Dua Mata Perak

Malam liris.Bulan seperti terpaku di kiri bahuku. Seingatku,di sini,ini tidak biasa.Biasanya ia selalu malu hadir di sini.Selimutnya,awan gelap,selalu mengelambunya lekat-lekat,dan sayap-sayap kelelawar seolah menjadi cadarnya.

Tapi tidak untuk malam ini. Cahayanya yang melingkar seakan begitu menantang, menelusur semua labirin, hingga mataku beberapa kali menoleh ke arahnya. Kau nampak tidak tenang, Sayang? Aku mencoba tersenyum, Masak sih,Mas? Atau kau sudah tidak sabar? Ia mengerling nakal. Tangannya yang sedari tadi sudah mendarat di pantatku,mencubit dengan gemas. Mas,bisa aja. Ah,ada apa dengan aku hari ini? Kenapa ranting-ranting yang menghalangi lingkarannya seakan membuatku semakin penasaran untuk terusmeliriknya? Apa karena cahayanya begitu mengingatkanku pada mata Aritha? Mata yang perak dan tidak bergerak-gerak? Ya mungkin saja. Bukankah dulu setiap menatap matanya kerap melagukan tangisanku,seakan ada sebuah kabel penghubung di antara keduanya.

Padahal semua tahu aku bukanlah perempuan yang cengeng. Semua beban kerasnya hidup, sudah kurasakan, seakan memang terajah di tubuhku sejak dulu. Tapi entah, melihat Aritha di saat itu, selalu saja membuat aku jatuh? Aku terpuruk di depannya.Memunculkan sisi lembutku yang selama ini kuanggap telah hilang dari jiwaku. Walau sekuat apapun aku mengingkarinya, aku pasti akan kembali menyentuhnya, merasakan auranya dan menatap mata peraknya. Gimana,kita mulai? Mas udah pengen bangetnih. Mas Yono semakin menempel tubuhku.Sekilas dapat kulihat gundukan di balik celananya. Aku tersenyum. Segera ku tuntunnya menjauh dari warung angkringan,menuju pondokanku yang tak jauh darisana. Aku membuka pintu pelanpelan, berusaha meredam suara.

Namun,Mas Yono begitu pintu kembali tertutup, seketika saja menciumiku hingga napasnya yang terengah merusak keheningan. Pelan-pelan, Mas! Aku mengingatkan. Sebenarnya, entah mengapa malam-malam terakhir ini aku tidak begitu bersemangat.Terutama malam ini.Walau saat tangan Mas Yono mulai menyelusup di balik bajuku pun, aku tak begitu bereaksi. Aku hanya membiarkannya. Sebentar! Aku membuatnya menghentikan gerakannya, aku ke belakang sebentar. Tanpa menunggu persetujuannya, aku langsung meninggalkan Mas Yono. Aku melangkah perlahan ke kamar belakang. Membuka pintunya, dan meyakinkan kalau Aritha tertidur. Ini adalah kebiasaan baruku. Dulu biasanya aku tak begitu peduli dengannya. Ia terlalu kecil untuk tahu apa yang kulakukan.

Umurnya baru enam tahun.Apalagi bukankah mata peraknya tak mungkin melihatnya? Dan tentunya, ia tak akan memprotes! Tapi sejak kemarin, semuanya berubah. Semuanya berawal dari ketukan pelan tangan kecil Aritha, di kamarku, saat hampir tengah malam, Ada apa? Dengan kekagetan, kubuka pintu sedikit,membiarkan kepalaku saja yang keluar.Tapi saat itu Aritha tak menjawab apa-apa. Dua mata peraknya hanya memandangiku lekat-lekat. Ekspresi wajahnya tak bisa kulukiskan.Tapi sungguh, aku belum pernah melihatnya menatapku seperti itu.Kedua mata perak itu seakan menusukku, melihat ketelanjangan ku.Bahkan aku merasa mata itu juga dapat menembus pintu kamarku, melihat laki-laki yang sedang bertelanjang menantiku di pembaringan. Aku merasa gerah. Namun, sebelum aku kembali membentaknya, Aritha sudah meninggalkanku dengan langkah tertatih.

Sejak itu dua mata peraknya seakan membayangiku. Mengamati setiap detik gerakanku dan setiap uraian imajiku. Aku berusaha bersikap biasa. Selalu menepisnya, saat imajiku kembali terusik. Bahkan esok paginya, aku merutinkan seperti biasa. Aku tetap membangunkannya,dan menyiapkan baju dan sarapan untuknya. Setiap pagi memang selalu seperti itu.Aritha akan berangkat ke sekolah sekitar pukul delapan. Sekolah yang kumaksud, sebenarnya hanya tempat sebuah LSM yang sedikit peduli memberi pendidikan bagi anak-anak di kompleks ini. Lain kali, aku membuka keheningan saat kami berdua ada di meja makan, Bila ibu sedang ada di dalam kamar, kau tak boleh mengganggu! Aku menuangkan air putih untuknya.

Dan Aritha tak menyahut. Ia menyendok makanannya pelanpelan, dengan wajah lurus ke depan. Sedikit aku dapat melihat kedua matanya nampak sembab.Aku terpana. Sungguh,ini jarang sekali terjadi. Aritha yang kukenal adalah anak yang kuat.Ia sangat jarang menangis! Apakah mungkin ia sudah cukup dewasa untuk mengerti pekerjaanku? Kemudian menyesali kalau ia hanya sekadar anak seorang pelacur? Tapi nanti dulu! Entah mengapa tiba-tiba aku sepertinya dapat melihat sesuatu di dua mata perak itu.Sebuah bayang samar yang menari di lingkaran kecil itu. Saat ini jarak kami berdua hanya dipisahkan sebuah meja kecil. Aku memajukan tubuhku sedikit.Sesuatu di matanya, tiba-tiba saja dapat membuat jantungku seakan berhenti sesaat. Aku merasakan kedinginan yang sangat di sekujur poriku. Di dua mata perak itu, aku dapat melihat sebuah bayangan kematian!

Aritha adalah anakku. Ia lahir dari rahimku. Sekarang aku bersyukur telah melahirkannya. Karena dulu aku sempat berusaha membunuhnya, melenyapkannya dengan berbagai cara. Tapi aku selalu kalah.Aku merasakan di dalam sana ia selalu melawan dengan keras.Semua racun yang kuminum selalu dimuntahkannya, dan semua gerakan kasar ke tubuhnya, selalu tertepis. Aku merasa ia begitu ingin hidup! Kalau sudah lewat 5 bulan,kau harus melahirkannya! mami Resno yang tiap kali menemaniku memberi masukan saat itu. Jangan ambil risiko. Toh, nanti bayimu bisa dijual. Lumayan harganya bisa buat kau sedikit bersenangsenang! Aku menyeringai. Dulu, memang sama sekali tak pernah ada dalam pikiranku untuk memelihara bayi ini.Namun, semuanya berubah sejak ia muncul pertama kali dari selangkanganku.

Saat itu tangisannya kudengar begitu aneh. Seperti tersendat, tak lepas, seakan ada sesuatu yang mengganjalnya untuk keluar.Tapi aku terlalu lemah untuk menganalisa lebih jauh. Aku hanya ingat tangisan itu begitu menyesakkanku, Terlebih saat dari pembaringanku, aku menatap matanya, dua mata yang perak. Sungguh, saat itu, begitu saja aku putuskan untuk membesarkannya. Mami Resno langsung memaki-maki ku habis-habisan. Dia cacat! teriaknya berulang-ulang, Lihatlah! Melihat tidak bisa, bicara juga tak bisa. Kau akan terbebani olehnya! Ingat siapa kau ini? Tapi aku tak peduli. Aku menyewa sebuah rumah kecil di pinggir kompleks. Seorang pelanggan dermawan,yang mungkin bisa saja ayahnya, memberiku uang lebih saat tahu kondisiku. Lalu aku membesarkannya!

Aku sama sekali tak pernah tahu siapa lelaki penebar benih itu. Dulu, sering aku memandanginya mencoba mengingat-ingat tamutamuku saat itu.Tapi nampaknya tidak ada yang begitu pas kuingat. Mata peraknya seakan menyamarkan semuanya, membuat wajah wajah laki-laki yang pernah tepat berada di atas tubuhku, hanya sekadar lenguhan! Lalu aku tak pernah mencoba mengingat-ngingat lagi.Yang kutahu ia kemudian tumbuh sekuat diriku. Aku selalu dapat melihatnya. Dua mata perak itu, walau orang lain selalu menganggap melemahkannya, kurasakan malah menguatkannya! Kecuali hari ini! Yahari ini.Saat ia pulang tepat jam dua belas siang. Aku menyambutnya di depan pintu. Biasanya ia akan tersenyum dan mencium tanganku.Tapi tidak kali ini.Sembab di matanya masih saja kulihat bayangan kematiannya itu!

Aku terbangun pagi ini. Suara dangdutan dari rumah sebelah, selalu menjadi wekerku setiap pagi. Mas Yono yang mem-booking-ku semalam, sudah tak ada di sampingku. Di meja tak ada lembaran uang yang biasanya terlihat. Sialan! aku bergegas bangun, apa aku tertipu lagi? Tapi baju-baju Mas Yono masih kulihat berhamburan di lantai. Aku menjadi sedikit lebih tenang. Mungkin ia hanya sedang ke belakang. Aku keluar kamarku. Di ruang makan, kulihat Aritha sedang duduk terdiam. Kau lihat teman mama?Aku mendekat padanya. Aritha tak langsung menjawab, sebelum akhirnya menggeleng.

Kurasakan gerakannya begitu acuh.Tapi aku tak peduli.Kelak ia harus mengerti keadaan ini, karena dia juga makan setiap sendoknya dari selangkanganku ini! Aku segera ke belakang.Tapi tak kutemui siapa pun. Sungguh, ini seperti kejadian kemarin. Pelanggan ku lari begitu saja dengan meninggalkan baju-bajunya begitu saja. Ah, terserah merekalah.Yang penting dompetnya selalu ditinggal! Sehingga aku bisa mengambil semuanya! Tapi perkiraanku salah! Hal ini ternyata tidak sesederhana pikiranku. Beberapa hari berselang beberapa orang polisi mendatangi pondokanku. Semuanya berawal dari laporan warga tentang bau tak sedap yang menyebar seantero kompleks. Dan ternyata setelah ditelusuri bersama, pusatnya tepat berasal dari belakang rumahku! Mereka memeriksa, diikuti penduduk kompleks lainnya yang memandangi dari luar.

Dan aku sama sekali tak menyangka mereka akhirnya benar-benar mendapati sesosok mayat di sumur belakang rumah! Tidak hanya satu, namun dua! Aku terperangah.Aku mengenal keduanya. Mereka tamutamuku beberapa hari lalu. yang menghilang di pagi hari tanpa membawa pakaiannya! Semua mata tertuju padaku. Seakan menuduhku yang melakukan semua itu. Di sini, di kompleks ini, kejadian seperti ini sebelumnya memang kerap terjadi.Pelacur membunuh pelanggannya, atau pelanggannya membunuh pelacurnya. Itu hanya sebuah hari lain dari hari-hari biasa.Seperti sebuah hari libur bagi orang-orang awam Tapi aku sama sekali tidak melakukannya. Aku segera mendekati Aritha,dengan perasaan tak tentu. Di rumah ini, tak ada orang lain yang datang beberapa hari ini.

Hanya ada kami. Aku dan dia. Ini yang membuat sebuah pikiran mendadak memanah otakku, menyentakku dengan rasa perih menyayat. Lalu aku ingat perasaan saat aku menatap dua mata peraknya, sebuah bayangan kematian! YaTuhan,apakah benar ia yang membunuhnya? Aritha? Aku menyibakkan sebagian rambut panjangnya yang terurai, mencoba menatap mata peraknya secara langsung. Dapat kulihat mata itu masih terlihat begitu sembab,seakan ia menangis semalaman ini tanpa henti. Sayang, apakah kau yang melakukannya? Ia tak menjawab.Namun, dua mata peraknya yang kemudian menjawab. Aku bergidik. Tubuhku menggigil. Tapi sungguh, kali ini dua mata perak itu semakin jelas membayangkannya. Di situ samar-samar aku melihat Aritha, dengan mata sembabnya, mendorong tubuh laki-laki itu ke arah sumur.

Ya aku melihatnya begitu jelas di mata itu! Aku terpuruk.Menangis menggugu, di antara tubuh-tubuh tegak polisi yang mengelilingi kami. Begitu kecewakah ia padaku, hingga ia sanggup membunuh lakilakiku seperti itu? Mengapa, Sayang? Mengapa? masih,gumamku berkali-kali di antara tangis tak mengerti. Dan Aritha tetap tak menjawab. Ia hanya menangis kali ini. Mengabutkan mata peraknya hingga aku tak bisa melihat bayangan yang membayang di situ. Aku sudah terlalu jatuh.Namun, andai aku masih bisa melihatnya, akan terlihat bayangan samar sosok lakilaki yang mengangkat tubuh kecilnya dan menelentangkannya di meja.

Disusul tangan kekarnya yang kemudian membekap mulut kecil itu,merenggut celana dalamnya dengan paksa, dan membiarkan dua mata peraknya hanya bisa menatap langit-langit Aku tak melihat itu, namun dingin tiba-tiba begitu kurasakan menembus tulangku!

Cerpen: Yudhi Herwibowo

Dimuat diharian seputar Indonesia

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: