Kenangan Musim Semi

Kenangan Musim Semi

Cerpen Bamby Cahyadi
Dimuat di Jurnal Bogor 03/28/2010

Pagi musim semi di kota Tokyo. Suasana Tokyo sangat nyaman, kesiur angin melambaikan syal yang melilit di leherku. Silau sinar matahari pagi memendar berkilat-kilat, menimpa bola mataku. Aku segera mengenakan kacamata hitam untuk menghindari kilauan silau menusuk kornea mataku. Bergegas aku masuk ke sebuah taksi yang telah menunggu sedari tadi di depan hotel. Tujuanku Bandara Narita.
Perkenalkan namaku, Takeshi Watanabe. Biasanya orang-orang memanggilku Abe. Itu pun kalau mereka sudah sangat akrab denganku. Aku, juga memiliki beberapa nama lain, nanti akan aku ceritakan kenapa aku memiliki nama lain. Tapi tunggu dulu, aku terlahir sebagai orang Indonesia. Aku lahir dan tumbuh di sebuah negeri, gemah ripah loh jinawi. Setidaknya begitu, bangsa kami menghibur diri. Nama Indonesiaku, Ghumarwan Damanik.
Aku mempunyai seorang istri berkebangsaan Jepang, dan dua orang anak. Tapi itu dulu. Sudah lama sekali. Ya, lama sekali. Aku sendiri bahkan sudah lama melupakan mereka. Lebih tepat, pura-pura lupa pada mereka. Mengingat mereka, hatiku hancur, remuk berkeping-keping.
Taksi kini melesat, membelah kawasan Ginza City yang ramai dan meriah. Distrik paling terkenal di Tokyo, juga di seluruh dunia. Apabila kota New York memiliki Time Square, maka Tokyo punya Ginza. Di Indonesia, mungkin Bundaran Hotel Indonesia dengan Patung Selamat Datang. Udara musim semi membuat seluruh jalanan penuh-sesak oleh orang-orang yang berjalan kaki, semuanya tertib dan tampak tergesa-gesa. Begitulah pandangan yang tak asing bagiku di negeri sakura ini.
Aku melirik arloji, dua jam lagi aku akan terbang menuju Jakarta. Tokyo di musim semi adalah dambaanku, meski sekaligus mengusik nuraniku. Rasa melankoli, rasa bersalah dan rasa marah seketika menguar. Aku melamun di jok belakang taksi yang kini membawaku ke Bandara Narita. Aku ingin segera pulang ke Jakarta, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di sana. Tubuhku masih sedikit lebam-lebam dan bibirku masih menyisakan darah kering yang menempel akibat luka. Pertempuranku semalam dengan Nakamura menyisakan kepenatan yang luar biasa. Meski demikian hatiku sangat tentram. Jahanam itu telah mati dengan kepala berlubang peluru. Aku tersenyum kecut sambli memandang keramaian jalanan.
Taksi terus melaju membelah jalanan kota Tokyo, memasuki kawasan tua Asakusa Tample. Perjalananku tersendat oleh para pejalan kaki. Mereka berjalan bergerombol sehingga menghambat laju taksi. Supir sesekali membunyikan klakson. Semua orang, tua-muda, laki-laki dan perempuan seperti berebutan untuk masuk kuil tertua di Jepang. Di kuil besar itu, dulu setiap hari minggu aku menghabiskan waktu bersama Kyoko istriku, Naomi anak pertamaku, perempuan dan Hiro anak keduaku, laki-laki.
Mataku menerawang dan pikiranku melayang di tengah kemacetan lalu lintas yang merayap perlahan. Aku bagai terhempas ke masa lalu yang penuh kenangan.
***
Papa, Naomi ingin berdoa agar papa selalu sayang sama Naomi dan Hiro, ujar Naomi ketika kami memasuki kuil ini melalui sebuah pintu besar. Pintu besar itu bernama Kaminarimon, menjadi pintu utama untuk masuk ke dalam kompleks Asakusa Kannon Temple.
Aku hanya tersenyum memandang Naomi, istriku juga tersenyum. Cantik sekali Kyoko. Ia memakai Yukata, baju tradisional Jepang yang menurutku sudah ketinggalan zaman. Tetapi tidak buat Kyoko, dia sangat menyukai hal-hal yang berbau tradisional. Termasuk mamakai kimono saat di rumah. Mamamu tidak kamu doakan juga sayang? Masak papamu saja, balas istriku sambil mengusap rambut Naomi.
Hi hi, Mama itu suka iri kalau aku hanya berdoa Papa saja. Iya deh Mama pasti Naomi doakan juga, jawab Naomi dengan jenaka. Kami tertawa bersama. Hiro yang belum bisa bicara ikut-ikutan tertawa, ia dapat merasakan aura kebahagiaan sebuah keluarga yang harmonis.
***
Keluarga? Aku tertegun. Taksi belum bergerak juga. Masih diam bergeming. Pikiranku kembali melayang ke masa lalu, ke sebuah masa yang sangat menyenangkan. Sebuah masa di mana aku memiliki keluarga, aku menjadi seorang ayah dari dua orang anak yang lucu-lucu dan aku jadi seorang suami dari seorang perempuan cantik. Ya, aku kepala keluarga dari sebuah rumah tangga. Aku hanyut dalam lamunan lagi.
***
Aku, Kyoko dan Naomi sudah berada di dalam kuil, banyak sekali orang di sini. Kyoko mendekap Hiro dalam gendongan. Kami langsung menuju altar doa, dupa kami nyalakan dan doa kami panjatkan. Suasana begitu tenang dan hening. Naomi sangat serius dan khusuk berdoa. Kelopak matanya dipejamkan, mulutnya yang kecil berkomat-kamit. Lucu sekali mimiknya. Setelah itu ia mengusap wajahnya tanda selesai berdoa.
Lalu kami menuju ke sebuah sumur. Menurut para lelehur, air sumur itu berkhasiat. Entah apa khasiatnya, aku meminumnya hanya mengikuti tradisi saja. Hiro sangat senang, ia lebih senang berada di sumur, ketimbang di altar. Mungkin terlalu banyak asap dupa di sana. Di sumur, Hiro kegirangan bermain air yang bergemericik.
Pa, kita mau ke Sensoji Temple tidak? Tanya istriku. Aku memandang ke arah sebuah bangunan besar yang juga berada di areal Asakusa Kannon Temple tak jauh dari sumur. Aku mengangguk mengiyakan usulan Kyoko. Dua setengah jam tak terasa, kami berkeliling ke seluruh areal kuil. Semakin siang makin banyak orang yang datang. Beberapa rombongan turis asing juga melakukan hal yang sama dengan warga lokal. Membakar dupa dan meminum air dari sumur berkhasiat. Pemandangan yang menurutku unik dan naif. Apakah Tuhan aku, Tuhan dia atau Tuhan mereka akan mengabulkan doa dan permohonan mereka juga? Aku kembali tersenyum-senyum sendiri. Sekarang kita cari makan dulu, mau makan di mana? tanyaku memandang Naomi dan Kyoko. Terserah Papa deh, kata Kyoko. Naomi langsung menyebutkan sebuah nama restoran.
Lantas kami bergandengan tangan meninggalkan kuil, menuju parkiran mobil melalui pintu keluar. Sebuah pintu yang bernama Hozomon. Ah, sungguh masa-masa yang membahagiakan.
***
Kebersamaan dan kehangatan dengan keluargaku tempo lalu, dalam hitungan detik langsung buyar. Saat taksi melaju kencang karena sudah terbebaskan dari hambatan kemacetan.
Brengsek! Kenapa aku hanyut dalam kenangan melankolis seperti ini! Makiku. Takeshi Watanabe dengan seorang istri cantik dan dua anak sudah lama mati. Aku, kini manusia tanpa hati dan nurani.
Aku adalah pembunuh bayaran. Penugasan ke Tokyo adalah hal terberat buatku. Bukan karena Nakamura seorang mafia Jepang yang sangat licik dan lihai. Tetapi, kembali ke Tokyo adalah kembali ke masa silam yang penuh kenangan kemanusiaan.
Sejak keluargaku tewas dalam serangan bom bunuh diri di Bali beberapa tahun silam. Aku sangat benci dunia, aku bahkan mungkin benci Tuhan. Pilihanku adalah menjadi pembunuh bayaran. Latar belakangku sebagai tentara sangat membantuku untuk menjalani profesi pembunuh bayaran.
Dahulu aku adalah seorang staf atase militer Kedutaan Besar Indonesia di Tokyo. Perkenalanku dengan Kyoko, seorang reporter televisi terkenal di Jepang, membawa kami pada jenjang pernikahan. Ah, itu dulu.
Bangsat! Kenapa aku melamun ke masa-masa bahagia.
***
Sebentar lagi taksi memasuki Narita, bandara yang terletak di sebuah wilayah di sebelah timur kota Tokyo. Taksi melewati Hotel Nikko, aku sudah berada di jalan Chiba. 10 menit lagi aku akan sampai di Bandara. Perjalanku dengan taksi rupanya tidak semulus yang aku harapkan. Di depan pintu masuk Bandara Narita, terjadi antrian panjang mobil yang hendak masuk. Polisi terlihat memeriksa kendaraan satu per satu, seorang petugas Polisi memeriksa bagian bagasi mobil dan seorang lagi meminta identitas seluruh penumpang mobil.
Naluriku mulai berkata, situasi ini tak baik untukku. Aku cepat-cepat keluar dari Taksi. Supir taksi yang sedari tadi tak peduli, tak suka dan curiga dengan tindakanku. Ia lalu membunyikan klakson berkali-kali. Suara klakson yang berisik mengundang kecurigaan petugas polisi. Beberapa petugas polisi itu kemudian berlari ke arahku. Aku terus berlari, meloncati atap-atap mobil yang tak bergerak.
Berhenti! teriak seorang polisi.
Aku tetap berlari menghindari kejaran polisi. Aku mendengar desingan peluru dari pistol seorang polisi yang menyalak, dengan cepat aku berkelit menghindari tembakan itu. Aku loncat dan bersembunyi di sebuah lorong dekat gudang Bandara.
Harap maklum kenapa petugas kepolisian Jepang melakukan penyisiran dan pemeriksaan terhadap semua kendaraan yang masuk ke Bandara. Karena tadi malam, Nakamura telah terbunuh dengan kepala berlubang. Nakamura adalah seorang pejabat militer Jepang, tetapi ia juga boss mafia pengedar narkoba. Dan aku telah melenyapkannya.
Dengan sangat perlahan, aku mengendap lantas menyelinap masuk ke sebuah ruangan. Ketenangan selalu menjaga seluruh perilakuku. Aku kemudian mengganti bajuku dengan pakaian seorang Pilot. Name tag Kapten Ghumarwan Damanik tersemat di dadaku. Aku adalah seorang kapten pilot yang akan menerbangkan pesawat Garuda Indonesia menuju Jakarta beberapa saat lagi. Di pusat kota Tokyo yang ramai dan di sekitar Bandara Narita yang hiruk-pikuk, polisi masih sibuk mengejar dan mencariku. Kupastikan musim semi segera berlalu, bersama kenanganku.
Aku menuju Jakarta, untuk sebuah tugas baru. Membunuh seorang pengusaha. Nasrudin, namanya. Di sana ceritaku akan berlanjut.***Jakarta, 25 November 2009

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: