Membaca Mata Perempuan Itu

Membaca Mata Perempuan Itu

Cerpen Sobirin Zaini

AKU tak pernah bisa membaca mata itu. Padahal di mata itu seperti ada ribuan rangkai cerita yang harus diceritakan. Sejak aku terlahir di kota ini, tinggal dan mengarungi hidup yang tak pernah seperti merasa hidup di dalamnya, tak pernah merasa hidup bersamanya. Di rumah kecil ini, dengan dinding kardus dan atap seng sisa-sisa pembongkaran rumah liar di seberang jalan sana, aku selalu ingin membaca mata itu. Entah, kadang aku merasa tak sepatutnya memiliki keinginan seperti itu. Bagiku, aku masih bisa hidup dan tumbuh menjadi manusia seadanya, aku sudah bersyukur. Tapi karena aku juga terlahir sebagai manusia, yang memiliki rasa ingin tahu, maka mungkin aku juga jadi merasa patut. Patut untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi lewat mata itu. Patut tahu apa yang menyebabkan semua masa lalu yang penuh kebahagiaan itu hilang di mataku. Dan karena aku tak mungkin menanyakan langsung kepadanya tentang apa sebenarnya, maka aku memutuskan untuk mengetahuinya dengan mencoba membaca mata itu. Tapi mengapa aku tak pernah bisa membaca mata perempuan itu?
Mata itu adalah mata ibuku. Perempuan yang telah melahirkan dan membesarkanku dengan keadaaan yang serba kesusahan ini. Kesusahan yang datang setelah semua kesenangan itu sempat aku rasakan. Kesenangan itu, mungkin ada karen aku masih memiliki seorang ayah. Seorang lelaki yang di mataku begitu banyak kasih sayang di matanya. Selama aku masih di pangkuannya, semua keinginanku waktu itu pasti dipenuhinya. Saat itu seingatku, aku begitu merasa bahagia. Aku seperti hidup selayaknya manusia kecil lainnya dengan serba keadaan dan kebahagiaan yang diperolehnya. Waktu itu ibu masih begitu muda. Di mata ayahku, seperti tak ada perempuan lain selain ibuku. Ibu adalah satu-satunya seorang bidadari yang bisa selalu memberikan kelembutan dan kehangatan. Selalu memberikan yang terbaik bagi ayah sebagai suaminya dan aku sebagai anaknya.
Dan waktu ternyata berubah. Perubahan itu juga merubah semua keadaan yang pernah aku rasakan. Aku tak tahu pada waktu yang mana, tiba-tiba sosok lelaki yang penuh kasih sayang itu tak lagi ada di hadapanku. Kepergiannya seperti kepergian waktu yang tak pernah permisi dan memberitahuku. Dia menghilang. Meninggalkan ibu dan aku begitu saja. Meninggalkannya dengan keadaan seperti ini. Aku seperti tak percaya kalau ayah tega meninggalkan kami, tapi itulah yang terjadi. Maka saat ini aku pun hanya bisa coba membaca mata perempuan itu. Membacanya karena bagiku di mata itu begitu banyak cerita dan jawaban yang harus diceritakan. Dan aku selalu membacanya hampir setiap hari karena berharap aku menemukan jawaban dari pertanyaan, mengapa ayah yang begitu penuh kasih sayang itu tega meninggalkanku dan ibuku? Mengapa ibu juga jadi selalu saja pergi meninggalkanku? ***
SORE tadi aku kembali menemukan ibu sedang merias wajahnya di sudut kamar kumuh itu. Aku ditinggalkan sendiri di ruang tengah. Sesekali dia coba merayuku untuk jangan rewel dan menangis saat didapati raut wajahku yang seperti ingin menangis. Dia tahu, aku seperti itu karena aku juga tahu, kalau dia sudah berias seperti itu, dia akan pergi meninggalkanku. Aku tak mau ditinggal sendiri di rumah kumuh ini. Aku tak mau malam hanya jadi kecemasan yang tak berkesudahan. Tapi kadang bujukannya lebih dari segala kekuatan dan ketakutan yang ada dalam diriku. Rayuan dan permohonannya sebagai seorang ibu, dengan mengecup keningku, selalu saja bisa meluruhkan hatiku dan sekaligus menguatkan jiwaku sebagai seorang lelaki. Dan kalau sudah begitu, dia pun pergi. Pergi semalaman sampai sinar matahari di ufuk itu menembus lubang-lubang rumah yang terbuat dari kardus itu. Dan aku akan terbangun ketika kudapati kakinya kembali menyentuh ujung pintu. Wajahnya yang kusut dan tubuhnya yang lunglai, kembali menyisakan cerita lain yang selalu membuat aku ingin tahu. Memaksaku untuk selalu lebih membaca mata itu.
Maafkan ibu, Nak. Kamu tidak menangis kan? Kamu anak yang baik. Sini, ibu susui. Kamu mau menyusu kan? Suaranya hinggap di telingaku ketika matanya kutatap. Dia kembali membujukku. Puting payudaranya tiba-tiba sudah berada di ujung bibirku. Aku melumatnya dengan segera, karena memang sudah semalaman aku tak mencicipinya.
Kamu anak yang baik. Maka kamu harus tahu keadaan ibu. Maafkan ibu. Menyusulah, menyusulah sepuas-puasmu. Biar kamu cepat besar. Katanya kemudian. Aku tak menjawab, karena aku memang belum bisa berbicara dan menjawab perkataannya. Lalu aku lagi-lagi hanya bisa menatap mata itu, membacanya semampuku hingga pertanyaan-pertanyaan itu tak lagi ada di benakku. Tapi tidak, sekali lagi jujur kukatakan. Pertanyaan itu belum juga terjawab. Belum terjawab. Maka mata itulah yang kutatap. Mata itulah yang kubaca. Berharap jawaban itu keluar dari mata itu.
Dan aku tertidur. Aku tertidur setelah mata itu perlahan membayang lelap bersama mimpiku. Mimpi bertemu lelaki yang selalu kusebut ayah beberapa waktu lalu. Yang selalu memberiku kebahagiaan dan kehidupan sebenarnya sebagai seorang anak. Yang selalu memenuhi semua keinginanku. Dan itu hanya dalam mimpi kini, aku bertemunya kembali. Sementara tangan lembut perempuan itu samar-samar kurasakan membelai lembut ujung rambutku.
***
HARI telah surut. Malam mulai berlabuh. Desiran angin sesekali menyentuh dinding kardus itu dan menggoyangkannya. Semula aku merasa aku tertidur di pangkuan perempuan itu. Tapi setelah kubuka sedikit mataku lalu menatap sekeliling rumah itu, perempuan itu tidak ada. Ah, dia pergi lagi. Ya, dia pergi untuk ke sekian kali seperti sebelumnya. Bahkan dia tak sempat untuk permisi padaku, sekadar membujukku dengan kecupan hangatnya di ujung keningku. Kecemasan kembali tiba-tiba hinggap di hatiku. Aku ingin sekali menangis. Tapi aku juga berpikir untuk tidak menangis. Entah mengapa, tiba-tiba aku jadi ingat perkataannya ketika dia menyusuiku semalam. Aku harus tahu keadaannya. Aku anak yang baik. Ya, aku teringat pesan dan perkataan itu. Maka kuurung niatku untuk menangis. Biarlah. Biarlah hanya malam jadi temanku. Biarlah dia jadi saksi yang tahu tangisanku dan tahu kecemasanku. Meski tangisan dan kecemasan itu hanya bersarang dalam hatiku. Karena percuma, jika tangisan dan kecemasan itu kuluahkan dengan sebenarnya pun, tidak ada makhluk lain yang akan mendengar dan mendekatiku. Sungguh tidak ada.
Sampai tiba-tiba aku terdengar seperti suara ibu dari arah kamar itu. Seperti ada percakapan di sana, tapi tidak. Suara itu lebih halus dan hanya terdengar mendesah. Sesekali kudengar pula selintas suara seperti suara seorang lelaki. Duh, hatiku bergetar, aku kembali teringat ayah. Apakah suara yang dari mulut lelaki itu suara ayah? Pertanyaan demi pertanyaan kini kembali menggelayut di kepalaku. Malam semakin bisu. Aku berusaha sekuat tenaga yang ada, untuk mengetahui apakah benar di dalam kamar itu ibu berada. Kini aku tak hanya setakat ingin membaca dengan mata, tapi aku juga ingin meraba dengan telinga. Tapi dasar memang aku anak kecil mungkin, aku seperti tak kuasa untuk melakukannya. Karena bagaimanapun kekuatan mata dan telinga yang kupunya ada, tapi jika kaki dan tubuhku tak bisa kugerakkan untuk melangkah menuju kamar itu, semuanya lagi-lagi percuma. Percuma. Dan desahan demi desahan halus itu kini semakin jelas kudengar dari arah kamar kumuh itu. Hampir setengah jam aku mendengarnya. Aku semakin penasaran. Siapa yang mendesah begitu lama seperti itu malam-malam begini? Tapi juga siapa yang akan membantuku untuk menjawab pertanyaan yang satu ini? Akhirnya aku pun merasa putus asa, aku merasa kalah. Suara itu semakin jelas dan semakin keras terdengar. Desahan halus itu semakin jelas dan semakin kerap kudengar. Hingga tiba-tiba dua orang sosok manusia keluar dari kamar kumuh itu. Duh, benar dan memang benar. Dugaanku tak meleset. Aku gembira. Ternyata yang keluar dari kamar itu memang ibu. Ibu keluar mendekatiku dengan BH dan kain sarung seadanya. Hatiku haru. Keputusanku untuk tak menangis ternyata adalah pilihan yang tepat. Ternyata ibu masih di rumah. Tak keluar meninggalkanku seperti malam-malam sebelumnya. Tapi siapa lelaki yang keluar bersamanya dari kamar itu? Siapa dia, yang tanpa permisi langsung keluar dari rumah ini? Apakah dia ayah? Seingatku, ayah tak pernah keluar dari rumah ini begitu saja. Tak pernah keluar meninggalkanku dan ibu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tidak, kupikir itu bukan ayah. Bukan ayah yang sempat aku kenal dan aku dambakan sampai sekarang ini. Tapi mengapa lelaki tak kukenal itu malam-malam begini ada di rumah ini? Ah, sepertinya ada satu lagi jawaban yang harus dikatakan ibu. Ada satu cerita dari sekian cerita yang harus aku tahu. Meski rasanya, semua cerita itu takkan mungkin akan diceritakan ibu padaku. Walaupun sebenarnya aku ingin sekali bertanya, meminta padanya untuk bercerita dan menjawab semuanya, hingga aku tak lagi harus membaca matanya. Tapi bagaimana caranya? Ah, sudahlah. Aku memang harus selalu membaca mata perempuan itu.***
Pekanbaru, Mei 2005

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: