musibahnya jadi ringan, nikmat dan kesenangannya sirna. Anda tidak lagi mengeluh atas sengsaranya begitu pula bencananya, sebagaimana Asiah ra, isteri Fir’aun, ketika nyata bahwa dirinya ternyata wanita yang beriman kepada Allah Azza wa-Jalla, kemudian tangan dan kakinya dipasung dengan paku besi, dihajar dengan cambuk, ia menengadah ke langit, lalu melihat pintu-pintu syurga terbuka, dimana Malaikat membuatkan bangunan istana di syurga, lalu datanglah Malaikat maut mengambil nyawanya, sembari berkata:
“Rumah itu bagimu,” lalu ia tersenyum, hingga pedihnya sakit siksaan sirna.

Asiah ra berkata:
“Ya Tuhan bangunkan istana bagiku di sisiMu dalam syurga…” (At-Tahriim: 11)

Jadilah dirimu seperti Asiah, dengan melihat melalui matahati dan mata yaqinmu kemana pun pandangan, maka anda akan sabar apa pun bencana di sana. Engkau keluar dari daya dan upayamu, engkau tidak meraih, tidak memberi, tidak bergerak dan tidak diam kecuali dengan daya dan kekuatan Allah Azza wa-Jalla.
Engkau fana’ di sisiNya, engkau serahkan seluruh perkaramu kepadaNya. Maka anda meraih keserasian padaNya dalam dirimu. Maka jangan mengurus ketika berada dalam urusan Allah, jangan mengatur ketika bersama aturanNya, jangan memilih ketika bersama pilihanNya. Siapa pun yang tahu akan hal ini, tidak akan mencari selain Dia, tak ada harapan selain Dia. Bagaimana orang yang berakal sehat tidak menginginkan hal seperti ini? Sedangkan bersanding dengan Allah Azza wa-Jalla tidak akan sempurna kecuali bersamaNya.

http://www.sufinews.com/

Apakah Anda Pembenar Atau Pendusta

Apakah Anda Pembenar Atau Pendusta

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany
Ketahuilah segalanya itu bergerak karena digerakan Allah Azza wa-Jalla, diam karena didiamkan olehNya. Bila pandangan ini merasuk kokoh dalam diri hamba, ia akan terbebas dari beban syirik dengan makhluk, dan terbebas makhluk dari syirik. Sebab seseorang tidak akan mencela mereka, dan tidak menuntut mereka dengan sesuatu yang menyertainya. Bahwa menuntut mereka adalah sesuatu yang dituntut oleh syara’ saja.
Menuntut makhluk secara syar’i dan pengetahuan secara terpadu. Yaitu memandang Tindakan Allah ‘Azza wa-Jalla dalam diri makhluk secara akidah tidak merusak akidah. Karena Allah-lah yang memberikan kepastian, dan Dia-lah yang menuntut.

“Allah tidak dimintai tanggungjawab atas apa yang dilakukanNya, sedangkan mereka dimintai pertanggungjawaban.” (Al-Ambiya’ 23)

Inilah akidah setiap Muslim yang manunggal dan ridlo kepada Allah azza wa-Jalla, yang selaras dengan rencana dan takdir Illahi serta ciptaanNya. Dialah yang Maha Cukup (tidak butuh) pada dirimu dan tidak butuh sabarmu. Namun Allah SWT hanya memandang bagaimana anda mengamalkan dalam panggilanNya kepadamu, apakah anda membenarkan atau mendustakan.

Ia menyerahkan pilihan dirinya dan yang lain kepadaNya, tidak memiliki praduga dan aktivitas kinerjanya, begitu juga tidak tergesa-gesa hasratnya tidak pula pelit.

Hatinya berias dengan ekspresi dariNya menuju kepadaNya, hingga tak tersisa arah sedikit pun kecuali padaNya.
Wahai orang yang mengaku mencintai Allah Azza wa-Jalla cintamu tak akan sempurna hingga engkau membungkam arah dari segi hakmu, hingga tak tersisa kecuai satu arah saja, Allah Rabbul ‘Izzah.

Kekasihmu telah mengeluarkan makhluk dari hatimu mulai dari Arsy hingga bintang Tsurayya. Maka jangan mencintai dunia, jangan pula akhirat. Hingga tak ada lagi rasa gentar pada duanya, karena anda hanya bermesrajiwa denganNya, sampai dirimu seperti Majnun-Laila ketika didominasi rasa cinta luar bisa, ia keluar ia malah bersembunyi dan hidup bersama binatang-binatang. Keluar dari keramaian, mengasing dalam kesunyian. Keluar dari pujaan makhluk maupun caciannya. Lalu diam dan bicaranya hanya satu saja, benci mereka padanya hanya satu pula.
Suatu hari ia ditanya, “Siapa dirimu?”
“Laila..” jawab Majnun.
“Darimana anda berasal?”
“dari Laila…” katanya.
“Kemana anda menuju?”
“Laila…” tangkasnya.
Ia telah buta dari segalanya kecuali Laila. Ia tak pernah mendengarkan ucapan siapa pun kecuali dari Laila, ia pun tak akan peduli dengan kritik dan celaan. Betapa elok apa yang dikatakan sebagian Sufi:

Bila jiwa-jiwa saling berangkul dengan asmara
Maka pukulan besi pun terasa dingin.
Inilah hati yang kenal Allah Azza wa-Jalla, hati yang mencintaiNya, hati yang dekat denganNya, begitu gentar dirinya jika dekat dengan makhluk (takut tergoda), semesta, makan dan minumnya, pakaian dan perkawinannya, cemas dengan hangar binger dunia, lalu ia mengasingkan dirinya, tanpa ada aturan batas kecuali batas syariat, dalam hal perintah dan larangan serta tindakan. Ia hanya berselaras dengan datangnya takdir. “Ya Allah janganlah Engkau tinggalkan kami dari kekuasaan RahmatMu, hingga kami tenggelam di lautan dunia dan lautan wujud. Wahai Dzat yang menghamparkan kemurahan dan pandangan bajik yang lalu, temukanlah kami padaMu.”

Anak-anak sekalian. Siapa yang tidak mengamalkan apa yang kukatakan ini, pasti tidak akan memahami apa yang kuucapkan. Siapa yang mengamalkan, akan faham. Jika engkau tidak berbaik sangka padaku, tidak beriman dengan apa yang kuucapkan, tidak mengamalkannya, bagaimana anda faham?

Anda lapar, dan yang kau butuhkan ada padaku, sedangkan anda tidak mau makan dari makananku, bagaimana anda kenyang? Dalam suatu hadits diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
“Tak seorang pun yang sakit semalam saja, melainkan ia rela kepada Allah Azza wa-Jalla, sabar atas apa yang menimpanya, dosanya dikeluarkan oleh Allah sebagaimana ia baru lahir dari kandungan ibunya.” (Takhrij Al-Hindy di Kanzul Umal).

Sedangkan pada dirimu, tak ada apa-apa, dan engkau tak mendapatkan apa-apa dari hajat utamamu. Mu’adz ra berkata kepada para sahabat. “Berdirilah, engkau beriman sesaat.” Maksudnya bangkitlah dan rasakan sesaat, berdirilah dan masuklah dalam Pintu sesaat, sebagai rasa kasih saying kepada mereka. Mu’adz ra mengisyaratkan pada masalah yang rumit, yang menunjukkan pada pandangan mata Yaqin. Bahwa tidak setiap muslim itu mu’min, dan tidak setiap mu’min itu yaqin. Karena itu para sahabat lapor kepada Nabi SAW, “Mu’adz berkata kepada kami, Berdirilah, engkau beriman sesaat, bukankah kita ini beriman semua? Maka Nabi SAW, menjawab: “Biarkan saja Muadz dan perilakunya…” (Takhrij Al-Hindy).

Wahai orang yang menjadi budak nafsunya, watak dan syetannya serta dunianya. Kalian tidak berdaya di hadapan Allah dan di hadapan orang-orang saleh. Siapa yang masih menyembah akhirat, ia tidak memandangNya, bagaimana dengan penyembah dunia?

Celaka anda. Anda menfasihkan ucapan, tetapi tanpa amal tindakan. Anda ini dusta sedangkan anda merasa benar, anda bisa musyrik. Anda merasa sudah bertauhid, merasa benar, merasa dirimu adalah mutiara, padahal aktivitasku ini bersamamu dalam rangka mencegahmu dari kedustaan, dan memerintahkanmu agar jujur dan benar. Aku punya tiga pegangan yang aku ketahui dari kitab, Sunnah dan hatiku, dimana hatiku akan melihat dengan bentangan jelas dan tidak akan sampai derajat tersebut melainkan mewujudkan amaliyah atas Kitab dan Sunnah Nabi saw.

Mengamalkan ilmu adalah mahkota ilmu Mengamalkan ilmu adalah cahaya ilmu, beningnya being, saripatinya sari, lubuknya lubuk. Mengamalkan ilmu bisa membenarkan hati dan menyucikannya. Jika hati benar, fisik kita benar. Jika hati suci, suci pula aktivitas lahiriyahnya, jika ia pakai ilmu, ia akan pakai menuju syurga. Jika segumpal daging (hati) bagus, bagus seluruh dirinya. Benarnya qalbu karena benarnya rahasia hati yang berada diantara manusia dan Tuhannya Azza wa-Jalla. Rahasia hati (sirr) adalah burung, hati adalah sangkarnya. Hati adalah burung, dan tubuh adalah sangkarnya. Tubuh adalah burung dan kuburan adalah sangkarnya. Kubur adalah sangkar hati yang harus dimasuki siapapun.

http://www.sufinews.com/