Archive for the ‘ Motivasi ’ Category

uɐʞuǝɹǝʞ Dirimu Sobat!

Pasti deh banyak orang menginginkan bisa tampil menarik, ganteng atau cantik lalu ditaburi puja-puji dan decak kagum dari mereka yang melihatnya. Jujur kan kalo kamu juga pengen bisa tampil keren dengan wajah yang amboi dirindu banyak orang? Sampe-sampe buat kamu yang kebetulan punya wajah jenis PPD alias Pas Pasan Deh tetap ngotot pengen dipermak. Bila perlu operasi plastik. Cuma ati-ati aja, kalo salah bahan tuh muka malah jadi ember. Wakakakak… eh nggak ding. Sori buat yang ngerasa udah mirip sama ember. Hehehe.. abisnya punya wajah katanya fotogenik. Difoto dekat sumur malah jadi mirip timbaan (aduh sori, jangan bikin rusuh ya dengan candaan gue model gini!)

Bro en Sis, tampil keren dan jadi idola, atau paling nggak bisa dikenal orang lah, adalah perasaan dan cita-cita yang ada di lubuk hati kita yang paling dalam. Buktinya, banyak orang yang secara sadar akhirnya ikut berbagai macam ajang pencarian bakat dari berbagai jenis keahlian: nyanyi, nari, olah vokal, joget (lho.. lho.. kok sama aja ya? Hehehe.. harap dipersori nih yang nulis lagi ngelantur. Maklum, kalo dikejar deadline gini jadi rada-rada slebor nih nulis. Pengen cepet beres, pengen cepet ngerjain tugas yang lain. Hasilnya? Ya, kamu bisa lihat sendiri isi tulisan ini. Kalo bagus ya alhamdulillah, kalo jelek yang jangan dikritik (pletak! Hehehe.. boleh ding, silakan kritik aja selama itu bisa baik buat semuanya. Ok?)

Yup, bukti bahwa kita-kita kepengen tampil keren dan bila perlu mengundang decak kagum orang yang melihat kita, adalah kita merasa senang banget kalo dipuji orang. Ngerasa bangga en bahagia kalo sampe dinanti-nanti kehadirannya. Wuih, pokoknya jadi bintanglah. Keren kan? Langsung aja rasakan sendiri. Banyak orang pengen eksis di situs jejaring sosial macam facebook. Biar eksis rela tampil narsis. Bikin status wall yang unik-unik. Saking narsisnya kadang ngabarin (entah kepada siapa, karena mungkin temennya sih udah pada molor semua jam 12-an malam mah), bahwa dirinya tengah berada di Puncak, misalnya. Terus nulis status di wall FB gini: “@ Puncak Pass. Bakar jagung sambil ditemani kuntilanak” (hehehe ini sih dusta, Bro. Aseli).

Semua orang emang seneng kalo dihargai dan dihormati. Sebab, dalam diri manusia, siapapun dia, Allah Swt. udah ‘nancepin’ naluri mempertahankan diri. Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah gharizah al-baqa’. Penampakannya bisa dalam bentuk ingin dihargai, ingin dihormati, ingin diangap lebih, ingin dianggap paling hebat, ingin tetap eksis, ingin hidupnya nyaman, ingin memiliki kekuasaan, ingin diperhitungkan (kalo dianggap bilangan aja mah nggak mau, apalagi dijadikan ban serep, pasti ogah tujuh tanjakan!).

Bro en Sis pembaca setia gaulislam, lalu apa maksud judul gaulislam kali ini: “Kerenkan Dirimu, Sobat!”? Ya, tentu ada alasannya. Ada maksud dan tujuan. Ada targetnya juga. Begini kalo mau diceritain sih. Manusia itu memiliki sifat-sifat yang positif dan negatif dalam dirinya. Upayakan yang muncul lebih dominan adalah sisi positifnya. Sementara yang negatifnya, kita minimalisir (sebab kalo dihilangkan banget kayaknya nggak bisa dan nggak mungkin deh). Sisi positifnya apa? Banyak. Manusia bisa berbuat baik, manusia bisa pinter, bisa menghargai, bisa menghormati, bisa diajak kerjasama, bisa dibawa mikir, bisa diminta bantuan, bisa diberikan ilmu, bisa dijadikan teman berjuang, bisa semangat dan menyemangati, bisa menjadi inspirasi, dan lain sebagainya dari semua yang positif. Kenapa ini perlu diperhatikan? Karena manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dalam al-Quran Allah Swt menyebut: Laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim (sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya). Wuih.. coba deh bandingin ama makhluk hidup ciptaan Allah Swt yang lainnya. Pantas kita bersyukur, sobat. Maka, jangan sampe kita minim prestasi dan minim amaliah, apalagi lost iman. Jadi, kerenkan dirimu, sobat!

Tinggalkan dunia anak-anak, ya!

Dunia anak-anak memang lucu, karena yang ada di komunitas berbaginya itu adalah anak-anak. Lengkap dengan segala kelucuan, keluguan, kepolosan dan penuh rasa penasaran. Mimik muka yang innocent tapi asik dilihat, gaya bicara yang menggemaskan dan semua hal yang khas anak-anak. Usia mereka mulai dari kelas bayi, balita, sampe umur sepuluh tahunan atau sebelum baligh. But, gimana jadinya kalo dunia anak diisi komunitasnya oleh orang-orang bertubuh bongsor, berkumis dan berjenggot, muncul jakun, udah tumbuh bulu ketiak dan bulu-bulu lainnya di bagian tubuh tertentu? Well, itu sih bukan lucu, bisa jadi malah nyebelin. Apalagi kalo sikapnya juga childish alias kekanak-kanakan. Hadeeeuh.. yang ada bukan nyubit gemes pipinya tapi malah bisa-bisa ditampar tuh pipi kalo bandel.

Sobat muda muslim, gue kadang masih nemuin tuh ada orang yang udah usia di atas 20-an tahun tetapi sikapnya masih kayak anak-anak. Misalnya, susah diajak berdialog nyari solusi, nggak mudah menerima kritikan dan teguran (malah ngeresponnya langsung dengan cara memusuhi), nggak mudah hidup di lingkungan yang nggak nyaman buat dirinya (maka kalo berhubungan dengan orang lain dan suatu saat ada masalah di antara mereka, maka solusinya adalah meninggalkan masalah tersebut, bukan menyelesaikannya, karena dia ingin mencari kenyamanan menurut persepsinya), manja, orang seperti ini juga sering salah persepsi: kita niatnya ingin bantuin dia, eh, dia malah merespon inginnya dilindungi (waduuh! Cape deh!). Beda dong, membantu dengan melindungi. Nggak keren banget tuh!

From nothing to something

Weis.. pake bahasa negerinya Wayne Rooney segala nih nulisnya. Sip, sekali-kali boleh lah. Bukan supaya disebut keren, tapi biar kamu juga jadi tambah wawasan, meski hanya dalam istilah bahasa. Iya nggak sih?

From nothing to something secara kasarnya diterjemahkan sebagai “dari tiada menjadi ada”. Artinya pula, dari yang hanya dianggap sebagai bilangan saja kemudian menjadi diperhitungkan. Keren ya? Benar adanya Imam asy-Syafii. Beliau pernah berkomentar bahwa “Pemuda yang tidak memiliki ilmu dan ketakwaan, matinya lebih baik daripada hidupnya”. Wuih, ini sindiran telak kepada kita dari seorang ulama besar yang tentu saja ilmunya bejibun. So, hidup terasa hambar kalo cuma diisi dengan tidur, kentut, buang air besar, buang air kecil, ngupil, makan, main, beranak. Aduuh… rasanya hidup terlalu berharga kalo cuma diisi dengan hal ‘sepele’ itu aja. Hidup bukan sekadar tumbuh, tapi juga berkembang. Itu yang perlu kita perhatiin dan ingat terus dalam prinsip hidup kita.

Lihatlah, kita perlu ngiri sama orang-orang di luar Islam. Meski mereka menyandang status kafir alias tidak beriman, mereka bisa berprestasi, bisa menjadi pribadi yang hebat dalam bisnis, dalam ilmu pengetahuan, dalam jiwa sosialnya, dalam mendidik anaknya, dalam membahagiakan keluarganya, dalam mengelola harta kekayaannya. Kita pantas ngiri agar kita bisa berusaha sebaik mereka karena kita lebih hebat dalam ketaatannya kepada Allah Swt. Kita, meski tingkatan iman di antara kita berbeda-beda, tetapi insya Allah kita terselamatkan karena sudah beriman kepada Allah Swt. Berbeda dengan mereka, yang memang tidak beriman. Nah, nilai lebih inilah yang seharusnya memotivasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi orang beriman yang hebat dalam segala bidang, karena semua amal shalih kita dilandasi oleh keimanan yang utuh kepada Allah Swt. Insya Allah. Kita pasti bisa melakukannya. Siap ya.

Sementara orang-orang yang nggak beriman kepada Allah Swt., tetapi mereka diberikan kemudahan dalam rizkinya, kemudahan dalam usahanya, dan segala kenikmatan lainnya, yakinlah, bahwa itu hanyalah istidraj. Apa itu istidraj? Istidraj adalah mengulur, memberi terus menerus supaya bertambah lupa, tiap berbuat dosa ditambah dengan nikmat dan dilupakan untuk minta ampunan, kemudian dibinasakan.

Allah Swt. menjelaskan dalam firmanNya (yang artinya): “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu, mereka terdiam, berputus asa.” (QS al-An’aam [6]: 44)

Rasullulah saw. bersabda: “Apabila kamu melihat bahwa Allah Swt. memberikan nikmat kepada hambaNya yang selalu berbuat maksiat, ketahuilah bahwa orang itu telah diistidrajkan oleh Allah Swt.” (HR at-Tabrani, Ahmad dan al-Baihaqi)

Nah lho. Itu artinya, kita jangan berputus asa mencari rizki dan mengubah diri kita menjadi lebih baik, lebih keren dalam iman, ilmu dan amalnya. BTW, penjabaran detil tentang iman, ilmu, dan amal udah kita bahas lebih detil di gaulislam edisi 169 yang judulnya: “Kita Harus Kuat!” (silakan dibaca lagi ya).

Bro, ini hikmah buat kita. Gimana nggak, orang kafir yang mereka (mungkin) saja tahu bakalan dihancurkan semua yang mereka anggap keren dan membanggakan aja prestasinya banyak yang keren di segala bidang. Maka, kita harusnya lebih semangat lagi, karena semua yang kita ingin raih dan kerenkan dalam diri kita sudah dilandasi oleh keimanan. Tentu berbeda nilainya dong ya. Ayo, kita interospeksi: sudah maksimalkah usaha kita untuk membuat diri kita keren–tidak saja di keren hadapan manusia, tetapi yang utama adalah di hadapan Allah Ta’ala? Semangat Bro en Sis! Tunjukkan bahwa kita mampu menjadi sosok yang tadinya pecundang jadi pejuang dan pemenang: from zero to hero! Yup, tadinya dianggap biasa, menjadi luar biasa. Tadinya anonim menjadi nonim. From nothing to something. Keren dah! Yuk mari, kerenkan dirimu dengan ISLAM dan ajarannya yang keren punya.

Link yang relevan http://bit.ly/h2o8Fh

Iklan

Rahasia Sukses George Soros

Pada akhir abad ke-20 serta memasuki awal abad ke-21 sekarang ini, publik bisnis global tak bisa mengesampingkan sosok investor dan pebisnis sukses asal Amerika Serikat (AS). Dialah George Soros. Walau badai krisis moneter menggetarkan dunia di akhir abad ke-20, Soros tak bergeming melakukan terobosan bisnisnya di berbagai wilayah benua. Demikian juga di awal abad ke-21 para investor global kelimpungan dengan resesi ekonomi yang menerpa AS, Soros tak mau takluk dengan situasi resesi. Dia terus tampil dengan ide dan gerakannya yang brilian, terkadang melampaui kebijakan ekonomi negeri Paman Sam.

Banyak karya yang dihasilkan Soros dalam mengisahkan ihwal kesuksesan yang dirainya, tetapi kisah sukses dalam soal investasi dan kecerdasan terangkum semuanya dalam bukunya bertajuk “The Alchemy of Finance: Rumus Sukses Dunia Finansial dan Investasi”. Buku ini merupakan kejutan bagi pasar dunia, karena Soros berani berbagai kisah suksesnya. Soros bersiap diri menerima tantangan dari para pesaing bisnisnya dengan melunsurnya buku ini. Bagi Soros, walaupun pesaingnya mengetahui kiat suksesnya melalui buku ini, tetapi Soros tetap yakin bahwa jalan sukses akan selalu datang dalam setiap gerak manusia yang teguh dengan konsistensi dan kreativitasnya. Soros berbagai agar publik bisnis dunia bisa keluar dari jeratan krisis moneter dan resesi ekonomi global yang terkadang bisa datang setiap saat. Dan pebisnis harus siap dengan berbagai strategi jitu yang visioner.

Bagi seorang pedagang (trader) yang menjadi matang pada paro kedua era 1970-an dan 1980-an yang penuh kehebohan, The Alchemy of Finance merupakan sebuah buku yang agakl revolusioner. Ingatlah bahwa ini merupakan periode di mana kelanjutan tren dan indeksasi merupakan sebuah mantra dalam berinvestasi. Waktu itu masa dimana analisis teknis (studi mengenai pergerakan harga sebagai alat produksi)mencapai titik tertinggi. Para pedagang generasi Soros mempersenjatai diri dengan berbagai bagan dan grafik hasil komputer yang memprediksi arah harga di masa depan.

The Alchemy of Finance merupakan kejutan tiba-tiba. Buku ini memungkinkan kita mengambil langkah maju dengan terlebih dahulu mundur selangkah, dengan maksud bahwa untuk menjelaskan berbagai peristiwa yang tampaknya begitu rumit dan memusingkan. Selama sebuah era di mana begitu banyak uang diperoleh dalam peristiwa-peristiwa mencengangkan, teori Soros ihwal refleksivitas merupakan upaya modern non-teknis pertama untuk menggambarkan dan meramalkan dinamika yang bermain di kalangan para partisan.

Di samping itu, Soros juga menggambarkan dinamika yang terjadi di jalur antara titik-titik ekstrim valuasi dan keseimbangan di pasar. Hal ini terutama penting bagi rata-rata investor. Sudah berapa kali kita mengambil keputusan tepat dengan mengambil posisi long (beli) di saat mendekati titik nadhir atau posisi short (jual) di saat mendekati titik puncak pergerakan harga? Namun, daya tahan kita dalam kedua posisi tersebut selama ini lemah (demikian juga imbal hasil kita) akibat ketiadaan pemahaman mengenai jalur pergerakan harga yang sebenarnya. Soros memberi kita pandangan kritis mengenai jalur itu dan oleh karenanya kepercayaan diri yang lebih besar dalam investasi kita. Semua itu menyumbang 70 % dari upaya investasi yang sukses.

The Alchemy of Finance bukan sekedar memberikan pedoman kisah sukses Soros, tetapi juga merekam sejarah ekonomi dan politik kontemporer yang brilian. Panduan investasi dan strategi berekonomi dia rakit dengan cerdas. Kecerdasannya terlihat karena Soros begitu mengerti dalam menjelaskan kondisi perenomian yang terakit dengan politik global. Peta politik global ia kuasasi, sehingga jurus ekonomi yang dikeluarkan tidak akan ‘melukai’ peta ekonomi yang sedang berkembang. Bahkan dia mencoba melakukan kompromi politik agar gerak ekonominya tidak bertentangan atau berseberangan dengan agenda politik global. Bukan berarti ia pragmatis ketika bersentuhan dengan peta politik, tetapi Soros membangun strategi ekonomi yang cerdas, sehingga bisa diterima semua pihak.

Keluasan pengetahuan dibarengi dengan keberanian dalam spekulasi menjadikan Soros sebagai sosok brilian yang tegar setiap menghadapi persoalan. Serumit apapun yang dihadapi, Soros tetap berusaha tenang menghadapinya, tidak tergiur oleh kriuhan suasana yang gampang menipu. Ketegaran dan ketegasannya di tengah keriuhan inilah yang menjadikannya sebagai prototipe pebisnis yang terus diamati publik. Publik bisnis, bahkan juga publik politik, selalu menunggu langkah-langkah Soros yang penuh kejutan, sehingga bisa memberi inspirasi dalam melangkah.

Bukan sekedar dunia bisnis dan politik yang kuasasi, Soros juga cerdas dalam persoalan sosial. Ia dikenal sangat peduli dengan kondisi masyarakat sekitarnya. Dengan hartanya yang melimpah, Soros dikenal sangat dermawan menyangkut persoalan sosial kemasyrakatan. Bahkan Paul Tudor menyebutnya sebagai sosok paling dermawan dalam sejarah abad ke-20. Banyak yayasan Soros dirikan dan yayasan Soros selalu membuka terobosan baru dalam melakukan rekayasa sosial. Bukan uang saja yang ia dermakan, tetapi ide cerdas dan gerakan sosial yang langsung bisa dirasakan masyarakat. Iya, Soros menjadi sebuah buku yang menarik untuk dibaca dan dikaji dengan seksama.

Oleh Muhammadun AS

Cinta Sejati Seorang Ibu

Ada seorang ibu yang sedang melahirkan, dalam gegap gempita rintihan kesakitan yang tak terhingga, lahirlah si buah hati yang lama di impikan. ‘mana anakku’ bisik sang ibu.
Lalu suster membawa si kecil ke ibu.
Betapa terkejutnya sang ibu sambil menjerit melihat si kecil yang lahir tanpa kedua daun telinga.
Meski dalam keada’an duka sang ibusangat menyayangi si buah hati dengan penuh kasih sayang.
Hari-hari berlalu sang anak tumbuh menjadi pemuda dewasa, fisiknya gagah perkasa dan di segani. Pada suatu hari sang bapak bertemu dengan seorang dokter.

Mereka bercengkerama
‘Saya mau menolong anak bapak dengan mem-beri-kan ke dua daun telinga,’ kata sang dokter.

‘Betul-kah apa yang dokter kata-kan’ sergah sang bapak.

‘Ya, asal-kan ada seseorang yang mau mendonorkan ke dua daun telinga.’ jawab sang dokter.

Lalu sang bapak pun pamit dan berlalu pulang.
Pagi hari-nya mencari orang yang mau mendonor daun telinga-nya (anggota tubuh) hari-hari sudah terlewati, sang bapak menemui sang anak.

‘ Ada seseorang, yang tak mau di sebut namanya, beliu bersedia mendonor-kan ke dua daun telinga-nya untuk-mu, Bapak antar kamu ke rumah sakit untuk oprasi’

Hari itu juga sang anak menjalani operasi kedua daun telinga.

Dengan hati yang berbunga, sang anak menitip pesan kepada
Bapaknya, untuk beliau tersebut. ’saya sangat berterima kasih atas segala kebaikannya.’

Hari-hari-nya pun di lewati dengan semangat,
Di samping rasa bahagia sang anak.
Sang ibu dalam keda’an sakit parah jauh kemungkinan berharap untuk sembuh.
Dan akhirnya sang ibu pun meninggal dunia dalam suasana berkabung bapak di dampingi anak ingin melihat raut wajah istrinya untuk terakhir kalinya.

Bisik hatinya, ‘kamu memang cantik, istriku dan selalu tabah dalam menjalani kehidupan yang penuh manis pahit’

Sembari tangan sang bapak membelai rambut-nya yang panjang.
Pernah suatu hari sang ibu berkata, ‘aku ingin sekali memanjangkan rambutku.’

Sang anak tiba-tiba histeris setelah melihat raut muka ibunya.
Ternyata di balik rambut yang panjang, ibunya menyembunyikan sesuatu, ternyata yang mendonor-kan dau telinganya adalah ibunya sendiri.

________________

Dalam keidupan membutuhkan cinta kasih.
Cerita tersebut menggambarkan betapa besar-nya kasih sayang ibu terhadap anaknya.
Mari kita tebarkan rasa kasih sayang dalam keluarga, lingkungan dan di mana saja.

Sang ibu sangat besar dalam pengorbanan demi sang anak yangmempunyai cacat fisik, meskipun dalam keada’an kesusahan demi terpenuhi kehidupanya. Anggota tubuhnya pun rela di ambil- demi sang anak.

Pada hakikatnya itu sifat wujud dari:
“CINTA dan KEBAHAGIA’AN SEJATI”

Di Kutip Dari Buku “surga di depan mata”

Meja Dan Kayu

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

***

Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Dari sahabat

Dimanakah Letak Kebahagiaan Itu?

Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan,lewatlah sebuah motor di depan mereka, berkatalah petani ini pada istrinya “lihatlah bu,betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu,meskipun mereka juga kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai dirumah, tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai kerumah”. Sementara itu pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedang berboncengan di bawah derasnya air hujan melihat sebuah mobil pick up lewat didepan mereka, pengendara motor itu berkata kepada istrinya “lihat bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu, mereka tidak perlu kehujanan seperti kita”. Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri terjadi perbincangan ketika sebuah mobil sedan Mercy lewat dihadapan mereka “lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu, mobil itu pasti nyaman di kendarai,tidak seperti mobil kita yang sering mogok”. Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya, dan ketika dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuran air hujan, pria kaya itu berkata dalam hatinya “betapa bahagianya suami istri itu, mereka dengan mesranya berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini, sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu untuk berdua karena kesibukan kami masing masing”.

Kebahagiaan tak akan pernah anda miliki jika anda hanya melihat kebahagiaan milik orang lain, dan selalu membandingkan hidup anda dengan hidup orang lain. Bersyukurlah atas hidup anda supaya anda tahu di mana kebahagiaan itu berada.

Kiriman dari : Sigit Wahyu

Melatih Berpikir Positif

Salah satu kelemahan kita adalah membentengi diri untuk bergerak meninggal kan malas, malas adalah hal yang membuat diri kita menjadi tidak berfikir kreatif dan malas adalah penyakit hati yang harus dimusnahkan. Kali ini saya ingin menegur saya pribadi tentang penyakit hati yang bernama malas. Malas disini artinya adalah malas beribadah dan malas berfikir kreatif.

tidak semua orang mampu berfikir kreatif ketika terserang virus malas, padahal dengan berfikir kreatif seseorang bisa menciptakan suatu trobosan yang baru yang luar biasa, seperti perkembangan tekhnologi saat ini. berikut tips cara berfikir kreatif.

1. Berfikirlah bahagia, pikiran yang kreatif akan muncul dikala suasana hati bahagia, bahagia juga akan memberikan ide yang menarik. hati yang dirundung kesedihan akan sulit sekali untuk berfikir kretatif, dan untuk menimbulkan suasana yang bahagia maka berfikirlah ikhlas dan penuh harapan. Percayalah bahwa keikhlasan akan membawamu lebih tinggi dari sekarang , dan harapan itu luas seluas langit tinggal bagian mana yang kita ambil.

2. Berpikir, semua bisa dilakukan Yakinlah Allah adalah segalaNya, berfikirlah bahwa sesuatu yang akan kita kerjakan mampu kita selesaikan. dalam kata lain berfikir optimis, pekerjaan maupun ibadah semua bisa dilakukan. jangan berfikir bahwa pekerjaan itu sulit. pekerjaan itu berat, dan kata-kata mengeluh sejenisnya,. ubahlah

3. Buang ungkapan bernada pesimis. Misal, ”Saya mungkin bisa mengerjakan”. Ganti dengan ungkapan penuh optimisme. Contoh, ”Saya pasti bisa mengerjakannya”, ”Bagi saya tidak ada kata menyerah!”. Pernyataan optimis melatih kita berani masuk ke persoalan. Pola pikir pun berkembang, karena dipaksa memeras otak untuk mewujudkan tekad itu. – Hilangkan cara berpikir konservatif Pola berpikir konservatif ditandai dengan kekhawatiran untuk menerima perubahan, meski perubahan itu menguntungkan.

Karena ingin mempertahankan gaya konservatif, perubahan ditanggapi secara dingin, bahkan dipersepsikan sebagai ancaman. Karena merasa nyaman atau diuntungkan dengan cara konservatif, ketika dituntut untuk mengubah pola pikir, kita takut akan mengalami kerugian. Hendaknya disadari, cara berpikir konservatif memasung pemikiran kreatif karena pikiran dibekukan oleh sesuatu yang statis. Padahal dalam berpikir kreatif unsur statis semestinya dihilangkan.

4. Mulailah berpikir dinamis, dengan terus mengolah pemikiran untuk menemukan pola pikir efektif. Ada tiga cara mengurangi atau menghilangkan pola berpikir konservatif.

Pertama, terbuka terhadap masukan. Masukan adalah bahan mentah sangat berharga. Lalu, kita mengolahnya menjadi “barang jadi” lewat pemikiran kreatif. Jadi, jangan takut dengan ide, usulan, bahkan kritik. Karena semua itu merangsang kita berpikir kreatif.

Kedua, mencoba pekerjaan atau hal di luar bidang kita. Untuk ”memperkaya” diri, pola pikir juga perlu menghadapi sesuatu yang berbeda dari biasanya.

Ketiga, harus proaktif. Kita dituntut ”menjemput bola” dalam menghadapi sesuatu, dan bukan ”menunggu bola”. Bertindak proaktif berarti membuat diri bebas memilih tindakan, tentu berdasarkan perhitungan matang. Ini bisa terjadi kalau kita mempunyai kreativitas berpikir.

Mulailah dari sekarang karena kamu bisa!!! Yes ! 1.000 X

Kiriman dari : Agil Siswo Heksanto

Jangan Berburuk Sangka

Alkisah, seorang lelaki tua duduk bersama anaknya yang sudah berusia 25 tahun di sebuah kereta api yang sedang berjalan kencang. Nampak keceriaan dan kecemerlangan pada wajah pemuda yang duduk persis di samping jendela bersama ayahnya tersebut.

Pemuda itu mengeluarkan tangannya melalui jendela dan menggerak-gerakkannya seraya tersenyum merasakan segarnya udara di luar sambil berseru, “Ayah, lihatlah! Semua pohon-pohon itu berlarian membelakangi kita!” Sang ayah pun tersenyum mengiringi kebahagiaan anaknya.

Di samping mereka, duduk sepasang suami-istri yang tengah memperhatikan pembicaraan sang pemuda bersama ayahnya. Mereka nampak terganggu dan tidak nyaman. Bagaimana mungkin seorang pemuda yang suadh berusia 25 tahun itu bertingkah seperti anak kecil!

Tiba-tiba, sang pemuda berseru lagi, “Ayah, lihatlah sawah yang penuh dengan barisan padi dan burung-burung kecil itu! Lihatlah, Ayah, awan menggumpal di atas kita yang indah itu!”

Sepasang suami-istri itu makin heran dan tak nyaman melihat kata-kata sang pemuda.

Lantas perlahan-lahan gerimis hujan pun mulai turun, dan titik demi titik air hujan membahasi tangan sang pemuda, yang wajahnya semakin cerah dipenuhi oleh semburan rata rasa senang bahagia. Ia bergumam kalem, dan tiba-tiba bersorak ramai, “Ayah, ini sang indah! Ayah, ini hujan! Airnya membahasi tanganku. LIhatlah, Ayah!”

Di detik itu, pasangan suami-istri sudah tak sabar lagi. Mereka tak sanggup lagi berdiam diri melihat perbuatan sang pemuda. Mereka serentak menghardik ayah sang pemuda, “Mengapa kalian tidak membawa anak ini ke dokter supaya ia segera diobati?!”
Sang ayah menjawab mereka dengan santun dan tetap tenang, “Kami baru saja datang dari rumah sakit, dan alhamdulillah anak saya ini sudah bisa melihat setelah sekian tahun lamanya ia buta semenjak lahir.”

Sontak kedua suami-istri meminta maaf, “Kami telah berbuat salah. Seharusnya kami tidak tergesa-gesa berburuk sangka. http://www.sigitwahyu.net