Garis Tangan

Garis Tangan

Cerpen Sobirin Zaini
Dimuat di Riau Pos

“TAK ada satu pun perempuan di dunia ini yang mau jadi sepertiku, Wen. Percayalah. Tapi kalau sudah garis tangan yang melukiskannya begitu, apa yang bisa dia perbuat?” ujarku pada Weni sahabatku malam itu, perempuan yang selalu mengenakan kerudung di kepalanya. Dia masih tak mengindahkan perkataanku. Sibuk dengan kertas dan diktat yang berserak di lantai. Aku tahu, dia pasti telah muak denganku. Dengan ucapanku, dengan segala apa yang kulakukan selama ini. Weni, sahabatku itu, sebelum ini memang selalu menasihatiku. Hampir setiap aku pulang dan membangunkannya ketika dia sudah terlelap. Mungkin karena aku masih dianggap sebagai sahabatnya dan tinggal satu rumah dengannya, aku masih diterima di matanya. Aku masih dianggap sahabatnya dan dia selalu membukakan pintu jika telah kupanggil namanya. Meskipun sebenarnya di hati kecil perempuan itu, aku tak lebih dari seonggok sampah. Yang setiap saat mengganggu kenyamanan hidupnya dan sewaktu-waktu harus dibuang. Maka aku hanya menunggu saat itu, saat aku dibuang dan tak diterima lagi di rumah ini. Hingga aku tak hanya harus kehilangan rumah yang sudah hampir tiga tahun ini aku tempati, tapi juga kehilangan sahabat yang selalu menasihatiku dan cukup perhatian denganku itu.
“Tapi sekali lagi aku katakan, Ra. Apa sudah tak ada pekerjaan lain selain pekerjaanmu itu? Kau belum terlambat. Masih ada waktu untuk berubah. Tapi kulihat engkau memang tak ada niat untuk berubah, itu yang membuat aku kecewa,” ujarnya dengan nada serius dan mata yang berkaca. Ada sedikit rasa keputusasaan di wajahnya. Aku tahu, keputusasaan dan seribu kekecawaan itu. “Ya, siapa yang tak ingin berubah, Wen. Berubah untuk yang lebih baik. Tapi bukankah engkau tahu aku bukan layaknya seperti kalian? Aku tak bisa melanjutkan kuliahku kalau tak melakukan perkerjaan itu. Sementara kalian, hanya tinggal menelpon atau mengirim surat, semua kebutuhan kalian dapat.”

“Ah, alasan yang membuat aku semakin tak mengerti. Klise,” timpal perempuan berkerudung itu tiba-tiba dan kemudian meninggalkanku sendiri di ruang tamu. Ia langsung menuju kamar dan menutup rapat pintunya. Aku tak sempat menjawab. Obrolan kami terhenti. Dan aku tinggal sendiri. Lalu untuk ke sekian kalinya aku pun merasa bersalah. Bukan hanya bersalah pada diriku sendiri, tapi juga pada semuanya. Hanya mungkin Weni, sahabatku itu, tak tahu sepeti apa remuknya hati dan perasaanku ini dibanding hati dan perasaannya sendiri. Selalu membenarkan ucapannya tanpa bisa sedikit memahami perasaaan sahabatnya, sehingga dia seenaknya bicara. Tapi aku juga harus mafhum, mungkin karena dia masih cukup perhatian dan ambil berat dengan keadaanku, maka dia begitu. Walaupun dengan caranya seperti itu, justru dia sebenarnya telah membuat kepalaku bertambah berat. Tak dapat memberikan solusi yang lebih tepat.
***
AKU masih sendiri di ruang tamu. Malam begitu bisu. Tak bisa menggantikan Weni sahabatku yang telah kembali merajuk dan memilih masuk ke kamarnya itu. Tiba-tiba, selintas bayangan abah dan emak tanpa kuduga terasa hinggap di mataku. Ah, sungguh aku tak ingin mengingatnya. Bukan berarti aku anak durhaka yang coba melupakan orangtuanya yang telah melahirkan dan membesarkannya, tapi tak lebih hanya karena aku merasa bersalah. Di setiap aku membayangkan mereka lalu bayangan itu hinggap di mataku, seribu kegalauan dan haru biru serasa menyerangku. Pikiran dan perasaan tak menentu. Aku memang tak seharusnya jadi begini. Latar belakang keluarga dan didikan agama yang diberikan oleh mereka memang cukup sudah menjadi alasan untuk tak pernah membenarkan pekerjaanku ini. Tak selayaknya gadis kampung sepertiku berbuat seperti itu. Belum lagi malu tak terperi yang harus diterima abah dan emak di mata orang-orang kampung, segunung harapan yang pernah diletakkan di pundakku juga serasa punah dan tak bisa aku penuhi. Aku tak bisa jadi selayaknya perempuan-perempuan lain yang diharapkan abah dan emak. Seperti Weni, Eka, dan Marya teman-temanku itu.
Perempuan-perempuan yang tak sekadar telah melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, tapi juga selalu menorehkan prestasi hingga orang tua mereka berbangga hati. Selalu menjadi yang terbaik dan bisa sepenuhnya memenuhi syariat agama dan adat istiadat kampung kelahirannya. Ya, tapi bukankah apa yang kulakukan ini juga telah membantu meringankan beban mereka? Karena memang aku pun terlahir dalam keluarga yang lumayan besar, sebagai anak tertua, aku berpikir telah melakukan sesuatu yang sepatutnya aku lakukan. Tak ingin kubiarkan Andi, Siti, dan Feri adik-adikku itu gagal mencicipi pendidikan sepertiku. Meski keluargaku adalah keluarga yang susah, tapi aku mau mereka tetap sekolah. Aku tak mau mereka jadi orang-orang yang menyesal kemudian hari, hanya karena tak punya pendidikan memadai untuk mengarungi hidup yang semakin konyol ini. Dan sebab itulah aku berbangga hati karena telah bisa meringankan beban abah dan emak dengan membantu membiayai Andi, Siti dan Feri untuk melanjutkan pendidikannya saat ini. Bahkan Andi, adik lelakiku yang gagah itu juga bisa kuliah sepertiku. Dan itu tak terttutup kemungkinan juga bagi Siti dan Feri untuk bisa sepertinya. Karena sekali lagi ku tahu, mereka juga sama sepertiku, berkeinginan untuk bisa melanjutkan pendidikannya sampai ke perguruan tinggi. Akankah mereka akan berpikir dan membenarkan anggapanku yang selama ini menjadi penguat hati untuk mejalani garis tangan itu? ***
DUA hari sudah aku tak pulang ke kostku sejak kejadian itu. Sejak Weni, Marya dan Eka tak mau lagi mau berbicara denganku atau setakat menyapaku seperti setiap kali aku pulang lewat tangah malam dan salah satu dari mereka membukakan pintu. Bagiku, tak menginjakkan kaki di rumah itu saat-saat seperti ini tak begitu jadi masalah, selama dua hari ini aku diboking oleh salah satu pelanggan tetapku. Di samping tarifnya juga mahal, berkencan dengan lelaki hidung belang yang satu ini membuatku lebih dari seorang puteri. Semua keperluanku selama masa bokingan itu dipenuhi. Dari biaya luluran sampai biaya itu-ini. Hanya kadang justru aku yang kelabakan jika dia sudah meminta untuk dilayani sehari 24 jam. Tidur di ketiaknya tanpa aku harus bisa berbuat apa-apa. Selalu diawasi meski hanya untuk permisi ke kamar mandi. Ah, memang seperti dipenjara. Tapi bukankah isi kantong lelaki itu lebih dari segalanya? Biarlah aku lembur dan seperti bau lumpur, tapi aku tetap bisa hidup dan lega menjalaninya dengan segala tetek bengeknya. Dan dengan begitu, sejenak segala persoalaanku, baik dengan teman-teman maupun dengan keluargaku, dapat sedikit kulupakan. Sampai tiba-tiba ponselku berdering. Berdering dengan nomor yang tak asing lagi di mataku. Weni? Ya, nomor Weni. Muncul di monitor ponselku. Aku sedikit terkejut. Sungguh, selama hampir tiga tahun aku mengenalnya dan memberikan nomor ponselku kepadanya dia tak pernah menghubungiku. Kalau pun dia menghubungiku, paling lewat SMS. Itu pun karena dia ingin menyampaikan kalau dia dan teman-teman yang lain tak ada di rumah, kunci dititipkan tetangga sebelah. Dan aku masih bisa pulang tanpa perlu membangunkan mereka seperti biasa. Tapi kini sepertinya dia memang ingin berbicara denganku. Karena setelah lama aku tunggu beberapa saat, ponsel itu tetap berdering. Dan ponsel pun segera aku angkat. Tak ada suara di seberang sana hingga suara terisak-isak menangis itu terdengar.
“Ra, bisakah engkau pulang? Ada kabar buruk yang harus kuceritakan padamu Ra. Tolong Ra, engkau harus pulang…..” Suara perempuan itu terasa hanyut di telingaku. Belum sempat aku bicara dan bertanya kabar tentang apa yang dikatakannya itu, telepon terputus. Aku hanya bisa termangu sendiri. Seribu pertanyaanku tentang perempuan itu kembali menyerangku. Ada apa? Aku bergegas pulang ke rumah itu. Meski sejak beberapa hari ini aku memutuskan untuk tidak kembali ke sana sampai beberapa minggu. Tapi sekarang, rasanya jadi tak mungkin. Weni, sahabatku yang selalu ambil tahu tentangku itu kini sepertinya mengalami masalah berat. Hingga dia melakukan apa yang dia tak pernah lakukan padaku: menelponku.
Aku telah sampai di depan pintu rumah. Tak terkunci. Kuucapkan salam tapi tak ada satu suara dari dalam yang menjawabnya. Sebelum sampai ke ruang belakang tempat kamar Eka dan Marya, aku menuju kamarku dan Weni. Pun tak ada perempuan itu di sana. Hatiku semakin tak karuan. Ke mana mereka? Kuputuskan untuk langsung menuju kamar Eka dan Marya di belakang. Pintu tampak terbuka. Aku mendapati mereka sedang duduk dengan kepala tertunduk. “Mar, Ka. Ada apa. Ke mana Weni?” kucoba langsung bertanya setelah mendapati mereka menatapku dengan mata kosong setelah aku berada di tengah pintu kamar itu. Tak ada jawaban dari mererka. Mata mereka semakin kosong. Menatapku seperti orang hilang ingatan.
“Mar, ada apa sebenarnya?” Perempuan itu tak menjawab. Aku beralih ke arah Eka dengan perasaan semakin tak menentu dan menyentuh pundaknya perlahan. “Ka, ada apa, Ka. Ada apa?” Perempuan itu pun tiba-tiba terisak, setelah matanya sejak tadi kulihat kosong dan berkaca. Lalu dengan isak tangis itu ia akhirnya bicara.
“Weni, Ra. Keluarganya ditimpa musibah. Banjir telah menenggelamkan seluruh kampungnya. Dia tak punya siapa-siapa lagi Ra.” Tangis di matanya berderai. Aku terkejut. Bahkan untuk ke sekian kalinya terkejut. Dan aku berusaha untuk kuat mendengar apa yang diucapkan sahabatku itu. Meski sebenarnya aku masih penasaran. Banjir? Banjir seperti apa sampai bisa menenggelamkan seluruh kampung itu? Dan ke mana perempuan berkerudung itu sekarang? “Jadi, di mana Weni sekarang. Banjir seperti apa, Ka?” aku jadi bertanya lagi. Singkat. Dan pundaknya berusaha kuraih. Kudekatkan dengan pundakku. Aku mau dia tetap bisa menceritakan berita itu kepadaku.
“Banjir yang tak seperti biasanya. Luar biasa. Seperti gelombang pasang tsunami di Aceh itu. Menenggelamkan rumah, kebun-kebun sawit, bahkan telah menenggelamkan semua penduduk. Ayah dan ibunya meninggal, Ra. Mereka tak bisa menyelamatkan diri karena terkurung di dalam rumah. Semua famili dan sanak saudaranya juga tak ada yang selamat. Weni sekarang ke sana. Dia langsung pergi tak lama setelah meneleponmu. Dan barusan dia meneleponku, katanya, dia sendiri pun tak bisa menempuh kampung itu lagi, karena semua jalan terputus.”
Air mata itu semakin deras turun. Aku terdiam. Tak terasa, seperti mereka, sesuatu pun turun dari mataku. Langit-langit kamar itu kini yang aku pandang. Setumpuk bayangan lalu berkelindan di mataku, mungkin juga di mata Eka dan Marya di sebelahku. Dan sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul, seperti apa hati dan perasaan Weni?
Kami bertiga sepertinya memang tiak bisa berbuat banyak pada Weni atas kejadian itu. Bahkan tak terasa telah seminggu kejadian itu berlalu. Weni belum juga kembali sejak kepulangannya ke kampung,. Hampir setiap hari kami coba menghubunginya lewat ponsel tapi tak pernah berhasil. Pun ketika kami coba bertanya dengan Trio, teman sekampungnya, dia malah mengatakan tak pernah ketemu Weni di sana. Ah, hatiku semakin tak menentu. Eka dan Marya juga begitu. Sejuta kecemasan menyerbu. Kini kami tak hanya memikirkan hati dan perasaan perempuan itu, namun lebih dari segalanya, nyawa dan keberadaannya. Apa kami perlu ke sana mencarinya? Rasanya seperti tak mungkin. Satu pun dari kami belum ada yang pernah ke sana. Kalaupun kami ingin memutuskan untuk mengajak Trio atau teman lain yang pernah ke sana, namun tempat yang akan kami tuju di sana pun tidak ada, rasanya percuma. Seperti yang kami baca di koran, kampung itu telah jadi seperti danau. Air tetap menggenang dan tak pernah surut. Tanah di kampung itu seperti tak lagi bisa menyerap banjir. Hanya sekian persen penduduk kampung itu yang selamat. Selamat karena berhasil menjadikan apa saja yang terapung waktu itu untuk dijadikan pegangan hingga masih tetap bisa bernapas. Sampai bantuan dari sukarelawan datang dengan berbagai macam perahu dan mengevakuasi meraka dari sana. Lalu, di mana Weni sekarang?
***
MALAM semakin bisu. Wajah bulan yang setengah itu seolah ingin menambah suasana pilu di kamar itu. Kami masih duduk di sana. Seperti tak ada yang bisa dilakukan, kami memilih diam. Hampir seminggu sudah suasana itu menyelimuti kami. Duduk termenung sembari menunggu kabar dari Weni. Hampir tak ada jeda kami menghubunginya lewat ponsel, tapi tak pernah bisa. Dan ketika aku sekian kali menekan keypad untuk menghubungi nomor Weni, ada seseorang menghubungiku. Ah, aku sempat lega. Tapi kelegaan itu tiba-tiba hilang. Busyet! Nomor ini ternyata tak ada kena mengenanya dengan kejadian ini, tante Gita. Dasar jalanan. Tak tahu orang sedang seperti apa. Tanpa basa-basi dia malah menyuruhku segera ke hotel. Menyuruhku ceck-in karena ada pelanggan yan ingin membokingku. “Lyra! Temui aku. Kamu harus check-in sekarang. Ada tamu!” Suara perempuan itu menyambar. Telepon terputus. Sepatah pun kata-kata belum sempat kuucapkan pada perempuan itu. Aku bingung. Sekali lagi hatiku tak tentu. Apa aku harus meninggalkan dua sahabatku ini di kamar ini dengan kondisi seperti ini?
Tampaknya aku memang tak punya pilihan lain. Beberapa hari lalu perempuan jalang itu mengungkit-ungkit lagi hutangku. Dia tahu, aku ingin meninggalkannya dan pindah ke germo lain. Dan aku sempat bilang padanya tentang hal itu beberapa minggu lalu. Perempuan itu marah sekali. Aku diancam tak bisa diterima lagi oleh germo di manapun. Aku takut sekali hal itu, karena kutahu dia memang punya cukup relasi untuk melakukan upaya pem-blacklis-an. Karena germo-germo lain di kota ini juga sudah sangat mengenalnya. Dan sekali lagi aku tahu, itu salahku. Aku tak mungkin lari darinya hanya gara-gara hutang itu, sementara hutang itu sudah bisa dilunasi dengan sekali ceck-in dengan satu pelanggan saja. Setelah itu selesai. Lalu mengapa aku harus menolaknya?
Aku segera bergegas. Meskipun kulihat Eka dan Marya sedari tadi kian memandangiku dengan wajah sendu. Aku tahu, mereka berdua pasti tak rela. Tak rela dengan kepergianku karena situasi lagi tak menentu. Tak mau kehilangan seorang teman yang ada sementara teman yang ditunggu tak kunjung tahu keberadaaannya. Tapi, bagaimana lagi. Aku terpaksa. Karena berbagai persoalan dan tuntutan itu, karena sudah garis tanganku.
“Ka, maaf. Bukan berarti aku tega meninggalkan kalian. Tapi karena ini juga sebuah persoalan. Aku segera ke sana, ya…” ujarku setengah membujuk pada Eka yang duduk di samping ranjang itu. Dia tak menjawab. Tapi sepertinya dia paham. Dan sejurus kemudian dia mengangguk sembari menyunggingkan segaris senyum khasnya itu. Syukur, aku lega. Dengan senyum lembut itu, aku tahu, berarti dia senang dan tak keberatan dengan kepergianku. Sementara di sudut yang lain, kulihat Marya juga mengangguk sambil terus menyeka matanya. “Hati-hati Ra,” ujarnya kemudian.
***
PUKUL 21.00 WIB. Aku telah sampai di halaman hotel. Kulangkahkan kaki untuk langsung menuju bar dan karaoke yang ada di bagian belakang. Tante Gita, perempuan jalang itu harus terlebih dulu kutemui. Dan di sana, dia memang telah duduk bersama seorang lelaki. Lelaki itu, pasti lelaki yang ingin membokingku. Aku berkenalan dengannya. Seperti biasa, kami pun melakukan negosiasi tarif yang diinginkan. Tampaknya lelaki itu memang begitu tertarik padaku. Dan dia tahu, aku bukan seperti yang lain. Bukan freelance atau cube girls yang biasa dia temui di hotel-hotel murahan itu. Tante Gita pasti yang memberitahunya. Selama ini, memang bukan sembarangan lelaki bisa kencan bersamaku. Hanya orang-orang tertentu. Tertentu karena tarif dan tahu level statusku.
Negosiasi clear. Ternyata lelaki itu memutuskan untuk memilih longtime bersamaku. Ah, ini pasti melelahkan, pikirku. Tapi tak apalah. Sekali lagi, bukankah isi kantong lelaki itu lebih dari segalanya? Dengan longtime, kuyakin, kantongnya bisa kuperas hingga kandas tak berbekas. Dan hutangku pada perempuan jalang itu lunas.
Segera aku membuntuti lelaki itu. Kamar inapnya di lantai atas. Dia memilih tangga untuk menuju ke sana. Sampai di tangga kedua, tiba-tiba aku seperti melihat seseorang perempuan dengan lelaki menuju tempat yang sama. Mereka berjalan tak jauh di depan kami. Aku seperti mengenal perempuan itu. Rias wajahnya seperti tak asing di mataku. Hanya lampu di tangga itu yang tak mengizinkan untuk aku melihat lebih jelas raut wajahnya. Ah, aku penasaran. Entah mengapa tiba-tiba seperti ada gemuruh di dadaku. Dan gemuruh itu mengajakku untuk lebih mendekati perempuan dan lelaki itu. Aku mengajak lelaki bersamaku untuk sedikit mempercepat langkah kaki. Semula dia bertanya kenapa, aku katakan padanya perempuan di depan itu seperti aku kenal. Aku ingin memastikannya. Dia kemudian mengerti dan ikut mempercepat langkahnya.
Sampai di tikungan yang memisahkan antar billiardroom dengan ruang inap, aku berhasil memergokinya. Wajah perempuan itu kini jelas terlihat. Dan dia secara tak sengaja juga melihat ke arahku. Subhanallah….., aku spontan mengucap. Lelaki di sebelahku memandangiku lekat. Mungkin di hatinya berkata, ini bukan callgirl biasa. Darah di sekujur tubuhku terasa berdesir berkumpul di ujung kepala. Kedua kakiku tiba-tiba terasa seperti lumpuh. Tak mampu menopang tubuh yang telah lama terjual ini. Weni? Apakah benar dia? Di mana kerudung yang kerap melekat di kepalanya? Subhanallah….., sekali lagi lafal itu terucap. Bahkan berkali-berkali di hati. Rasanya mataku belum rusak dan sepertinya aku bukan sedang bermimpi. Perempuan itu, Weni? Ya, perempuan itu Weni.
Kami masih saling berdiri kaku di lorong itu. Meski aku tahu bukan bermimpi dan di hadapanku itu Weni, tapi aku benar-benar jadi bengong. Hingga belum sempat aku mengucapkan apa-apa padanya, dia tiba-tiba hilang di depanku. Dia beranjak pergi bersama lelaki itu menuju salah satu ruang inap. Sepontan aku coba mengejar dan memanggil namanya, tapi dia seperti tak mendengar. Dia seperti tak mengenalku dan segera mengajak lelaki di sampingnya itu untuk masuk ke ruang inap itu. Pintu langsung ditutup sebelum sempat aku menahannya. Kugedor pintu itu dan dengan sekuat suara aku memanggil namanya. Tapi tak juga kunjung dia jawab. Malah pintu itu terdengar seperti dikunci dari dalam. Sekilas terdengar di telingaku pembicaraan mereka. Lelaki yang bersamanya itu bertanya sama seperti pertanyaan yang dilontarkan lelaki di sebelahku kepadaku, “Apa sebenarnya yang terjadi?” Aku tak menjawab. Sesaat aku tertegun. Perasaan tak menentu dan kegalauan itu pun kembali menyergapku. Aku berusaha kuat. Berusaha bersikap wajar. Paling tidak di depan lelaki yang kini berdiri keheranan itu.
***
HAMPIR lebih dari lima kali pesan itu aku terima. Setelah aku kini berada dengan lelaki itu di kamar ini. Dan tugasku usai kujalani. Aku hanya bisa menyeka butiran air mata, ketika pesan bersambung sepertti sebuah surat di ponselku itu aku baca. Weni kini sebenarnya berada tak jauh dariku. Ruang inapnya hanya berjarak beberapa ruang saja dari ruang inapku. Tapi aku tahu, dia tak akan mungkin mampu menemuiku dengan keadaan yang sungguh sebelumnya tak pernah aku duga. Dia hanya bisa mengirim pesan itu sampai beberapa kali kepadaku, untuk menceritakan apa sebenarnya yang terjadi sejak dia meninggalkan kami beberapa waktu lalu.
Maaf, Ra. Aku tahu engkau pasti bertanya-tanya. Maka itu aku kirim pesan ini. Aku malu Ra, sungguh. Maafin aku. Aku malu kepadamu, pada Eka, Marya, bahkan pada diriku sendiri. Tapi ini garis tangan, Ra, seperti yang pernah kau katakan padaku beberapa waktu lalu dan kau meyakini itu. Maafkan aku jika sejak kejadian itu aku tak ada mengirim kabar kepadamu, pada Eka dan Marya. Aku tahu, kalian pasti mengkhawatirkanku. Dan engkau pasti bertanya: mengapa? Inilah jawabnya, Ra. Sejak kejadian itu, aku sempat depresi. Aku tak tahu harus bagaimana lagi meneruskan hidup ini. Engkau tahu kan? Tak ada satu pun lagi orang-orang yang menyayangi dan membiayaiku selama ini. Bagaimana aku harus melanjutkan pendidikanku yang selama ini aku cita-citakan itu? Ayah dan ibukku telah pergi. Pergi selamanya, Ra. Bahkan aku pun tak sempat menemui dan melihatnya untuk terakhir kali. Maka, mungkin inilah jalan terburuk namun terbaik di mataku untuk itu semua, Ra. Meski aku tahu, bukan Tuhan saja yang murka kepadaku setelah kujalani semua ini, tapi juga kamu, Eka, Marya dan semua yang tahu dan yang mengenaliku. Namun sekali lagi, sepertimu, seperti apa saja yang pernah kau ucapkan padaku, sehingga kau terjerumus untuk melakukan hal ini, itulah juga yang ada di hatiku, garis tangan.
Nada pengingat pesan itu tak berbunyi lagi. Malam semakin bisu. Tak puas hati, aku masih juga menunggu nada pengingat itu kembali, tapi memang tak ada lagi. Ah, Wen, garis tangan?***
Pekanbaru, Februari 2005
(seperti yang diceritakan seorang sahabat kepadaku beberapa waktu lalu)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: