Ziarah

Ziarah

Cerpen Sanie B. Kuncoro
Dimuat di Jawa Pos

Apakah yang akan kita temukan pada sebuah ziarah?

Pada masa kecilku dulu, nenek selalu mengunjungi beberapa makam pada sebuah bulan tertentu. Makam-makam itu terbuat dari batu granit berbentuk tapal kuda, dengan gundukan tanah berumput di bagian tengah. Bongpay, demikianlah bangunan makam itu disebut. Di bagian depan, semacam altar, terpasang batu nisan terbuat dari marmer dengan tulisan China. Berbaris menurun huruf China itu, tak kupahami satu huruf pun. Bagiku, huruf itu lebih serupa potongan garis yang tak lurus, melengkung indah dan saling bertautan membentuk kelompok-kelompok kecil, yang membariskan diri sedemikian rupa. Itulah huruf kanji.

”Merekalah leluhur kita, Mak Co dan Khong Co,” begitu nenek memperkenalkan dan membacakan nama itu satu per satu. Jemari keriputnya menelusuri tiap pahatan huruf, kadang disertai dengan getar yang samar serta suara yang tercekat lirih.

”Itu namaku,” katanya kemudian ketika sampai pada barisan huruf paling bawah. Huruf itu berwarna merah, sementara huruf lain berwarna emas.

”Mengapa huruf nenek berbeda warna?” tanyaku.

”Sebagai pertanda bahwa pemilik nama itu masih hidup. Nanti suatu kali, mereka akan mengubah warna namaku serupa yang lain, bila saatnya tiba,” jawab nenek dengan nada makin melembut di akhir kalimat.

Aku tak terlalu paham ketika itu. Usiaku masih dalam hitungan sebelah jari tangan dan belum terpahamkan dalam diriku makna yang tersimpan pada kalimat ”bila saatnya tiba”. Bahwa penggalan kalimat itu merupakan metafora dari sebuah kematian. Tak pula kumiliki pengertian konsep kematian manusia. Kematian yang saat itu kutemukan adalah matinya nyamuk, semut, dan kecoak. Itu adalah pembinasaan yang kuinginkan karena kehadiran makhluk-makhluk itu sangat menggangguku. Gigitan nyamuk memunculkan bentol dan gatal pada kulitku, dan semut kerap mengerubungi permenku hingga membuat siapa pun tak hendak mengulum permen warna-warni itu lagi.

Kematian pertama yang kutangisi adalah ketika burung kenariku tergolek kaku di sangkarnya pada suatu pagi. Namun belum lama aku tersedu, ayah datang dengan kenari yang serupa di sangkar baru. Dan tangisku tak berlanjut.

Kenari baru itu mementahkan rasa kehilangan yang sempat mengaliriku oleh sebuah kematian. Maka, tak kupahami arti melirihnya suara nenek ketika mengatakan sebuah waktu yang akan tiba baginya.

Tradisi ritual ziarah itu selalu nenek lakukan pada suatu masa tertentu. Itu adalah yang disebut masa Cheng Beng, masa pada hari ke-9 di bulan ke-3 Saa Gwee pada perhitungan penanggalan China. Diyakini itu adalah suatu periode ketika penguasa langit membuka pintu alam lain di mana para arwah tinggal, sehingga arwah para leluhur bisa kembali ke bumi untuk bertemu kerabatnya yang masih hidup. Karena itulah ziarah kubur dilakukan pada bulan itu.

Oleh karena itu, nenek selalu membawa beberapa sajian tertentu, yang merupakan sajian kesukaan para mendiang. Sajian itu ditaruh pada beberapa mangkuk kecil, lengkap dengan sumpitnya dan diletakkan di depan batu nisan. Nenek kemudian menyalakan dupa dan melakukan sembahyang dengan gerakan hormat yang takzim. Sojah, begitulah gerak penghormatan itu dinamakan.

Lalu sesudah itu dinyalakan beberapa batang dupa untukku.

”Kau juga harus sembahyang, perkenalkan dirimu pada para leluhur kita,” katanya sembari mengarahkan tangan kecilku menggerakkan dupa. Itu adalah sebuah gerak berupa ayunan kecil mengarah ke atas.

”Mak Co dan Khong Co, ini aku datang,” bisik nenek memintaku untuk mengikuti ucapannya, ”Berilah aku berkat, bantulah membuka pintu rezeki untukku.”

Kulakukan semua tuntunan itu walau sesungguhnya tidak kutemukan apa pun dalam ritual itu. Tidak kurasakan kesinambungan ingatan apalagi perasaan terhadap leluhur yang tertanam dalam makam-makam besar nan bersih bernisan batu marmer itu. Kutahu sosok mereka melalui foto-foto hitam putih yang telah pudar warna. Tak kurasakan keterkaitan perasaanku dengan mereka, melainkan kesinambungan garis darah semata.

Sesungguhnya, gerangan apa yang akan ditemukan dalam sebuah ziarah?

Kulakukan tradisi itu berulang-ulang tanpa kutemukan jawaban apa pun. Hingga pada suatu ketika. Itu adalah sesudah nenek tidak terbangun lagi dari tidurnya pada suatu pagi.

Nenek selalu mengatakan bahwa beliau akan berangkat pada suatu pagi. Baginya, itu adalah waktu keberangkatan yang terbaik. Mengapa? Karena ada tiga rezeki dalam sehari, yaitu rezeki sarapan, makan siang, dan makan malam. Dengan berangkat dini hari sebelum masa sarapan, maka artinya nenek meninggalkan seluruh keutuhan rezekinya pada pewarisnya. Tanpa merenggut satu bagian pun. Demikianlah filosofi waktu kematian yang diyakini nenek dan dipercayanya dengan sungguh-sungguh.

Aku menangis tersedu berhari-hari namun ayah tak juga membawa nenek yang ”baru”, seperti saat dibawanya kenari baru penghenti tangisku. Lalu nama nenek di batu nisan leluhur itu berubah warna, bahkan kemudian nenek memiliki batu nisan marmernya sendiri dengan namaku ada di barisan paling bawah.

Lalu setiap kali bulan Ceng Beng tiba dan kulakukan ritual ziarah, maka yang kutemukan kemudian adalah jejak-jejak perjalanan pada sebuah masa silam. Seakan kulalui sebuah jalur perjalanan yang pernah kutelusuri pada suatu ketika, yang kuhafal setiap kelokan dan persimpangannya. Dan ketika kaki melangkah menjejaknya, maka setiap langkah menghadirkan kembali ingatan-ingatan yang berserak. Itu adalah ingatan tentang petuah yang dituturkan dengan lembut, tentang pijatan yang lunak pada kaki setiap malam menjelang tidur, tentang genggaman jemari yang menuntun. Jemari yang keriput namun menyimpan hangat yang tangguh. Jemari nenek.

Kemudian tahulah aku, itulah sesuatu yang bernama kenangan.

Kenangan yang setiap kali menempatkan aku pada suatu ketika pada sebuah masa yang telah silam dan hendak kujelajahi sampai pada sudut-sudut terjauhnya. Seakan-akan ingin kumiliki kembali masa itu, sebuah masa yang selalu membuatku ingin kembali menelusurinya. Namun waktu selamanya tidak pernah kembali, maka kemudian di situlah rinduku bermuara. Tentang hal-hal yang tak selesai, tentang kalimat yang tak terucap, tentang perasaan yang tak terungkap.

Maka, kemudian kutemukan tentang arti keberadaan seseorang. Bahwa sesungguhnya keberadaan itu lebih nyata, makin nampak justru ketika seseorang telah pergi. Lalu kerinduan itu mengaliriku, berbaur dengan kepedihan yang menikam. Begitu kuat aliran itu, membuatku sungguh ingin kembali pada sebuah masa, pada suatu ketika di masa lalu.

Setiap kali kulakukan ziarah, aku seakan tak ingin beranjak dari tempat itu. Mengusap nisan marmer, menelusuri lekuk huruf nama nenek, seakan serupa dengan menelusuri tonjolan urat pada jemarinya yang keriput. Kutemukan kembali rasa hangat yang menenangkan itu, meski tak termungkiri marmer itu dingin belaka. Tapi sungguh ada rasa yang entah dari mana datangnya, perasaan bahwa nenek sedang berada di sekitarku, entah pada sisi sebelah mana.

Dulu sekali, di masa kecilku, setiap kali aku harus buang air di tengah malam, maka nenek akan berjaga di depan pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Lalu dia akan bersenandung sembarang lagu, sekadar untuk meyakinkanku bahwa dia ada dan tidak meninggalkanku.

Rasa itulah yang setiap kali menghampiriku kini dalam setiap ziarahku kepadanya di bulan Cheng Beng. Semacam rasa ditenangkan kembali karena beliau berada di dekatku. Sungguhkah nenek benar-benar kembali menghampiriku? Ataukah itu sekadar romantisme jejak kenangan yang seakan ditelusuri ulang dalam sebuah ritual ziarah?

Kutemukan jawabannya pada suatu ketika.

”Pernahkan berpikir tentang siapakah di antara kita yang akan pergi terlebih dahulu?” tanyaku suatu ketika pada seseorang, yang kepadanyalah kusandarkan hatiku.

”Aku selalu ingin kita akan berangkat bersama,” jawab kekasihku dengan sepenuh keyakinan.

”Tidak banyak hal yang terwujud sesuai keinginan. Bahkan pasangan seabadi Romeo-Juliet pun harus bersimpang waktu.”

”Itu karena Shakespeare tahu bagaimana harus mengabadikan kesedihan pembacanya. Kenangan pembaca justru makin melekat ketika Romeo dan Juliet masing-masing harus mengalami tragedi kematian pasangannya. Romeo mengira Juliet sungguh mati dalam kematian sementaranya, dan Juliet melihat kematian Romeo yang sesungguhnya.”

”Berharap saja bahwa sang Pemilik Hidup tidak sedang ingin dramatisasi serupa itu saat memberangkatkan kita.”

”Aku hanya mau meninggalkan, bukan sebaliknya, maka aku akan berangkat terlebih dahulu,” kataku.

Kekasihku berpaling, seakan tak hendak mendengar perkataanku.

”Bila itu terjadi, apakah kau akan menziarahiku?” lagi, aku bertanya.

Kekasihku tidak menjawab, melainkan memelukku erat. Pelukan yang sedemikian erat, bahkan lebih dalam dari pelukan kuatnya saat memasukiku.

Seerat itu pula dekapannya ketika aku berangkat pada sebuah pagi. Itu adalah sebuah hari yang begitu muda, ketika kabut masih melayang di depan pintu dan embun pagi belum mengering dari helai dedaunan.

Namun penjemput itu telah menyambangiku, bahkan tanpa memberi kesempatan untuk mengucapkan salam pamit.

Apakah aku sungguh ingin berangkat? Entahlah, pelukan kekasihku masih menghangatkan dan menenteramkan dan pula masih kuinginkan. Namun ketika sang penjemput itu tiba, nyatalah bahwa tak lagi kumiliki hak pilih, apalagi kemampuan untuk menghindar meski hanya penundaan, maka berangkatlah aku.

***

Kutemukan jawaban dari semua ziarahku.

Kekasihku datang. Dibawanya beberapa kuntum melati gambir, agaknya ingin disuntingkannya bunga itu di telingaku, seperti yang kerap kali dilakukannya.

Kusambut dia sepenuh hati, kujemput langkahnya sejak di awal gerbang. Kurebahkan diri pada punggungnya saat dia duduk di samping bongpay. Ah, mengapa tak kudapatkan kehangatan tubuh yang dahulu merambati punggung itu? Kupeluk punggung itu, kucari-cari denyutnya yang tersimpan di dataran itu. Ingin kuhirup alunan napas, yang dahulu pernah kupunya.

Lalu datang ingatan itu, tentang suatu ketika saat kami berbagi denyut dan napas yang sama. Denyut yang terbagi saat mendaki sesuatu, melalui suwung yang magis saat saling memasuki. Napas yang sama dalam ketunggalan, siapa berada di antara siapa? Apakah aku di dalammu, ataukah kau di dalam aku?

Aku terbawa dalam pusaran. Pusaran itu mengalirkanku pada suatu arus. Arus segala masa saat aku bersama seseorang. Diri kekasihku di dalam arus itu, bersama kami dalam pusaran itu, berputar serupa spiral. Berpeluk erat aku padanya, bersandar penuh karena begitu kuat pusaran itu mengayun dan menggerus.

Ada yang memudar kemudian. Dirimu kekasih atau justru aku
sendiri?

Kekasihku beranjak, terlepas dari dekapanku. Aku terhuyung berpegang pada pelukan yang goyah.

”Jangan pergi,” seruku menghadang langkah menjauhnya, ”Bahkan melati gambir itu belum kau sematkan di rambutku.”

Langkahnya tak terhenti. Aku memburu, gerakku bergegas serupa melayang.

Dia berhenti sesaat, menengok ke belakang seakan mencari sesuatu. Terhela napasnya kemudian saat yang ditemukannya kekosongan belaka. Matanya nanar mendapati melati gambir bergeming tak terjamah.

”Kembalilah padaku,” aku memohon, bergema permintaanku, terpantul dari helai daun-daun yang gugur melayang. Sampaikah salah satu pantulan itu padamu?

Di kejauhan, sehelai daun menjatuhi pundaknya. Bergulir, kemudian rebah di ujung kaki berbalut sepatu.

Lagi aku akan memanggil, kucari daun gugur melayang. Namun gelengan kepala nenek, serupa larangan tak terbantah.

”Mengapa?” tanyaku.

”Pusaran masamu dengannya telah selesai. Dirimu kini telah menepi dari putaran, sementara dia akan meneruskan sejarahnya sendiri.”

”Tapi padanya kutemukan denyut nadi dan napas yang pernah
kupunya.”

”Itulah ruang kosong saat sejarah bersimpang jalan. Tertemukan saat ziarah, meski tidak selalu.”

Itulah jawab dari semua ziarahku.

Adalah tidak kurasakan apa pun pada ziarah Mak Co dan Khong Co, sementara ada yang tertinggal saat usai menziarahi nenek. Adalah karena tak kumiliki persilangan sejarah ataupun pertemuan masa diriku dengan mereka, seperti yang terpahat dalam sejarah waktuku bersama nenek.

Inilah yang ada padaku sekarang. Aku melintas dalam masa pinjaman di dalam hati kekasihku. Aku melayang, rebah di dalam benaknya sesaat lalu pada sebuah ziarah.

Kekasihku memutar tubuh, melanjutkan langkah menjauhnya. Meninggalkan sehelai daun di ujung kaki rebah terabaikan. Mataku terpejam menelusuri kehilanganku, sejauh lorong labirin setengah kekal.

”Ada suatu ketika sejarah bersama itu akan kembali,” nenek berbisik, lirih menyerupai desir angin yang melata di antara alang-alang, ”Suatu ketika, meski mungkin tak lagi utuh bahkan terperangkap keasingan yang sayup.”

Namun, akankah aku rebah selamanya di dalam benak kekasihku sebagai penghuni tunggal, sama seperti kuhuni ruang hati nenek?

Kusimpan pertanyaan itu. Barangkali akan kutemukan jawabannya pada ziarah selanjutnya.

Tapi Kekasih, akankah selalu tersedia ziarahmu bagiku?

Serupa jemputan nenek di awal keberangkatanku?

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: