Pertikaian Firasat

Pertikaian Firasat
Ditulis oleh (?)

Lukman paham kecamuk hati istrinya! Tentu, Zahra sedang berbadan dua, dan tinggal bilangan hari menuju persalinan, pula harus ditinggal suami. Memang hanya empat hari. Tapi istri mana yang tak ingin didampingi suami saat anak pertama akan lahir? Begitupun, Lukman salut kepada Zahra, keping cintanya. Bagaimana tidak, meski tak mampu menyamarkan rona kekecewaan, istrinya itu tak sembarang menukar laku. Tetap meniru yang lalu-lalu. Ya, setiap Lukman harus menuruti perintah mendadak dari atasan —dinas ke luar kota, Zahra senantiasa jadi pendukung utama.

Pernah memang selingkar dua bulan lalu, Lukman luput dari tudingan tugas ke Kalimantan. Saat itu sebenarnya Zahra ikhlas untuk ditinggal. Tapi, lantaran kondisi kehamilannya yang butuh perawatan, Lukman tak sampai hati menurutkan pekerjaan ke luar kota. Nah, kali ini Lukman tak kuasa berkelit. Tatkala buah ranum kandungan Zahra tinggal dipetik, Lukman harus ke Jakarta! Sedang Zahra, mesti merapat ke dinding
kemakluman.

“Berangkatlah Abang, awak tak apa-apa. Kan cuma empat hari…,” anjur Zahra sambil menimbang-nimbang perutnya. Tadi, tak sampai setengah hari di kantor, Lukman sudah pulang, tapi harus ke bandara sekeluar ashar.

“Tak bisa lagi Abang menolak tugas, Zahra….”

“Ya, sudah, berkemaslah, Abang. Awak baik-baik saja.” Seiring senyum, Zahra memompakan keyakinan ke pundak Lukman, lantas bergegas menyusun beberapa pasang pakaian, juga keperluan yang lain ke dalam tas box. Lukman menyerah! Namun apalagi hendak? Bagaimanapun ia sudah mengemban perintah, pun sudah mengantongi tiket terbang pergi dan pulang. Lukman mencoba lega sambil memadatkan doa: “Ya Allah, tolong jaga istriku. Tolong jaga anakku dalam perutnya. Tolong….”

Namun, kecemasan tiba-tiba mengepung keduanya, terlebih-lebih Zahra. Mungkin karena tergesa-gesa, Lukman menyenggol bingkai foto perkawinan mereka yang tegak di atas lemari sepinggang —persis dekat televisi. Bingkai foto menghunjam ke lantai, dan remuk berantakan! Zahra berlari gopoh ke arah Lukman. Terengah! Lantas keduanya menumbukkan pandangan. Sorot mata Zahra seolah hendak berbicara soal firasat buruk. Lukman sadar atas bahasa mata istrinya.

“Ah, tak apa-apa, Zahra. Abang yang tak hati-hati,” sergah Lukman sembari mengumpulkan puing-puing kaca. Zahra masih bergeming. Kerumunan peluh di lehernya meleleh, terasa dingin. Agaknya, ia sedang berupaya keras menangkis firasat tak baik yang berkelebat di jantungnya.

“E-eh, apalagi? Zahra siapkanlah dulu makan siang Abang. Biar Abang yang membereskan ini.” Lukman tak memberi peluang bagi Zahra untuk membahasakan kecemasannya. Zahra tak mampu menampik. Ia bangkit dengan nafas yang berat, juga perasaan yang tak menentu.

Sejatinya, Lukman pun sedang membunuh kekhawatiran. Kalau berkaca ia ke lubuk hati, berat langkahnya untuk berangkat. Untung ia belum sempat menceritakan kepada Zahra perihal gelas yang jatuh dari tangannya, pagi tadi, ketika masih di kantor. Namun, Lukman buru-buru menunaskan prasangka baik di dada. Ia tak mau menghubung-hubungkan peristiwa gelas yang terhempas dan bingkai foto yang jatuh dengan keberangkatannya. Meski, jujur, segala tafsir firasat tetap mengerubungi kepalanya.

Ah, ada-ada saja hal ganjil yang berkecipak di jernih pikiran Lukman. Persitiwa beragam kecelakaan pesawat menyayat-nyayat kepala. Mengapa tidak? Bagaimana bisa terbang tenang kalau tiba-tiba pikiran ibarat televisi yang mengulang-ulang laporan tentang pesawat yang menukik ke laut, meledak ketika mendarat, dan terjerembap saat take off. Ditambah lagi, beberapa hari belakangan ini, siar kabar tentang pesawat yang mendarat darurat tindih-menindih. Aih, sering ia bepergian dengan pesawat, tapi tak pernah mengalami keadaan hati serumit ini. Lukman pun tahu, istrinya sedang dipintasi pikiran yang tidak-tidak. Sumpah, sungguh tak nyaman berada di simpang-siur pilihan: berangkat atau batal!

Namun, kenyataannya, ia tetap harus pergi. Maka, sebelum langkah kanan ditunaikan, ia titipkan Zahra ke para tetangga. Seterusnya, Lukman berjanji akan melunasi segala permintaan istrinya: “Jangan lupa, beri kabar kalau sudah mau take off, kalau ada penundaan, dan kalau sudah sampai di Jakarta.” Usai mengecup hangat dahi Zahra, juga mengelus dan mencium perut istrinya, Lukman pun meninggalkan getar lambaian di pintu pagar. Lambai balasan dari Zahra terbata. Kerudung merah saga yang dijunjung Zahra tak cukup untuk menyamarkan tudung kalut yang tertungkup di
wajahnya….

***

Taksi mengantar Lukman ke bandara. Selama perjalanan menuju Polonia, Lukman tak henti-henti menyemai ketenangan ke dadanya. Sambil menimang-nimang tiket, berbisik-bisik ia kepada dirinya sendiri: “Tenanglah, Lukman. Medan-Jakarta cuma dua jam. Semua baik-baik saja. Bukankah kau bakal terbang dengan pesawat Boing 737-400?”

Namun, pengeras suara di ruang tunggu kembali membuyarkan ketenangan Lukman. Pihak maskapai mengumumkan penundaan jadwal terbang lebih dari satu jam. Penundaan itu lazim, apalagi terbang sore. Tapi, alasan penundaan yang membikin jantung Lukman berdegup: sedang berlangsung perbaikan menyangkut teknis pesawat! Dengan hati-hati Lukman mengirim pesan ke ponsel Zahra. Tentu, tanpa menyampaikan alasan penundaan. Ia tak ingin mendebarkan dada Zahra.
Namun, apa pun ceritanya, tak ada aktivitas yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu tunda satu jam lebih. Membolak-balik lembaran koran kusam, sesekali membalas SMS Zahra, dan berkali-kali ke toilet adalah pekerjaan yang memuakkan! Lukman hanya bisa pasrah. Entah ke mana pergi hilir-mudik nafasnya. Kalau ingin menurutkan kemauan hati, ingin rasanya Lukman pulang ke rumah. Tapi apa boleh buat, lagi-lagi, sekuat doa upaya ia mengguyur kekecutan diri. Berkali-kali ia menyebut nama
Tuhan!

***

Langit mendung di atas Bandara Polonia mengirim irisan gerimis. Dari kejauhan, landasan bandara mengerling, licin. Lukman mengepit bibir. Ia kenakan jaket. Alamak, semacam membalutkan perdu ketakutan ke tubuh. Meski perlahan, ciut diri terus saja mengerat urat keberanian. Udara AC di ruang tunggu terasa menanggalkan pertautan sendi-sendi badan. Lunglai segenap gerik-gerak tubuhnya. Lukman gemetar dan pasi!

Tapi, matahari kelegaan mulai terbit ketika para penumpang dipersilakan masuk ke dalam pesawat. Sambil mendaki tangga pesawat, Lukman mengedar pandangan ke badan pesawat. Sekonyong-konyong ia bertindak sebagai pengaudit amatir sebuah pesawat komersial. Aman, tak ada cat pesawat yang terkelupas, angguknya. Di atas pesawat, para awak dengan cekatan memandu penumpang ke seat masing-masing. Satu-dua pramugari membantu penumpang membenamkan tas penumpang ke lambung kabin. Mimik kegusaran penumpang atas penundaan mulai tanggal oleh kesibukan-kesibukan kecil.
Bunyi gesekan gesper sabuk pengaman terdengar ketak-mengetak, sahut-sahutan. Nafas-nafas kelegaan mendengus. Namun, deru mesin pesawat kadang menggentarkan hati. Lukman seolah duduk di kursi pesakitan! Apalagi, lengking tangis bayi di pangkuan seorang ibu muda yang duduk di sebelah kanan Lukman turut membengkalaikan pematang hatinya. Di sebelah kiri, duduk lelaki separuh baya: memakai kopiah dan batik. Mulut lelaki paruh baya itu tak henti-henti berkomat-kamit. Jemarinya dijalin-jalin seperti temali kusut. Sedang Lukman, bergegas mengirim pesan kepada Zahra: “Sesaat lagi Abang take off. Mohon doa. Salam cium….” Lantas buru-buru ia memadamkan ponsel sebelum ketahuan pramugari.

Selang beberapa saat, seperti biasa, beberapa pramugari, dengan panduan pengeras suara sibuk memeragakan ketentuan ini-itu bagi penumpang selama berada di atas pesawat. Sekilas, Lukman mendapati seorang lelaki di seberang deretan kursinya tertidur nyenyak, begitu polos. Sungguh enak menjadi lelaki itu, pikir Lukman. Tapi, ia tetap sebagai Lukman, orang yang selalu gagal tidur menjelang lepas landas. Uh! Tak baik mengumpati diri sendiri. Ia mencoba menikmati penerbangan yang menyesakkan ini. Perlahan, pesawat bergerak dari apron menuju landasan pacu. Lukman merapal doa dengan telapak tangan yang basah. Ia membayangkan wajah Zahra yang diluluri pupur kegalauan. Tepat di posisi yang semestinya, mesin pesawat mengejan keras. Namun, mengapa tangis bayi di sampingnya tak kunjung reda? Ingin rasanya Lukman berlari kencang ke kokpit: mendapatkan kepastian langsung dari pilot bahwa pesawat akan mendarat dengan selamat! Namun, laju pesawat tentu mengurungkan niatnya —meskipun itu hanya keinginan belaka. Lukman hanya sanggup mengulang-ulang doa, memintal-mintal kekuatan.

Alhamdulillah, pesawat take off dengan sempurna. Mulus. Namun, kekhawatiran lain memaksa Lukman merasakan pesawat seperti yoyo, terayun-ayun. Lukman mengunci mata. Entah, ia terbayang lagi derang gelas yang jatuh, terkenang rerak bingkai foto yang terjerembap. Ringis wajah Zahra melintas-lintas di benaknya. Gila! Tak selesai-selesai ia melempar doa ke langit: “Tuhan, lindungi aku! Lindungi….” Lukman baru bisa tenang ketika lampu tanda kenakan sabuk pengaman padam. Itu tanda pesawat sudah terbang dalam posisi horizontal.

Tapi, belum sampai satu jam di samudera udara, pilot memberi kabar yang meremas-remas jantung: karena gangguan teknis, pesawat harus mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru. Astaghfirullah…. Lukman bakal mati suara jika disuruh menceritakan perihal taring kecemasan yang menancap di lehernya. Pun meski bayi di pangkuan ibu muda di sampingnya sudah pulas sejak tadi. Suasana mencekam! Keheningan di atas pesawat adalah wujud lain sebuah kepasrahan atau ketakutan yang berlebihan, entahlah. Yang jelas, ketika pesawat berhasil mendarat, ledak kemenangan melompat dari mulut para penumpang. Padahal gigil-gentar masih bertengger kokoh di tubuh.

Maka demi Tuhan, bagi Lukman, mendarat dengan selamat di Bandara Sultan Syarif Kasim bukan sebuah ketenteraman yang harus dirayakan secara berlebihan. Apalagi, tidak sedikit penumpang yang kasak-kusuk ingin membatalkan penerbangan atau tukar pesawat. Pun desas-desus yang menyusup ke telinga para penumpang soal pendaratan darurat —lantaran mesin kanan pesawat mati— cukup merindingkan tengkuk. Kedua lutut Lukman seperti ditempa dari bongkahan es batu. Ngilu. Alah, dalam angan-angan yang paling liar, Lukman berandai-andai kedua sayap pesawat rontok, lalu pesawat menjelma bus malam. Tak apa melata lambat lewat darat, tapi selamat.

Entahlah, Lukman tak ingin merusuhkan hati Zahra. Demi kedamaian hati istri tercinta dan demi kesempurnaan janin dalam kandungan, Lukman terpaksa menunaikan kebohongan. Setelah satu jam tertahan di Bandara Sultan Syarif Kasim, dan kemudian pesawat siap lepas landas, Lukman memilih menelepon Zahra dengan inti pembicaraan: “Alhamdulillah, Abang sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta!” Zahra bersuka-cita mendengar kabar itu. Sedang Lukman, puruk dalam cengkeraman luka-dusta! Lantas, sambil menjinjing perasaan bersalah yang overweight, Lukman memilih melanjutkan penerbangan dengan pesawat yang sama: pesawat setan!

***

Pengalaman menumpang pesawat setan membikin Lukman limbung, antara ikhlas dan tidak dalam menyelesaikan pekerjaannya di ibukota. Meskipun isyarat firasat buruk: gelas jatuh dan bingkai foto yang terhempas tak terbukti, Lukman tetap tak tenang. Seharusnya aku berada di sisimu, Zahra, keluhnya berkali-kali. Dalam igau, juga dalam pesan singkat kepada istrinya.

Maka, ketika amanat tugas rampung sebelum hari keempat, Lukman memutuskan pulang lebih dini. Niat untuk menyaksikan persalinan pertama Zahra harus terkabul. Tiket kepulangan yang sudah tersedia pun ditukar, dimajukan sehari. Tak apa, meski hanya memperoleh jadwal penerbangan tujuan Medan yang jatuh pada malam hari. Diam-diam, Lukman tak mengabarkan perubahan jadwal kepulangannya kepada Zahra. Bikin kejutan, lonjak
hatinya!

Lantas, oleh-oleh sudah disiapkan. Mukena baru untuk Zahra dan selusin baju mungil untuk si kecil. Sempurna! Dan kesempurnaan pula yang menggelimangi perasaan Lukman ketika tiba di Medan dengan kondisi utuh, tak kurang suatu apa pun —meski pesawat mendarat hampir tengah malam. Kali ini pesawat malaikat yang membawaku pulang, gelinya dalam hati. Selamat enyah firasat buruk!

Aku datang, istriku! Aku pulang! Berpekik-pekik Lukman dalam diri. Tak sabar ia hendak menikmati perangah Zahra menyongsong kepulangannya. Namun, mengapa Lukman yang terperangah ketika mendapati pintu rumahnya tak terkunci serta lantai yang diceceri darah?
“Zah… raa…!?”

Medan, 2009

http://horisononline.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: