Perang Melawan Diri Sendiri.

Mewaspadai Nafsu

Syekh Abdul Qodir Al Jaylani:
Wahai anak-anak sekalian, bila anda ingin bahagia, maka lawanlah dirimu (nafsumu) dalam rangka berselaras dengan Tuhanmu Azza wa-Jalla, taat kepadaNya, sekaligus dalam rangka kontra terhadap maksiat
padaNya.
Hijabmu adalah karena anda tidak mengenal makhluk. Sedangkan makhluk itu adalah hijabmu untuk tidak mengenal Khaliq Azza wa-Jalla. Sepanjang dirimu bersama dirimu, anda tak mengenal makhluk. Sepanjang dirimu bersama makhluk, anda tidak mengenal Tuhanmu Azza wa-Jalla. Sepanjang dirimu dengan dunia, anda kehilangan akhirat. Sepanjang dirimu bersama akhirat anda tidak mengenal Tuhannya akhirat. Raja dan yang dirajai (budak) tidak bisa bergabung, sebagaimana dunia dan akhirat tidak pernah berpadu. Begitu pula makhluk dan Khaliq tidak bisa dicampur.
Nafsu selalu memerintahkan pada keburukan, karena memang demikian watak naluriyahnya. Sampai kapan anda diperintah oleh Qalbu dalam segala hal, dan anda tidak butuh lagi nafsu. Maka perangilah nafsumu.
“Allah mengilhamkan pada nafsu akan pengingkaran dan ketaqwaannya.” (Asy-Syams: 8)

Maka bersihkan nafsu itu dengan perjuangan jiwa. Karena jika nafsu sudah bersih dan sirna, ia akan menentramkan diri pada qalbu, lalu ketentraman qalbu menyandar pada rahasia jiwa (sirr), dan Sirr menuju Al-Haq Allah Azza wa-Jalla, taat padaNya. Jika hal ini tidak berhasil jangan berharap anda akan terbebas dari kotoran dan keburukannya.

Bagaimana bisa dekat, dengan Sang Maha Diraja, tanpa adanya kesucian dari berbagai najis. Karena itu pendekkan imajinasi nafsu itu, maka ia bisa patuh kepadamu. Nasehati melalui nasehat Rasulullah saw.
“Bila pagi hari, jangan bicara pada nafsumu tentang sore hari. Jika sore hari jangan bicara pada nafsumu tentang pagi hari. Karena anda tidak tahu bagaimana nasib namamu besok pagi.” (Ditakhrij oleh Az-Zubaydy dalam Ithafus Saadatil Muttaqin)

Anda merasa kasihan pada nafsumu dibanding yang lain, pada saat yang sama anda telah menelantarkannya. Bagaimana yang lain kasihan padanya dan melindunginya? Kekuatan naluriyah dan ambisi yang membebanimu, membuatmu berat untuk meninggalkan nafsumu. Karena itu berjuanglah memeranginya dengan memperpendek imajinasinya dan meminimalisir ambisinya, mengingat maut, fokus pada Allah Azza wa-Jalla, berobat melalui jiwa para Shiddiqun dan kalamnya, disamping dzikir yang benar-benar jernih dari kotoran, siang dan malam.

Katakan pada nafsumu, “Bagimu keuntungan yang kamu kerjakan, dan resiko atas tindakanmu. Tak satu pun yang menyertai keuntunganmu, juga tidak memberikan sesuatu padamu, karena itu haruslah beramal dan mujahadah. Kawanmu adalah yang mencegahmu, dan musuhmu adalah yang menyesatkanmu. Karena saya melihat dirimu bersyukur pada selain Allah Azza wa-Jalla atas nikmat-nikmatNya. Engkau memberikan haknya nafsu dan makhluk, tapi engkau menggugurkan Haknya Allah Azza wa-Jalla. Padahal anda tahu bahwa ni’mat-ni’mat itu dari Allah Azza wa-Jalla, lalu mana syukurmu? Bahkan anda pun tahu bahwa Allah Ta’ala menciptamu, lalu mana ibadah, melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya serta sabar atas cobaanNya.” Perangi nafsumu hingga engkau dapat hidayah.
Allah swt berfirman:
“Dan orang-orang yang berjuang melawan dirinya dalam rangka menempuh pada Diri Kami, niscaya akan Kami beri hidayah mereka, jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut: 69)

“Apabila kamu memohon pertolongan Allah, maka Allah akan menolong kalian dan mengokohkan pijakan kalian.” (Muhammad: 7)

Karena itu anda jangan memberi toleransi pada nafsu, jangan patuh dan jangan taat, anda pasti menang dan bahagia. Jangan tersenyum pada wajahnya, jawablah dari seribu kalimatnya, jawaban yang bisa membersihkan dirinya dan menentramkan pada hati. Jika nafsu menuntut syahwat kesenangan dan kelezatan, dan apa jaminan dan akhirnya? Katakan pada nafsu, bahwa tempatmu nanti syurga. Sabarkan nafsumu atas kegagalan yang pahit, hingga Allah memberikan anugerahNya. Jika anda sabar dan bisa menyabarkannya, maka Allah azza wa-Jalla bakal menyertainya.[pagebreak]
“Sesungguhnya Allah menyertai orang-orang sabar.” (Al-Anfaal: 46) Jangan terima ucapan dan interupsi nafsu, karena ia tidak berkata kecuali menjurus keburukan. Jika anda mulai menyenangi nafsu, segera lawan. Karena melawannya pasti mendatangkan kebaikan.

Wahai orang yang mengaku berserasi dengan kehendak Allah swt, sedangkan dirimu mengikuti hawa nafsumu, engkau dusta dalam pengakuanmu. Nafsu dan Allah Azza wa-Jalla tidak pernah berpadu. Dunia akhirat pun demikian. Siapa saja yang berteguh pada nafsunya, ia telah kehilangan berteguh pada Allah Azza wa-Jalla. Siapa yang wuquf di dunia, ia akan kehilangan wuquf di akhirat. Nabi saw, bersabda:
“Siapa yang mencintai dunianya, akan mencederai akhiratnya. Siapa yang mencintai akhiratnya, dunianya akan tercederai.” (Hr Imam Ahmad)

Sabarlah. Jika sabarmu sempurna, maka ridlomu juga sempurna. Semuanya sangat indah di hadapanmu, apa pun yang terjadi merupakan manifestasi rasa syukurmu, yang jauh jadi dekat, yang syirik berubah tauhid, dan anda tidak peduli dengan ancaman maupun manfaat dari makhluk, tidak memandang kontradiksi, bahkan pintu-pintu menyatu, arah hanya satu. Suatu kondisi yang tidak banyak dijadikan pegangan oleh orang, bahkan hanya individu-individu, dari 1000 orang, hanya satu orang saja yang mampu memutus hawa nafsunya.

Berjuanglah agar mati di sisiNya Azza wa-Jalla. Berjuanglah agar dirimu mati sebelum engkau mati. Hiburlah dengan kesabaran dan perlawanan terhadap dirinya. Dalam waktu dekat kesabarannya akan memujinya. Kesabaran itu dibatasi waktu dunia, sedangkan balasan atas kesabaran tidak pernah sirna. Aku sabar, dan aku melihat dampaknya, sangatlah positif terpuji. Aku mati, kemudian Dia menghidupkan aku, kemudian mematikanku. Aku hilang dari diriku, kemudian Dia menemukanku, lalu menghilangkanku, lalu aku sirna besertaNya, dan maujud denganNya. Aku berjuang untuk tidak memilih dan berkhasrat sampai sukses, hingga takdir membimbingku dan anugerahNya menolongku, tindakanNya menggerakkanku, kecemburuanNya melindungiku, hasratNya memberikan kepatuhanku padaNya, serta kehendakNya yang dahulu mendahului kehendakku, Allah azza wa-Jalla mengangkat
derajatku.

Anak-anak sekalian…Anda lari dariku, sedangkan aku gurumu. Jagalah posisimu di hadapanku, jika tidak, anda akan hancur. Hai orang yang menempuh, datanglah dulu kepadaku, baru datang ke Baitullah. Akulah pintu Ka’bah, kemarilah, aku ajari bagaimana haji yang benar, di mana anda bicara dengan Yang Punya Ka’bah.
Anda pun bakal tahu, ketika debu-debu tampak, maka duduklah, dan berpeganglah pada kendali yang ada padaku, karena aku diberi kekuatan oleh Allah Azza wa-Jalla.

Kaum sufi telah memerintahkan kalian atas apa yang diperintah Allah Azza wa-Jalla dan melarang kalian atas apa yang dilarang oleh Allah Azza wa-Jalla. Mereka benar-benar telah memberikan nasehat padamu, dan mereka menyampaikan amanah itu.

Beramalah di negeri hikmah sampai kalian pada negeri Qudrat. Dunia adalah negeri hikmah, dan akhirat adalah negeri Qudrat. Hikmah membutuhkan piranti dan alat, sebab akibat, sedangkan Qudrat tidak butuh semua itu. Allah melakukan semua itu demi membedakan antara Darul Hikmah (dunia) dan Darul Qudrat (akhirat). Akhirat itu bangunan tanpa sebab, yang bicara pada ragamu dan yang melihat amalmu atas kemaksiatan-kemaksiatanmu kepada Allah Azza wa-Jalla.
Di hari kiamat nanti segala tirai tersingkap dan segala tirai yang menutupimu terbuka, terserah anda semua. Tak seorang pun masuk neraka kecuali dengan hati yang beku karena banyaknya tumpukan alasan. Bacalah Kitab dan Sunnahmu dengan fikiranmu, lalu tobatlah dari keburukan dan bersyukurlah atas kebajikan-kebajikan. Batasilah catatan kemaksiatanmu dan timpahkan di lembarannya dengan pukulan taubat.

Anak-anak sekalian…Kalian telah tumbuh di tanganku, jika kalian tidak menerima apa yang aku ucapkan, kalian tidak meraih manfaat dariku. Anda hanya melihat rupa tapi kehilangan makna. Siapapun yang berguru padaku haruslah menerima apa yang aku ucapkan dan mengamalkan. Jika tidak jangan berguru padaku, karena bakal merugi.
Aku telah menyajikan sajian di meja, tak seorang pun mau memakannya! Pintu sudah terbuka tak seorang pun memasukinya. Akh! Apa yang kulakukan padamu? Apa yang kukatakan padamu? Berapa kali aku bicara dan kalian tidak mendengar! Aku hanya demi kalian, bukan demi diriku. Aku tidak takut kalian, tidak berharap kalian, tidak kubedakan antara negeri kemakmuran maupun kerobohan, antara yang hidup dan mati, antara yang kaya dan miskin, antara raja dan budak. Semuanya ada di Tangan Allah azza wa-Jalla. Ketika cinta dunia keluar dariku, mak aku benar, lalu bagaimana tauhid anda benar sedang di hatimu ada cinta dunia. Tidakkah anda dengar sabda Nabi saw:
“Cinta dunia itu adalah pangkal segala kesalahan.” (Takhrij az-Zubaidy)
[pagebreak]
Sepanjang anda memulai, membiasakan, mencari, menempuh jalan menuju Allah, maka sepanjang itu pula cinta dunia sebagai pangkal kesalahan. Jika anda telah sampai pada kedekatan dengan Allah swt, anda pun senang dengan bagian seberapa pun di dunia, anda tidak suka jika mendapatkan bagian yang diberikan pada selain dirimu. Rasa cinta itu didasari oleh pengetahuan anda bahwa Allah Azza wa-Jalla telah menakdirkan padamu, dan anda menerima dengan suka cita, sama sekali tidak menerima yang lainnya.

Bagimana anda bisa menoleh ke yang lain sedangkan hati anda ada di hadapanNya Azza wa-Jalla sebagaimana ahli syurga dalam syurganya? Semua yang berjalan pada diri anda adalah dari Allah Azza wa-Jalla Sang Kekasih, karena anda menghendaki melalui kehendakNya, dan memilih melalui pilhanNya, yang beredar melalui KekuasaanNya, sementara seluruh hal selain Allah Azza wa-Jalla putus dari hatimu, maka dunia dan akhirat tunduk padamu, dan yang anda raih adalah bagian dariNya, cintamu bukan pada sesuatu darimu tetapi dariNya.
Orang munafiq yang suka pamer, dan suka kagum pada amalnya sendiri itu, tetap saja puasa siang hari dan tahajud malam hari, makan makanan kasar, berpakaian sahaya, padahal batin dan lahirnya gelap. Tak satupun kakinya melangkah kepada Tuhannya Azza wa-Jalla, dan dia tergolong orang yang bekerjakeras namun penuh kepayahan. Di mata kaum pilihan Shiddiqun dan Washilun rahasia batinnya tampak semuanya. Hari ini mereka bisa dilihat kaum khawash (kalangan khusus ruhani) dan esok di akhirat semuanya akan melihatnya.

Kaum khawash melihatnya dengan hatinya, namun mereka menutupinya dengan Tirai Allah Azza wa-Jalla. Kemunafikan anda semua jangan dibaur dengan kaum sufi, sepanjang anda tidak mau menyingkirkan jiwa munafiqmu. Tak ada nasehat bagimu sepanjang anda tidak memutuskan ikatan kemunafikan itu, sepanjang anda tidak memperbarui Islammu, mewujudkan taubatmu, keluar dari rumah watakmu, hawa nafsumu, wujud eksistensimu dan menarik manfaat serta meninggalkan bahaya darimu.

Sedangkan anda membiarkan hati anda di lorong sempit, membiarkan batinmu dalam pengkhianatan di hadapan Tuhan. Segeralah kembali pada fondasi, lalu membangun. Asasnya adalah faham agama. Faham qalbu bukan faham wacana. Faham dalam qalbu mendekatkan diri anda pada Allah Azza wa-Jalla, sedangkan faham menurut wacana hanya mendekatkan diri anda kepada makhluk dan penguasanya. Faham dalam qalbu membiarkan dirimu berada dalam majlis taqarrub kepada Allah Azza wa-Jalla, mendekatkan langkahmu menuju Tuhanmu Azza wa-Jalla.

Celaka anda ini. Anda menelantarkan dirimu dalam zaman di mana anda mencari ilmu tapi tidak mengamalkan. Anda pada pijakan kebodohan karena anda berbakti pada musuh-musuh Allah Azza wa-Jalla, musyrik bersama mereka. Padahal Allah Ta’ala tidak butuh dirimu, atas apa yang anda jadikan tuhan selain Dia. Allah tidak mau menerima kemusyrikanmu. Apakah anda ini tidak tahu bahwa anda adalah budak yang dikendalikan olehNya?

Bila anda mau bahagia, tinggalkan kendali di hatimu, demi kendali di Tangan Al-Haq Azza wa-Jalla, bertawakkal padaNya secara total lahir dan batin. Jangan curiga kepadaNya Azza wa-Jalla, karena Dia tidak bisa dicurigai, sebab Dialah yang lebih tahu kemaksiatanmu dibanding anda. Dia Maha Tahu dan anda tidak tahu.

Seharusnya anda diam di hadapanNya, bersembunyi dan bersunyi diri hingga datang kepadamu izin dariNya untuk bicara. Maka anda pun bicara bersamaNya, bukan bersama diri anda. Ucapanmu menjadi obat bagi hati yang lara, dan obat bagi rahasia batin, sekaligus pencerah bagi akal.

“Ya Allah cahayailah hati kami, tunjukkan padaMu, dan bersihkan rahasia batinku, dan dekatkanlah padaMu.
Ya Tuhan berikanlah kami kebajikan di dunia, dan kebajikan di akhirat, dan lindungilah.

http://www.sufinews.com/

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: