Kapankah Nafsumu Puas?

Pengajian Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany
Hari Jum’at tanggal 11 Sya’ban tahun 545 H. di Madrasahnya Berserasilah dengan Allah Azza wa-Jalla dalam soal makhluk, dan jangan berserasi dengan makhluk dalam urusan Allah Azza wa-Jalla. Hancurlah yang hancur
dan kembalilah yang kembali. Dikisahkan oleh Abdullah bin al-Mubarak ra, bahwa suatu hari ada seseorang datang kepadanya meminta sesuap makanan, dan di rumahnya kebetulan tinggal ada sepuluh biji telur. Lalu ia menyuruh pelayan perempuan untuk memberikan sepuluh telur itu, lalu pelayan itu memberinya sembilan telur disisakan satu.

Ketika maghrib tiba, tiba-tiba ada lelaki datang mengetuk pintunya, lalu orang itu berkata, “Ambillah keranjang ini”. Lantas Abdullah ra mengeluarkan apa yang ada di keranjang itu, ternyata isinya telur. Kemudian ia menghitungnya, ternyata jumlahnya sembilan telur. Ia bertanya pada pelayan perempuannya, “Mana telur yang lain? Berapa jumlah telur yang kamu berikan tadi?”.

“Sembilan, saya sisakan satu, agar kita bisa berbuka dengan satu telur itu “jawab pelayan itu.
“Utang yang harus kita bayar itu sepuluh…” kata Abdullah. Itulah kehidupan dan amaliyahnya pada Tuhannya Azza wa-Jalla. Mereka beriman dan membenarkan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka tak pernah kontra dengan sumber utama itu dalam gerak-gerik kehidupannya, keluar maupun masuknya harta semata untuk amal kepada Allah Azza wa-Jalla, karena mereka sangat beruntung dan amaliahnya dan sangat disiplin. Mereka melihat pintuNya terbuka, dan melihat makhlukNya tertutup, mereka menghindari pintu itu. Mereka berserasi dengan Allah azza
wa-Jalla untuk makhlukNya, namun tidak berserasi kepada makhluk untuk menuju Allah Azza wa-Jalla. Mereka juga berselaras dengan Allah Azza wa-Jalla dalam hal amarahNya bagi orang yang mendapatkan amarah, dan berserasi dalam CintaNya bagi orang yang dicintaiNya.

Karena itu diantara mereka berkata, “Berserasilah dengan Allah Azza wa-Jalla dalam soal makhluk, dan jangan berserasi dengan makhluk dalam urusan Allah Azza wa-Jalla. Hancurlah yang hancur dan kembalilah yang kembali. Kaum sufi senantiasa
di sisi Allah Azza wa-Jalla, memohon pertolongan padaNya untuk diri mereka dan yang lain. Mereka tidak mempan dengan cacian si pencaci, dan tidak takut pada siapa pun dalam menegakkan aturan dan
syariatNya.”

Anak-anak sekalian, tinggalkan stressmu, dimana anda tenggelam di dalamnya. Dan ikutilah jejak kaum sufi dalam ucapan maupun tindakan. Jangan sampai anda mencari wushul sebagaimana ungkapannya para pendusta yang mengaku-aku telah sampai (wushul) kepada Allah Azza wa-Jalla. Bersabarlah dengan cobaan sebagaimana mereka bersabar, hingga anda meraih wushul sebagaimana mereka raih.

Kalau bukan karena cobaan, niscaya manusia menjadi hamba yang zuhud semua, tetapi datanglah cobaan pada mereka, namun mereka tidak sabar menghadapinya, sehingga mereka terhijab dari pintu Tuhannya Azza wa-Jalla.

Siapa yang tidak sabar, ia tidak meraih anugerah. Bila ridho dan sabar hilang darimu, akan menjadi faktor penyebab yang membuat dirimu keluar dari ubudiyahmu kepada Allah Azza wa-Jalla, sebagaimana firmanNya dalam hadits Qudsi: “

Siapa yang tidak rela pada ketentuanKu, dan tidak sabar pada ujianKu, maka hendaknya ia mencari Tuhan selain Aku.” (Hr. Ibnu Asakir)

Terimalah dariNya, bukan dari yang lainNya. Sang Penentu itu ada bagimu dan memberikan ujianmu. Wujudkan Islam kalian secara hakiki hingga meraih iman.

Dan berimanlah secara hakiki hingga kalian meraih Iqon (rasa yaqin), maka saat itulah kalian melihat apa yang belum pernah kalian lihat dari sisi raya yaqin.

Segalanya tampak bagimu seperti rupa yang sesungguhnya, dan informasi menjadi jelas, karena benar-benar qalbu berserah diri pada Al-Haq Azza wa-Jalla, karena segalanya menampakkan diri dariNya.
Apabila qalbu mandiri di hadapan Allah Azza wa-Jalla, anda keluar menuju kepadaNya dengan tangan kemuliaan, sehingga anda menjadi mulia karenaNya.

Maka jadilah diri anda sangat dermawan, memprioritaskan yang lain dibanding diri anda, dan sedikit pun anda bukan orang bakhil.

Qalbu yang benar adalah qalbu yang bagus dan mulia hanya bagi Allah Azza wa-Jalla. Sedangkan batinnya telah bersih dari kotoran adalah mulia, dan bagaimana keduanya tidak pernah terwujud padahal Allah Yang Maha Mulialah yang menganugerahkan padanya?

Wahai kaum Sufi, hendaklah anda ini dermawan dan lebih mementingkan orang lain demi taat kepada Allah azza wa-Jalla. Bukan untuk maksiat. Karena setiap harta yang didistribusikan untuk maksiat, sama saja membiarkan terhapus ibadahnya.
Disiplinlah dalam bekerja disertai disiplin taat hingga anda merasakan kedekatan dari Allah Azza wa-Jalla, hingga seluruh problemamu kau hadapkan padaNya, besertanya, bukan beserta lainnya.
Dengan begitu makananmu benar-benar dari kiprah anugerah dan kemurahanNya, hanya saja anda tidak tahu dan tidak mengerti.

Nafsu itu menjadi hijab mereka, manakala nafsu telah hilang dari pusatnya maka hilanglah hijab itu. Disinilah Abu yazid al-Bisthamy ra, mengatakan, “Aku bermimpi melihat Tuhanku, dan aku bertanya, bagaimana jalan menuju kepadaMu wahai Sang Pencipta? Lalu Allah Azza wa-Jalla menjawab, “Tinggalkan nafsumu dan kemarilah!”.
Lalu aku meninggalkan nafsu itu seperti biji meninggalkan kulitnya. Karena Allah swt, memperjelas terhadap nafsu, bukan lainnya, dan Dia memerintahkan untuk meninggalkan nafsu. Karena dunia dan semuanya selain Allah Azza wa-Jalla mengikuti nafsu. Dunia dan akhirat dengan segala kesenangannya juga mengikuti nafsu. Allah swt. Berfirman:
“Dan di dalam syurga itu apa yang yang disenangi oleh nafsu-nafsu dan menyenangkan mata.” (Az-Zukhruf 71).

Kaum Sufi itu ketika siang hari mereka melakukan kebajikan untuk makhluk dan keluarganya, sedangkan di malam hari, mereka hanya untuk khidmah kepada Tuhannya Azza wa-Jalla dan khalwat denganNya.

Para raja saja, di siang hari mereka bercengkerama dengan anak-anaknya, binatang buruan dan menyelesaikan kebutuhan rakyatnya. Ketika malam hari mereka melakukan pertemuan dengan para menterinya dan pengawal terpilihnya.

Dengarkan! Semoga Allah swt merahmatimu apa yang aku ucapkan, dengarkan dengan telinga hatimu, camkanlah dan kerjakanlah bersama Allah Azza wa-Jalla. Seseorang seharusnya tidak bicara kecuali bersama Allah swt, dan dari Allah swt. Ia tidak bicara kecuali dengan jalan Allah Azza wa-Jalla yang paling bersih. Anda tidak bisa diterima jika mengatakan kepadaku, “Betapa bagusnya kamu.” Tetapi katakanlah kepadaku dengan ucapan hatimu, maka anda jadi bagus.

Amalkan atas apa yang ku ucapkan padamu, ikhlaslah dalam mengamalkan itu, sampai ketika aku melihat semua itu darimu, aku katakan padamu, “Kalian memang bagus.”.
Sampai kapan anda puas dengan nafsumu, duniamu, akhiratmu, makhluk dan segala hal selain Allah Azza wa-Jalla secara total? Makhluk itu hijab nafsumu, dan nafsumu adalah hijab hatimu, dan hatimu adalah hijab bagi rahasia batinmu.

Sepanjang anda bersama makhluk, maka anda tidak bisa melihat nafsumu. Namun jika anda meninggalkan makhluk anda akan melihat nafsu anda, betapa nafsu itu sangat memusuhi Tuhanmu Azza wa-Jalla dan musuh bagi kebahagiaan sejatimu.

Karena itu perangilah nafsu itu secara terus menerus sampai ia tenang di hadapan Tuhannya Azza wa-Jalla, tenang dan tenteram pada janjiNya, dan takut akan ancamanNya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Nya.

Disanalah anda berserasi dengan takdir Allah Azza wa-Jalla.
Maka disitulah hijab sirna dari qalbu. Rahasia batinmu akan melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya, dimana Qalbu dan rahasia Qalbu mengenal Tuhannya Azza wa-Jalla,
bergegas menuju kepadaNya, sama sekali tidak terpaku pada sesuatu selain Dia Azza wa-Jalla.

Sang arif itu tidak pernah berhenti pada sesuatu pun selain Allah Azza wa-Jalla Sang Pencipta segala sesuatu itu sendiri.
Si arif tidak tidur untukNya, tidak lelah bagiNya, tidak ada batasan bagiNya, kepada Allah Azza wa-Jalla.

Sang pecinta tiada maujud dirinya, karena ia berada di lembah Takdir dan Pengetahuan bersama Allah Azza wa-Jalla.

Gelombang lautan ilmu menanjakkan ketinggiannya, hingga melepaskannya ke angkasa menuju bintang-bintang.

Ia sendiri sirna, tiada, tak terfahami logika. Ia bisu dan tuli, kecuali hanya mendengar Allah Azza wa-Jalla, tidak melihat lainNya. Ia mati di hadapan Allah azza wa-Jalla, dan bila Allah Azza wa-Jalla menghendakinya, Dia menghidupkannya, dan apabila Allah azza wa-Jalla berkehendak, Dia menampakkannya.

Selamanya, ia berada dalam kemah-kemah taqarrub pada Allah Azza wa-Jalla. Bila datang kesempatan hukuman mereka siap melaksanakan. Jika ada kesempuatan keluar, mereka berada di depan gerbang melaksanakan eksekusi terhadap makhluk, sebagai perantara antara makhluk dengan Allah Azza wa-Jalla. Itulah situasi kondisi mereka, namun kondisi ruhani mereka itu ada yang dirahasiakan.

Wahai kaumku, hati-hati! Kalian sedang bingung, karena kalian berada di simpang zaman yang sia-sia. Sabarlah bersama Allah Azza wa-Jalla, maka kalian bisa melihat apa yang ada di dunia dan di akhirat.
Bila kalian ingin mewujudkan Islam, kalian harus Istislam (pasrah total). Bila anda ingin meraih taqarrub dari Allah Azza wa-Jalla, seharusnya anda menyerahkan diri anda di hadapanNya, takdir dan tindakanNya, tanpa harus bertanya, “Kenapa? Bagaimana?”.

Dengan cara begitu anda bisa bertaqarrub. Jangan sekali-kali punya kemauan, karena punya kamuan di hadapanNya itu tidak benar. Allah Azza wa-Jalla berfirman: “Dan mereka tidak bisa berkehendak kecuali Allah menghendakinya.” (Al-Insaan: 30)

Bila apa yang anda inginkan tidak tercapai, maka jangan lagi berhasrat lebih. Jangan sampai engkau tentang Allah Ta’ala, dalam hal tindakanNya. Bila Allah menguji harga dirimu, hartamu, kesehatanmu, anakmu dan dan hancurnya dirimu, maka tersenyumlah dalam menghadapi takdirNya, kehendakNya dan perubahanNya. Tetaplah begitu bila anda ingin dekat denganNya, jika anda ingin bersih jiwamu bersamaNya. Bila anda ingin hatimu sampai padaNya, sedangkan anda di dunia, maka rahasiakanlah deritamu dan tampakkanlah kegembiraanmu, dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik. Rasulullah saw, bersabda:
“Roman gembira orang beriman itu di wajahnya, sedangkan susahnya tersimpan di hatinya.”

Jangan sampai anda mengadu pada seseorang, karena jika anda mengadu pada Allah Azza wa-Jalla, namun juga mengadu pada sesama makhluk, dirimu gugur di hadapanNya, sehingga masalah anda tidak hilang.

Jangan kagum pula pada amal perbuatan anda, karena kagum itu merusak amal ibadah anda. Namun siapa yang memandang pertolongan Allah Azza wa-Jalla (dibalik amal ibadahnya), seluruh ketakjuban amal akan sirna. Jadikan tujuanmu itu adalah Dia, karena Dialah yang menjadikan rahmat bagimu, menyiapkan faktor-faktor penyebab sampainya dirimu padaNya.
Perbuatan mereka lebih banyak dibanding ucapannya, karena mereka adalah wakil Allah Azza wa-Jalla bagi makhluk, khalifahNya, bentengNya di muka bumi, merekalah yang begitu spesial di hadapanNya.

Tapi kamu wahai munafiq! Kamu bukan mereka! Jangan kamu campur aduk kemunafikanmu dengan mereka, pasti tidak akan pernah bisa, baik dalam angan-angan, ungkapan maupun perkataan.

“Ya Allah jadikanlah kami tergolong orang-orang yang jujur dan benar, Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Janganlah kamu merasa mendapatkan kondisi ruhani mereka dengan hanya formalitas belaka atau berpakaian dengan gaya pakaian mereka, berbicara dengan wacana mereka, semua itu tidak ada gunanya manakala kamu masih kontra dengan perbuatan mereka. Kamu kotor tanpa kebersihan akhlak jiwa dan tanpa Sang Khaliq azza wa-Jalla.

Kalian ini dunia tanpa akhirat, batil tanpa kebenaran, lahir tanpa batin, ucapan tanpa tindakan, tindakan tanpa keikhlasan, keikhlasan tanpa keserasian dengan Allah azza wa-Jalla.

Sesungguhnya Allah Azza wa-Jalla tidak menerima ucapan tanpa amal, amal tanpa ikhlas, ikhlas tanpa selaras dengan Kitab dan sunnah NabiNya – semoga sholawat salam baginya –, dan itu semua adalah klaim tanpa bukti, hingga wajar kalau Dia tidak menerimamu.

Bisa saja anda diterima oleh sesame dengan kedustaan anda, tetapi anda akan ditolak oleh Allah Azza wa-Jalla, karena Dialah Yang Maha Mengetahui apa yang ada di hati anda.

Jangan pamer! Karena Sang Maha Waspada terus memandangmu. Allah Azza

wa-Jalla memandang hatimu bukan memandang rupamu.
Dia memandang apa yang ada dibalik baju, dibalik kulit dan tulang belulangmu, Dia memandang kesendirianmu, bukan memandang
popularitasmu.

Apa anda tidak malu ketika anda menjadi sorotan makhluk, anda berias. Sedangkan ketika menjadi pandangan Allah azza wa-Jalla anda malah najis?

Bila ingin beruntung taubatlah dari dosa-dosamu, bersihkan taubatmu. Taubat dari kemusyrikan dengan makhluk, dan jangan beramal kecuali hanya demi Allah azza wa-Jalla.

Sebab aku melihat kamu semuanya salah! Karena kamu bersama hawa nafsumu, bersama dunia dan syahwatmu, dan kenikmatan yang menyeret dirimu hingga membuatmu terkena murka.

Engkau rela dengan sesuap makanan demi memuaskan nafsumu, dan engkau bisa marah gara-gara nafsu pula.

Kendali nafsumu telah memperbudakmu, lalu manakah posisimu diantara hamba-hamba Allah Azza wa-Jalla, dimana mereka mewujudkan ubudiyah dan rela pada tindakanNya?
Walau mereka tertimpa derita, tetapi mereka tetap kokoh bagai gunung yang tinggi, dan mereka tetap memandangnya dengan mata kesabaran, mata keserasian denganNya.
Mereka biarkan fisik mereka untuk cobaanNya, tetapi mereka melemparkan hatinya kepada Allah Azza wa-Jalla. Mereka senantiasa sunyi, mereka adalah sangkar tanpa burung. Ruh mereka di sisiNya, jasad mereka di hadapanNya.

Wahai orang-orang yang kontra Tuhannya Azza wa-Jalla, wahai orang yang yang gentar padaNya, kemarilah, hingga aku perbaiki dirimu denganNya, aku akan bermohon kepadaNya agar kalian diterima, dan kalian aman. Aku akan tundukkan kalian di hadapanNya, hingga kalian melaksanakan perintah dan kewajibanNya.

Ya Allah, kembalikan kami padaMu, tempatkanlah kami di pintuMu, jadikanlah kami bagiMu, dalam DiriMu dan besertaMu. Ridhoilah kami untuk bakti padaMu. Semua cobaan dan anugerah hanya bagiMu, maka sucikanlah batin kami dari selain DiriMu. Janganlah Engkau biarkan kami ketika Engkau melarang kami, dan janganlah Engkau tinggalkan kami ketika Engkau memerintahkan kami. Janganlah Engkau jadikan lahiriyah kami maksiat kepadaMu, dan batin kami musyrik padaMu.

Raihlah jiwa-jiwa kami hanya bagiMu. Jadikanlah kami semua merasa cukup kepadaMu dibanding berpaling pada selain DiriMu. Ingatkanlah kami dari alpa padaMu. Kehendakilah kami untuk taat padaMu dan munajat padaMu .

Jadikanlah kenikmatan qalbu dan rahasia qalbu kami dengan mendekat padaMu. Pisahkanlah kami dengan maksiat seperti engkau pisahkan antara langit dan bumi. Dekatkanlah taat padaMu sebagaimana Engkau dekatkan antara hitam dan putihnya mata kami. Pisahkanlah kami dengan hal-hal yang engkau benci, sebagaimana Engkau pisahkan antara Yusuf dan Zulaikha untuk maksiat padaMu.
Bagaimana anda bisa menjadikan tujuanmu padaNya sedangkan anda dusta dalam ucapan maupun tindakan? Orang yang mencari pujian dari sesama, pada saat yang sama juga takut akan caciannya.

Semua yang datang dari Allah Azza wa-Jalla benar. Kaum sufi semuanya benar tanpa dusta. Benar tapi tidak ditampakkan.

Sumber :
http://www.sufinews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=524:kapan kah-nafsumu-puas&catid=81:pengajian-&Itemid=277

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: