Orang yang Ingin Menjadi Setan

Hari itu ketika hujan panas turun, Midun sudah duduk di teritis rumahnya sebelah utara. Dia dapat mendengar suara orang-orang yang berteriak di jalanan, karena lapak-lapak kaki lima mereka dihalau air langit. Dia juga dapat melihat sebentuk pelangi yang memintal cakrawala. Kabarnya peri-peri akan turun di sana. Entak di mana kaki pelangi jatuh, di situlah dia turun untuk mandi. Tapi Midun tak sanggup menunjuk ke sana. Sebab pantangan. Dari nenek moyangnya telah menjadi perundang-undangan, bahwa barang siapa yang menunjuk pelangi, maka jari-jarinya akan bercabang.
Dia tak ingin melihat peri-peri cantik turun. Sebab istrinya yang berbadan bulat itu, lebih cantik dan ramah. Dia hanya ingin dipertemukan dengan orang langit yang bisa memberikan kekayaan. Bisa merubah gubuk reyotnya menjadi istana. Bisa membuat istrinya bergelang emas melingkar-lingkar. Lalu anak-anaknya bersekolah di kelas-kelas elite. Mobil-mobil silih berganti. Juga, mungkin kesempatan berpoligami. Midun maniak seks. Nafsu badak. Demi meluruskan keinginan, tak apalah menambah istri-istri yang berbadan bulat juga ramah.
Tiba-tiba kaki pelangi menyentuh pekarangan belakang rumah Midun. Seseorang berpakaian hitam,-hitam, bertopi kerucut, turun melalui pelangi seperti melompat dari unta pemalas. Dia bersendawa. Dia menenangkan Midun yang tergeragap. bagaikan unta bodoh. Kau Midun? tanyanya.
Benar!
Ingin kaya? tanyanya lagi.
Benar!
Maka kau berhak kaya jika berteman dengan setan sepertiku.
Midun kebingungan. Tapi dia akhirnya tersenyum, sebab ketertarikannya pada kata k-a-y-a lebih dominan daripada kata s-e-t-a-n. Dia boleh bersahabat dengan orang berjubah itu, asal dia diberikan kepuasan duniawi.
Jangan bingung. Seharusnya peri-peri yang turun dari langit. Tapi sekarang kugantikan. Karena kau butuh kaya. Bukan butuh kecantikan peri-peri. Apalagi butuh nasehat-nasehat. Karena kepalamu sudah muntah oleh nasehat-nasehat pemerintahmu yang menyesatkan.
Akhirnya Midun dan setan bersahabat. Sejak saat itu Midun menjadi kaya mendadak. Dia dengan mudah memaling harta tetangganya, karena dilindungi setan. Lalu mengembalikannya seperseratus bagian, sebagai penambah simpati atas kemalangan orang-orang yang kemalingan itu.
Dia menjadi pujian dan pujaan orang. Dia mengumbar janji-janji ke mana-mana. Bergaya membeli tanah, tapi ujung-ujungnya merampok. Sayang, orang-orang malahan kesenangan. Banyak yang membelanya, sebab dia tak segan mengeluarkan uang banyak demi meluluskan segala rencana. Dia dibekingi puluhan preman, puluhan aparat, sehingga sepertinya sepakterjangnya selalu mulus dan jujur. Padahal menyengsarakan tetangga-tetangganya yang hanya dapat mengelus dada. Ya, hanya dada mereka yang pantas dielus karena masih dapat dibusungkan. Bukan perutnya, sebab mereka lebih sering busung lapar ketimbang kenyang.
Lambat-laun kekayaan Midun melimpah-ruah. Keluarganya menjadi orang-orang pongah. Jiwa Midun yang dulu lembut, tiba-tiba kasar. Amat sangat mudah dia menempeleng orang-orang yang membangkang. Bahkan tak jarang dia membunuh seseorang dengan perpanjangantangan peluru aparat, berikut dalih bahwa orang yang mati bukan ditembak, melainkan tertembak pada saat mengamankan kerusuhan.
Ambisinya menjadi ketua rt, lalu ketua rw, lurah mejadi-jadi Dia mempergunakan kekayaan, dibantu setan untuk mewujudkan cita-cita itu. Berbagai orang diberikannya derma, diberikan fasilitas. Kemudian dipaksa memilihnya menjadi sang ketua.
Anehnya semua berjalan mulus. Orang-orang senang membantunya. Bukan diakibatkan uang pemberian Midun saja, melainkan lebih dititikberatkan pertemanan Midun dengan setan. Orang-orang, banyak yang berjiwa dan berpikiran setan. Maka, wajar mereka senang kepada setan. Jadinya, bukan setan yang dirayu, tapi manusia yang merayu.
Midun berhasil menjadi ketua rt. Menjadi ketua rw. Menjadi lurah. Lalu mentok. Dia tak dapat lagi naik lebih tinggi, misalnya menjadi camat. Dia bukan orang sekolahan. Pernah bersekolah, itu pun sampai kelas lima esde. Paling tidak menjadi camat itu seorang sarjana, serta sudah dididik di lembaga pemerintahan.
Tapi bukan Midun namanya. Dia dapat membeli ijazah. Baik itu ijazah sarjana S1, S2, S3 maupun es teler. Yang penting, ada uang. Dia dapat membeli nilai-nilai bagus dari para dosen yang menganggapnya dewa.
Perjuangannya berjalan mulus. Orang-orang membelanya, sebab dapat memberi derma. Orang-orang tak butuh janji, sebab tak jarang itu berujung caci-maki. Bagi orang-orang yang membangkang, maka usaha mereka diganggu. Keluarganya diganggu. Bahkan diusir, dan sekali-sekali dibunuh, juga melalui dalih tak ada unsur kesengajaan. * * *
Dalam kehidupan yang mapan, Midun sekarang menjabat sebagai gubernur. Dia bernafsu menjadi presiden, sebagai jabatan tertinggi dan mentereng di sebuah pemerintahan. Lalu dia pun merayu setan sahabatnya.
Aku mau menjadi calon presiden. Tolong bantu, Man! katanya memanggil setan dengan sebutan teman. Apakah ilmumu cukup? Setan menggoda.
Lebih dari cukup.
Butuh biaya banyak untuk menjadi presiden. Butuh banyak nyawa.
Biaya, aku ada. Nyawa, punya siapa mau dicabut sebagai tumbal? Aku sanggup melaksanakannya hari ini. Aku ingin nyawa Mirna!
Midun tersentak. Mirna ini sama dengan nama istrinya. Mirna mana? Dia berharap bahwa nama itu bukan milik istrinya. Istrimu!
Tak bisa!
Setan mendelik. Dia paling tak ingin dibantah oleh Midun, juga orang-orang yang menyembahnya sebagai tuhan. Perjuangan itu butuh resiko. Kalau ingin terkabul, turutilah peraturan setan. Sebab di negaramu ini, orang-orang yang menuruti peraturan malaikat atau peri-peri, akan tergencet gepeng. Mereka malahan disebut sebagai setan-setang penghambat pembangunan. Dia tertawa.
Karena merasa sedikit bosan beristrikan Mirna, akhirnya dia mengiyakan. Tak menunggu waktu berapa hari, Mirna mati. Diagnosa dokter yang telah disogok Midun, istrinya itu mati terkejut. Lebih tepat terkena serangan jantung. Padahal Midun, dengan perpanjangantangan aparat, telah meracun jantung istrinya. Ternyata Midun belum sukses menjadi presiden.
Kau masih kurang tumbal, jawab setan berkilah, ketika Midun mempertanyakan ketakberhasilannya menjadi presiden. Nyawa siapa lagi yang dijadikan tumbal, Man?
Manto! Setan menyebut nama anak pertama Midun
Midun melaksanakan niat busuknya. Manto sengaja ditabrak dengan mobil oleh aparat yang menjadi perpanjangan tangannya. Lalu mati. Tapi Midun tetap tak terpilih menjadi presiden.
Nyawa siapa lagi yang butuh?
Minta! Setan menyebut nama anak kedua Midun. Lalu putranya itu mati dibunuh. Masih kurang! keluh setan ketika bertemu lagi dengan Midun. Nyawa siapa lagi?
Kamu!
Maksudnya?
Ya, kamu yang mati selanjutnya!
Midun kelabakan. Dia belum ingin mati. Dia masih ingin menjadi presiden. Namun setan lebih menyukainya mati, biar kekerabatan mereka abadi.
Teman, kata setan perlahan, aku sangat salut kepadamu. Demi ambisi, kamu rela membunuh rakyatmu. Rela membunuh istrimu. Anak-anakmu. Sementara aku, demi meluluskan ambisi, tak sanggup membunuh rakyatku, juga keluargaku. Jadi, kalau kau mati, aku ingin kau menjadi presiden setan. Untuk apa menjadi presiden manusia yang banyak berlagak malaikat, tapi jiwanya setan. Dia tertawa. Midun meringis. Pada saat setan meminta malaikat pencabut nyawa bekerja dengan sebilah tombak yang ujungnya clurit tajam, Midun langsung berontak.
Aneh! Tiba-tiba dia sudah berada di teritis utara rumahnya. Hujan benar-benar telah berhenti. Sedangkan dia tersadar hanya berhalusinasi. Dalam kelinglungan, Manto, anaknya, datang mendekat. Pak, aku minta uang pembeli narkoba!
Seketika Midun seperti melihat setan sahabatnya, menggeliat di mata anaknya.

Cerpen Rifan Nazip
Dimuat di Bangka Pos

  1. asyik..keren…bagus……
    mengamankan PERTAMAXXXXXX

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: