Perempuan yang Mandi di Sungai Itu

Perempuan yang Mandi di Sungai Itu

Cerpen Sobirin Zaini
Dimuat di Riau Pos

Pukul 15.30 WIB (Menjelang petang)
Matahari terlihat samar di balik rimbunan pohon bambu yang ada di hadapannya. Kail pancing yang hampir setengah jam lalu dia lemparkan ke sungai itu masih juga tak bergerak, tak juga memberikan tanda bahwa umpan yang dipasang dimakan ikan yang diharapkan. Ah, sungai ini memang tak seperti dulu lagi, pikirnya. Seperti dua puluh tahun lalu saat ia baru pertama kali mengenal mata kail itu. Waktu itu, bersama abah, hanya perlu beberapa menit saja, ia sudah bisa mendapatkan ikan di sungai itu. Saat pulut kelapa di rantang yang biasa mereka bawa itu pun belum sempat dicicipi. Juga matahari yang bediri tepat di depan mereka, masih tercacak di tempatnya. Ya, baginya, sungai itu bak surga bagi para pemancing yang ada di kampungnya. Bagi mereka yang memilih menghabiskan waktu untuk berjam-jam duduk di sana.
Tapi itu dulu. Tepatnya, beberapa tahun lalu, saat ia masih kanak-kanak. Sekarang, tengoklah. Sudah hampir satu jam ia duduk di pinggir sungai itu, mata kail yang ia lepaskan tak juga kunjung bergerak. Permukaan air sungai itu pun tak beriak setakat memberi tanda bahwa ada sesuatu di dalamnya. Ah, lama-lama bosan juga, gumamnya. Entah kenapa, matanya yang sejak tadi memandangi tali pancing yang terendam di sungai itu pun kini mulai kantuk. Sebatang rokok yang ia hisap juga tak mampu lagi mengusirnya. Tampaknya ia memang sudah mulai putus asa. Dan di hatinya juga tiba-tiba muncul niat untuk menyelesaikannya sampai di situ. Ia pun mulai mengangkat pantat dari tempatnya. Coba beranjak dan menarik mata kail dari sungai itu. Tapi tiba-tiba, tanpa sengaja ia terpandang sosok seseorang berdiri di sebelah utara sungai. Dia terkejut. Rasanya dari tadi dia berada di situ, ia seperti tak melihat makhluk apapun di sekitarnya. Suasana cukup sunyi, hanya beberapa ekor Tiung saja yang sesekali terbang dan hinggap di pohon kelapa yang ada di seberang sungai itu. Ya, dia terkejut sekali. Dan sekelabat pertanyaan pun tiba-tiba muncul di benaknya. Siapa gerangan sosok orang yang ada di sebelah sungai itu? Apa yang dilakukannya di sana? Sosok itu memang cukup jauh. Dari tempat dia memancing, sosok itu didapati hanya sesuatu yang memutih. Tapi ia tak dapat menyangkal kalau itu memang sosok seseorang. Itu bisa ia pastikan dari gerak-gerik dan wujudnya secara sekilas. Dia semakin penasaran. Ia coba gegas mengemasi peralatan memancingnya. Sesekali pandangannya masih diarahkan ke sana. Dan sosok itu memang masih di sana. Sosok itu masih bergerak membungkuk dan berdiri seperti yang pertama ia lihat. Lalu ia coba menghampiri sosok itu dengan menelusuri pinggiran sungai. Ya, kini ia semakin dekat. Sosok itu semakin jelas.
Dan, “Astaga!” Ujarnya tiba-tiba. Dia terkejut. Ternyata sosok itu seorang perempuan. Perempuan yang sedang mandi di sana. Puih, siapa perempuan itu? Apakah dia penduduk kampung? Wajahnya memang tak terlihat karena sosok itu menghadap berlawanan dengannya. Cukup penasaran juga ia dibuatnya. Bukankah selama ini tak ada satu pun penduduk kampung yang mandi di sungai itu? Kalau pun ada penduduk kampung yang beraktivitas di sungai itu, paling hanya memancing, selain itu tidak ada, pikirnya. Jadi, lagi-lagi, siapa perempuan itu? Ia pun tiba-tiba gugup. Bagaimana tidak, sosok itu memang tampak mengenakan selembar kain berwarna putih untuk menutupi tubuhnya, tapi tubuh itu tetap jelas terlihat lekuk-lekuknya karena air sungai telah membasahinya. Bagian paha sosok perempuan itu juga tampak menggoda karena kain yang menutupinya tersibak.
Ya, ia benar-benar gugup. Ia telah begitu dekat melihat perempuan yang sedang mandi itu, sementara sosok itu sejak tadi tak juga kunjung menampakkan tanda-tanda bahwa ia tahu kalau di situ ada seseorang melihatnya. Karena tengoklah, dengan santai, sosok itu masih juga mengayunkan tangannya untuk mengambil air sungai itu dengan selembar tempurung kelapa lalu mengguyurkan ke tubuhnya. Berkali-kali. Bahkan sesekali sosok itu juga menggosokkan lengan kirinya dengan tangan kanannya. Lalu dia juga menggosok-gosok ke bagian tubuh yang lain. Aih, semua ia lihat. Ya, terlihat.
Pukul 18.00 WIB (Senja mulai merangkak)
SENJA di kampung itu tak seperti biasanya. Di rumah beratap rumbia dan berdinding papan itu tampak ramai. Terlihat para tetua kampung dan sejumlah pemuda berkumpul di sana. Tampak juga beberapa orang perempuan dengan menggendong anaknya sibuk berbual. Seperti ada sesuatu kejadian yang sangat tak biasa dan merisaukan di rumah itu. Ya, Udin, anak Tuk Jamang, penghulu kampung, rupanya sudah dua hari ini tak pulang. Hilang tak tentu rimba. Dan itulah sebabnya penduduk kampung heboh. Ternyata sudah dua hari ini pula mereka sibuk mencari Udin di setiap sudut kampung, tapi tak ada hasilnya. “Hah! Jadi macam mana Tuk?” Teriak Ujang, kawan sepermainan Udin, coba bertanya pada Tuk Jamang yang berada tak jauh di depannya. Kerumunan orang-orang kampung yang berkumpul di rumah itu pun serempak melihat Tuk Jamang. Menunggu jawaban apa yang diberikan penghulu kampung yang sedang kehilangan anak lelakinya itu.
“Ah, entahlah. Tak dapat aku nak cakap lagi. Lututku dah letoi,” jawab Tuk Jamang terlihat pasrah di hadapan penduduk kampung. Sementara Mak Inah, istri Tuk Jamang, sejak petang tadi tampak tak berhenti-henti menangis. Suasana tiba-tiba hening. Tak ada satu pun orang yang bercakap. Tampak sekali rasa cemas dan risau di wajah mereka. Kalau mau jujur, Ujang, Rampin, Atan dan beberapa pemuda dan tetua kampung yang lain, sebenarnya juga sudah mulai merasa putus asa. Maklumlah, mereka sendiri merasa tak tahu lagi di mana hendak mencari keberadaan Udin. Selama dua hari ini, tak hanya di sungai di mana Udin itu menghilang, semua sudut kampung bahkan sampai ke arah laut pun, semua sudah mereka jelajahi. Tak hanya siang, malam pun mereka bergerak, tapi hasilnya, nihil.
Dan suasana semakin hening. Lagi-lagi, tak ada satu pun mereka yang berkumpul di rumah itu bercakap. Mereka seperti sudah kehilangan akal. Tuk Jamang dan istrinya, Mak Inah, tampak semakin lemah menyandar di dinding rumah. Sementara orang-orang kampung yang ramai berkumpul masih tetap diam. Diam.
Tiba-tiba dari arah pagar halaman rumah, tampak Si Goli, anak Wak Entan?nelayan tua itu?berlari tergesa-gesa menuju ke arah kerumunan orang kampung di rumah itu. Dia seperti dikejar hantu, napasnya tercungap-cungap. Memanggil-manggil nama Tuk Jamang setengah berteriak. Melihat itu, suasana kembali ramai. Orang-orang kampung yang berkumpul itu jadi bertanya-tanya, apa pula gerangannya?
“Hah! Kenapa pulak kau ni Li!” Sergap Ujang yang langsung berdiri dan setengah berlari ke halaman rumah mendekati budak yang tercungap-cungap itu. Sementara Goli sendiri, masih tampak susah hendak bercakap. Mengatur napasnya yang masih tercungap-cungap.
“Bang Udin. Bang Udin, Bang! Saya nampak Bang Udin tergeletak di semak-semak dekat jalan menuju sungai itu!!” Ujar Goli terbata-bata sambil memegang dadanya. Tak pelak, suasana semakin ramai dan heboh. Suara-suara orang-orang kampung semakin terdengar seperti lebah madu.
“Ha! Betul ke ni Li!” Bentak Ujang pada anak itu setengah tak percaya. Sementara dari arah serambi rumah, Tuk Jamang sudah berdiri dan menatap mereka berdua di halaman itu. Ada sesuatu di wajahnya. Cemas dan kerisauan itu serasa lenyap.
“Dah-lah kalau gitu! Yuk, cepat sama-sama kita ke sana!” Ajak Tuk Jamang tiba-tiba dari arah rumah setengah berlari mengajak beberapa pemuda dan tetua kampung yang ada di situ. Mereka pun segera bergerak bersama menuju jalan ke arah sungai seperti yang dikabarkan itu.
Dan ternyata memang benar apa yang dikatakan Goli. Udin nampak tergeletak lemas di balik semak-semak samping jalan menuju ke arah sungai itu. Dia pingsan. Sekujur tubuhnya terasa dingin sekali. Ujang, Tuk Jamang, dan beberapa orang pemuda kampung kemudian segera mengangkat tubuh yang lemas itu. Mereka mencoba membawanya ke rumah Tuk Jamang. Dan orang-orang kampung masih ramai saat tubuh Udin sampai di rumah orang tuanya itu. “Syukurlah!” Ujar beberapa orang yang ada di sana. Udin selamat dan dapat ditemukan setelah beberapa hari menghilang. Meski dalam hati mereka bertanya-tanya, apa sebenarnya terjadi? Bagaimana Udin bisa hilang kemudian ditemukan dalam keadaan seperti itu?
Pukul 05.00 WIB (Subuh masih gigil)
KABUT dan embun bersetubuh menyelimuti daun dan pelepah kelapa di sekeliling rumah. Ruangan itu tampak hening. Beberapa orang-orang baru saja terjaga dari tidurnya. Mereka saudara-saudara terdekat Tuk Jamang yang sengaja menginap sejak malam, menunggui Udin yang masih tergeletak di lantai beralaskan tikar pandan itu. Udin memang tampak belum sadarkan diri. Tapi, dari tubuh yang tergeletak itu tiba-tiba terdengar suara. Tuk Jamang, yang mendengarnya gegas berlari dari arah serambi rumah. Dia mendekati Udin yang masih tergeletak itu.
“Ekh….akh….ekh…ehmmmm…uhmmm,” Udin bersuara dan bergumam panjang seperti mengigau, membuat beberapa saudara Tuk Jamang yang ada di rumah itu bangkit dan melihat apa yang terjadi ke arah Udin. Tuk Jamang yang berada di sampingnya itu tampak memegang kepalanya dan coba memanggilnya untuk segera membuka mata. Suasana masih hening. Tuk Jamang memanggil nama Udin berkali-kali. Sementara Udin sendiri masih saja menggumam. Hingga akhirnya matanya terbuka juga. Tuk Jamang tersenyum. Diusap-usapnya kepala anaknya itu. Dia kemudian menyuruh Mak Inah, istrinya yang tak henti-henti menangis itu mengambil segelas air putih dari dapur. Dan kini gumam Udin benar-benar berhenti. Lalu dia gegas meminum air putih yang disodorkan abahnya itu hingga tak tersisa.
“Apa yang terjadi, Nak?” Ucap Tuk Jamang bertanya pada Udin. Udin sendiri masih terkebel-kebel melirik samping kanan dan kiri ruangan rumah. Matanya masih tampak kosong. Dilihatnya beberapa orang saudaranya masih duduk mengelilinginya. Menatapnya sendu dan seperti sangat berharap menunggu ucapan keluar dari mulutnya.
“Ah, lututku masih lemas,” ujarnya perlahan. Bibirnya tampak berat untuk mengucapkan sesuatu dan menceritakan apa sebenarnya yang terjadi. Hingga dengan suaranya yang lirih dan lambat, akhirnya dia bercakap juga. “Maafkan aku, Bah. Aku masuk ke kampung mereka. Karena perempuan molek itu. Aku bertemu dia waktu aku mancing ikan di sungai itu. Dia sedang mandi di sana. Aku dibawa ke sana, Bah. Kampung yang serba putih itu. Ya, perempuan itu. Perempuan Bunian, Bah. Syukurlah, aku berhasil keluar dari kampung itu setelah dua hari aku berada di sana. Aku hampir diajak kawin dengan perempuan itu…”
Suasana tiba-tiba kembali ramai. Beberapa orang saudara Tuk Jamang yang ada di rumah itu saling memandang satu sama lain. Mereka seperti tak percaya dengan cerita Udin barusan. Perempuan Bunian? Akh!***
Rumahkedua, Awal 2007

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: