Keahlian Tikus

Keahlian Tikus

Cerpen Sobirin Zaini
Dimuat di Riau Pos

PAGI tadi aku disuruh bos mencari tikus di kota ini. Entah untuk apa. Katanya, tikus ingin dijadikan peliharaannya. Ah, ada-ada saja. Aku jadi bingung. Apa sudah tak ada binatang lain. Kucing kek, atau anjing. Atau barangkali burung yang biasa dan lumrah dipelihara orang. Kupikir, di samping binatang itu lebih bersih, dia juga mudah dipelihara. Meskipun tak banyak manfaatnya, namun paling tidak, ia tak seperti tikus, yang manfaatnya kurang jelas dan kalau mau dikatakan lebih menjijikkan. Tapi bosku ternyata punya jawaban lain. Tikus, katanya, memiliki satu keahlian tersendiri yang mesti dipelajari. Keahlian itu, jika bisa dikuasai, kita akan jadi kaya tanpa perlu lelah-lelah usaha. Kita bisa memiliki apa saja yang sudah ada. Bukan saja yang ada itu milik kita, tapi juga milik orang lain. Ya, itu jawaban dan alasan bosku. Tak masuk akal memang. Jawaban dan alasan orang gila pikirku. Apa maksudnya memiliki yang sudah ada? Keahlian apa yang dimiliki binatang jijik seperti tikus? Ah, gila. Bosku memang gila. Tapi bagaimanapun dia bosku, aku hanya seorang ajudannya, harus kuingat itu. Dan karena itu maka pagi ini segera saja aku mencari binatang yang memiliki keahlian itu sampai ketemu. Aku disuruh mencari di mana saja. ?Cepat cari binatang itu, Jang!? perintahnya satu menit yang lalu tanpa memberiku kesempatan bertanya dan memberiku alasan lain untuk menolak.
***
KOTA ini keseribu kalinya berkabut. Pasti disebabkan tangan-tangan jalang dan bedebah itu. Tangan-tangan orang yang kurang berotak. Belum lagi menyebabkan aku jadi susah mencari binatang itu, bernapas pun aku ragu. Salah-salah, gara-gara kabut ini, penyakit paru-paru atau strok jantung menyerangku. Ah sudahlah, mau bagaimana lagi. Walau apa pun yang terjadi, pagi ini, yang penting bagaimana tikus itu berada di tanganku. Kalau tidak, bosku yang gila itu takkan segan-segan memecatku. Kalau sudah aku dipecat, mau makan apa istri dan anak-anak aku?
Aku memilih pasar-pasar kumuh sebagai target operasi pertamaku. Karena biasanya di sana tikus-tikus berada. Walau memang, tempat-tempat lain seperti selokan-selokan, tempat pembuangan sampah, gudang-gudang dan bangunan tua yang tak dipakai, juga merupakan habitatnya. Tapi yang kutahu selokan-selokan di kota ini jarang ada (kalau boleh dikatakan memang tidak ada). Mayoritas jalan-jalan hanya berupa bentangan aspal tanpa ada drainase-nya. Dan banjir setiap tahun yang melanda kota ini buktinya. Maka, mencarinya di pasar-pasar seperti ini mungkin lebih efektif dan kemungkinan berhasil lebih besar, ketimbang di selokan-selokan yang jarang ada dan bisa dihitung jari itu.
Tak sampai lima belas menit aku sampai di pasar. Aku coba mencari di setiap sudut. Kulihat di sepanjang pasar memang banyak tumpukan sampah. Tapi tak satu pun binatang itu yang kulihat berada di sana. Aku tak melihat seekor pun binatang itu berlari atau sekedar melintas di kaki-kaki orang. Dan hampir pula setengah jam berlalu, binatang itu memang tak juga kunjung ketemu. Semula, kukira dan menurut sepengetahuanku, binatang itu biasanya ada di tempat kotor seperti ini. Tapi nyatanya, batang hidungnya pun tak nampak.
?Pak, permisi. Bapak sering lihat tikus di tempat jualan ini?? Aku coba bertanya pada salah seorang lelaki tua setelah kakiku sampai di sebuah kios penjual kelapa di salah satu lorong pasar itu.
?Apa? Tikus. O, banyak sekali,? jawab lelaki tua itu sambil memanggil-manggil orang membeli kelapanya.
?Biasanya mereka lari-lari dekat kaki saya kalau saya sedang memarut kelapa. Tapi, saya juga heran. Sepagi ini saya jualan di sini, tikus itu tak kelihatan,? ketus lelaki itu kemudian.
?Lho, ke mana tikus-tikus itu Pak.?
?Ya itulah. Tak tahu saya. Mungkin hari ini tikus-tikus itu lagi libur barangkali,? jawab lelaki tua itu mengherankan dan membuat dahiku berkerut.

?Libur. Maksudnya?? Aku bertanya lagi.
?Yaah, sama seperti pegawai kantoran atau pejabat. Kan ada hari liburnya,? jawab lelaki itu enteng.
Aku jadi bingung dengan jawaban itu. Meskipun rasanya benar juga. Nasibku lagi sial. Perkiraanku tak meleset kalau pagi ini tikus itu memang tak berada di pasar ini. Tapi justru kulihat lelaki tua itu pun kemudian ikut heran. Dia menunduk ke arah kakinya sejurus setelah aku mempertanyakan tikus kepadanya.
?Tapi…, untuk apa tikus?? Tiba-tiba lelaki itu balik bertanya padaku. ?Ah, tidak ada. Hanya pingin memeliharanya saja. Makasih ya Pak,? aku menjawab pertanyaannya sembari segera meninggalkan tempat itu. Sementara dia jadi celingukan memandangiku. Sepertinya, dia juga heran dengan kehadiranku yang menanyakan tikus. Barangkali di hatinya juga bertanya, kok ada orang mau memelihara tikus. Rasain, pikirku. Sekarang giliranmu yang kebingungan. Masa tikus bisa libur.
Bagaimanapun hatiku belum lega. Aku coba memikirkan alternatif lain mencari tempat di mana tikus itu berada. Aku kemudian terus coba berusaha menanyakan ke tempat lain. Coba bertanya pada semua orang yang berjualan kelapa di sana. Sampai kakiku kemudian tiba di kios jualan kelapa dengan seorang perempuan tua berkacamata.
?Mak, ada melihat tikus ndak?? Kucoba mengulangi pertanyaan yang kuajukan pada lelaki sebelumnya pada perempuan itu.
?Amak jualan kelapa, Nak, bukan jualan tikus,? jawabnya spontan kepadaku. Aduh, jawaban yang tak kuinginkan, pikirku. Benar juga. Aku salah bertanya. Seharusnya aku menanyakan kelapa, bukan menanyakan yang lain. Dan aku seharusnya lebih hati-hati atau sedikit basa basi. Tak to the point seperti itu.
?Aduh, maaf Mak,? ujarku kemudian. Mencoba meminta maaf dan mengklarifikasi pertanyaanku. ?Maksud saya, di sini kan banyak tumpukan kelapa. Biasanya setahuku, tikus bersarang di situ. Jadi, saya sebenarnya bukan mencari kelapa, tapi mencari tikusnya,? lanjutku.
?O, berapa biasanya dijual perkilo?? kata perempuan itu kemudian. Aduh, makin gawat. Perempuan itu seperti tak mengerti dengan pertanyaanku. Dia malah bertanya padaku berapa harga tikus perkilonya. Seolah dia memang punya persediaan tikus yang siap untuk dijual. Ah, ada-ada saja. Tak mungkin itu terjadi. Gila perempuan ini. Ya, kalaupun memang sempat perempuan ini menjual tikus, bagaimana aku bisa membelinya? Sepeserpun uang tak lagi ada di kantongku. Uangku telah ludes gara-gara hanya berkeliling naik angkot tadi di pasar ini.
Kupikir aku lebih baik memutuskan untuk segera saja meninggalkan tempat itu. Meski sebenarnya aku masih ingin bertanya. Apakah benar perempuan ingin menjual tikus. Sebab baru sekali ini kudengar di pasar ada orang menjual tikus. Dan apakah memang akan ada orang yang membelinya? Ah, sudahlah. Barangkali orang di sini memang sudah gila semuanya. Sama gilanya seperti aku dan bosku.
***
MATAHARI hampir jatuh. Usahaku mencari Tikus yang diperintahkan bosku itu sepertinya memang tak berhasil. Hari pun redup. Orang-orang di pasar ini satu persatu beranjak pulang ke rumahnya masing-msaing.
Aku jadi berpikir kembali dengan apa yang diucapkan bosku di kantor tadi pagi, ketika dia menyuruhku mencari binatang ini. Ketika dia mengucapkan kata keahlian kepadaku. Ya, keahlian. Aku jadi makin ingin terus berpikir apa sebenarnya keahlian yang dimiliki binatang ini. Keahlian yang dimilikinya sehingga bos menyuruhku mencari dan menangkapnya. Aku jadi tak berpikir lagi bagaimana cara untuk mendapatkannya saat ini, tapi aku jadi berpikir apa sebenarnya latar belakang yang menyebabkan binatang itu harus kucari. Karena memang hal itu sebenarnya yang menjadi pertanyaanku sejak awal. Sejak ia menyuruhku mencari binatang itu.
Jalan menuju rumahku masih kutelusuri dengan seribu kelebat bayangan tikus. Rasanya memang aku seperti putus asa. Besok pagi, bagaimanapun binatang itu harus sudah ada di hadapanku dan di hadapan bosku. Meskipun sebenarnya saat ini seakan aku jadi tak peduli. Di kepalaku hanya ada seribu pertanyaan mengapa dan mengapa. Mengapa dan latar belakang apa yang dijadikan bosku sehingga semua ini harus kulakukan. Aku jadi berpikir, bahkan lebih dari pikiran yang kuperlukan untuk mencari dan menangkapnya.
Tak terasa, aku telah sampai di depan rumah. Segera kubuka pintu dan menyalakan lampu penerang yang ada di ruang tamu. Istri dan anak-anakku telah bermimpi. Serasa sejenak aku ingin segera mandi, gosok gigi, lalu mengambil sepiring nasi untuk menghilangkan rasa lapar di perut ini ?yang sejak tadi pagi belum sempat kuisi karena memang hanya gara-gara binatang yang berkelebat di kepalaku ini? tapi, sungguh, sungguh aku tak bisa. Tak bisa dan tak selera lagi karena aku jadi menggebu berpikir, bahkan lebih dari pikiran yang kuperlukan untuk mencari dan menangkap binatang itu sebelumnya. Ya, niat ingin segera mandi, gosok gigi dan mengambil sepiring nasi untuk kusantap malam ini pun urung. Aku jadi berpikir kembali. Aku memutuskan untuk menghidupkan televisi dua belas inci yang ada di ruang tengah. Kubuka salah satu channel yang ada di dalamnya, stasiun televisi swasta. Seperti biasa, jam segini di televisi itu memang ada acara liputan berita dalam negeri dan mancanegara. Berita-berita yang sebenarnya aku sendiri telah bosan mendengarnya. Bukan karena aku buta dengan kejadian dan semua informasi yang dipaparkannya, tapi karena memang berita tentang persoalan yang dipaparkan itu, dari hari ke hari seolah tak ada jalan penyelesaiannya. Ya, berita tentang persoalan korupsi yang rasanya sudah tak asing lagi di telinga. Padahal puluhan tahun lalu hal itu seperti jadi sebuah persoalan besar yang benar-benar menggegerkan. Sebuah persoalan yang menjadi gambaran rusaknya moral dan etika pelakunya. Sebuah persoalan yang dalam ajaran agama sejelas-jelasnya diharamkan. Tapi itu dulu, puluhan tahun lalu. Kini, persoalan itu seolah hanya sebuah angin lalu. Karena memang nyatanya, persoalan korupsi masih jadi hantu alias momok yang tak lagi menakutkan, sehingga tak pernah berakhir dan seperti tak terlalu dipikirkan.
Dan berita tentang persoalan itu pun berlanjut. Tapi entah kenapa aku masih mengikutinya juga. Sampai akhirnya acara di layar televisi itu menampilkan sebuah ilustrasi seekor binatang yang memang jadi pikiran di kepalaku. Ya, binatang itu, tikus. Di acara berita yang mengambil topik tentang korupsi itu, tikus digambarkan menjadi representasi koruptornya. Binatang itu mengenakan satu stel jas lengkap dengan dasinya. Binatang itu tak hanya satu, tapi beberapa ekor. Beberapa ekor binatang itu tampak mengerumuni sebuah tumpukan lembaran uang ratusan ribu rupiah. Mereka dengan cekatan menggigiti dan mengoyak-ngoyak serta memakannya perlahan-lahan. Aku heran dan sedikit terkejut. Mengapa mesti binatang itu? Lama aku berpikir. Garis kulit di dahiku ku kerutkan. Sebatang kretek di mulutku kunyalakan dan jari telunjuk tanganku kurapatkan ke pelipis sambil kugoyang-goyangkan. Ternyata…
Aha, ternyata aku telah mendapatkan jawaban itu tanpa aku duga sebelumnya. Ya, binatang itu, tikus, tiba-tiba muncul di layar televisi di hadapanku. Televisi yang kuhidupkan beberapa menit lalu tanpa kuduga telah memberikan jawaban kepadaku. Ternyata, binatang itu memang punya suatu keahlian sehingga bos menyuruhku untuk mencarinya di mana-mana. Ternyata, inilah jawaban dari beribu kelebat pertanyaanku. Tentang keahlian binatang itu.***

Pekanbaru, September 2004
Terinsipirasi dari sebuah cerpen karya M Shoim Anwar, Tikus Parlemen

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: