Archive for the ‘ Cerita Mistis ’ Category

Subhanalloh Seorang Pria Tidak Makan dan Minum 70 Tahun

New Delhi: Seorang pria India yang sudah berusia 82 tahun mengaku tidak makan dan minum selama 70 tahun. kemampuan Prahlad Jani bertahan tanpa makanan dan minuman menarik perhatian Militer India untuk menelitinya.

Kini Prahlad Jani berada di ruang isolasi sebuah Rumah Sakit di Ahmedabad, Gurjarat dan diawasi ketat oleh tim dokter. Jani sudah berada di rumah sakit itu selama 6 hari tanpa makan dan minum, dan dari hasil pemeriksaan tidak ada tanda-tanda Jani mengalami kelaparan dan dehidrasi.

Seperti yang diberitakan Liputan6.com, Prahlad Jani mengaku telah meninggalkan rumah sejak umur 7 tahun dan hidup sebagai pengembara Sadhu atau orang suci di Rajasthan. Jani disebut sebagai breatharian yang dapat hidup sendiri secara spiritual.

Jani meyakini hidupnya telah ditopang oleh seorang dewi yang menuangkan ramuan gaib melalui langit-langit mulutnya. Pengakuan Jani ini didukung oleh seorang dokter India yang ahli dalam b.idang studi tentang orang-orang yang memiliki kemampuan supranatural.

Pihak militer India tampaknya tertarik untuk mempelajari ilmu Prahland Jani dan berharap bisa diterapkan pada anggota pasukannya atau pada korban bencana sebelum bantuan tiba.

“Jika klaim itu bisa diverifikasi, itu akan menjadi terobosan dalam ilmu kedokteran,” kata Dr G. lavazhagan, Direktur Ilmu Fisiologi & Ilmu Terpadu, Institut Pertahanan. “Kita bisa mendidik masyarakat tentang teknik-teknik bertahan hidup dalam kondisi buruk dengan sedikit makanan dan air atau tidak sama sekali” tambahnya

Di India memang sudah menjadi hal yang umum bagi umat Hindu menjalankan puasa tanpa makan dan minum bahkan selama delapan hari penuh. Secara teori, manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa makan dan minum selama 50 hari.

Iklan

Kang Kasanun

Kang Kasanun
oleh A. Mustofa Bisri

Mendengar cerita-cerita tentang tokoh yang akan aku ceritakan ini, baik dari ayah atau kawan-kawannya seangkatan di pesantren, aku diam-diam mengaguminya. Bahkan seringkali aku membayangkannya seperti Superman, Spiderman, atau si Pesulap Mandrake. Wah, seandainya aku berkesempatan bertemu dengannya dan dapat satu ilmu saja, lamunku selalu. Ayah maupun kawan-kawannya selalu menyebutnya dengan Kang Kasanun. Tidak ada yang menyebut namanya saja. Boleh jadi karena faktor keseniorannya atau karena ilmunya.
Kiai Mabrur, guruku ngaji Quran dan salah seorang kawan ayah di pesantren, paling semangat bila bercerita tentang Kang Kasanun. Aku dan kawan-kawanku paling senang mendengarkannya; apalagi Kiai Mabrur bila bercerita tentang tokoh yang dikaguminya itu acapkali sambil memperagakannya. Misalnya ketika bercerita bagaimana Kang Kasanun dikeroyok para begal, Kiai Mabrur memperagakan dengan memperlihatkan jurus-jurus silat. “Kang Kasanun itu pendekar yang ilmu silatnya komplit,” katanya terengah-engah. “Yang saya peragakan itu tadi jurus silat Cibadak. Jurus yang digunakan Kang Kasanun membekuk tujuh begal yang mencegatnya di perjalanan. Tujuh orang dan Kang Kasanun sendirian. Bayangkan! Kami sendiri, saya dan beberapa kawan yang berminat, setiap malam Jumat dia ajari jurus-jurus silat dari berbagai cabang. Tapi mana mungkin bisa seperti dia? Dia itu bahkan mempunyai ilmu cicak. Bila sedang bersilat, bisa nempel dan merayap di dinding.”
Ayah sendiri sering juga bercerita tentang Kang Kasanun, tapi tidak dengan memperagakannya seperti Kiai Mabrur. “Nggak tahu, dia itu ilmunya dari mana?” kata ayah suatu hari ketika sedang bercerita tentang kawannya yang disebutnya jadug itu. “Di samping menguasai ilmu silat, ilmu hikmahnya aneh-aneh. Hanya dengan merapalkan bacaan aneh –campuran bahasa Arab dan Jawa– dia bisa membuat tidur seisi mushalla. Pernah dia menjadi tontonan orang sepasar gara-gara dia dihina penjual lombok lalu lombok satu pikul dimakannya habis. Dia tidak apa-apa, tapi penjualnya kemudian yang murus. Kata kawan-kawan dia juga bisa memanggil burung yang sedang terbang di udara dan ikan di dalam sungai.”
“Kata Kiai Mabrur, Pak Kasanun juga bisa menghilang, betul Yah?” tanya saya. Ayah tersenyum dan pandangannya seperti menerawang ke masa lalunya. “Pernah beberapa kawan diajarinya ilmu halimunan entah apa. Pokoknya ilmu untuk menghilang. Mereka disuruh puasa tujuh hari mutih, artinya bukanya hanya dengan nasi tanpa lauk apa-apa. Lalu ada satu malam ngebleng, semuanya tidak boleh tidur sama sekali. Ayah juga ikut.”
Ayah berhenti sejenak, tersenyum-senyum sendiri, mungkin terbawa kenangan masa lalunya, baru kemudian melanjutkan ceritanya. “Dari sekian orang yang ikut program halimunan itu, hanya ayah yang gagal. Ayah tahu kalau gagal, ketika ilmu itu dipraktikkan. Hari itu, kami beramai-ramai, di bawah pimpinan Kang Kasanun sendiri, datang ke toko Cina yang terkenal paling galak di kota. Kang Kasanun berpesan siapa pun di antara kami yang nanti di toko masih melihat orang lengkap dengan kepalanya, jangan sekali-kali mengambil sesuatu. Karena tandanya kalau kami sudah benar-benar hilang, tidak terlihat orang, yaitu apabila kepala semua orang tidak tampak. Dan ingat, kata Kang Kasanun, kita bukan niat mencuri tapi mengamalkan ilmu. Jadi ambil barang seadanya dan yang murah-murah saja.”
Ayah berhenti lagi, tersenyum-senyum lagi, baru sejurus kemudian melanjutkan. “Wah, saya lihat waktu itu kawan-kawan ada yang mengambil sabun, ada yang mengambil potlot, sisir, minyak rambut, dan lain-lain. Mabrur, guru Quranmu itu, malah sengaja mengambil manisan yang terletak persis di depan Cina pemilik toko yang galak itu. Anehnya, baik si pemilik toko maupun pelayan-pelayannya, seperti tidak melihat apa-apa. Setelah mengambil barang-barang itu, kawan-kawan ngeloyor begitu saja dan tak ada yang menegur.
Saya yang malah ditanya Kang Kasanun, kenapa saya tidak mengambil apa-apa? Saya menjawab bahwa saya masih melihat kepala semua orang yang ada di toko. Jadi, sesuai pesan Kang Kasanun sendiri, saya tidak berani mengambil apa-apa. ‘Sampeyan kurang mantap sih!’ komentar Kang Kasanun. Memang terus terang, waktu itu –sebelum menyaksikan sendiri adegan di toko itu– saya tidak percaya ada ilmu halimunan, ada orang bisa menghilang.” “Ada tamu ya, Bu?!” tanyaku kepada ibuku yang sedang sibuk membenahi kamar tamu.
“Ya,” jawab ibu tanpa menoleh,
“Kawan lama ayahmu di pesantren. Beliau akan menginap beberapa malam. Mungkin mau kangen-kangenan sama ayahmu. Dengar itu, tawa mereka.” “Ya, asyik benar tampaknya,” timpalku.
“Tamu dari mana sih, Bu?”
“Kata ayahmu tinggalnya sekarang di luar Jawa. Namanya Kasanun atau siapa?!”
“Kasanun?” tanya aku setengah berteriak.
“Ee, jangan berteriak!” bisik ibu.
Tapi aku sudah bergegas meninggalkannya. Dari gorden jendela aku mengintip ke ruang tamu. Sekejab aku jadi ragu-ragu. Tamu ayah tidak seperti yang aku bayangkan. Tidak gagah, malah terlihat kecil sekali di depan ayahku yang bertubuh besar. Kurus lagi. Ah, jangan-jangan ini bukan Kasanun sang pendekar yang sering diceritakan Kiai Mabrur. Masak kerempeng begitu. Tapi setelah nguping, mendengar pembicaraan ayah dan tamunya itu sebentar, aku menjadi yakin memang itulah sang Superman, Kang Kasanun. Apalagi tak lama kemudian Kiai Mabrur datang dan saling berpelukan dengan si tamu. Nanti malam, aku harus menemuinya, kataku mantap dalam hati. Aku harus mendapatkan salah satu ilmu hikmahnya.
Kebetulan sekali, malam ketika ayah akan mengajar ngaji, aku dipanggil dan katanya, “Kenalkan, ini kawan ayah di pesantren, Kang Kasanun yang sering ayah ceritakan! Kawani dulu beliau sementara ayah mengaji.” Begitu ayah pergi, aku segera menjabat tangan orang yang selama ini aku idolakan. Beliau menerima tanganku dengan menunduk-nunduk penuh tawadluk. “Gus, putra ke berapa?” tanyanya dengan suara lembut.
“Nomor dua, Kiai!” jawabku sambil terus mengawasinya.
“Jangan panggil saya kiai!” katanya bersungguh-sungguh. “Saya bukan kiai. Saya memang pernah mondok di pesantren bersama ayahanda Gus, tapi tidak seperti ayahanda Gus yang tekun belajar. Saya di pesantren hanya main-main saja.”
Aku tidak begitu menghiraukan apa yang beliau katakan, aku sudah punya rencana sendiri dari tadi. Mengapa harus ditunda, inilah saatnya, mumpung hanya berdua. Kapan lagi?
“Bapak Kasanun,” kata saya sengaja mengganti sebutan kiai dengan bapak, “sebenarnya saya sudah lama mendengar tentang Bapak, baik dari ayah maupun yang lain. Sekarang mumpung bertemu, saya mohon sudilah kiranya Bapak memberi ijazah kepada saya barang satu atau dua dari ilmu hikmah Bapak.” Mendengar permohonan saya, tiba-tiba tamu yang sejak lama aku harapkan itu menangis. Benar-benar menangis sambil kedua tangannya menggapai-gapai. “Jangan, jangan, Gus! Gus jangan terperdaya oleh cerita-cerita orang tentang bapak. Apalagi kepingin yang macam-macam seperti yang pernah bapak lakukan.
Biarlah yang menyesal bapak sendiri. Jadilah seperti ayahanda saja. Belajar. Ngaji yang giat. Dulu ayahanda Gus pernah sekali ikut dengan kegilaan masa muda bapak, tapi gagal. Mengapa? Bapak rasa karena ayahanda memang tidak serius. Beliau hanya serius dalam urusan belajar dan mengaji. Dan sekarang, lihatlah bapak dan lihatlah ayahanda Gus! Ayahanda Gus menjadi kiai besar, sementara bapak lontang-lantung seperti ini. Kawan-kawan bapak yang dulu ikutan bapak mendalami ilmu-ilmu kanuragan seperti ini rata-rata kini hanya jadi dukun. Ini masih mendingan, ada yang malah menggunakan ilmu itu untuk menipu masyarakat dengan mengaku-aku sebagai wali dan sebagainya. Orang awam yang tidak tahu, mana bisa membedakan antara karomah dan ilmu sulapan seperti itu?”
Aku tidak bisa ceritakan perasaanku melihat orang yang selama ini kukagumi menangis. Masih terdengar sesekali isaknya ketika beliau melanjutkan. “Ayahanda dan Kiai Mabrur pasti tak pernah cerita bahwa bapak ini pernah dinasihati seorang singkek tua. Karena memang bapak tak pernah menceritakannya kepada siapa pun. Sekarang ini bapak ingin menceritakannya kepada Gus. Mau mendengarkan?”
Saya hanya bisa mengangguk.
“Pernah dalam suatu perjalanan bapak, bapak kehabisan sangu. Bapak pun mampir ke sebuah toko milik seorang singkek yang sudah tua sekali. Begitu masuk toko, bapak rapalkan aji halimunan bapak. Semua pelayan dan pelanggan yang ada tak ada yang bisa melihat bapak. Bapak langsung menuju ke meja si singkek tua yang terlihat terkantuk-kantuk di kursi tingginya. Pelan-pelan aku buka laci mejanya, tempat ia menyimpan uang. Bapak ambil semau bapak. Si singkek tua tidak bergerak. Namun begitu tangan bapak akan bapak tarik dari laci, tiba-tiba tangan keriput si singkek tua memegangnya dan langsung seluruh tubuh bapak lemas tak berdaya.
‘Ilmu begini, kok kamu pamel-pamelkan,’ katanya hampir tanpa membuka mulut. “Ini nyang kamu peloleh sekian lamanya belajal, he?! Kasihan kamu olang! Ilmu mainan anak-anak begini untuk apa? Paling-paling buat gagah-gahahan ha. Siapa yang nganggep kamu gagah? Anak-anak kecil sama olang-olang bodoh dan olang-olang jahat saja ha! Ada olang pintel kagum sama kamu olang? Ada? Siapa? Olang hidup apa nyang dicali? Olang hidup cali baik buat dili sendili, kalau bisa buat olang lain. Cali senang sendili, jangan bikin susah olang lain ha!’
Pendek kata, habis bapak dinasehati. Setelah itu bapak dikasih uang dan disuruh pergi. Sejak itulah bapak tidak pernah lagi mengamalkan ilmu-ilmu gila bapak. Nasihat yang bapak dapat dari singkek tua itu sebenarnya hanyalah memantapkan apa yang lama bapak renungkan tentang kehidupan bapak, tapi bapak selalu ragu.”
Pak Kasanun memegang kedua tanganku penuh sayang. Katanya kemudian, “Kini bapak sudah mantap. Jalan yang bapak tempuh kemarin salah. Mestinya sejak awal bapak mengikuti jejak ayahanda Gus. Karena itu, Gus, sekali lagi, ikutilah jejak ayahanda dan jangan mengikuti jejak bapak ini. Carilah ilmu yang bermanfaat bagi diri Gus dan bagi sesama!”
Aku tidak sempat memberi komentar apa-apa karena keburu datang Kiai Mabrur dan beberapa tamu kawan lamanya yang lain. Tapi aku masih mempunyai banyak waktu untuk merenungkan nasihatnya. (*)
Rembang, 29 September 2002

Salam dari malaikat Jibril

Salam dari malaikat Jibril (Kisah karomah Kyai Hamid Pasuruan)

Di dunia ini tidak sedikit orang yang beranggapan alam gaib itu tidaklah ada. Meski demikian, ada pula orang yang percaya, akan tetapi kepercayaan mereka cuma sekedar tahu saja, tidak ada pemantapan hingga seratus persen. Lain halnya dengan orang Islam yang memang benar-benar yakin dengan rukun iman yang nomor enam, yakni percaya kepada qodo’ dan qodar atau ketetapan-ketetapan Allah, baik yang buruk maupun yang baik. Memang sangat sulit sekali meyakini barang yang tidak ada wujudnya, tetapi kita sebagai umat Islam wajib hukumnya percaya seratus persen dengan adanya alam ghaib itu ada.

Dalam al-Qur’an dijelaskan:
Yang artinya: “Tidak ada yang mengetahui barang gaib kecuali Allah SWT”

Meskipun demikian, anda jangan terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. Memang dalam ayat tersebut al-qur’an menjelaskan sedemikian rupa, akan tetapi para ulama ahli tafsir sepakat bahwa, ada orang-orang tertentu (kekasih Allah) di dunia ini yang memang di izini atau diberi tahu oleh Allah SWT dalam masalah kegaiban tersebut. Contohnya adalah cerita kiai Hamid.

Alkisah, dahulu ada santri yang bernama Ihsan, Ia adalah salah satu khadam (pembantu kiai) yang paling dekat dengan kiai Hamid. Bahkan setiap malam, Ihsan di suruh tidur di ruang tamu kiai Hamid.

Selain terkenal akan tawadhu’ dan kewaliannya. Kiai kelahiran kota Lasem tersebut juga terkenal akan keistiqomahan dalam ibadahnya. Setiap malam beliau tidak pernah meninggalkan qiyamu al-lail (shalat Tahajjud). Pada suatu malam tepatnya pukul 00.00 Istiwa’, setelah melakukan shalat Tahajjud kiai Hamid membangunkan Ihsan. “Ihsan…Ihsan… tangio nak!” ( Ihsan…Ihsan… bangunlah nak! ) begitulah cara halus kiai Hamid ketika membangunkan santrinya. Ihsan pun bangun, sambil mengucek-ucek matanya Ia berkata
“Wonten nopo kiai?” (Ada apa kiai?) tanya Ihsan. “Awak mu sa’iki sembayango teros lek mari moco al-Fatihah ping 100, maringono lek wes mari awakmu metuo nang ngarepe gang pondok, delo’en onok opo nang kono .” (Sekarang kamu shalat, lalu sesudahnya kamu baca surat al-Fatihah sampai 100 kali, kalau sudah selesai kamu keluarlah ke gang pondok, lihatlah ada apa di sana.) Perintah kiai Hamid. “inggeh kiai” jawab singkat sang santri. Ia pun langsung pergi ke kamar mandi untuk berwudlu’.

Singkat cerita setelah Ihsan membaca surat al-Fatihah, ia lalu keluar dari gang pondok tepatnya di jalan Jawa, atau yang sekarang namanya berubah menjadi Jl. KH. Abdul Hamid. Pada waktu Ihsan keluar dari pondok, jarum jam kala itu menunjukkan tepat pukul 01.00 dini hari.

Nyanyian jangkrik senantiasa mengiri langkah kaki Ihsan. terangnya sinar rembulan menjadi penerang jalannya. Sesampainya di Jalan Jawa, Ihsan melihat ada mobil dari arah barat. Lalu mobil tersebut berhenti tepat di depannya. Kaca mobil tersebut terbuka, “Ihsan lapo bengi-bengi nang kene?” (Ihsan mau apa malam-malam kok di sini) begitulah suara yang keluar dari dalam mobil tersebut. Karena lampu dalam mobil tidak dihidupkan, Ihsan pun tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berbicara dengannya. Ihsan pun masih tercengang dan kebingungan suara siapakah itu. Akhirnya pintu mobil itu pun terbuka dan yang keluar adalah Ibu Nyai Hj. Nafisah Ahmad, istri hiai Hamid. Ternyata yang ada di dalam mobil tersebut adalah rombongan Ibu Nyai Hj. Nafisah yang datang dari Jakarta. Ihsan masih belum menjawab pertanyaan yang tadi.

[] “Yo wes ketepaan lek ngono tolong gowokno barang-barange sing nang njero montor, mesisan ambek barange bojone Man Aqib
.” (Ya sudah kebetulan, kalau begitu tolong bawakan barang-barang yang ada di dalam mobil, sekalian dengan barangnya istrinya Paman Aqib) perintah Ibu Nyai Nafisah. Tanpa pikir panjang Ihsan pun langsung menurunkan semua barang yang ada di dalam mobil.

Setelah semua barang sudah di bawa ke pondok, Ihsan lalu masuk ke dalam ndalem kiai Hamid. Tak lama kemudian kiai Hamid datang kepada Ihsan. “
yok opo San? pas yo! Iku mau pas aku sembayang, malaikat Jibril teko nang aku nyampekno salam teko Allah. Ambek ngandani lek bojoku teko jam siji bengi. San, bener nang al-Qur’an dijelasno, lek gak ono sopo wae sing weroh ambek barang ghoib, yo contone koyok kejadian iku mau iku termasuk ghoib. Cuman Allah SWT iku ngidzini utowo ngewenehi weroh barang sing goib marang uwong sing dicintai ambek gusti Allah
.” (Bagaimana San? Pas kan! Itu tadi waktu aku shalat, malaikat Jibril datang menyampaikan salam dari Allah, dan memberi tahu kalau istriku akan datang jam satu malam. San, benar di dalam al-Qur’an dijelaskan, bahwasannya tidak ada siapa pun yang mengetahui tentang masalah gaib. Ya, contohnya kejadian tadi itu termasuk gaib. Cuma Allah SWT itu memberi idzin atau memberi tahu barang gaib kepada hamba yang dicintainya) jelas kiai Hamid. Setelah menjelaskan kejadian tersebut, kiai Hamid langsung masuk ke dalam. Sedangkan Ihsan masih tercengang dan merasa kagum kepada kiai Hamid.

Tidaklah ada kalimat yang pantas ketika kita melihat atau mendengar kejadian yang menakjubkan dari Allah SWT, malainkan kata
“Subhanalloh…!” (Admin)
Sumber: KH. Ihsan Ponco Kusumo-Malang

Sumber Pondok Salafiyah Pasuruan

Mistisme Syaikh Ibnu Atho’illah

Karomah Ibn Athoillah

Al-Munawi dalam kitabnya “Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan: “Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini (Syaikh Ibnu Athoillah) membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia…”. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras: “Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka”.
Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan IbnuAtho’illah ketika meninggal kelak.

Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillahsedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketiak mendengar teman-temannya menjawab “Tidak”. Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya : “Siapa saja yang kamu temui ?” lalu si murid menjawab : “Tuanku… saya melihat tuanku di sana “. Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : “Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti
menjawabnya”.

Syaikh Ibn Atho’illah wafat
Tahun 709 H. adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.

Cerita Mistik Makam Mbah Priok

Insiden bentrok warga dengan satpol pp di komplek pemakaman Mbah Priok Koja Jakarta utara,meninggalkan banyak cerita mistik.

Salah satunya adalah dihadangnya pasukan satpol ppoleh makhluk halus di makam mbah priok.
Ceritanya sekitar pukul 10, 30 WIB lebih dari seribu anggota satpol pp sudah tiba di komplek pemakaman, begituturun dr mobil rombongan satpol pp langsung bergerak menuju makom.
Wush….! Mereka berhasil melewati gerbang makam.
Tapi saat akan melangkah menuju makom langkah mereka terhenti. Stop….!
Merekaa tak dapat melanjutkan langkah padahal saat itu mereka hanya berhadapan dengan sekitar 50an warga yg sejak pagi sudah berjaga jaga mengamankan makam.
Saya yakin pasukan satpol yg jumlahnya ribuan itu dihadang makhluk halus yg dikirim Alloh untuk mengamankan makom, ujar seorang ustadz yg biasa berziaroh ke makam mbah priok.
Karena langkah pasukan satpol pp yg jumlahnya ribuan itu terhenti dan jumlah warga yg ada di situ hanya 50an, maka tak ada perlawanan. Wargapun kemudian pulang karena takut menghadapi petugas yg jumlahnya sangat tidak seimbang untuk makan siang dan sholat dzuhur, lalu datang lagi dgn jumlah yang lebih banyak. ops ada strategi rupanya hehehe (admin)
Bentrokanpun tak dapat di hindari.
Kesaksian seorang ustadz mengenai makhluk halus yg menghadang satpol pp ini diperkuat dg fakta bahwa usaha menggusur makom mbah priok selalu gagal. insa Alloh,,Dia akan membela warga dan ahli waris dalam mempertahankan makom mbah priok yg dikenal sebagai Wali dan ulama’.
Bentrokan yang melibatkan warga Koja dengan Satpol Pamong Praja di makam Mbah Priok mengakibatkan tiga anggota Satpol PP tewas.
Sebenarnya jumlah Satpol PP yang bertugas mengamankan eksekusi lebih banyak daripada jumlah warga yang melakukan perlawanan.
Mereka jumlahnya ribuan dan dilengkapi dengan pentungan dan tameng.Tapi, jumlah korban yang tewas justru dari pihak Satpol PP.
Faktanya tiga orang yang menjadi korban jiwa justru dari pihak aparat. Seorang petugas Sapol mengaku heran dengan kekuatan yang dimiliki warga di sekitar makam Mbah Priok.
Dalam menghadapi aparat, masih menurut petugsa Satpol PP itu, warga tidak taku. “Seperti punya kekuatan gaib,” ujar anggota Satpol. Larinya kencang, tidak punya rasa takut, dan panang menyerah.
Ia melihat banyak warga yang sudah dalam keadaan luka parah masih terus melakukan perlawanan. ‘Belum pernah saya menghadapi orang seperti ini. Biasanya kalau mereka sudah terluka dan menghadapi aparat dalam jumlah besar, langsung mundur. Ini tidak,” lanjut anggota Satgas PP yang mengaku sudah bekerja selama 10 tahun menjadi satgas.
Seorang petugas Palang Merah Iindonesia (PMI) Jakarta Utara juga mengaku salut atas keberanian warga menghadapi petugas.
“Kalau menurut hitungan akal sehat tak mungkin warga bisa menghadapi aparat yang jumlahnya ribuan,” papar petugas PMI yang tak bersedia disebutkan jatidirinya.
Benarkah warga di sekitar makam Mbah Priok memiliki tenaga gaib? Jawabannya bisa benar, bisa juga tidak.
Namun yang pasti, keberanian mereka melakukan perlawanan itu dirorong oleh rasa cinta mereka kepada almarhum Mbah Priok. Mbah Priok yang bernama lengkap Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Husain Ass Syafi’i Sunnira ini diakui sebagai wali. Dan memang, Mbah Priok amat berjasa dalam penyebaran agama Islam. Karenanya, makam Mbah Priok dianggap sebagai makam keramat.
Setiap hari ada saja yang datang untuk berziarah. Dan setiap diadakan acara khaul setahun sekali yang datang belasan ribu orang.
Bagi mereka mempertahankan eksistensi makam Mbah Priok adalah membela wali dan membela agama. Jika itu cara berpikirnya, apapun akan mereka hadapi. Nama daerah ‘Tanjung Priok’ ternyata ada kaitannya dengan Mbah Priok yang makamnya ada di kawasan pelabuhan Tanjung Priok.
Mbah Priok adalah sebutan bagi Habib Hasan Al Haddad. Ia adalah wali yang menyebarkan agama dari Palembang, Sumatera Utara sampai Jawa. Ceritanya, dalam rangka menjalankan misi penyebaran agama Islam, Habib Hasan al Hadad pergi meninggalkan tanah Sumatera. Dengan menggunakan kapal laut, Habib Hasan Al Haddad bersama seorang temannya, menempuh perjalanan laut selama dua bulan.
Selama perjalanan di laut, Habib mendapatkan banyak rintangan. Salah satunya adalah dihadang armada Belanda yang bersenjatakan lengkap. Kapal Habib pun dihujani meriam. Namun, meriam milik pasukan Belanda itu tak satupun mengenai kapal Habib.
Selamat dari kejaran Belanda, kapal Habib ditabrak ombak besar. Semua perlengkapan di kapal hanyut bersama gelombang. Yang tersisa hanya alat penanak nasi dan beberapa liter beras yang berserakan.
Selanjutnya, ombak lebih besar datang menghantam lebih keras dan membuat kapal terbalik. Kedua ulama itu terseret hingga ombak.
Habib Hasan Al Haddad ditemukan warga dalam keadaan sudah meninggal. Di samping jenazah Habib terdapat periuk dan sebuah dayung. Warga memakamkan jenazah Habib Hasan tak jauh dari tempatnya ditemukan. Sebagai tanda, makam Habib diberi nisan berupa dayung, serta diletakkan periuk di sisi makam. Al kisah, dayung yang dijadikan nisan itu tumbuh menjadi pohon ‘tanjung’. Sedangkan periuk yang diletakkan di sisi makam terseret arus ombak hingga ke tengah laut. Selama tiga hingga empat tahun setelah pemakaman itu, warga melihat periuk yang terbawa ombak kembali menghampiri makam Mbah Priok. Sebagian masyarakat meyakini nama daerah Tanjung Priok diambil dari cerita periuk dan tajung yang ada di makam Habib. Jika cerita mengenai nama Tanjung Priok boleh diperdebatkan, tetapi keberadaan jenazah Habib di situ semuanya sudah sepakat.
Makam Mbah Priok termasuk salah satu makam di DKI Jakarta yang dikeramatkan. Banyak orang datang untuk berziarah dan b erdoa di makam ini.

Mbah Priok adalah ulama dan wali yang berjasa dalam penyebaran agama Islam.Berziarah ke makam orang yang sudah meninggal, apalagi kalau ia adalah seorang ulama atau seorang alim sangat dianjurkan.
Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk berziarah agar mereka ingat akan kematian dan mendoakan orang yang diziarahi.
Namun demikian, banyak peziarah yang datang ke makam Mbah Priok bukan untuk mendoakan yang sudah meninggal. Mereka meminta doa kepada yang meninggal agar dirinya menjadi kaya, lancar usahanya, atau dimudahkan dalam mencari jodoh.
Suatu ketika pada tahun 2009, sepasang suami istri datang dari Ciputat, Tangerang, Banten. Dengan menumpang kendaraan umum, pasangan suami istri ini sengaja berziarah ke makam Mbah Priok.
Pasangan suami istri mengaku sering berziarah ke makam kramat untuk minta doa agar dimudahkan rezekinya. Sudah banyak makam keramat yang ia kunjungi, tetapi keinginannya untuk hidup lebih makmur belum juga terkabulkan. “Sudah banyak ziarah ke makam keramat, tapi saya masih begini-begini aja,” ujar suami dari pasangan ini.
Maka, mereka pun bersiarah ke makam Mbah Priok. Seperti biasa, mereka berzikir dan berdoa. Juga membaca buku Yaasin. Tidak ketinggalan, mereka membawa satu botol air mineral dibacain doa di tempat itu.
Ternyata, tidak sedikit orang yang berziarah untuk mendapatkan kemudahan rezeki di makam Mbah Priok.
Sekjen Forum Umat Islam (FU) Muhammad Al Khatat meluruskan masalah ziarah. Menurutnya, ziarah adalah perbuatan yang dianjurkan dalam agama Islam. Apalagi berziarah ke makam orangtua, ulama/alim, dan guru yang telah memberi kita ilmu.
Namun, Al Khatat mengingatkan agar peziarah tidak meminta sesuatu, seperti minta diberi kekayaan atau naik jabatan kepada yang sudah meninggal. Sebab, permintaah ingin kaya atau ingin sukses harus disampaikan kepada Allah, bukan kepada orang yang sudah meninggal. “Kalau meminta kepada yang sudah meninggal, syirik hukumnya,” tandas Al Khattat.

http://m.inilah.com/