Kelelawar

Kelelawar

Cerpen Sobirin Zaini
Dimuat di Riau Pos

SEBENTAR lagi aku akan jadi kelelawar, Sayang. Saat bulan di atas kelam langit telah purnama. Saat renyai hujan mulai turun. Menghapus sedikit demi sedikit debu dan pasir yang hampir tertidur di tanah ini. Aku akan berubah bentuk. Sebentar lagi, ujung kakiku, betis, paha, sampai dada dan seluruh kepala, berubah jadi kelelawar. Mungkin kakiku tak seindah yang kau bayangkan lagi sebelum ini. Kakiku akan mengecil dan meruncing. Kuku-kukuku tajam. Di antara dua sisinya tumbuh lapisan tipis yang samar terlihat jika tersentuh sedikit cahaya. Itu bagian dari sayapku, Sayang. Sayapku tumbuh lurus mengikuti garis samping bagian tubuhku. Sayap itu tipis sekali. Tapi ia cukup membawaku terbang menelusuri bagian tergelap dari sisi-sisi malam.
Ya, sebentar lagi. Karena kutahu, sebentar lagi matahari juga terbenam. Cahayanya menguning. Tertelan bumi di ufuk sana. Lalu, izinkan pula aku menyampaikan maaf padamu, sebelum semuanya usai, semuanya lengkap. Lengkap tubuhku sebagai seekor kelelawar. Terbang di bagian ceruk paling kelam malam. Aku tak bisa menemanimu lagi, Sayang. Maafkan aku. Aku tahu, kau pasti mengharapkan kehangatan itu. Seperti juga malam-malam yang telah lalu, kau menunggu kehadiranku dengan sepenuh rindu. Dengan sekuntum bunga dan selembar kertas berisi dongeng-dongeng negeri Kacaubalau itu. Negeri yang pernah kusinggahi dan membawakanmu oleh-oleh berupa sebaris puisi ketika pulang. Lalu di negeri itu juga pernah kubawa dirimu masihkah ingatkah kau dengan peristiwa itu? Tentu kau masih ingat, Sayang.
Waktu itu, hujan seperti cemburu. Rintiknya menikam-nikam tubuh kita saat menelusuri jalan setapak menuju taman itu. Ya, taman itu. Tentu kau masih ingat pula dengan taman itu. Kita mengunjunginya karena di sana penuh bunga benalu, dengan orang-orang yang hampir semuanya bertubuh tikus. Tentu pula, tak terbersit niat kita untuk mencicipi pemandangan dan semua aroma itu, hanya karena tak lebih dari sebuah keprihatinan saja. Prihatin, karena berbagai pertanyaan serasa tak pernah habis bercokol di kepala kita, mengapa di negeri Kacaubalau itu, taman-taman bunganya hanya ditumbuhi jenis bunga semacam itu? Dan kenapa pula orang-orangnya berwujud seperti binatang pengerat yang menjijikkan?
Lalu hingga saat ini pula jawaban itu tak kita temukan, Sayang. Sampai di senja ini kata maaf itu akhirnya harus kusampaikan juga padamu. Karena ternyata memang tak elok kita selalu bertanya dengan keadaan negeri itu sebelumnya, karena akhirnya di negeri lain seperti negeri yang kita tempati ini, aku juga harus berubah wujud seperti mereka. Semua taman-taman bunga seroja yang indah itu juga berubah jadi bunga-bunga sepatu. Hanya kalau di negeri Kacaubalau itu orang-orangnya berubah wujud menjadi tikus, aku justru berubah menjadi kelelawar. Ya, kelelawar. Terbang menyelusuri gelapnya malam. Setia membaca kegelapan itu dengan kemampuan yang ada di tubuhku sebagai kelelawar. Dan kini lihatlah, aku telah berubah bentuk. Aku telah jadi makhluk malam itu. Maaafkan aku, Sayang. Maafkan aku.

***
SEBULAN yang lalu memang gejala perubahan itu telah kurasakan. Hanya aku tak mungkin mengatakannya padamu. Karena kutahu kau sudah lama mengerti, gejala-gejala yang kurasakan biasanya karena aku ingin demam saja. Yah, tahulah sendiri, dari kecil aku memang sedikit dimanja. Jarang sekali aku disuruh ibu bekerja berat. Sedikit saja kerja berat, tubuhku terasa demam. Paling berat kerja yang disuruh ibu dan harus kulakukan hanya membaca buku. Buku agama dan beberapa buku tentang melayu. Ya, kenapa buku itu yang dipilih ibuku aku juga mafhum, karena ibuku memang asli melayu. Lahir lima puluh tahun lalu di negeri yang katanya juga peninggalan kerajaan melayu. Dia menyuruhku membaca buku-buku itu pun karena dia tak mau aku anak satu-satunya tak tahu asal-muasal dirinya. Melayu yang kerap dikatakannya itu harus juga tertanam dalam diriku. Tapi, justru itulah pekerjaan berat bagiku waktu itu. Semula aku sempat menganggap hanya aku sendiri yang merasa bahwa pekerjaanku membaca buku itu adalah pekerjaan terberat bagiku, tapi ternyata tidak. Karena setelah aku mulai dibesarkan di negeri Kacaubalau itu lalu merantau ke negeri Seribuigau ini, membaca buku ternyata juga pekerjaan yang paling berat bagi mereka yang hidup di sini. Mereka merasakannya seperti aku merasakannya saat itu.
Ah, tentu saja karena pekerjaan terberatku sejak kecil adalah membaca buku, maka pekerjaan itu tak mungkin mengganggu kesehatanku. Tak mungkin. Tak mungkin hanya karena itu tubuhku jadi merasakan gejala ini. Karena gejala-gejala seperti ini sama seperti gejala yang kurasakan ketika tubuhku ingin demam. Tumbang dan terbaring di ranjang selama beberapa hari. Dan memang ternyata sama sekali tidak, Sayang. Gejala-geala yang kurasakan ini bukan hanya karena aku akan demam saja, namun karena seluruh tubuhku juga akan berubah. Ya, sekali lagi, berubah. Kini, aku hanya bisa menyesal. Mengapa sebelum aku berubah, aku tak segera mengatakannya padamu. Hingga kau bisa memeriksaku dengan seperangkat peralatan yang selalu ada di tas medismu itu. Sampai akhirnya kini aku hanya bisa pasrah, setelah aku benar sempurna bermetamorfosis menjadi seekor kelelawar.
Tapi kau tak boleh berubah sekarang, Sayang. Sabarlah. Tenanglah! Aku ada beberapa serum yang bisa disuntikkan ke dalam tubuhmu. Biar tubuhmu kembali pulih seperti semula. Kupikir ini memang terlambat. Tapi aku yakin ini bisa! ujarmu malam itu setelah aku menemuimu lewat jendela kamarmu.

Aku tahu, aku telah cukup terlambat. Malam itu kau begitu panik. Kau terkejut sekali ketika ada seekor kelelawar tiba-tiba hinggap di jendela kamarmu dan bisa bicara denganmu. Hingga kau memang benar panik. Menangis setelah tahu semua keadaanku itu. Lalu dengan sigap dan penuh semangat kau bergegas mengambil jarum suntik itu dari dalam tas medismu, dan siap memindahkan cairannya ke dalam tubuhku. Berharap dengan cairan yang entah apa namanya itu, tubuhku kembali seperti sedia kala.
Ah! Tenanglah, Sayang. Kemarikan lenganmu. Cepat! perintahmu sekali lagi setelah lengan kiriku yang mulai tumbuh bulu-bulu halus itu kau pegang cukup erat. Sementara tangan kananmu telah siap menyuntikkan jarum berisi cairan pemulih itu bagian ke lengan tanganku. Tapi aku segera menampik. Karena kurasa usahamu akan sia-sia. Aku telah terlanjur berubah. Dan memang benar, dari semula aku memang telah berubah.
Ah, sudahlah, Sayang. Percuma. Tengoklah, tengok! Aku telah jadi binatang itu. Kepalaku mengecil, gigi-gigiku runcing, telingaku melebar. Sudahlah, relakan saja. Harus kau ketahui, gejala ini sebenarnya sudah lama kurasakan. Maafkan aku, aku memang tak pernah menceritakannya padamu. Malam ini aku hanya ingin permisi, aku akan pergi meninggalkanmu dan negeri Seribuigau ini. Karena kutahu, negeri ini bukan tempat yang sesuai untukku. Dan lihatlah, di atas sana. Purnama telah mengambang. Itu tandanya aku harus segera terbang. Menelusuri kegelapan itu dan mencari makan di sana. Relakanlah Sayang, maafkan aku, ujarku kemudian.
Dan setelah itu aku pun segera terbang. Meninggalkanmu sendiri di kamar itu. Matamu mengabut. Tubuhmu kaku. Mulutmu seperti terkunci. Lalu kulihat kau membisu. Berdiri termangu memandangiku cukup lama. Ada penyesalan dan ketakikhlasan di hatimu ketika kau melepaskan lenganku yang telah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Tapi sayapku telah terlanjur mengembang, Sayang. Aku pun terbang. Menatapmu dengan mata malamku dalam keremangan kamar itu. Hingga wujudmu hanya menjadi sebuah titik dalam keremangan cahaya di antara gelapnya malam itu.
***
SEJAK itu aku pun memutuskan untuk pergi dari negeri Seribuigau-mu itu. Aku kembali ke negeri Kacaubalau yang pernah kita kunjungi dulu. Ya, ke negeri itu. Semua karena aku telah benar-benar berubah. Aku tahu, kau masih mencintaiku. Tapi aku bukan manusia lagi, bukan? Kau harus relakan kepergianku. Dan aku tahu, kau bisa memaklumi itu.
Pagi mulai merangkak. Ada sisa embun yang mendarat di sayap dan beberapa bagian tubuhku setelah semalaman aku menggantung di reranting pohon itu. Ah, aku tak bisa melihat dengan sempurna, Sayang. Mataku mengabur. Terpaan sejumlah titik cahaya yang datang dari sebelah timur itu seperti membuat aku ingin tertidur. Ya, Sayang, rasanya kantuk sekali. Semalam, aku memang banyak mendapatkan serangga. Makanan itu kuperoleh setelah menelusuri beberapa tangkai pohon-pohon lapuk yang tersisa di jalan itu. Tubuhku terasa capek sekali. Dan tanpa sadar, aku tertidur setelah kuku-kuku di kedua kakiku kupastikan menancap erat di ranting pepohonan itu. Tapi sebelum aku terlelap. Eloklah mungkin aku ceritakan bagian yang lain. Dengarlah. Catatlah. Meski mugkin kau takkan percaya, tapi inilah kenyataannya. Tadi malam, sebelum aku berhenti di sebatang pohon terakhir untuk mencari serangga-serangga itu, aku dapati ratusan ekor tikus di sepanjang jalan ini. Mereka berkeliaran ke sana-kemari. Ya, Sayang, tikus-tikus yang pernah kita temui di taman bunga benalu itu. Bukan hanya bunga-bunga itu saja yang bertambah subur tumbuh di sini, tapi ternyata juga tikusnya. Karena ternyata, hampir sebagian penduduk negeri Kacaubalau ini juga telah berubah menjadi tikus. Sementara sebagiannya lagi, mereka berubah menjadi anjing. Menjilat-jilat semua yang bisa dijilat di negeri ini. Mereka yang anjing seperti selayaknya anjing, kerap menggonggong siapa dan apa pun yang mencurigakan dan menebar aroma bangkai di mata mereka. Ya, negeri ini tampaknya memang telah kacau balau, sesuai dengan namanya. Semua seperti sudah tak tahu waktu dan malu demi untuk mengisi sesuatu dalam perut mereka. Mereka rela mencabut kemaluan mereka dan mengambil apa pun meski itu bukan hak mereka.
Dan aku, setelah melihat perubahan dan peristiwa itu, rasanya sedikit bersyukur, Sayang. Bersyukur karena mungkin aku adalah kelalawar, bukan tikus atau anjing seperti mereka. Meski sama-sama binatang, tapi kupikir aku lebih baik dari mereka, terutama dalam hal mencari makanan. Aku tahu, jika mereka tak peduli siang dan malam mencari sesuatu untuk mengisi perut mereka, aku tidak. Aku hanya bisa mencari serangga atau apa pun yang lain di malam hari. Aku harus tertidur di siang harinya karena memang mataku mengabur menatap segala yang ada.
Ya, begitulah kenyataannya. Karena bagaimana pun aku harus tinggal di negeri ini, tersebab aku telah jadi seekor binatang. Aku tak mungkin tinggal di negeri Seribuigau-mu itu, karena yang tinggal di sana tentu hanya manusia, karena hanya manusia yang bisa mengigau.***

Pekanbaru, Akhir Desember 2005

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: