Perempuan Pertama

Perempuan Pertama

Cerpen Avianti Armand
Dimuat di Koran Tempo 03/28/2010

BAIKLAH kita khayalkan bahwa perempuan itu ada dan ular itu ada dan taman di Eden itu ada.
Dan seperti Tuhan, kita mulai meletakkan segala sesuatu pada tempatnya: (1) sebutir matahari untuk menandai timur, (2) sebatang sungai bercabang empat: Pison, Gihon, Tigris, dan Efrat, (3) beberapa pepohonan yang baik untuk dimakan buahnya, (4) beberapa ekor burung, sepasang rusa, sepasang babi, seekor ular, (5) seorang perempuan, (6) sepokok pohon kehidupan, (7) sepokok pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Separuh bulan telah disiapkan di sisi. Dan beberapa bintang seperlunya. Di panggung yang sempit ini tak banyak yang bisa kita jejalkan dan jajalkan. Kedua pohon itu mengisi banyak sekali ruang, kita hanya bisa menyisipkan hari yang tak utuh dan sebuah malam yang miskin.
Lalu terdengarlah kata-kata dengan pengeras yang getas: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi janganlah kau makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati.”
Ciap-ciap burung segera menggantikan firman. Matahari menggantung seperti jeruk. Sungai mengalir diagonal dari ujung ke ujung. Binatang-binatang bergerak canggung. Perempuan itu berdiri di bawah pohon pengetahuan. Ular melilit di batangnya dengan lidah terjulur. Di dunia yang masih baru ini, semua tahu tentang sebuah musim saja, terang, gelap, petang dan pagi tiap harinya, dan segala yang terjadi di antaranya. Tak satu pun tahu tentang mati.
Tapi kita sama-sama tahu, “jangan” adalah mantra pemikat dan Tuhan telah menggulirkan dadu. Memang ada tanda tanya yang berjatuhan seperti hujan di sisi kanan, tapi tak ada yang peduli.
Sementara, laki-laki, manusia pertama itu, tak terlihat di mana-mana. Sesosok malaikat melayang turun dan melaporkan dengan santun (sebelum ia berubah jadi cahaya yang meresap ke dalam layar), “Manusia itu berkeliling menamai tiap-tiap makhluk yang hidup: binatang-binatang dan susuannya, dan tumbuh-tumbuhan dan cikalnya.”
Beberapa langkah sebelum pohon itu, perempuan ini belum lagi ada. Ia baru saja ada dan ia belum bernama.
Kata perempuan kepada ular: “Telah kulihat satu makhluk yang indah di kulit sungai yang beku. Di kepalanya ada surai yang berkilau. Di dadanya sepasang buah yang molek. Di pangkal kakinya segumpal semak berduri. Dan ia menatapku.”
Jawab ular: “Itu adalah kamu. Tapi kamu tidak boleh tahu.”
Tanya perempuan: “Apa yang aku boleh tahu?”
Jawab ular: “Kamu adalah yang diambil dari laki-laki ketika ia tertidur. Kamu adalah bukan laki-laki.”
Kata perempuan itu lagi: “Bahkan segala sesuatu di dalam taman ini bernama. Kenapa aku tidak?”
Jawab ular: “Karena laki-laki itu belum memberimu.”
Malaikat lain turun dan meletakkan sejumput api di dada perempuan itu hingga tubuhnya gusar dan tak sabar.
Tapi laki-laki, manusia pertama itu, belum juga datang. Dari layar menjelma cahaya dan dari dalamnya terdengar suara. “Ia berada di puncak bukit, menyebut penjuru benda-benda langit dan menandai waktu terbit dan tenggelamnya. Sejak itu, manusia akan mengenal hari dan musim.” (Sejak itu, kemarin akan terpenjara dalam kemarin dan hari ini cuma sebuah kotak yang sempit. Di dunia yang masih baru ini belum ada peti yang memuat cerita-cerita.)
Kata perempuan itu: “Aku belum lagi mengenal aku. Bahkan asalku pun aku tak tahu.”
Ia menatap ke sepuluh jarinya. Tubuhnya mulai merasakan bingung. Di ruas-ruas jari itu tertulis “tanah”, tapi ia tak ingat apa-apa tentang tanah. Di sana juga tertulis “rusuk”, tapi ia cuma tahu beberapa langkah dari ada ke bawah pohon.
Ular tak menjawab. Ia turun dari pohon, melilit perempuan itu, dan mencium keningnya. Hidung dan bibirnya. Di dadanya, malam jatuh tiba-tiba. Di dadanya, sebuah badai menderu, seolah dari selatan. Panggung gaduh. Anak-anak angin merutuki daun-daun. Binatang-binatang lari kocar-kacir ke tepi. Sembunyi. Badai mendamparkan perempuan itu ke pokok pohon dan ia seketika buta.
Di balik matanya ular menjelma manusia, serupa makhluk di kulit sungai. Ia mendekat. Ia melekat: perempuan itu dan kembar siamnya. Tubuhnya ganda dengan bibir yang saling melekap, busung yang saling bertaut dan meradang dan kulit yang jadi basah.
Bulan separuh kuning dan tujuh bintang redup yang terbanting. Perempuan itu belajar dengan menyentuh hingga jerit meletar seperti petir yang terjepit di ketiak bukit. Lalu semua luruh. Tubuh dan buah-buah dari pohon kehidupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk.
Setelah itu, badai reda. Dan ular kembali melata. Perempuan itu tergeletak tak bergerak. Tapi kita sama-sama tahu bahwa ia tidak mati. Kita hanya tahu bahwa tubuhnya telah tahu.
Laki-laki, manusia pertama itu, tetap tak terlihat. Dari balik semak-semak, ular mendesis: “Sekali-kali kamu tidak akan mati.”
Perempuan itu mendengar, dan terjaga dalam mimpi buah-buah pohon terlarang yang terserak di tanah. Seperti telur, kulit buah-buah itu retak. Dari dalamnya keluar malaikat-malaikat bertopeng malam. Masing-masing dengan aksara yang terukir di kening. Pelan-pelan mereka terbang dan membentuk gumpalan awan gelap. Lalu satu persatu jatuh seperti hujan. Di panggung, sebuah kubangan dari sayap-sayap patah terbentuk. Makin lama makin besar. Hingga terbentang laut yang kelam.
Perempuan itu mendekat dan melihat di kulit laut yang hitam makhluk yang indah. Di kepalanya ada surai yang berkilau. Di dadanya sepasang buah yang molek. Di pangkal kakinya segumpal semak berduri. Dan ia menatapnya. Tapi ia tak takut lagi, karena ia telah mengenalnya.
Dicelupkannya kakinya ke dalam laut dan laut membuka seperti lembar-lembar dalam buku yang terus menerus membuka. Perempuan itu berjalan makin ke dalam dan ia merasa bungah. Sesaat sebelum terbenam, di dasar laut dilihatnya wajah Tuhan. Tanyanya: “Apakah aku akan mati?”
Dari mulut ular yang tergambar di bulan, terlontar jawaban: “Sekali-kali kamu tidak akan mati. Tapi kamu akan tahu bahwa kamu akan mati.” Setelah itu cuma terdengar langkah laki-laki, manusia pertama itu, mendekat.
Di baris ke tujuh sebelah kiri, empat kursi dari ujung, Tuhan duduk dan menangis. Di tangannya tergenggam sebuah dadu. Pada semua sisinya tertulis: dosa.***Jakarta, 27 Februari 2010

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: