Lelaki yang Mencintai Bulan

Lelaki yang Mencintai Bulan

Cerpen Faradina Izdhihary
Dimuat di Horison

Kalau suatu kali kau lihat seorang laki-laki berdiri di pinggir kali dengan mata nanar, mengais-ngais dasar kolam saat malam, dan bulan berwarna suram, ialah lelaki yang hendak kuceritakan. Lelaki itu mencintai bulan. Seringkali ia berteriak marah-marah apabila ia mendengar seseorang mengucap atau menulis kata bulan dengan kata rembulan.

Bedebah! Jangan sekali-kali kau ucap kata rembulan! Cengeng sekali! Bulan akan menjadi perempuan cengeng!

Lalu ia akan memulai khutbah panjangnya tentang kata bulan. Tentang bulan yang begitu perkasa. Ia mencintai kata bulan karena kata itu mengingatkannya pada beberapa hal. Pertama, ia bisa mengumpat perempuan-perempuan yang memandang jijik kepadanya karena perempuan itu biasa datang bulan dan menjadi bulan-bulanan lelaki yang memeliharanya. Perempuan akan kelabakan jika terlambat bulan. Lelaki itu menari-nari jika melihat perempuan yang datang bulan dan darahnya tembus di bagian belakang rok atau celananya. Tapi ia pun akan tertawa-tawa dan melempari perempuan yang terlambat bulan apalagi yang hampir melahirkan.

Perempuan-perempuan sialan itu hanya dapat tunduk di bawah bulan. Bagaimana aku tak memuja bulan? lalu ia akan menangis berkepanjangan.

Dalam rintihan pilu di antara suaranya yang serak sebab dua tahun menggumuli dingin malam dan beku hujan dalam gubuk kecilnya yang tak pernah sepi bocor air hujan dan limpahan limbah pabrik kulit yang tepat berada di atas gubuknya. Suaranya benar-benar seperti kabar kematian yang dibawa gagak terbang. Suara itu memecah sepi malam menjadi puing-puing mengerikan. Lelaki yang mencintai bulan itu entah mengomel, entah bersajak, ah mungkin ia berdoa menderaikan ceritanya tentang bulan.

Aku merinduimu bulan. Seperti kau merindui purnamamu dan kau bisa mencumbui danau yang beku hingga ke dasarnya. Kau ingat, saat kau purnama, kucium pipi perempuanku yang ranum dan bibirnya yang rekah strawberry? Tapi mendung yang khianat pada terang romantismu membuat nafsuku jadi beku. Ia menggigil karena mendung mengusirmu dari bayang langit. Tiba-tiba ia menangis.

Aku sedang datang bulan, Mas, katanya melas.

Lelaki itu larut dalam sajak panjangnya yang miris. Entah pada siapa ia bercerita. Dari bibirnya yang hitam sebab terlalu banyak menyedot asap tembakau murahan yang ia linting dengan cengkih kiloan, bertumpahan kata-kata yang entah berarti apa. Mungkin aroma cengkih murahan yang ia kais dari kios-kios cengkih waktu malam saat para pedagang pulang dan pulas dalam tidurnya, membuat lelaki itu mabuk dan memuntahkan kata tak berkesudahan. Lelaki itu mencintai bulan, yang tetap bersetia menemaninya saat tak ada setitik pun bias lampu listrik kota yang mau berbagi terang padanya. Bahkan ia tetap mencintai bulan, ketika perempuannya yang menolak dicium tiba-tiba datang padanya dan berbisik sambil terisak.

Mas, aku telat dua bulan.

Lelaki itu hanya mampu menatap bekas-bekas bulan yang telah hilang tersapu awan. Ia mencintai perempuan yang telat bulan itu lebih dari dua puluh bulan. Bukankah ia belum sekali pun menabur benih di lahan perempuan yang menolak ia cumbui di bawah redup sinar bulan? Lalu siapa yang telah membuat perempuannya telat bulan? Ia memandang wajah perempuannya dengan kuyu bulan tersaput mendung dan terguyur hujan. Ia hanya mampu berbagi kepedihan dan sedu-sedan pada bulan, betapa ia sungguh hanya mampu menatap kosong kepergian perempuannya. Jatuh dalam dekap lelaki lain, meski ia telah mencintainya selama dua puluh bulan.

“Maaf, aku tak sanggup lagi menunggu gaji yang bisa kau serahkan padaku di awal bulan.

Menunggu tak pasti seperti mimpi. Indah saat lelap, sakit saat terjaga. Aku tak sanggup menghitung jumlah bulan penantian bersamamu lagi,” begitu pesan terakhir perempuan yang telat datang bulan itu pada lelaki yang mencintai bulan.

Lelaki itu termangu. Hanya ditemani bulan. Bulan juga yang membelai tangannya dengan hangat ranum malam. Jangan sedih, aku bersetia padamu, bisik bulan pada lelaki itu. Lelaki itu semakin mencintai bulan. Ia biarkan perempuannya berlalu, tanpa ia relakan setitik pun sinar bulan mengantar kepergiannya.

Kedua, lelaki itu mencintai bulan karena lelaki itu memiliki sebelas bulan waktu untuknya, menyetubuhi mimpinya, dan melahirkan anak-anak kecewa dan kemarahannya di akhir tahun. Seperti akhir Desember tahun lalu. Ia memuntahkan segenap kemarahannya di antara sorak-sorai orang-orang yang meniup terompet dan membakar kembang api. Saat orang-orang larut dalam pesta akhir tahun, ia pun larut dalam pesta melahirkan segala rutuk dan kutuk. Ia melahirkan setiap hasil percintaannya dengan mimpi dan harapan yang ia rajut selama sebelas bulan. Dari Januari ia tanamkan mimpi dan harapan. Ia tawarkan semua kemampuan yang ia miliki, ia tuliskan puluhan bahkan ratusan lamaran pekerjaan. Bahkan ia sisipkan transkrip ijasah perguruan tingginya dengan bergunung-gunung harapan. Ia tulis puluhan lembar sajak cinta, luka, dan bulan ke majalah dan koran. Namun, selalu kekecewaan harus ia telan setiap akhir bulan.

Akhirnya ia harus kembali ke jalan-jalan.

Di sana ia kais rejekinya, gelas-gelas dan botol-botol air mineral yang berserakan, kertas-kertas, koran-koran, dan kardus-kardus yang berbau lengus. Ia ciumi sampah orang-orang berduit yang kadang masih menyisakan makanan untuk perutnya yang menyukai musik keroncong sebagai pilihan. Lelaki yang mencintai bulan itu menghitung dan mengadili dirinya di antara redup cahaya bulan.

Guruku mengajarkan bahwa dunia bisa ditundukkan hanya dengan abjad dan kata-kata. Maka kuputuskan menjadi sarjana sastra. Tapi kau lihat bukan, Bulan? Tak ada satu pun manajer yang mau melirik sedikit pun pada kemampuanku merajut kata-kata dan menjaring cintamu. Ia tak pernah peduli bahkan ketika padanya kuceritakan bagaimana dengan sebait kata yang kusebut puisi telah kutundukkan keangkuhanmu, hingga kau pun selalu singgah membagi hangatmu. Ah, berapa banyak dunia kerja membentangkan kedua lengannya untuk sarjana sastra, apalagi jika itu bukan sarjana bahasa asing? Kau, pinjamlah kerdip bintang, barangkali ia mampu menghitung jumlah kawanku yang mampu bekerja dan jadi karyawan, berdasi pula! Barangkali, kau justru akan menemui kawanku berjajar rapi di belakangku, mengimitasi nasibku: bercumbu denganmu saat engkau benar-benar purnama!

Guruku ternyata salah! Aku tak bisa mengalahkan dunia, bahkan dengan sajak-sajak yang kugubah dengan diksi terindah sekalipun. Aku yang salah? Mereka yang bedebah? Atau dunia memang sedang menantangku untuk tak menyerah.

Di antara bias sinar bulan yang malu-malu dan sembunyi di ranting dan dedaunan, lelaki itu membaca keputusannya memilih tinggal di gubuk kardus dan bermesra dengan para pemulung. Ia ingat saat itu, sisa bulan yang separoh tersesat di langit siang. Ia merasa letih saat bulan, temannya yang paling setia pucat pasi. Sungguh seperti melihat bayangan dirinya sendiri yang kusam dikejar debu jalanan. Seperti katak yang dipaksa lari kencang, lompat panjang, dan terbang kilat ia harus berpindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Demi gengsi atas nama ijasah sarjana dan status sosial, ia lupakan keinginan memiliki mobil dan rumah mewah, berkantor di gedung megah, dan berdasi merah. Sebab, hanya menjadi guru tidak tetap, dengan gaji jam-jaman, ia bisa meraih kehormatan seorang sarjana. Meski gaji yang ia terima masih kalah dengan pekerja lulusan SMA di pabrik. Untuk itu, ia sungguh telah memeras otak dan peluhnya di tiga SD tak ternama. Gaji yang ia terima sering habis sebelum penanggalan berganti halaman.

Suatu malam, selepas musim hujan, sinar bulan menuntunnya bertemu dengan seorang lelaki muda yang memungut bekas gelas air minumnya.

Entah kenapa hari itu ingin sekali ia berbincang dengan lelaki muda itu. Sungguh harga diri sarjananya tertampar ketika mendengar betapa penghasilan lelaki muda itu lebih besar dibandingkan gajinya mengajar di tiga SD.

Lelaki yang mencintai bulan itu hendak mengadukan nasibnya pada bulan. Sayang bulan telah benar-benar dikalahkan raja siang. Lalu ia menulis pesan pada bulan, betapa ia telah memutuskan untuk mengikuti jejak lelaki muda itu. Memungut kaleng-kaleng bekas, koran-koran bekas, dan mungkin remah-remah makanan orang berduit yang sulit ia beli dari kantongnya.

Hampir sepuluh purnama lelaki itu mengikuti jejak lelaki muda. Bahkan demi menghayati peran, ia memilih tinggal di gubuk kardus. Bukankah hidup adalah panggung sandiwara? Hendak ia tundukkan peran itu semampunya. Tidak setengah atau sedikit-sedikit saja. Bila pagi tiba, ia ganti baju dinas pemulungnya dengan seragam gurunya.

Sejak itu, ia tak lagi dikejar rasa takut dan malu karena potongan gajinya melebihi gaji yang ia terima, bahkan pada dunia ia bisa berpura-pura telah benar sukses jadi sarjana. Setiap bulan berganti, dengan gagah ia melangkah ke kantor pos dan mengirim sediki berkah dari sampah pada ketiga adiknya di kampung halaman. Terbayang wajah-wajah yang polos dan penuh harap itu dengan senyum bangga membayangkan keberhasilannya bekerja di kota.

Tak ada yang boleh tahu bahwa ia hanya jadi sampah di kota ini. Ia telah kalah. Hanya bulan yang benar mengetahui dan mampu menyimpan rahasianya. Dalam gubuk kardus dan pelukan cahaya bulan yang kadang temaram, lelaki yang mencintai bulan itu menemu bahagia. Di gubuknya ia tak harus menjadi sesiapa. Ia hanya harus menjadi dirinya sendiri.

Lelaki itu tetap setia mencintai bulan, sepanjang sebelas bulan, dari Januari hingga Nopember ia gadaikan setiap tetes peluhnya dengan lembaran-lembaran lamaran kerja. Berharap, satu hari di antara puluhan bulan yang ia lewati akan menjadi valentine bagi dirinya. Ketika sepasang tangan mengulurkan senyum padanya, dan memberinya pekerjaan. Atau terwujudnya tiap menjelang akhir tahun untuk menjadi pegawai negeri. Telah enam kali ia mengikuti, namun nasib telah benar tak berpelangi untuknya. Ia kembali ke pelukan bulan. Ah, betapa sering pada bulan ia berbagi mimpinya memakai baju kerja rapi, bersepatu disemir kilap, dan berdasi pula.

Ia berterima kasih pada sebelas bulan yang mengirim ia ke bulan kedua belas. Bulan saat ia bisa melahirkan umpatan, rutukan, dengan meminum bergelas-gelas minuman keras yang ia peroleh gratisan di
perempatan-perempatan jalan, di pertigaan, bahkan di emperan-emperan toko. Pemuda-pemuda berambut gimbal, berbaju lusuh-lusuh warna hitam-hitam itu tak lagi sangar dan
menatapnya dengan sebelah mata ketika ia berbaur dengan mereka, diam-diam meneguk segelas demi segelas minuman keras bermerk topi miring atau anggur kolesom yang berjejer di antara tubuh mereka yang setengah kehilangan kesadaran. Lelaki itu meneguk puas-puas seperti sedang mencumbui perempuannya. Lalu ia berlari ke pinggir sungai dekat gubuk liarnya, dan bersajak dalam duka dan kecewa. Ia melahirkan kecewa dan amarah setelah bercumbu dengan nasib dan ratusan surat lamaran pekerjaan.

Bulan. Apa salah aku mencintai setiap kata dan simbol-simbol yang menawarkan sejuta makna? Apa salah jika aku bermimpi dapat menundukkan dunia dengan sajak-sajakku? Kutulis tentang cinta, mimpi, juga lukaku dalam sajak-sajak giris dan perihku. Tak ingin aku menyindir atau nyinyir pada pajabat berdasi yang kata-katanya berbau anyir! Tak ingin aku memuntahkan segala lukaku karena bapak-ibuku diterjang tsunami yang tak bertelinga, tak berhati. Sejak kulihat keduanya terbujur di antara ratusan ribu mayat-mayat bergelimpangan seperti tikus-tikus setelah diberangus dan dibakar liangnya, aku hanya mampu berkeluh pada kata-kata. Dengan sajak dapat kulukiskan kesedihanku kehilangan keduanya. Dengan puisi kutumpahkan gelisah karena hingga kini belum juga kudapatkan rumah meskipun di berbagai acara TV banyak pejabat dan tokoh bersumpah. Ketiga adikku tinggal di rumah singgah. Aku lelah. Sajak-sajakku menjadi sandaran dan tempat menumpah gundah.

Sayang, sajak-sajak lelaki yang mencintai bulan itu tak laku dijual. Entah berapa puluh kali perempuannya menulis sajak dan puisinya, lalu mengirim ke majalah atau koran, namun tak satu pun yang membuat namanya nangkring di koran mingu rubrik budaya. Konon, pembaca tak suka rintih luka lelaki, apalagi lelaki yang bersahabat dengan bulan. Mereka lebih memilih mimpi yang menawarkan surga dan pesta, bukan luka dan kecewa seperti yang ditulisnya.

Hanya engkau bulan, bersetia mendengar rutuk dan amarah yang tak pernah tandas! Bahkan perempuanku selalu marah-marah bila kerinduanku pada bapak dan ibuku membuncah. Ia tak mengerti bagaimana hatiku telah jadi remah saat tsunami menuliskan gelar yatim piatu di dadaku, juga di dahiku. Hingga aku terdampar di sini, di kota yang tak pernah memelukku mesra. Hanya kau yang tahu, bahwa di kota ini aku berharap dapat bertemu gubernur atau presiden negeri ini dan bercerita tentang keadaanku dan saudara-saudaraku di Aceh sana. Betapa tsunami dan sisa peperangan bertahun itu menyisakan luka yang sempurna dalam tiga helai nafas kami: negeri kami yang kaya, tak pernah bersungguh memeluk kami dalam cinta. Di sini, dalam hingar kota, kami hanya jadi penonton belaka. Bahkan bias listrik dari gedung-gedung megah di atas gubuk-gubuk kami, semakin irit saja menyelusup masuk di lubang-lubang atap kardus gubukku.
Kau tahu, Bulan? Itulah sebabnya, aku mencintaimu.

Lelaki itu, entah menangis, entah berdoa, atau bersajak saja, duduk hingga pagi di pinggir sungai. Melambai-lambaikan tangannya pada bayangan bulan yang tertidur lelap di dasar kali. Ia merutuki malamnya yang selalu sepi. Ia iri pada bulan. Tapi, tetap saja ia mencintai bulan yang setia menemaninya dalam sepi dan kalah berkepanjangan.

Ketiga, lelaki itu mencintai bulan sebab percaya bulan menyimpan perempuan muda sedang menggendong seekor kucing. Ia selalu percaya dongeng yang diceritakan neneknya dulu, sebelum tsunami datang. Nenek bilang, saat gerhana datang, seorang gadis yang bersetia menunggu kekasihnya berbulan-bulan telah diculik raja gerhana. Raja gerhana telah lama diam-diam jatuh cinta pada gadis itu karena kesetiaannya menunggu kekasihnya. Gadis itu menuliskan berapa kali bulan purnama dengan warna-warna pelangi. Titik airmatanya tiap kali kekasihnya tak juga datang membias sebagai spektrum cahaya. Indah sekali lukisan rindu yang ia sapukan di langit-langit pagi ketika penantiannya tak juga membuatnya bertemu kekasihnya.

Lelaki yang mencintai bulan itu bersumpah suatu saat akan membawa gadis setia itu dari bulan, jika raja gerhana lengah dan tak bergairah. Ia yakin, gadis setia itu masih tetap mendapat tamu bulanan karena raja gerhana tak sanggup merebutnya dari perlindungan bulan. Ia juga percaya gadis itu tak layak jadi bulan-bulanan karena sorot matanya terlalu teduh dan penuh kerinduan. Lelaki yang mencintai bulan itu membujuk bulan agar membantu dirinya.

Dengarlah, aku lelaki yang bersetia menanti. Saat awan berdamai pada bulan, dan gerhana menggigil dalam tatap sendumu. Akan kubawa engkau dari pelukan bulan. Di bumi, masih tersisa taman terindah, yang kuhias dengan melati, mawar, juga kamboja, saat berhenti usia kita. Padamu hanya mampu kubawa: setia. Seperti engkau menunggu sekian lama. Akulah lelaki yang kaucari. Biarkan angin membawaku terbang padamu, dan bintang menjadi mahar cintaku padamu.
Lelaki yang mencintai bulan itu tetap setia pada bulan. Ia tahu, gadis setia yang didambakannya ada dalam rengkuh bulan. Tak mungkin bukan, memusuhi bulan, meski ia sangat membenci kata rembulan.

Lelaki yang mencintai bulan tetap bersajak tentang cinta, cita-cita, serta anak-anak perkawinannya selama sebelas purnama berupa kecewa dan duka. Ia bersenandung dengan puisinya, melagukan kalah yang terus bergenderang di lembar ijazah sarjananya.**

Bookmark and Share

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: