Sitroh

Sitroh

Cerpen Sobirin Zaini
Dimuat di Riau Pos

HATI perempuan mana yang tak curiga dan risau kalau suaminya tiap malam tak pulang, Bang. Padahal dia tahu kalau pekerjaan di kantor taklah sampai memakan waktu sebegitu, ujar Sitroh pada suaminya pagi itu. Kata-kata yang beberapa hari ini ditahannya akhirnya muntah juga. Semua karena lelaki berkumis yang berada di hadapannya hampir dua pekan ini selalu tak pulang malam, tidur di kantornya dan baru pulang saat matahari sudah meninggi. Padahal dia tahu, pekerjaan suaminya di perusahaan surat kabar itu tak sampai semalam suntuk seperti itu, hingga harus menginap dan pulang pagi. Di samping itu, dia juga tahu, meski sudah tengah malam, sebelum ini lelaki itu pasti pulang. Menggedor pintu saat dia dan Zahra anak perempuan satu-satunya itu sudah terlelap.

Ah, berapa kali hendak aku cakapkan dengan dikau, Roh. Perusahaan abang tu hampir nak tersungkur. Beberapa karyawan yang seharusnya datang jadi tak datang, karena gaji mereka sebulan ini tak dibayar. Dan kau kan tahu, Roh. Abang di sana tu redaktur senior kepercayaan bos, jadi kalau mereka dah merajuk seperti itu, semua pekerjaan yang seharusnya dikerjakan mereka jadi abang yang menggantikannya. Ha, beginilah jadinya, ujar Jolan pada istrinya yang bahenol itu mengelak.

Yalah, pasti itu alasan abang. Dua hari lalu juga itu yang abang cakap. Kalau anak buah abang sendiri saja sudah merajuk karena tak dibayar gaji, kenapa abang masih hendak bertungkus lumus begitu? Sitroh menjawab sekaligus bertanya. Suaranya mulai meninggi.

Sekali lagi kau tak paham! Jangan samakan abang dengan mereka, Roh. Kalau itu yang awak tanyakan, dah lain jadinya. Loyalitaslah masalahnya. Untuk kau tahu, kalau mereka sekarang berhenti pun, itu takkan membuat mereka menyesal. Karena mereka wartawan. Wartawan di lapangan cari duit gampang, Roh. Tak macam abang yang harus mengeram di kantor. Mengharapkan pada gaji yang abang punya. Lagipun, perusahaan takkan rugi kalau memberhentikan wartawan-wartawan itu, karena memang mereka dah mulai tak loyal dengan perusahaan. Tengoklah, dah berjuta-juta duit masuk kantong mereka, satu sen pun tak masuk ke kas perusahaan. Kalau abang orang dalam yang diharapkan juga seperti mereka, ha, alamatlah, Roh. Perusahaan abang tu akan benar-benar tutup. Betul-betul akan telungkup. Kalau dah telungkup, apa nak jadi? Balas Jolan panjang lebar pula setelah mendengar ucapan Sitroh istrinya itu. Sitroh terdiam. Dalam pikirannya selintas keadaan itu dapat dipahaminya. Semua kecurigaan dan kerisauan yang berselemak dalam benaknya seperti luntur seketika. Tapi itu hanya sekejap. Rasa itu nampaknya sudah terlanjur membatu, jadi serupa kristal yang membeku. Dan ujung-ujungnya, dia merasa jadi tak puas juga. Kecurigaan dan kerisauan tentang segala macam kemungkinan yang berkelebat itu dengan mudah datang kembali. Hingga justru tiba-tiba timbul semacam niat di hatinya, niat untuk mencoba kembali menurutkan rasa kecurigaannya. Mencari tahu dan menyelidiki kebenaran dari semua yang telah diucapkan Jolan suaminya itu.

Dan lelaki itu tak disadari tiba-tiba sudah tak lagi di hadapannya. Jolan telah masuk ke dalam kamar. Lelaki itu masuk saat Sitroh asyik berpikir dan berniat untuk melakukan penyelidikan itu. Sementara selama dua minggu ini, setiap kali pulang lelaki itu langsung merebahkan diri ke ranjang tanpa sempat melepas pakaian yang dikenakannya. Dan jelas itu membuat Sitroh jadi tahu, kalau lelaki itu semalaman memang tak tidur di tempat kerjanya. Karena tak lama setelah itu, dia mendengar lelaki bertubuh tambun itu mulai mendengkur. Lelap dengan mimpi siang harinya. Mimpi yang diciptakan hembusan angin lewat ventilasi jendela kamar itu. Jendela yang dari pagi memang belum sempat terbuka.

Kini Sitroh kembali sendiri. Kesunyian yang tak diinginkannya itu menyergap. Sungguh sebuah hal yang tak pernah diinginkan dan tak pernah terjadi selama ini. Setelah sekian tahun menjadi istri lelaki itu, kesunyian yang tak sunyi seperti tiba-tiba terjadi. Kesunyian yang membuat semua kenormalan dalam hidupnya jadi tak normal. Selayaknya, lelaki itu memang ingat tentang hal yang semua orang tahu, kalau sebagai suami, dia tak hanya wajib memberi nafkah lahiriah semata, tapi juga batiniah tentunya. Memang, sebagai manusia normal yang butuh kesejahteraan dan kesenangan hidup, peduli dengan masa depan mereka dan anaknya, Sitroh sendiri juga tak bisa nafikan jika apa yang dilakukan suaminya untuk bekerja keras adalah demi memenuhi tuntutan itu. Tapi, kalau justru hal demikian membuat dua faktor dalam keluarganya jadi tak imbang, dia sebagai istri tentu jadi tak setuju. Tak setuju karena memang hidupnya tiba-tiba serasa jadi tak normal. Membuat semua jadi sunyi sementara hakikatnya bukanlah sunyi, tapi hanya karena satu dari dua hal itu tak dapat dipenuhi oleh lelaki itu sebagai seorang suami.

Dan benarlah, ini tak boleh jadi, pikir Sitroh. Siapa yang tahan? Jolan suaminya itu seperti tak selera lagi melihatnya sejak ia kerap pulang pagi dua minggu belakangan ini. Seperti tak hirau lagi dengan tubuhnya yang bahenol dan wajahnya yang molek itu. Kerap langsung masuk kamar dan tertidur mendengkur. Tak lagi pernah menemaninya membantu membuat sarapan pagi jelang berangkat kerja seperti sebelum-sebelumnya. Juga menyapa Zahra anak perempuannya dengan mengelus-elus rambutnya seperti kerap dilakukannya setiap pulang malam dulu. Ah, ini memang tak bisa dibiarkan, pikirnya. Meski dia sadar jika apa yang diucapkan Jolan suaminya itu bisa jadi memang benar, tapi paling tidak, seharusnya ada solusi lain yang dapat dijadikan alternatif untuk menyiasati dan mengantisipasi persoalan ini. Coba mengusulkan ke perusahaan untuk membuat semacam ship, misalnya. Atau mengusulkan untuk dicarikan seorang asisten yang dapat menggantikan posisinya bekerja semalaman itu. Asal penggantinya itu bujangan. Kalau tidak, tentu istrinya juga tak rela. Atau apa sajalah selain itu, yang dapat jadi solusi lain hingga memungkinkan Jolan suaminya tak lagi harus pulang pagi seperti saat ini. Ya, Sitroh jadi memikirkan itu.

Tapi, kapan dia bisa mengutarakan hal itu pada suaminya jika seharian lelaki itu tak juga bergerak dari tempat tidurnya? Kapan dia bisa mengajak lelaki itu duduk barang sebentar setelah bangun tidur, jika selesai mandi pun lelaki itu langsung menghidupkan mesin motornya dan tancap gas meninggalkannya? Tampaknya hal yang dipikirkannya itu juga bukan perkara mudah. Bukan cara terbaik yang dapat dilakukannya. Hingga hatinya tiba-tiba merasa berat. Benaknya jadi buntu. Tak dapat berpikir secara jernih untuk mencari solusi lain yang dapat dilakukan selain apa yang dipikirkannya. Sampai sekelebat perasaan curiga itu pun kini muncul lagi. Kecurigaan dan kerisauan itu. Karena dari semula, hati Sitroh sendiri memang ragu menerima alasan yang diberikan suaminya itu. Hingga dalam kepalanya kini telah bulat untuk melakukan sebuah upaya penyelidikan. Sitroh diam-diam mencari tahu dengan bertanya pada sejumlah teman-teman dekat Jolan. Namun karena menanyakan hal itu dengan menemui mereka satu persatu serasa tak mungkin, maka dia kemudian coba mencari kertas atau buku kerja Jolan yang ada di meja ruang tengah. Mencari nomor ponsel teman-teman sekantor suaminya itu untuk segera dihubungi lewat telepon.

Dan akhirnya nomor itu pun berhasil didapat. Sejumlah nama-nama sekaligus jabatan di perusahaan surat kabar suaminya itu ada dalam buku kerja itu. Lalu dia bergegas bersiap-siap untuk segera menuju wartel yang ada di ujung jalan perumahan tempat tinggalnya. Mengambil Zahra anak perempuannya itu dari kamar untuk segera dikenakan sweeter dan dibawa
bersamanya.
***

ANGIN malam seperti lesu. Langit menyembunyikan bulan di bawah ketiaknya. Sinarnya tertahan. Tertahan oleh mendung yang hitam dan menggumpal.

Sitroh telah menginjakkan kakinya di teras wartel di ujung jalan perumahan itu. Zahra tampak membatu di gendongannya. Dia langsung menuju salah satu kamar telepon yang dilihatnya kosong. Sesampai di situ, buku kerja Jolan suaminya yang telah disiapkan dari rumah tadi dibuka. Ia mencari salah satu nama dan jabatan yang tertera. Ada Hasan pemimpin redaksi, Tumin wakil pemimpin redaksi, juga Rusdi, koordinator liputan. Sitroh bingung. Entah mana dari sekian nama dan jabatan itu yang tepat untuk dihubungi agar dapat membantunya mencari informasi itu. Tapi, setelah sebentar berpikir, dia kemudian memilih Hasan, pemimpin redaksinya.

Hanya sekitar lima menit saja dia tampak bercakap-cakap dengan lelaki bernama Hasan lewat telepon itu. Wajahnya tiba-tiba memucat. Seperti ada sesuatu yang begitu mengejutkan jantungnya dan memaksanya untuk bergerak lebih cepat. Ada semacam suara yang menggelegar di telinganya lewat telepon itu. Ya, benarlah. Tak salah dia memilih dan memberanikan diri untuk coba mencari tahu dan menanyakan langsung kepada teman suaminya tentang apa sebenarnya yang terjadi di perusahaan surat kabar itu. Hasan, pemimpin redaksinya sendiri yang kini telah mengatakan semuanya. Telah menjelaskan keadaan sebenarnya. Dan Sitroh tak mungkin tidak mempercayai informasi yang diberikan Hasan. Karena tak mungkin pula orang semacam Hasan sebagai pemimpin redaksi sebuah surat kabar ingin berbohong padanya. Atau ingin coba bersekongkol dengan Jolan suaminya untuk tidak mengatakan hal sebenarnya.

Ya, ternyata, tak ada satu pun masalah yang terjadi di perusahaan surat kabar itu, seperti yang dikatakan Jolan kepadanya. Surat kabar itu masih tetap terbit. Masih setia hadir menemui pembacanya. Bahkan menurut Hasan, kini surat kabar itu ingin menambah oplahnya dari jumlah semula dan akan mendatangkan mesin cetak sendiri. Ah, Sitroh benar-benar telah dibohongi. Bagaimana mungkin jika surat kabar itu masih tetap terbit seperti biasa dan menambah oplahnya bisa telungkup? Bagaimana mungkin wartawan-wartawan yang ada sebagai sumber daya di sana dikurangi jumlahnya? Lalu, apa sebenarnya yang dilakukan Jolan di kantor semalaman suntuk hingga dia tak dapat pulang malam? Tampaknya, jalan terakhir yang harus dilakukan Sitroh adalah pergi langsung menemui lelaki itu di kantornya. Melihat apa sebenarnya yang dikerjakannya. Dan Sitroh pun gegas mencari taksi yang melintas di jalan besar depan wartel itu. Kebetulan sebuah taksi melintas, Sitroh menyetopnya dan langsung masuk ke dalam tanpa basa-basi bertanya tarif terlebih dulu. Sementara Zahra, bocah berusia dua tahun itu masih tampak beku bersidekap erat di lengannya.

Tak sampai lima belas menit akhirnya ia sampai di halaman kantor surat kabar itu. Suasana tampak sunyi. Sejenak dilihatnya jam di pergelangan tangan. Sudah pukul dua belas malam. Tak ada satu pun orang di sana yang dapat dijadikan tempat dia bertanya. Tapi bagus juga begitu, pikirnya. Kalau pun ada satpam atau penjaga di depan kantor itu, pasti akan dia suruh diam juga, tak usah lagi bilang pada Jolan kalau dia istrinya mencari dan ingin menemuinya.

Perlahan-perlahan kakinya dilangkahkan menuju pintu sebelah kantor. Pintu itu tak dikunci. Mungkin sengaja begitu karena langsung berhubungan dengan sepetak halaman berisi sejumlah bangku dan meja. Tempat berkumpul karyawan barangkali. Tapi sampai di sana ia tak juga menemukan Jolan. Sampai dia memutuskan untuk menuju arah suara riuh orang-orang tertawa dan bercakap-cakap. Suara itu datang dari sebuah ruangan yang hanya dibatasi dinding-dinding papan. Dia tak dapat melihat langsung orang-orang yang ada di balik ruangan berdinding papan itu. Sementara suara riuh itu semakin dekat di telinganya. Sitroh heran, selain suara riuh orang-orang bercakap dan tertawa, dia juga mendengar suara seperti sesuatu yang dibanting ke atas meja. Dia makin penasaran. Suara apa gerangan? Hatinya semakin curiga. Bahkan sangat. Hingga dia memutuskan saja untuk membuka pintu ruangan itu. Kebetulan tak dikunci. Brak!! Kedua sisi pintu itu pun terbuka. Dan.

Darah lalu tiba-tiba serasa berkumpul di ujung ubun-ubun kepalanya. Orang-orang yang ada di ruangan itu pun terkejut. Mereka terpana, mungkin juga heran. Tak bergeming melihat seorang perempuan dengan anak kecil di dadanya tiba-tiba muncul di hadapan mereka malam-malam begitu. Membuka pintu setengah dipaksa dan sekuat-kuatnya. Sementara wajah Sitroh sendiri kini memucat. Matanya terbelalak. Melihat Jolan suaminya itu ternyata memang berada di tengah-tengah mereka. Mereka yang duduk mengelilingi meja dengan sejumlah batu domino di atasnya. Ya, mereka sedang bermain domino. Jolan suaminya ada di tengah mereka. Mata Sitroh tiba-tiba gelap. Gelap. Seribu bayangan wajah Jolan tiba-tiba bertubi-tubi menyergap. Dan Sitroh pun tak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu. ***

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: