Jerit Kesakitan

Jerit Kesakitan

Cerpen Sobirin Zaini

Dimuat di Riau Pos

Kabar pertama tentang kejadian aneh di kota itu datang dari Poe. Dia adalah sahabatku yang juga seorang pengarang. Sudah hampir sepuluh tahun aku tak mendengar kabar tentang dia. Semua karena jarak. Sejak kami berpisah sepuluh tahun lalu dari kota itu, jarak memang menjadi tembok tinggi yang memisahkan kami. Poe tahu betul waktu itu, kepulanganku kembali ke kampung ini sama dengan meninggalkan dia selamanya. Selat yang membelah kedua tanah ini, bukanlah sesuatu yang mudah ditaklukkan. Tak kurang dari tiga hari tiga malam, dengan perahu tongkang, tanah redang ini baru bisa dipijak siapapun yang akan ke sini. Barangkali, kampung dimana aku berdiam kini, waktu itu, sama sekali tak dapat dijumpai dalam bentuk peta manapun.

Berat hati Poe waktu itu sebenarnya sangat kumaklumi. Tapi dia juga harus tahu, semua kulakukan demi emakku, yang telah sakit dan lama mengharapkan kepulanganku. Dia pun kutinggalkan sendiri di kota itu.

Tapi kini, setelah sepuluh tahun sejak itu, jarak seperti tembok tinggi yang memisahkan kami itu akhirnya berlalu. Putaran waktu telah merobohkannya. Zaman telah membawa segalanya ke kampung ini. Meski kemajuannya taklah sesempurna yang dibayangkan, paling tidak kampung ini jaraknya serasa tak sejauh dulu. Semua terasa dekat sekali. Jika dulu orang-orang di sini hanya tahu pesawat komunikasi yang mereka sebut orari, radio 2 band dan televisi kayu bermerek Philips, kini hampir semua mereka mahir memainkan ujung jarinya di sebuah benda kecil ajaib yang bisa mendengarkan suara orang dari manapun. Tak pedulilah orang-orang kampung itu apa pekerjaannya. Dari tauke belacan, pemotong getah, tukang bangun rumah, tukang kopek kelapa, tukang pancah, guru ngaji, guru madrasah, sampailah tukang tangkap ikan di laut bernama Selat Melaka sekalipun, semua, termasuk aku sendiri, sudah tak asing lagi dengan benda kecil ajaib yang belakangan disebut handphone itu.

Dan karena benda itu pulalah, kabar aneh dari kota itu kuterima dari Poe pagi tadi. Semula, aku sama sekali tak menyangka, hingga sempat membuat aku bertanya-tanya, kenapa itu bisa terjadi? Dari mana pula sahabatku Poe, pengarang berkepala pelontos itu tahu nomor handphone-ku hingga kabar aneh itu sampai di telingaku? Ternyata aku baru ingat, setelah dia sendiri yang bilang, dia tahu nomor handphone-ku setelah bertanya dengan seorang teman yang bekerja sebagai redaktur di surat kabar yang memuat karanganku beberapa minggu lalu. Kebetulan, nomor itu sengaja kutuliskan di bawah karangan itu. Dari sanalah perasaan seperti mati hidup kembali ini kami alami, dan semua kabar tak masuk akal itu aku terima tadi
pagi.

Jadi, apakah kau yakin, apa yang akan kau lakukan itu dapat mengubah kembali keadaan aneh itu jadi seperti semula? Apa kau sanggup melakukannya sendiri? Apa tak ada lagi pengarang lain selain kau di sana? tanyaku bertubi-tubi pada Poe, setelah hampir satu jam kami bicara lewat benda kecil ajaib berjuluk handphone itu.

Ya, aku tak bisa lagi menolak, Bart. Sejak kau tinggalkan aku di sini, aku betul-betul kehilangan kawan. Kau tahulah sendiri, siapa lagi yang mau memilih pekerjaan ini selain kita berdua? Akulah satu-satunya pengarang di kota ini dan karena itu pulalah aku sekarang yang pusing tujuh keliling. Soal peristiwa itu, Bart, aku sendiri pun tak habis pikir. Terlalu aneh dan tak pernah kubayangkan sebelumnya. Kejadiannya pun serasa tiba-tiba, baru sejak dua hari yang lalu, sambung Poe sahabatku itu.

Kami berdua diam. Seperti ada sesuatu yang melesat di kepala kami. Percakapan kami berhenti beberapa detik. Hingga suara pengarang berkepala pelontos itu kudengar kembali.

Begini saja Bart. Bagaimana kalau kau secepatnya datang ke sini? Aku butuh bantuanmu, kawan! Bukankah kau sendiri juga rindu dengan kota yang membesarkan namamu ini? Bukankah kota ini juga adalah bagian dari karya-karyamu selama ini? Aku takkan sanggup sendiri. Seperti yang kubilang tadi, sejak dua hari lalu, peristiwa aneh itu terus terjadi setiap hari. Korbannya kian bertambah, dan kini sudah semua orang di kota ini telah jadi seperti itu. Bahkan, yang aku kasihankan, anak-anak kecil juga mengalami hal serupa. Jadi, bagaimana, Bart? Kau harus segera ke sini! ujar sahabatku itu berharap.

Aku terdiam sesaat. Sejak awal aku berbicara dengannya, semua yang diungkapkan Poe sebenarnya sudah ada di kepalaku, bahwa dia takkan sanggup melakukan itu sendiri. Kalau sudah begitu, jujur, aku takkan mampu lagi menolak permintaan lelaki jenius itu.

Okelah, Poe. Aku akan segera ke sana. Kapan kira-kira aku bisa berangkat dari sini? sambutku kemudian menyetujui permintaan sahabatku itu.

Kalau bisa sore ini, Bart. Bisa? sambarnya kemudian. Aku berpikir sejenak, tapi lagi-lagi pula aku tak dapat menolak.

Okelah. Kau tunggu di pelabuhan kota itu. Sore ini aku berangkat dari sini, tegasku kemudian. Pembicaraan kami berhenti. Aku segera beranjak mengemas apapun untuk kubawa ke kota itu.

***
Aneh memang. Apa yang kusaksikan ini membuat aku lama terdiam. Aku seperti serasa setengah bermimpi dan tidak. Tapi apa yang kusaksikan ini benar-benar terjadi. Berkali-kali dalam hati aku bergumam; kutukan apa ini, sehingga orang-orang di kota ini menjadi begini?

Sejak dua hari yang lalu, orang-orang di kota ini kepalanya tiba-tiba berubah menjadi seperti televisi. Televisi itu seperti tumor yang tumbuh dari pangkal leher mereka masing-masing. Tapi ini bukan tumor. Yang tumbuh dari bagian leher dan menutupi kepala mereka itu betul-betul seperti kotak plastik persegi empat yang di depannya terdapat layar kaca. Serupa televisi, di bawah layar kaca itu terdapat sederetan tombol, seperti tombol mengubah siaran, tombol volume suara dan tombol on off, hanya antena saja yang tak ada di sana. Dua speaker yang biasa ada di kanan kiri kotak plastik itu juga kelihatan sangat kasat mata. Anehnya, meskipun kepala mereka seperti itu, mereka masih dapat bergerak seperti biasa, melihat dan mendengar. Hanya saja mereka tak dapat bicara. Dan hampir semua kepala orang-orang di kota ini, termasuk anak-anak dan bayi sekalipun, berubah menjadi seperti itu. Hanya dua orang saja yang tidak termasuk aku sendiri, karena aku kini bukan penduduk kota itu lagi dua orang itu adalah Bung Boris, lelaki tua berkacamata tebal penjaga pustaka kota, dan satu lagi Poe, sahabatku sang pengarang cerdas itu.

Aku sendiri pun tak mengerti, Bart. Kenapa orang-orang ini menjadi seperti ini. Dan aku juga tak mengerti, kenapa menurut lelaki tua penjaga pustaka itu, mereka menjadi begitu karena sebuah kutukan. Kutukan itu terjadi setelah selama ini orang-orang di kota ini punya kebiasaan menonton televisi berlebihan. Mereka seperti hampir menjadikan televisi di rumahnya sebagai tuhan. Mereka tak ingat lagi waktu, pekerjaan dan melakukan hal-hal yang lebih berguna jika sudah di depan televisi. Mereka sanggup berjam-jam di depan kotak ajaib itu, bahkan sampai 24 jam. Dan anehnya lagi, Bart, kenapa menurut lelaki tua penjaga pustaka itu, satu-satunya obat mengakhiri kutukan itu adalah dengan membuatkan sebait puisi lalu membacakan di depan mereka? Tak habis pikir aku, Bart! Betul-betul aneh! Nah, sekarang, apakah kau sendiri yakin akan hal itu? tanya Poe lagi kepadaku setelah berpanjang lebar me-review kembali awal mula kejadian itu. Aku dan Poe terdiam sejenak, sementara kaki kami terus tergesa melangkah menuju gedung itu.

Sekarang bukan soal yakin tak yakin, Poe. Karena mau tak mau kita memang harus yakin. Bukankah semua yang terjadi dan kita alami ini pun sudah terlanjur aneh? Sudahlah, kita lakukan saja, jawabku kemudian sambil memandangi wajahnya.

Kami baru saja masuk ke dalam gedung itu. Ratusan orang-orang berkepala televisi itu tampak sudah berkumpul di sana, mereka duduk berjejer di kursi-kursi yang telah disediakan. Di depan orang-orang itu, berdiri seorang lelaki tua penjaga pustaka kota. Lelaki berkacamata tebal itu adalah Bung Boris. Dialah yang meminta Poe untuk menyelesaikan masalah ini. Lelaki tua itu kulihat mendekat ke arah kami. Ada sebuah megaphone terjepit di bawah ketiaknya. Wajahnya seperti sudah tak sabar lagi melihat kami untuk segera melakukan apa yang diperintahkannya itu. Dia kemudian menanyakan kesiapan kami berdua, aku dan Poe menjawabnya dengan anggukan kepala. Dia langsung mendekatkan mic megaphone itu ke mulutnya. Tak lama setelah itu, dia memanggil satu per satu nama orang-orang yang duduk berjejer di depannya itu untuk maju mendekati kami. Lelaki tua itu memanggil dua nama sekaligus.

Dua orang berkepala berbentuk televisi yang dipanggil itu kini sudah berada di depan kami. Kami langsung membuat sebait puisi masing-masing. Setelah beberapa menit, puisi yang selesai kami tulis itu kami bacakan di depan dua orang berkepala televisi itu. Ya, aneh bin ajaib! Sesaat setelah kami siap membacakan masing-masing puisi itu, kepala mereka yang semula berbentuk televisi secara perlahan berubah menjadi normal kembali. Kepala mereka berdua kini pulih seperti sedia kala. Aku dan Poe saling berpandangan, sementara dua orang berkepala televisi yang sudah normal itu sumringah, tersenyum bahagia sekali. Bahkan orang yang ada di depan Poe sempat menangis lalu tiba-tiba membungkuk memegang kaki Poe sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali. Lagi-lagi, aku dan Poe berpandangan. Raut keheranan di wajah Poe tak mampu ia sembunyikan, meski senyum di mulut kami akhirnya ikut mengembang. Tak lama setelah itu, Bung Boris kembali memanggil dua nama yang lain untuk maju mendekati kami.

Peristiwa berakhirnya kutukan itu pun berulang-berulang terjadi di dalam gedung itu. Berbagai reaksi dan ekspresi muncul dari orang-orang berkepala televisi sesaat kepalanya berubah seperti semula. Beratus-ratus bait puisi telah kami tulis dan kami bacakan di depan orang-orang itu. Hingga akhirnya mereka semua kini berkepala seperti biasa. Suasana dalam gedung itu menjadi riuh. Mereka bercakap-cakap sesama mereka. Mungkin mereka saling menceritakan pengalaman setelah mengalami kutukan itu. Suara anak-anak dan ibu-ibu menangis juga terdengar bersahutan menjadi satu. Tingkah mereka seperti dalam Sinetron itu kini tumpah ruah.

Dengan senyum dan tawanya yang pahit itu, Bung Boris menyalami kami berdua. Dia mengucapkan selamat dan terima kasih kepada kami. Tak lama setelah itu, lelaki tua berkacamata tebal itu kembali mendekatkan mic ke mulutnya, dan tiba-tiba terdengar suaranya yang nyaring. Ia memerintahkan kepada orang-orang yang ada dalam gedung itu untuk pulang ke rumahnya masing-masing.

***
Aku baru saja menginjakkan kaki di rumah ini. Sehari setelah kejadian di kota itu, aku langsung pamit dengan Poe untuk kembali ke kampung. Perjalanan dari kota aneh itu dan kejadian-kejadiannya yang memusingkan kepala, betul-betul telah menguras tenagaku. Belum lagi energi yang harus kukeluarkan untuk membuat berbait-bait puisi dan membacakannya berkali-kali di depan ratusan orang-orang berkepala televisi itu.

Tapi belum lagi genap satu jam aku duduk di ruangan tengah rumah ini, benda kecil ajaib itu tiba-tiba kembali berdering. Nama yang tertera di layarnya lagi-lagi Poe, sahabatku yang pengarang itu. Apalagi kira-kira ini? Batinku sambil menjawab telepon itu.

Hallo, Barthes. Kau sudah sampai kan? suara Poe dari seberang sana. Dadaku tiba-tiba terasa dingin.

Ya, aku baru saja sampai, Poe. Aman? jawabku dan balik
bertanya.

Akh, tidak juga, Bart. Karena itulah aku meneleponmu sekarang. Aku harap, kali ini kamu tak lagi terkejut.

Maksudmu?

Kejadian aneh itu terjadi lagi di kota ini,
Bart!

Apa?!!

Ya, kepala orang-orang kota itu kembali jadi seperti televisi! ***

Pekanbaru, Akhir Juni 2009

Iklan
  1. I apptceiare you taking to time to contribute That’s very helpful.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: