Alung

Alung

Cerpen Sobirin Zaini
Dimuat di Riau Pos

Bukan dua tiga kali kejadian hamil di luar nikah terjadi di kampung itu. Kalau dihitung-hitung, sudah berkali-kali pula. Simaklah, sejak Inah anak Wak Kajan, yang tiba-tiba perutnya berisi sepulangnya dari Batam. Begitu juga Ani anak Wak Salman, perutnya buncit setelah sepulangnya Inah. Dua tahun belakangan ini sudah jadi musim anak-anak muda kampung itu pergi mencari kerja ke pulau sejumput itu. Karena memang kondisi ekonomi sangat memrihatinkan. Setamat SMA, mereka hijrah beramai-ramai setelah ada satu anak perempuan kampung itu yang nampaknya berhasil bekerja di sana. Pulang saat lebaran dengan berbagai hiasan di leher dan tangan. Dan bukan hanya anak-anak perempuan, anak-anak lelaki juga. Mereka biasanya bekerja di sebuah pabrik elektronik, atau di perusahaan galangan kapal yang gajinya memang cukup menggiurkan. Kalau sudah begitu, anak-anak lelaki yang bekerja di sana biasanya pulang dengan motor baru.

Tapi itu pula masalahnya. Karena kondisi lingkungan di kota industri itu cukup tak terkendali, mereka terjebak dengan pergaulan yang tak ada batas. Yang pulang dari sana bukan hanya berhasil membawa perhiasan dan motor baru, tapi juga penduduk kampung yang baru. Yang tak menarik lagi, jantan yang membuat ulah itu bukanlah orang lain, orang sekampung juga. Karena kabarnya, mereka memang bekerja dan tinggal di lingkungan yang sama.

Bawa aranglah mereka ke kampung itu untuk dibubuhkan ke wajah orang tuanya. Bukan sekali dua, setelah itu, kejadian serupa terjadi lagi. Alahmak, tak cukup sekali rupanya orang-orang kampung itu merasakan arang hinggap di wajah mereka. Simak saja runtutan kejadian setelah itu, Eci hamil karena Jaki, Intan hamil karena Antan, Suri karena Mali dan terakhir Jamilah anak Wak Timin sendiri, penghulu kampung yang selama ini disegani juga mengalami kejadian serupa. Astaghfirullah!

***

Kabar itu akhirnya sampai juga di telinga Alung. Sore tadi, saat baru saja ia menginjakkan kaki di teras rumahnya sepulang mengajar, tiba-tiba ponselnya berdering. Abahnya, Wak Haji Leman dari kampung menelepon dan meminta ia segera pulang.

Kalau menurut Abah, kau memang harus balek, Lung. Dah kacau betul nampaknya kampung kita ni. Kau masih ingat kan? Tak sampai rasanya sebulan lalu Abah cerita pada kau tentang kejadian itu, ha, sekarang dah terjadi lagi. Beruntun pula, ucap Abahnya lewat telepon sore itu. Abahnya memang tampak emosional, itu dapat ditangkap Alung dari suara dengan logat Melayu-nya yang kental itu. Meninggi dan terasa menghentak-hentak di telinga Alung.

Ya, ya, Abah. Aku akan segera balek. Dan seperti biasa aku berikan ceramah dan nasihat itu. Tapi abah tahulah sendiri bagaimana kerjaku di sini. Sekarang orang sedang aktifnya kuliah. Tak mungkin rasanya aku tinggalkan mahasiswa itu. Tugas berceramah di sana-sini pun lagi banyak. Tapi beginilah, aku pikir, kalau setakat sehari dua, mungkin aku dapat minta izin. Sekarang hari apa, Bah? Ucap Alung tegas menanggapi aduan abahnya itu dan bertanya hari kepada abahnya.

Ini hari Rabu, jawab abahnya singkat.

Okelah, Bah. Besok pagi aku segera balek, setelah aku ke kampus dulu dan menyelesaikan beberapa administrasi untuk izin itu. Karena besok hari Kamis, Abah siapkan segala sesuatu di sana untuk malam Jumatnya. Masih ada kan baca yasin bersama setiap malam Jumat di surau tu, Bah? Ujar Alung lagi dan bertanya kepada oang tua di seberang itu.

Masih. Ya, masih, Lung, jawab abahnya.

Ya, jadi acara ceramah itu kita adakan setelah baca yasin bersama. Bagaimana, Bah? Suai? Sambut Alung minta persetujuan. Abahnya setuju. Percakapan dua anak-beranak itu pun tampak selesai di situ. Alung segera masuk ke dalam rumah. Sepatunya yang tadi belum sempat ia buka kini dibuka dan diletakkan di rak yang ada di sebelah pintu.

***

Sudah hampir menjadi kebiasaan memang. Saat ada masalah yang agak ganjil di kampung itu, Alung anak Wak Haji Leman selalu diundang untuk pulang dan memberi ceramah kepada orang-orang kampung. Wajarlah pula, tak banyak orang-orang muda kampung yang seperti Alung. Bahkan mungkin dapat dikatakan hanya dia satu-satunya.

Alung anak Wak Haji Leman itu, belum sampai umur 30 tahun telah menyandang gelar doktor di bidangnya. Ia lulusan jurusan dakwah di sebuah perguruan tinggi Islam di Pekanbaru. S1-nya hanya butuh dua tahun setengah ia selesaikan. Setelah itu langsung ia lanjutkan pendidikan S2 di perguruan tinggi yang sama. S2 ini dapat ia selesaikan tepat waktu dengan predikat memuaskan. Sampailah ia kuliah S3 di luar negeri, tepatnya di Universitas Alazhar Kairo, Mesir. Karena prestasi di jenjang pendidikannya itu, setamat kuliah, dia langsung direkrut menjadi tenaga pengajar di almamaternya. Lengkaplah. Ya, lengkaplah Alung sebagai anak muda satu-satunya di kampung itu yang dikatakan berhasil dan dapat menjadi contoh anak muda yang lain. Bahkan kini Alung tak hanya dikenal sebagai dosen termuda yang ada di salah satu perguruan tinggi Islam kota itu, dia juga dikenal luas masyarakat sebagai penceramah agama yang menarik dan memikat.

Ah, tentu saja, bagi orang-orang kampungnya sendiri, orang seperti Alung dianggap langka dan selalu dibanggakan. Karena memang tak banyak pula penceramah di kampung itu, yang rasanya ilmu dan cara penyampaiannya seperti Alung. Penceramah sebelum ini yang diundang memang orang-orang yang sudah lama berkecimpung di dunianya. Hanya saja mereka rata-rata lulusan S1 dan berasal dari kampung sebelah. Maka, pikir-pikir, seperti yang pernah disampaikan abahnya setelah berbual-bual di surau beberapa waktu lalu, kenapa harus mengundang orang luar kalau ada anak kampung sendiri yang tak kalah kurangnya? Sejak itulah, Alung selalu memberikan ceramah di surau kampung, baik saat ia pulang lebaran, ketika sesekali pulang karena rindu dengan abah, emak dan adik-adiknya, atau memang sengaja diundang ketika ada masalah pelik seperti ini.

***

Senja itu, suasana di kampung tampak lengang. Hanya satu dua orang melintas di jalan berdebu yang diapit dua parit itu. Alung baru saja dari kamar mandi. Ia mandi dan berwudhu setelah sampai dari Pekanbaru. Setelah sebelumnya sempat berbual panjang melepas rindu dengan abah dan emaknya.

Sesuai runding Alung dan abahnya lewat telepon saat ia masih di Pekanbaru, rencana memberikan ceramah di surau ingin segera dilaksanakan. Karena waktu azan maghrib juga sudah hampir tiba. Abahnya nampak bersiap-siap dengan baju kurung dan kopiahnya di ruang tengah. Jarak dari rumahnya ke surau kampung itu memang tak jauh sangat. Hanya butuh beberapa langkah saja. Alung juga sudah bersiap, sementara abahnya menunggu di teras rumah. Mereka pun segera berangkat.

Tapi, seperti ada yang tak biasa di surau petang itu. Abahnya sempat membatin dan coba mengingat-ingat, kenapa hanya Wak Hasan imam surau dan Wak Jumin saja yang nampak dalam surau itu? Padahal pagi tadi dia sudah sampaikan kepada Wak Hasan bahwa hari ini Alung balek dan memberikan ceramah setelah baca yasin bersama. Tapi kenapa sampai azan maghrib, orang-orang kampung yang biasa datang tak nampak batang hidungnya? Pasti ada yang tak kena, pikir Wak Haji Leman. Ditengoknya sekilas wajah Alung di sebelahnya, ternyata anaknya itu juga tak bersenyum dan heran. Apalagi, dua orang tua yang ada dalam surau itu tak seperti biasa. Tak ada uluran salam dan menanyakan kabar pada Alung yang baru datang dari Pekanbaru itu.

Ada apa ni Wak. Mana jamaah kita yang lain? Sergah Wak Leman pada Wak Hasan sesampainya ke dalam surau. Wak Jumin yang ada disampingnya malah seperti tak dengar dengan pertanyaan Wak Leman. Sementara Wak Hasan sendiri tampak bersalah dan kesusahan menjawab pertanyaan itu.

Itulah, Wak. Sebenarnya tadi sudah saya sampaikan pada sebagian jamaah yang ada di pesta pernikahan anak penghulu kampung tu. Tapi entah kenapa pula tak ada yang datang malam ni, jawab Wak Hasan tampak segan dengan Alung yang berdiri di samping Wak Haji Leman. Semula Alung diam saja, tapi lama-lama dia ingin menyampuk juga.

O, jadi tadi ada pesta pernikahan ya, Wak? Siapa yang nikah? Kalau anak penghulu kampung berarti Jamilah itu. Hai, anak baru seumur jagung? tanya Alung kemudian terkesan menyelidik pada Wak Hasan imam surau itu.

Ya, Lung. Jamilah tulah, siapa lagi. Dah terlanjur bunting, Lung! jawab Wak Hasan santai meski nampak agak kesal.

Aduh, gumam Alung kemudian setelah mendengar jawaban itu. Tiba-tiba nyeri di ulu hatinya terasa lagi. Bukan hanya berita itu yang dari awal sudah membuat ia prihatin, tapi lebih dari itu, karena orang-orang tua yang menjadi jamaah baca yasin di surau itu pun tak datang. Alung tahu, semua ini pasti karena mereka sudah kelelahan setelah menggelar pesta pernikahan pengantin hamil yang lama-lama dianggap biasa di kampung itu. Dan memang benarlah, setelah azan dikumandangkan dan mereka berempat sholat maghrib berjamaah, suasana di surau itu masih juga tampak lengang.
Lengang.***

Pekanbaru, Akhir 2007

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: