Lir ilir

doc

Genap satu minggu ini suasana kampungku sedikit aneh. Semenjak kecelakaan maut di jembatan kecil itu terjadi. Jembatan yang menghubungkan kampung kami dengan kampung sebelah. Sebuah sepeda motor terjungkal masuk ke dalam sungai. Kecelakaan ini menyebabkan pengendara motor meninggal dunia di tempat kejadian. Dan sejak itu, perasaan kami dihantui rasa yang serba tak enak. Mungkin itu hanya perasaan-perasaan yang kami ciptakan dan kami kembangkan sendiri. Perasaan takut berlebihan yang memunculkan cerita-cerita di luar logika.

Sore itu, ketika aku berada di warung Mak Inah untuk membeli sabun, banyak warga yang mulai bercerita mengaku mendengar suara aneh saat melewati jembatan. Ah, seperti sudah menjadi tradisi, warung adalah salah satu tempat untuk berbagi kisah dan cerita. Tempat pertama sebuah berita diluncurkan dan kemudian berkembang dengan cepat. Inilah yang membuatku sedikit khawatir jika Ibu berbelanja di warung sendirian. Alhasil, aku mengalah untuk membantunya berbelanja segala sesuatu keperluan rumah tangga. Meskipun aku anak lelaki dan anak satu-satunya di keluarga, rutinitas belanjaku bukanlah hal yang luar biasa bagiku. Inilah salah satu bentuk cinta kita pada orang tua.

“Mas Arya, semalem kita denger lagi hantunya, hiii…” kata Udin, bocah sepuluh tahun yang tinggal tak jauh dari rumahku.

“Hmm, hantu apa, itu cuma kuping kamu aja yang salah denger,” jawabku mencoba menenangkan.

“Iya kok Nak Arya, saya juga pernah denger lho pas pulang dari kerja, padahal itu baru jam tujuh malam, masak hantunya sudah keluar,” sambung Bu Mila tak mau kalah.

“Terus terang saya belum pernah dengar Bu, ya semoga itu bukan apa-apa,” kataku sambil tersenyum. Ibu-ibu yang lain pun mulai menimpali dengan berbagai dugaan, perkiraan, serta pertanyaan yang jawabannya mereka reka sendiri.

Memang aku belum melewati jembatan kampung di malam hari sejak kecelakaan maut itu. Meskipun aku anak lelaki, tapi aku tak hobi keluar malam seperti pemuda pada umumnya yang hanya sekedar nongkrong di warung. Paling keluar malam hari untuk pertemuan karang taruna atau menemani Bapak menghadiri pertemuan warga. Kuliah juga tak membuatku pulang malam karena memang jarak kampus dengan rumahku tak seberapa. Terjangkau dengan angkutan umum pula.

Mungkin karena aku anak Pak RT di kampung ini, warga menganggap aku juga harus bertindak bagaimana agar hantu, setan, atau apalah itu bisa pergi dan tidak mengganggu. Meskipun dalam lubuk hati yang terdalam, aku sendiri masih ragu, apa benar ada makhluk halus yang menghuni jembatan itu dan mengganggu? Apa itu hanya ketakutan warga saja yang berlebihan usai insiden kecelakaan maut kala itu? Jelas-jelas setan itu aneh benar. Biasanya hal-hal sejenis itu munculnya tengah malam. Tapi di kampungku kini jam tujuh malam sudah terasa sepi. Mereka takut keluar rumah karena pada jam sekitar itulah suara-suara aneh mulai terdengar. Lagipula menurut pengakuan beberapa warga yang telah mendengarnya, suara itu mirip dengan nyanyian lagu Lir Ilir. Lagu dengan bahasa Jawa yang sarat akan makna. Masak iya, setan menyanyikan lagu Lir Ilir? Otakku tak mampu mencernanya.

Warga mungkin sudah menambah dan mengurangi informasi sebenarnya yang entah bermula dari siapa. Beredar kabar bahwa korban kecelakaan meninggal adalah seorang sinden. Meskipun pada kenyataannya kita tidak mengenal siapa dia karena bukan warga kampung kami maupun kampung sebelah. Dia meninggal dalam keadaan yang tak wajar sehingga arwahnya gentayangan. Berdiam diri dan menjadi penunggu jembatan. Menyanyi sesuka hati karena itu hobi atau pekerjaan selama hidupnya. Suaranya yang melengking membuat hati siapa saja yang mendengarnya berdesir dan merinding. Tak peduli atau mungkin tak tahu jika hal itu meresahkan warga. Arwah gentayangan baru, belum tahu bahwa yang dilakukannya tetap mengerikan dari sudut pandang manapun. Mungkin demikian pikiran dan asumsi yang berputar di benak warga.

Warga tak ada yang berani melewati jembatan itu setelah sholat isya’. Bahkan tak ada lagi yang nongkrong di warung seperti biasanya. Mereka lebih banyak belajar Al Quran di mushola atau di rumah masing-masing. Mereka percaya bahwa munculnya hantu dadakan ini untuk menyampaikan pesan kepada warga kampung yang mulai luntur ibadahnya. Yah, setiap orang memiliki pemikiran masing-masing. Meskipun aku juga menjadi rajin mempelajari makna di balik lagu Lir Ilir, tapi aku tak menjadikan hantu itu sebagai pembawa pesan atau apalah itu.

Cerita-cerita yang berkembang di masyarakat membuatku semakin penasaran. Aku harus mengambil tindakan. Aku tak peduli bagaimana rupa setan itu. Aku tak peduli sekacau apa suaranya saat menyanyikan lagu yang warga bilang mirip Lir Ilir itu. Aku tak peduli.

Sudah tak sabar aku menunggu datangnya malam. Setan ini benar-benar menarik perhatianku. Aku tak bicara pada siapa pun tentang rencanaku untuk menemui setan jembatan, takutnya malah akan jadi tontonan.

Setelah sholat isya’, aku putuskan untuk tetap berada di mushola. Beberapa warga juga masih tetap di sana belajar Al Quran. Aku menyendiri. Mempersiapkan segala hal mulai dari mental hingga materi. Melafalkan ayat-ayat Al Quran untuk memastikan tidak ada bacaan yang tercecer saat aku menghadapi setan itu sebentar lagi, seorang diri. Mulai dari Al Fatihah hingga ayat kursi terus menerus bibir ini menekuni. Rencananya aku akan mulai bergerilya beberapa puluh menit lagi.

Suasana kampung makin terasa sepi. Dinginnya malam sedikit menggetarkan nyaliku. Tapi ini bukanlah rencana yang dengan sembarangan aku putuskan. Aku harus melakukan ini. Demi kampungku. Aku raih setang sepedaku dengan penuh keyakinan. Kugenggam erat-erat untuk melawan dingin juga. Jalan setapak gelap mulai kujelajahi. Benar, ini baru pukul tujuh lebih setengah, tapi sepinya seolah-olah seisi kampungku musnah. Warung Mak Inah sudah tutup. Langkahku mulai ragu-ragu, apa yang kulakukan saat ini aku mulai tak tahu. Tak yakin. Mau maju otakku sudah mulai terganggu, mau mundur tak terasa jembatan itu sudah ada di depanku. Tanggung. Ingatanku mulai memutar kembali cerita-cerita warga kampung. Cerita-cerita yang sudah ditambah dan dikurangi dari bibir ke bibir. Cerita yang semakin panjang semakin menyeramkan kisahnya. Bagaimana jika bentuknya mengerikan? Bagaimana jika suaranya lebih mengerikan? Tegang.

Kakiku menapak perlahan di papan jembatan setelah kuletakkan sepedaku begitu saja. Gelap. Jembatan ini begitu kuat. Meskipun yang menjadi penahan kaki kami adalah susunan papan dari kayu, tapi rangka yang menahan di bawahnya terbuat dari besi baja. Umurnya lebih muda lima tahun dariku. Jadi kira-kira usia jembatan ini 12 tahun kurang 2 bulan.

Gemercik aliran sungai yang tak begitu deras mengiringi langkahku. Tak kurasakan sedikitpun keanehan atau keseraman seperti dalam cerita-cerita warga beberapa hari ini. Semua tampak dan terasa biasa saja. Dingin memang, gelap memang, tapi tak ada tanda-tanda munculnya setan atau nyanyian Lir Ilir itu. Aku berdiri di tengah jembatan. Kulongokkan kepalaku ke sungai. Udara dingin lama-lama terasa segar di kepala. Baru kali ini malam-malam aku berdiam diri di jembatan. Meskipun misi utamanya adalah menemui penunggu jembatan yang katanya ada itu, tapi aku mulai menikmati kesunyian ini. Dan yang paling menyenangkan adalah sepertinya setan itu tak muncul.

“Ah, sepi gini, katanya ada setan,” gumamku.

Tiba-tiba suara aneh terdengar. Bukan nyanyian yang seperti diceritakan warga. Tapi lebih seperti gesekan. Aku mulai panik tapi tetap berusaha tenang. Jadi aneh gerakan dan mimik wajahku saat itu, mungkin. Aku mundur beberapa langkah hingga kaki ini tak lagi menapak di papan jembatan. Sebuah kebun kecil yang berada di dekat jembatan kini menjadi sasaranku. Suaranya semakin jelas terdengar. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitku. Padahal udara begitu dingin dan gerakannya lumayan aktif. Suaranya bersumber tepat di atas kepalaku sekarang. Jelas sekali kudengar. Bagaimana ini, apa aku harus lari?

Kepalang tanggung jika aku lari. Akan aku hadapi apapun itu. Kuberanikan diri untuk melongok ke atas. Memastikan ada apa sebenarnya di atas sana. Dengan cepat-cepat kuhadapkan kepalaku ke atas. Entah karena terlalu berani atau justru takut.

“Hah? Tak ada apa-apa?”

Kurogoh saku celanaku. Kukeluarkan sebuah senter kecil sebagai sumber cahaya. Tepat di samping kananku berdiri sebuah pohon pisang. Aku arahkan lampu senterku ke atas. Suara itu selalu terdengar tepat ketika udara yang bergerak aktif berhembus membelai tubuhku. Dan aku temukan sumber suara itu. Daun pisang yang saling bersinggungan karena angin malam.

“Sial, daun pisang rupanya,” gumamku.

Udara dingin semakin menyeruak ke dalam tulangku. Kuputuskan untuk kembali ke rumah. Kesimpulannya, tak ada arwah gentanyangan seperti dalam cerita warga kampung. Mungkin mereka memiliki khayalan yang terlalu tinggi hingga berhalusinasi atau berfantasi.

***

Langit tanpa awan mendung bergantung menaungi kampungku pagi ini. Cerah. Secerah hati dan pikiranku. Setelah semalam aku berdiam diri menjelma menjadi “penunggu jembatan” tanpa bertemu penunggu jembatan asli yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Aku yakin tak ada yang perlu ditakutkan lagi untuk melewati jembatan itu di malam hari. Aman.

Tak sabar aku ingin segera menyebarkan kabar gembira ini pada warga. Dengan alasan membeli kopi aku berpamitan pergi sebentar pada Bapak. Aku berniat pergi ke warung Mak Inah. Berharap banyak ibu atau bapak yang bisa kuajak berbagi cerita positif ini di sana. Ya, warung yang sudah seperti kantor berita dan menjadi pusat bertukarnya informasi. Aku membayangkan cerianya wajah mereka nanti setelah mendengar ceritaku. Mereka dapat melewati jembatan itu kapan saja mereka mau. Tanpa rasa was-was atau takut karena harus mendengar lagu Lir-Ilir yang tak jelas siapa yang menyanyikan di jembatan.

Kukayuh kereta anginku dengan kencang. Entah karena suasana hatiku yang sangat baik atau memang aku sudah benar-benar tak sabar membagi kegembiraan yang membuncah di hati ini. Ah, keduanya sepertinya sama saja.

Aku mulai memasuki jalan setapak yang kondisinya cukup baik untuk ukuran kampung dengan perlahan. Biasanya anak-anak kecil berlarian sepanjang jalan ini untuk mengejar layang-layang yang terputus benangnya. Aku tak mau laju sepedaku berakibat fatal nantinya. Kira-kira dua puluh meter lagi sampai di warung Mak Inah, seorang anak kecil yang juga mengendarai sepeda mengejutkanku dari arah berlawanan. Aku tak sanggup menghindar karena laju sepedanya begitu kencang.

Braaaak!

Kami berdua terjatuh bersama sepeda kami masing-masing. Dia tampak kesakitan dan ketakutan. Aku dekati dia untuk memastikan tak ada luka serius di badannya.

“Kamu terluka?”

Nggak kok Mas, sa… sa…saya minta maaf Mas,” katanya dengan ketakutan.

Aku tersenyum. Ternyata anak ini menyadari kesalahannya. Itu sudah cukup bagiku.

“Lain kali hati-hati ya, jalan ini kan sempit, untung Mas-nya cuma naik sepeda, nah kalau motor, bahaya kan,” kata Pak Hasan yang baru kusadari kehadirannya. Beberapa warga kampung sudah mulai berkumpul untuk menolong kami.

“Iya Pak, maaf, soalnya saya terburu-buru,” katanya sambil beranjak berdiri.

“Rumahmu dimana?” lanjut Pak Hasan.

“Saya, Kampung Pandan Pak.”

“Memangnya mau kemana Dek?” tanyaku

“Mau ke jembatan Mas.”

“Jembatan???”

“Iya Mas, sepertinya senter saya ketinggalan di bawah jembatan,” jawabnya sambil membersihkan tanah yang melekat di celananya.

“Senter?”

“Eh, iya senter Mas, akhir-akhir ini kan saya sering ke sana, belajar.”

“Belajar?”

“Iya Mas, ada tugas dari Bu Guru nyanyi lagu Lir Ilir di sekolah, kalau latihan di rumah keluarga saya pada protes Mas, berisik katanya, yah memang suara saya tak terlalu bagus Mas, jadi saya pergi ke jembatan, saya latihan di bawah jembatan Mas” jawabnya dengan malu-malu.

Aku dan warga yang lain terdiam.

“Ehm, kata Bu Guru lagu Lir Ilir itu maknanya bagus lho Mas,” lanjutnya sambil memamerkan deretan gigi-gigi kecilnya..

Aku mendengus.

“Iya, memang bagus maknanya,” jawabku.

Dan sekarang bukan hanya aku yang yakin bahwa penunggu jembatan yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan itu tak ada. Pesan memang tersampaikan, tapi bukan hantu yang membawanya. Biarlah kisah lagu Lir Ilir ini menjadi pengingat warga kampung. Menjadi cerita tersendiri. Tentang bangkitnya semangat beribadah kami.

Cerpen Endah Aibara

******

Islam Selalu Berpandangan Positif

Islam memfasilitasi umat manusia agar dapat menikmati hidup ini dengan tenang, damai dan tanpa beban. Menikmati hidup dengan selalu tersenyum, ringan dalam melangkah, serta memandang dunia dengan
berseri-seri. Inilah implementasi dari ajaran Islam yang memang dirancang untuk selalu memudahkan dan menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Untuk mewujudkan hidup yang sealu tersenyum, ringan dan tanpa beban
tersebut; Islam memberikan beberapa tuntunan. Yaitu di antaranya:
menjaga keseimbangan, selalu berbaik sangka (Khusnudzdzan), juga
dengan berpikir positif. Namun karena keterbatasan ruang dan waktu,
saya akan membatasi pembahasan kali ini hanya tentang khusnudzdzan
dan berpikir positif.

Pertanyaan yang sangat mendasar adalah: mengapa Islam sampai
menekankan pentingnya khusnudzdzan dan berpikir positif? Paling
tidak, ada empat alasan yang bisa dikemukakan di sini.

Pertama, kita harus khusnudzdzan dan berpikir positif karena
ternyata orang lain seringkali tidak seburuk yang kita kira. Contoh
terbaik mengenai hal ini ialah kisah Nabi Khidhir dan Nabi Musa
Alaihima As-Salam. Suatu kali, Allah Subhanahu wa Ta’ala
memerintahkan Nabi Musa untuk menambah ilmu dari seseorang yang
sedang berdiri di tepi pantai yang mempertemukan dua arus laut.
Setelah mencari tempat yang dimaksud, di situ beliau menemukan Nabi
Khidhir, dan kemudian mengutarakan maksudnya. Nabi Khidhir mau
menerima dengan satu syarat; Nabi Musa tidak boleh grasa-grusu
bertanya sampai Nabi Khidhir menjelaskan.

“Tapi aku yakin, kamu tidak akan bisa bersabar”, tambah Nabi Khidhir
lagi. Namun karena Nabi Musa bersikeras, akhirnya dimulailah
perjalanan beliau berdua berdasarkan syarat tadi. Ternyata benar!!
Ketika dalam perjalanan itu Nabi Khidhir melakonkan hikmah demi
hikmah yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tak
sekalipun Nabi Musa mampu bersabar untuk tidak grasa-grusu
menafsirkan yang bukan-bukan. (Qs. Al-Kahfi: 60-82).

Dalam kisah Qur’ani ini, poin penting yang dapat dipetik: kita harus
selalu berbaik sangka dan berpikir positif terhadap orang lain.
Karena, bisa jadi, orang lain tidaklah seburuk yang kita kira. Sebab
kita hanya bisa melihat apa yang tampak, namun tidak tahu niat baik
apa yang ada di hatinya…dan seterusnya.

Kedua, berbaik sangka dan berpikir positif dapat mengubah suatu
keburukan menjadi kebaikan. Kita dapat menemukan pembuktiannya dalam
teladan Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, ketika seluruh
kafilah-kafilah Arab berkumpul di Makkah pada tahun-tahun pertama
turunnya wahyu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Rasulullah
untuk menyampaikan risalah Islam kepada semua kafilah itu. Namun
yang terjadi, mereka justru mencaci dan menyakiti Rasulullah, serta
melumuri wajah beliau dengan pasir.

Saat itu, datanglah malaikat ke hadapan Rasulullah, “Wahai Muhammad,
(dengan perlakuan mereka ini) sudah sepantasnya jika kamu berdoa
kepada Allah agar membinasakan mereka seperti doa Nuh –`Alaihi As-
Salam—atas kaumnya.” Rasulullah segera mengangkat tangan beliau.
Tetapi yang terucap dalam doa beliau bukanlah doa kutukan, melainkan
untaian maaf dan harapan bagi orang-orang yang telah
menyakitinya, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku.
Sesungguhnya (mereka melakukan semua ini terhadapku) hanya karena
mereka tidak tahu. Ya Allah, tolonglah aku agar mereka bisa
menyambut ajakan untuk taat kepada-Mu.” (“Al-Ahadits Al-Mukhtarah,
karya Abu `Abdillah Al-Maqdasi, 10/14).

Pilihan beliau ternyata tidak salah. Tak lama setelah peristiwa
tersebut, mereka yang pernah menyakiti beliau berangsur-angsur
memeluk Islam dan menjadi Sahabat yang paling setia. Ini sesuai
dengan ajaran Al-Qur’an, “Tanggapilah (kejahatan itu) dengan cara
yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dengan dia ada
permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat akrab.” (Qs.
Al-Fushilat: 34)

Ketiga, berbaik sangka dan berpikir positif dapat menyelamatkan hati
dan hidup kita. Sebab hati yang bersih adalah hati yang tidak
menyimpan kebencian. Hati yang tenteram adalah hati yang tidak
memendam syakwasangka dan apriori terhadap orang lain. Dan hati yang
berseri-seri hanyalah hati yang selalu berpikir positif bagi dirinya
maupun orang lain.

Kebencian, berburuk sangka dan berpikir negatif hanya akan meracuni
hati kita. Sebab itulah, ketika Orang-orang Yahudi mengumpat
Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam yang sedang duduk santai
bersama Aisyah Radhiyallahu `Anha, dan Aisyah terpancing dengan
balas menyumpahi mereka; Rasulullah segera mengingatkan
Aisyah, “Kamu tidak perlu begitu, karena sesungguhnya Allah menyukai
kesantunan dan kelemah-lembutan dalam segala hal.” (Riwayat Al-
Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Ra.). Subhanallah!! Beliau yang
seorang utusan Allah dan pemimpin masyarakat muslim, yang sebenarnya
bisa dengan mudah membalas perlakuan Orang-orang Yahudi itu,
ternyata memilih untuk tetap santun dan berpikir positif –agar
menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.

Senada dengan hadits di atas, ada ungkapan yang sangat menggugah
dari seorang sufi: “Yang paling penting adalah bagaimana kita selalu
baik kepada semua orang. Kalau kemudian ada orang yang tidak baik
kepada kita, itu bukan urusan kita, tapi urusan orang itu dengan
Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Keempat, berpikir positif bisa membuat hidup kita lebih legowo,
karena toh Allah Subhanahu wa Ta’ala seringkali menyiapkan rencana-
rencana yang mengejutkan bagi hambaNya. Suatu saat, Umar bin
Khaththab Radhiyallahu `Anhu dirundung kegalauan yang menyesakkan.
Salah seorang puteri beliau, Hafshah Radhiyallahu `Anha, baru saja
menjanda. Maka Umar datang menemui Abu Bakar Radhiyallahu `Anhu
menawarinya agar mau menikahi Hafshah. Ternyata Abu Bakar menolak.
Kemudian Umar menawari Utsman bin Affan Radhiyallahu `Anhu untuk
menikahi Hafshah, namun Utsman pun menolaknya. (Shahih Al-Bukhari,
4/1471. Versi penjelasnya juga dapat dibaca dalam Tafsir Al-
Qurthubi, 13/271).

Dalam kegalauan itu, Umar mengadu kepada Rasulullah
Shallallahu `Alaihi wa Sallam tentang sikap kedua Sahabat tersebut.
Maka Rasulullah menuntun Umar agar selalu berpikir positif sehingga
bisa menjalani hidup dengan legowo. Rasulullah bahkan
berdoa, “Semoga Allah akan menentukan pasangan bagi Hafshah, yang
jauh lebih dari Utsman; serta menentukan pasangan bagi Utsman, yang
jauh lebih baik dari Hafshah.”

Ternyata, tak lama setelah itu, Rasulllah menikahkan Utsman dengan
puteri beliau sendiri. Dan setelah itu, beliau pun menikahi Hafshah.
Allahumma Innî qad ballaghtu, fasyhad…!

Link yang relevan

uɐʞuǝɹǝʞ Dirimu Sobat!

Pasti deh banyak orang menginginkan bisa tampil menarik, ganteng atau cantik lalu ditaburi puja-puji dan decak kagum dari mereka yang melihatnya. Jujur kan kalo kamu juga pengen bisa tampil keren dengan wajah yang amboi dirindu banyak orang? Sampe-sampe buat kamu yang kebetulan punya wajah jenis PPD alias Pas Pasan Deh tetap ngotot pengen dipermak. Bila perlu operasi plastik. Cuma ati-ati aja, kalo salah bahan tuh muka malah jadi ember. Wakakakak… eh nggak ding. Sori buat yang ngerasa udah mirip sama ember. Hehehe.. abisnya punya wajah katanya fotogenik. Difoto dekat sumur malah jadi mirip timbaan (aduh sori, jangan bikin rusuh ya dengan candaan gue model gini!)

Bro en Sis, tampil keren dan jadi idola, atau paling nggak bisa dikenal orang lah, adalah perasaan dan cita-cita yang ada di lubuk hati kita yang paling dalam. Buktinya, banyak orang yang secara sadar akhirnya ikut berbagai macam ajang pencarian bakat dari berbagai jenis keahlian: nyanyi, nari, olah vokal, joget (lho.. lho.. kok sama aja ya? Hehehe.. harap dipersori nih yang nulis lagi ngelantur. Maklum, kalo dikejar deadline gini jadi rada-rada slebor nih nulis. Pengen cepet beres, pengen cepet ngerjain tugas yang lain. Hasilnya? Ya, kamu bisa lihat sendiri isi tulisan ini. Kalo bagus ya alhamdulillah, kalo jelek yang jangan dikritik (pletak! Hehehe.. boleh ding, silakan kritik aja selama itu bisa baik buat semuanya. Ok?)

Yup, bukti bahwa kita-kita kepengen tampil keren dan bila perlu mengundang decak kagum orang yang melihat kita, adalah kita merasa senang banget kalo dipuji orang. Ngerasa bangga en bahagia kalo sampe dinanti-nanti kehadirannya. Wuih, pokoknya jadi bintanglah. Keren kan? Langsung aja rasakan sendiri. Banyak orang pengen eksis di situs jejaring sosial macam facebook. Biar eksis rela tampil narsis. Bikin status wall yang unik-unik. Saking narsisnya kadang ngabarin (entah kepada siapa, karena mungkin temennya sih udah pada molor semua jam 12-an malam mah), bahwa dirinya tengah berada di Puncak, misalnya. Terus nulis status di wall FB gini: “@ Puncak Pass. Bakar jagung sambil ditemani kuntilanak” (hehehe ini sih dusta, Bro. Aseli).

Semua orang emang seneng kalo dihargai dan dihormati. Sebab, dalam diri manusia, siapapun dia, Allah Swt. udah ‘nancepin’ naluri mempertahankan diri. Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah gharizah al-baqa’. Penampakannya bisa dalam bentuk ingin dihargai, ingin dihormati, ingin diangap lebih, ingin dianggap paling hebat, ingin tetap eksis, ingin hidupnya nyaman, ingin memiliki kekuasaan, ingin diperhitungkan (kalo dianggap bilangan aja mah nggak mau, apalagi dijadikan ban serep, pasti ogah tujuh tanjakan!).

Bro en Sis pembaca setia gaulislam, lalu apa maksud judul gaulislam kali ini: “Kerenkan Dirimu, Sobat!”? Ya, tentu ada alasannya. Ada maksud dan tujuan. Ada targetnya juga. Begini kalo mau diceritain sih. Manusia itu memiliki sifat-sifat yang positif dan negatif dalam dirinya. Upayakan yang muncul lebih dominan adalah sisi positifnya. Sementara yang negatifnya, kita minimalisir (sebab kalo dihilangkan banget kayaknya nggak bisa dan nggak mungkin deh). Sisi positifnya apa? Banyak. Manusia bisa berbuat baik, manusia bisa pinter, bisa menghargai, bisa menghormati, bisa diajak kerjasama, bisa dibawa mikir, bisa diminta bantuan, bisa diberikan ilmu, bisa dijadikan teman berjuang, bisa semangat dan menyemangati, bisa menjadi inspirasi, dan lain sebagainya dari semua yang positif. Kenapa ini perlu diperhatikan? Karena manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dalam al-Quran Allah Swt menyebut: Laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim (sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya). Wuih.. coba deh bandingin ama makhluk hidup ciptaan Allah Swt yang lainnya. Pantas kita bersyukur, sobat. Maka, jangan sampe kita minim prestasi dan minim amaliah, apalagi lost iman. Jadi, kerenkan dirimu, sobat!

Tinggalkan dunia anak-anak, ya!

Dunia anak-anak memang lucu, karena yang ada di komunitas berbaginya itu adalah anak-anak. Lengkap dengan segala kelucuan, keluguan, kepolosan dan penuh rasa penasaran. Mimik muka yang innocent tapi asik dilihat, gaya bicara yang menggemaskan dan semua hal yang khas anak-anak. Usia mereka mulai dari kelas bayi, balita, sampe umur sepuluh tahunan atau sebelum baligh. But, gimana jadinya kalo dunia anak diisi komunitasnya oleh orang-orang bertubuh bongsor, berkumis dan berjenggot, muncul jakun, udah tumbuh bulu ketiak dan bulu-bulu lainnya di bagian tubuh tertentu? Well, itu sih bukan lucu, bisa jadi malah nyebelin. Apalagi kalo sikapnya juga childish alias kekanak-kanakan. Hadeeeuh.. yang ada bukan nyubit gemes pipinya tapi malah bisa-bisa ditampar tuh pipi kalo bandel.

Sobat muda muslim, gue kadang masih nemuin tuh ada orang yang udah usia di atas 20-an tahun tetapi sikapnya masih kayak anak-anak. Misalnya, susah diajak berdialog nyari solusi, nggak mudah menerima kritikan dan teguran (malah ngeresponnya langsung dengan cara memusuhi), nggak mudah hidup di lingkungan yang nggak nyaman buat dirinya (maka kalo berhubungan dengan orang lain dan suatu saat ada masalah di antara mereka, maka solusinya adalah meninggalkan masalah tersebut, bukan menyelesaikannya, karena dia ingin mencari kenyamanan menurut persepsinya), manja, orang seperti ini juga sering salah persepsi: kita niatnya ingin bantuin dia, eh, dia malah merespon inginnya dilindungi (waduuh! Cape deh!). Beda dong, membantu dengan melindungi. Nggak keren banget tuh!

From nothing to something

Weis.. pake bahasa negerinya Wayne Rooney segala nih nulisnya. Sip, sekali-kali boleh lah. Bukan supaya disebut keren, tapi biar kamu juga jadi tambah wawasan, meski hanya dalam istilah bahasa. Iya nggak sih?

From nothing to something secara kasarnya diterjemahkan sebagai “dari tiada menjadi ada”. Artinya pula, dari yang hanya dianggap sebagai bilangan saja kemudian menjadi diperhitungkan. Keren ya? Benar adanya Imam asy-Syafii. Beliau pernah berkomentar bahwa “Pemuda yang tidak memiliki ilmu dan ketakwaan, matinya lebih baik daripada hidupnya”. Wuih, ini sindiran telak kepada kita dari seorang ulama besar yang tentu saja ilmunya bejibun. So, hidup terasa hambar kalo cuma diisi dengan tidur, kentut, buang air besar, buang air kecil, ngupil, makan, main, beranak. Aduuh… rasanya hidup terlalu berharga kalo cuma diisi dengan hal ‘sepele’ itu aja. Hidup bukan sekadar tumbuh, tapi juga berkembang. Itu yang perlu kita perhatiin dan ingat terus dalam prinsip hidup kita.

Lihatlah, kita perlu ngiri sama orang-orang di luar Islam. Meski mereka menyandang status kafir alias tidak beriman, mereka bisa berprestasi, bisa menjadi pribadi yang hebat dalam bisnis, dalam ilmu pengetahuan, dalam jiwa sosialnya, dalam mendidik anaknya, dalam membahagiakan keluarganya, dalam mengelola harta kekayaannya. Kita pantas ngiri agar kita bisa berusaha sebaik mereka karena kita lebih hebat dalam ketaatannya kepada Allah Swt. Kita, meski tingkatan iman di antara kita berbeda-beda, tetapi insya Allah kita terselamatkan karena sudah beriman kepada Allah Swt. Berbeda dengan mereka, yang memang tidak beriman. Nah, nilai lebih inilah yang seharusnya memotivasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi orang beriman yang hebat dalam segala bidang, karena semua amal shalih kita dilandasi oleh keimanan yang utuh kepada Allah Swt. Insya Allah. Kita pasti bisa melakukannya. Siap ya.

Sementara orang-orang yang nggak beriman kepada Allah Swt., tetapi mereka diberikan kemudahan dalam rizkinya, kemudahan dalam usahanya, dan segala kenikmatan lainnya, yakinlah, bahwa itu hanyalah istidraj. Apa itu istidraj? Istidraj adalah mengulur, memberi terus menerus supaya bertambah lupa, tiap berbuat dosa ditambah dengan nikmat dan dilupakan untuk minta ampunan, kemudian dibinasakan.

Allah Swt. menjelaskan dalam firmanNya (yang artinya): “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu, mereka terdiam, berputus asa.” (QS al-An’aam [6]: 44)

Rasullulah saw. bersabda: “Apabila kamu melihat bahwa Allah Swt. memberikan nikmat kepada hambaNya yang selalu berbuat maksiat, ketahuilah bahwa orang itu telah diistidrajkan oleh Allah Swt.” (HR at-Tabrani, Ahmad dan al-Baihaqi)

Nah lho. Itu artinya, kita jangan berputus asa mencari rizki dan mengubah diri kita menjadi lebih baik, lebih keren dalam iman, ilmu dan amalnya. BTW, penjabaran detil tentang iman, ilmu, dan amal udah kita bahas lebih detil di gaulislam edisi 169 yang judulnya: “Kita Harus Kuat!” (silakan dibaca lagi ya).

Bro, ini hikmah buat kita. Gimana nggak, orang kafir yang mereka (mungkin) saja tahu bakalan dihancurkan semua yang mereka anggap keren dan membanggakan aja prestasinya banyak yang keren di segala bidang. Maka, kita harusnya lebih semangat lagi, karena semua yang kita ingin raih dan kerenkan dalam diri kita sudah dilandasi oleh keimanan. Tentu berbeda nilainya dong ya. Ayo, kita interospeksi: sudah maksimalkah usaha kita untuk membuat diri kita keren–tidak saja di keren hadapan manusia, tetapi yang utama adalah di hadapan Allah Ta’ala? Semangat Bro en Sis! Tunjukkan bahwa kita mampu menjadi sosok yang tadinya pecundang jadi pejuang dan pemenang: from zero to hero! Yup, tadinya dianggap biasa, menjadi luar biasa. Tadinya anonim menjadi nonim. From nothing to something. Keren dah! Yuk mari, kerenkan dirimu dengan ISLAM dan ajarannya yang keren punya.

Link yang relevan http://bit.ly/h2o8Fh

Sepuluh Ilmuwan Paling Gila Di Dunia

Para ilmuwan memang memiliki karakternya masing-masing. Banyak di antara mereka punya perilaku yang unik dan eksentrik–kalau tidak mau dibilang aneh. Namun, seringkali tingkah aneh itu juga disertai oleh ide-ide besar yang ‘gila’ dan liar. Dan ide-ide itu pula yang kemudian berhasil mengubah wajah dunia hingga menjadi seperti sekarang. Merangkum dari LiveScience dan Yayasan Sains, Teknologi dan Peradaban(The Foundation for Science Technology and Civilisation (FSTC) yang berpusat di London, Akhirnya saya mengambil sepuluh tokoh ilmuwan Gila baik dari barat maupun timur.

1. Albert Einsten
Urutan pertama adalah Alber Einsten, Dia memang ilmuwan selebriti yang sangat tersohor. Tak cuma terkenal dengan teori relativitas, Einstein juga memiliki kontribusi pada berbagai penelitian, mulai dari teori medan gravitasi, mekanika statistik, teori quantum, teori partikel, teori foton cahaya.
Di luar aktivitasnya sebagai peneliti, ia juga gemar mengemudikan perahu layar di laut yang tak berangin. “Hanya untuk tantangan,” katanya mengenai kegemarannya itu.

2. Leonardo d Vinci
Tak cuma lihai melukis, pencipta lukisan ‘Mona Lisa’ dan ‘Perjamuan Terakhir’ itu juga merancang berbagai ide penemuan baru. Banyak ide besutan ilmuwan Italia ini yang memang hanya sampai pada tataran konsep. Namun ada pula yang benar-benar terwujud, hingga ratusan tahun setelah masanya.
Penemuannya meliputi peralatan selam, glider untuk terbang layang, kendaraan kayu tanpa bahan bakar, hingga helikopter.

3.Abbas ibn Firnas

Dia adalah orang pertama yang mencoba membuat konstruksi sebuah pesawat terbang dan menerbangkannya. Di abad ke-9 dia mendesain sebuah perangkat sayap dan secara khusus membentuk layaknya kostum burung. Dalam percobaannya yang terkenal di Cordoba Spanyol, Firnas terbang tinggi untuk beberapa saat sebelum kemudian jatuh ke tanah dan mematahkan tulang belakangnya. Desain yang dibuatnya secara tidak terduga menjadi inspirasi bagi seniman Italia Leonardo da Vinci ratusan tahun kemudian.

4. Nikola Tesla

Tesla adalah adalah seorang jenius yang menemukan teknologi radio nirkabel dan penemu generator arus bolak-balik. Ilmuwan asal Serbia ini mendemonstrasikan transfer energi nirkabel sejak 1893. Seperti halnya seorang pesulap, Tesa juga suka mempertunjukkan penemuannya secara demonstratif. Ia suka menjadikan tubuhnya sebagai konduktor, atau bahkan mematikan saklar listrik berukuran besar di bawah guyuran hujan percikan api.

5.dokter Al Zahrawi

Sekitar tahun 1000, seorang dokter Al Zahrawi mempublikasikan 1500 halaman ensiklopedia berilustrasi tentang operasi bedah yang digunakan di Eropa sebagai referensi medis selama lebih dari 500 tahun Diantara banyak penemu, Zahrawi yang menggunakan larutan usus kucing menjadi benang jahitan, sebelum menangani operasi kedua untuk memindahkan jahitan pada luka. Dia juga yang dilaporkan melakukan operasi caesar dan menciptakan sepasang alat jepit pembedahan.

 

6. Richard Feynman
Dia adalah salah satu seorang pakar fisika jenius anggota tim Manhattan Project. Feynman menjadi salah satu ilmuwan penting abad 20, karena andilnya dalam mengembangkan bom atom. Selain oekerjaannya sebagai pakar fisika teori, Feynman juga berjasa menjadi pionir di bidang quantum computing, dan mengenalkan konsep nanoteknologi.

7. Freeman Dyson
Dia adalah pakar fisika nuklir dan penulis fiksi ilmiah terkenal. Pada 1960 dia menggelontorkan ide bahwa di masa depan, manusia musti membangun perisai artifisial untuk mengumpulkan energi surya, demi memenuhi kebutuhan energi manusia yang terus meningkat.
Ide ini dikenal sebagai teori Dyson Sphere. Dyson percaya sekali dengan adanya kehidupan ekstraterestrial dan memperkirakan manusia akan melakukan kontak dengan mereka pada beberapa dekade mendatang.

8. Robert Oppenheimer
Dia adalah kepala Proyek Manhattan, proyek pengembangan teknologi nuklir untuk perang buatan AS, sehingga kerap dijuluki sebagai ‘Bapak bom Atom’. Namun, saat bom atom AS meledak di Jepang, ia dibebani oleh perasaan bersalah dan berusaha mencoba mencegah perlombaan senjata nuklir antara AS dan Rusia.
Ia juga kerap mengutip salah satu kalimat yang tercantum dalam kitab suci Hindu Bhagawad Gita yang menggambarkan ledakan nuklir: “Bila cahaya ribuan matahari diledakkan dalam satu waktu di angkasa, maka ia akan menjadi ledakan yang mahahebat.”

9.Al-Khwarizmi

Kata aljabar berasal dari judul kitab matematikawan terkenal Persia abad ke-9 ‘Kitab al-Jabr Wal-Mugabala’, yang diterjemahkan ke dalam buku ‘The Book of Reasoning and Balancing’. Membangun akar sistem Yunani dan Hindu, aljabar adalah sistem pemersatu untuk nomor rasional, nomor tidak rasional dan gelombang magnitudo. Al-Khwarizmi juga yang pertama kali memperkenalkan konsep angka menjadi bilangan yang bisa menjadi kekuatan.

10. Wernher von Braun

Sejak usianya masih 12 tahun, von Braun suka memuati mainan mobil-mobilannya dengan petasan dan mercon dan menembakkannya ke kerumunan orang ramai di jalan. Ternyata kebiasaan kecilnya ditekuni terus hingga ia dewasa.

Ia kemudian menjadi otak di balik terciptanya roket V-2 buatan Hitler. Belakangan, ia ditawan oleh AS dan menjadi orang penting dalam proyek eksplorasi ke luar angkasa dan bulan. Tak cuma ahli di bidang peroketan, von Braun juga mendalami olahraga selam dan filsafat.

 

Rahasia Sukses George Soros

Pada akhir abad ke-20 serta memasuki awal abad ke-21 sekarang ini, publik bisnis global tak bisa mengesampingkan sosok investor dan pebisnis sukses asal Amerika Serikat (AS). Dialah George Soros. Walau badai krisis moneter menggetarkan dunia di akhir abad ke-20, Soros tak bergeming melakukan terobosan bisnisnya di berbagai wilayah benua. Demikian juga di awal abad ke-21 para investor global kelimpungan dengan resesi ekonomi yang menerpa AS, Soros tak mau takluk dengan situasi resesi. Dia terus tampil dengan ide dan gerakannya yang brilian, terkadang melampaui kebijakan ekonomi negeri Paman Sam.

Banyak karya yang dihasilkan Soros dalam mengisahkan ihwal kesuksesan yang dirainya, tetapi kisah sukses dalam soal investasi dan kecerdasan terangkum semuanya dalam bukunya bertajuk “The Alchemy of Finance: Rumus Sukses Dunia Finansial dan Investasi”. Buku ini merupakan kejutan bagi pasar dunia, karena Soros berani berbagai kisah suksesnya. Soros bersiap diri menerima tantangan dari para pesaing bisnisnya dengan melunsurnya buku ini. Bagi Soros, walaupun pesaingnya mengetahui kiat suksesnya melalui buku ini, tetapi Soros tetap yakin bahwa jalan sukses akan selalu datang dalam setiap gerak manusia yang teguh dengan konsistensi dan kreativitasnya. Soros berbagai agar publik bisnis dunia bisa keluar dari jeratan krisis moneter dan resesi ekonomi global yang terkadang bisa datang setiap saat. Dan pebisnis harus siap dengan berbagai strategi jitu yang visioner.

Bagi seorang pedagang (trader) yang menjadi matang pada paro kedua era 1970-an dan 1980-an yang penuh kehebohan, The Alchemy of Finance merupakan sebuah buku yang agakl revolusioner. Ingatlah bahwa ini merupakan periode di mana kelanjutan tren dan indeksasi merupakan sebuah mantra dalam berinvestasi. Waktu itu masa dimana analisis teknis (studi mengenai pergerakan harga sebagai alat produksi)mencapai titik tertinggi. Para pedagang generasi Soros mempersenjatai diri dengan berbagai bagan dan grafik hasil komputer yang memprediksi arah harga di masa depan.

The Alchemy of Finance merupakan kejutan tiba-tiba. Buku ini memungkinkan kita mengambil langkah maju dengan terlebih dahulu mundur selangkah, dengan maksud bahwa untuk menjelaskan berbagai peristiwa yang tampaknya begitu rumit dan memusingkan. Selama sebuah era di mana begitu banyak uang diperoleh dalam peristiwa-peristiwa mencengangkan, teori Soros ihwal refleksivitas merupakan upaya modern non-teknis pertama untuk menggambarkan dan meramalkan dinamika yang bermain di kalangan para partisan.

Di samping itu, Soros juga menggambarkan dinamika yang terjadi di jalur antara titik-titik ekstrim valuasi dan keseimbangan di pasar. Hal ini terutama penting bagi rata-rata investor. Sudah berapa kali kita mengambil keputusan tepat dengan mengambil posisi long (beli) di saat mendekati titik nadhir atau posisi short (jual) di saat mendekati titik puncak pergerakan harga? Namun, daya tahan kita dalam kedua posisi tersebut selama ini lemah (demikian juga imbal hasil kita) akibat ketiadaan pemahaman mengenai jalur pergerakan harga yang sebenarnya. Soros memberi kita pandangan kritis mengenai jalur itu dan oleh karenanya kepercayaan diri yang lebih besar dalam investasi kita. Semua itu menyumbang 70 % dari upaya investasi yang sukses.

The Alchemy of Finance bukan sekedar memberikan pedoman kisah sukses Soros, tetapi juga merekam sejarah ekonomi dan politik kontemporer yang brilian. Panduan investasi dan strategi berekonomi dia rakit dengan cerdas. Kecerdasannya terlihat karena Soros begitu mengerti dalam menjelaskan kondisi perenomian yang terakit dengan politik global. Peta politik global ia kuasasi, sehingga jurus ekonomi yang dikeluarkan tidak akan ‘melukai’ peta ekonomi yang sedang berkembang. Bahkan dia mencoba melakukan kompromi politik agar gerak ekonominya tidak bertentangan atau berseberangan dengan agenda politik global. Bukan berarti ia pragmatis ketika bersentuhan dengan peta politik, tetapi Soros membangun strategi ekonomi yang cerdas, sehingga bisa diterima semua pihak.

Keluasan pengetahuan dibarengi dengan keberanian dalam spekulasi menjadikan Soros sebagai sosok brilian yang tegar setiap menghadapi persoalan. Serumit apapun yang dihadapi, Soros tetap berusaha tenang menghadapinya, tidak tergiur oleh kriuhan suasana yang gampang menipu. Ketegaran dan ketegasannya di tengah keriuhan inilah yang menjadikannya sebagai prototipe pebisnis yang terus diamati publik. Publik bisnis, bahkan juga publik politik, selalu menunggu langkah-langkah Soros yang penuh kejutan, sehingga bisa memberi inspirasi dalam melangkah.

Bukan sekedar dunia bisnis dan politik yang kuasasi, Soros juga cerdas dalam persoalan sosial. Ia dikenal sangat peduli dengan kondisi masyarakat sekitarnya. Dengan hartanya yang melimpah, Soros dikenal sangat dermawan menyangkut persoalan sosial kemasyrakatan. Bahkan Paul Tudor menyebutnya sebagai sosok paling dermawan dalam sejarah abad ke-20. Banyak yayasan Soros dirikan dan yayasan Soros selalu membuka terobosan baru dalam melakukan rekayasa sosial. Bukan uang saja yang ia dermakan, tetapi ide cerdas dan gerakan sosial yang langsung bisa dirasakan masyarakat. Iya, Soros menjadi sebuah buku yang menarik untuk dibaca dan dikaji dengan seksama.

Oleh Muhammadun AS

Berusahalah Untuk Mengatasi Sifat Egoisme Dalam Dirimu!

Maulana Shaykh Nazim Adil Al-Haqqani qsMaulana Shaykh Nazim Adil Al-Haqqani qs
Lefke Cyprus, 10 Juni 2010

Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem.

A`udzu billahi min asy-Shaytaani ‘r-rajeem. Bismillahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Setiap manusia mempunyai sifat-sifat kebinatangan. Begitu banyak di antara kamu yang telah di kuasai oleh sifat-sifat kebinatangan. Seperti seorang anak kecil yang pergi bersama ibunya masuk ke Pasar Raya. Anak kecil itu kagum dengan beraneka jenis barang-barang mainan yang dipamerkan, dan anak kecil itu tiba tiba menangis dengan keras,”Ibu belikan aku mainan yang ini, belikan aku” anak itu menagis keras karena menginginkan sesuatu yang menarik perhatiannya, sehingga ibunya kebingungan dan panik mencoba denga berbagai upaya untuk menenangkan si anak. Si ibu itu telah di kuasai oleh tangisan anaknya tersebut.

Maka manusia adalah seperti anak kecil itu, mereka tidak dapat menguasai Ego mereka dan sifat-sifat kebinatangan dalam diri mereka, maka perilaku mereka seperti binatang. Lihatlah bagaimana seorang dewasa (si ibu) di kuasai oleh anak kecil yang menangis, sehingga dia menjadi kebingungan dan mencoba untuk menenangkan sekaligus memuaskan kehendak anak kecil tersebut. Begitu juga, akal kamu di kuasai oleh sifat-sifat liar Ego sehingga ia hanya mencari jalan untuk memuaskan nafsu egomu.

Tetapi, mereka yang mentaati orang-orang alim, maka tidak sedemikian sifat mereka, mereka dapat mengendalikan ego mereka dan mengendalikan sifat kebinatangan mereka, maka mereka adalah orang-orang yang baik. Mereka ini dapat menunggangi ego mereka dan mengarahkan kuda egonya untuk menta’ati Tuhan. Bagaimanapun kebanyakan manusia zaman ini tidak dapat mengendalikan diri mereka, mereka tidak dapat menguasai sifat binatang tunggangan mereka, sehingga mereka sebaliknya mentaati kehendak binatang tersebut.

Manusia terbagi kedalam dua golongan. Satu golongan bersifat binatang, dan satu lagi sebaliknya bersifat manusia yang baik. Golongan pertama taat kepada ego mereka, mereka hidup untuk memuaskan ego mereka. Mereka tidak memikirkan tujuan hidup mereka yang sebenarnya. Allah swt mengutus para Nabi dalam bentuk manusia, tiada yang di utus dalam bentuk malaikat. Allah mengutus Wakil2Nya dalam bentuk manusia – sehingga mereka mempunyai sifat-sifat manusia dan rupa manusia.

Mereka yang taat kepada binatang tunggangan mereka (ego mereka), selalu menentang para Nabi. Mereka selalu berkata, “Jika kamu berdkwan mengajak kami, dan kamu di utus oleh Sang Ilahi, kami tidak akan menerima haqiqat itu melainkan kamu di utus dalam bentuk malaikat. Kami tidak dapat menerima bahwa Allah mengutus manusia biasa seperti kami untuk membimbing kami.” Itulah bantahan kaum yang menta’ati ego mereka. Mereka menolak manusia yang di utus, mereka menanti malaikat untuk di utus kepada mereka.

Ummat Muhammad (saw) pun bertanya, “Mengapa Allah mengutus Nabi yang yatim? Mengapa Allah tidak memilih, sebagai manusia pilihanNya, para pemimpin Makkah dan Madina atau para Raja yang hebat?” Itulah persoalan mereka yang bermakna mereka membantah pilihan Allah, mereka memandang dari sudut yang berlainan. Mereka tidak dapat menerima bahwa seorang manusia BIASA dapat membawa risalah surgawi. Oleh sebab itu manusia sentiasa menentang para Nabi yang diutus, dan membantah ajaran2 mereka. Para Nabi datang untuk menjelaskan sifat Ego kebinatangan yang ada di dalam diri manusia, tetapi sebaliknya mereka pula di tentang dan di serang oleh Ummat mereka yang bersifat binatang dan menolak keNabian mereka.

Mereka yang membantah berkata, “Jika kamu benar-benar seorang Nabi, bawalah khazanah untuk kami, atau tunjukkan kami malaikat-malaikat disekeliling mu.” Mereka tidak memahami bahawa wakil Allah tersebut di utus untuk menyelamatkan mereka, malahan mereka menentang wakil yang dikirim Allah! Allah berfirman, “Mereka adalah seperti binatang!” Ayat ini menerangkan keadaan manusia yang menentang wakil-wakil Allah. Pemahaman ini adalah seperti perilaku seekor binatang!

Allah berfirman, “Muhammad adalah manusia yang paling mulia di sisiKU, manusia yang menentang keNabian Baginda, adalah seperti binatang.” Mereka memiliki sifat-sifat kebinatangan dalam diri mereka! Allah menujukan Ayat ini khusus kepada semua manusia yang menentang Rasulullah (saw), hingga hari qiyamat. Ayat ini menenangkan hati Nabi Muhammad (saw), bahwa mereka yang menentang Baginda Nabi Sallallahu alayhi wasalam adalah seperti binatang, maka Nabi di anjurkan supaya tidak menghiraukan perilaku buruk mereka.

Ayat ini juga ditujukan kepada semua yang menentang Nabi, bukan saja pada zaman Baginda Nabi saw, tetapi Ayat ini juga ditujukan kepada semua yang menentang Nabi Muhammad saw pada zaman2 selepas wafatnya Baginda Nabi saw. Mereka yang menentang Nabi saw maka sifat-sifat kebinatangan telah menguasaii sifat-sifat kemanusiaan dalam diri mereka.
Allah swt memberitahukan Baginda Nabi Muhammad saw, akan adanya manusia yang lebih zalim dari mereka yang menentang Nabi dalam zamannya. “Akan ada jutaan dan milyaran manusia pada masa yang akan datang, dari Ummat mu, Wahai Muhammad saw, yang akan menolak keNabian mu! Dan mereka semua berada di bawah derajat manusia yang menentang mu dalam zaman mu ini!”

Wahai ulama’ Al-Azhar, wahai salafi ulama terangkanlah Ayatul Karimah kepada semua manusia. Nasihati manusia, kerana manusia zaman ini membelakangi dan menolak ajaran Rasulullah (saw), mereka menolak ajaran surgawi, dalam kitab suci dan mereka memandang ilmu ilmiah mereka lebih hebat dari Ilmu Qur’an, sehingga mereka mengharamkan Kitab-kitab Suci dalam Universitas dan sekolah-sekolah mereka. Zaman ini, hampir semua Doktor-doktor Islam, dan para Professor, mengklaim diri mereka telah mencapai puncak ketinggian ilmu, dan mereka tidak lagi memerlukan apapun ilmu yang dikirim oleh manusia-manusia surgawi! Tetapi mereka tidak sadar bahwa derajat mereka adalah di bawah orang-orang jahil! Ummat ini sekarang berada dalam zaman KEJAHILAN, manusia tidak memandang Al-Quran lagi. Mereka menolak AL Quran! Maka tahap pemahaman manusia yang seperti ini berada di bawah tahap pemahaman binatang!

Ya karena manusia menolak Al-Qur’an, sebagai sumber dari segala ilmu dalam zaman ini, Dan mereka memakai dan mengambil pemahaman mereka dari sumber yang kotor. Maka ilmu manusia zaman ini sangat kotor dan menyesatkan manusia. Wahai Ulama, mengapa kalian para ulama tidak menerangkan semua ini kepada murid kalian? Mengapa para Doktor Syariat tidak membangkitkan pengikut mereka. Kami memerlukan orang yang dapat membangunkan Ummat ini. Kami berharap agar Allah Yang Maha Esa akan mengirimkan sebenar-benarnya ulama’, bukan ulama’-ulama palsu. Ulama’-ulama palsu hanya pandai berkata-kata, dari buku-buku yang mereka karang sendiri, dari pemahaman dari ego mereka mereka yang kotor. Ilmu mereka tidak muncul dari dalam hati mereka dengan bimbingan Ilhiah. Hati adalah pusat yang mengandungi cahaya Ilahi, cahaya itu menunjukkan kepada manusia apakah yang hitam dan apa yang putih apa yang Haqq dan apa yang Batil, apa yang benar dan apa yang salah. Maka jangan mengklaim dirimu adalah orang yang pandai dan berilmu.

Seorang Alim dari warisatul Anbiya, Mawlana Jallaudin Rumi berkata dalam kitabnya, “Fihi ma fihi”, segala yang kamu cari, berada di dalam Al-Quran, seluruh kemusykilan kamu akan terjawab, tiada yang ketinggalan dalam kitab suci Qur’an, ia adalah lautan yang mencukupi untuk kamu, ia adalah kurnia Ilahi kepada manusia. Maka para Ulama’ haruslahi berpegang kepada Al-Quran. Rasulullah (saw) adalah Guru bagi seluruh makhluk, termasuk makhluk surgawi. Hanya Baginda Nabi saw yang dapat memetik haqiqat-hakikat yang sesuai untuk mu, sehingga kamu akhirnya dapat mencapai kemuliaan yang sangat tinggi sekali.

Sebahagian manusia mempunyai sifat-sifat manusia, dan sebahagian lagi mempunyai sifat-sifat kebinatangan maka berhenti dari mengikut sifat2 binatang. Hadirlah dalam pengajian ini, dengarkanlah nasihat2 yang di berikan dan amalkan apa yang Allah swt telah kurniakan kepada mu agar kamu benar-benar menjadi manusia. Dengar dan belajar dan keluarkan dan bersihkan diri dari berperangai seperti binatang, cobalah dan berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan diri agar menjadi manusia yang sebenarnya.

Ya Allah, ampunilah kami, demi kemulian Nabi Muhammad (saw), kirimkan lah kepada kami pemimpin yang akan membawa kefahaman kepada dunia Islam dan juga kepada orang-orang kafir juga, karena hal ini adalah sesuatu yang amat bermanfaat bagi dunia ini. Kami berada dalam zaman yang kacau balau, kerana manusia tidak mahu meninggalkan sifat2 dan tingkah laku kebinatangan mereka, mereka menghancurkan dan membinasakan segalanya, mereka tidak mau membersihkan sifat2 kebinatangan dari diri mereka, untuk menjadi manusia sebenarnya. Mereka yang membuat kehancuran di atas muka bumi ini, maka mereka akan di lenyapkan oleh Allah swt. Semoga Allah melindungi kami.

Fatihah.

Wa min Allah at Tawfiq.

Sumber Tulisan

Lihat Videonya di sini

Black Hole Dalam Alquran

Oleh Dr. Mohamad Daudah

Barangkali penemuan kosmologi modern terpenting adalah apa yang disebut Black Hole (Lobang Hitam) yang menunjuk kepada bintang-bintang yang sangat berat massanya. Bintang merupakan entitas yang melewati fase pembentukan, kemudian ia membesar dan berkembang hingga sampai fase kematian. Nah, Black Hole itu berada pada fase terakhir. Ketika volume bintang itu berkembang dengan skala yang besar, maka gravitasinya meningkat hingga batas-batas yang sangat besar, sehingga ia menarik segala sesuatu, hingga cahaya tidak bisa terlepas dari gravitasnya yang besar.

Karena itu, kita tidak mungkin melihat benda ini selama-lamanya karena ia sangat terssaljuyi. Dan karena itulah ia disebut Black Hole. Para ilmuwan menyatakan bahwa benda ini berjalan di alam semesta dengan kecepatan yang tinggi dan menarik setiap benda yang mendekatinya. Seandainya kita meminta para astronom untuk mendefinisikan mahluk yang menakjubkan ini secara ilmiah dan sesuai dengan penemuan mereka yang paling baru, maka mereka akan mengatakan:

1. Black Hole adalah bintang yang berat massanya dan terssaljuyi sehingga tidak bisa dilihat. 2. Makhluk ini berjalan dengan kecepatan mencapai puluhan ribu kilometer per detik. 3. Black Hole menarik, menekan, dan membersihkan setiap sesuatu yang ditemuinya dalam perjalanannya.

Nah, sekarang kita merujuk kepada isyarat al-Qur’an mengenai benda tersebut. Allah berfirman yang makna harfiahnya sebagai berikut, ‘Maka aku bersumpah dengan khunnas, yang berjalan lagi menyapu.’ (at-Takwir: 15-16)

Mari kita cermati maknanya dan sejauh mana kesesuaiannya dengan data-data sain modern.

Kata khunnas berarti sesuatu yang tidak terlihat selama-lamanya. Kata ini terbentuk dari kata khanasa yang berarti terssaljuyi. Karena itu, setan dalam surat an-Nas disebut khannas karena ia tidak terlihat. Kata al-jawari berarti yang berjalan atau berlari. Dan kata al-khunnas terambil dari kata kanasa yang berarti menarik sesuatu yang dekat dan menghimpun kepada dirinya dengan kuat. Dan inilah yang benar-benar terjadi pada Black Hole, tepat seperti yang dibicarakan al-Qur’an.

Al-Qur’an Mengungguli Astronom

Sain menyebut benda ini dengan Black Hole, tetapi penamaan ini tidak tepat. Karena istilah ‘Hole’ berarti kosong, dan itu sama sekali berlawanan dengan bintang-bintang yang memiliki massa yang berat sekali. Dan kata ‘Black’ juga tidak tepat secara ilmiah, karena benda ini tidak memiliki warna, karena ia tidak mengeluarkan suatu cahaya yang bisa dilihat.

Karena itu, kata khunnas adalah kata yang mendeskripsikan hakikat makhluk tersebut secara tepat. Dan kata khunnas yang berarti menyapu itu kita temukan di akhir artikel-artikel ilmiah tentang makhluk ini. Bahkan para ilmuwan menyatakan, ‘Benda itu menyapu ruang angkasa.’

Gambar di atas menunjukkan letupan suatu bintang karena kehabisan seluruh bahan bakarnya, dan ia mulai membentuk Black Hole (khunnas), karena energi pada bintang ini tidak lagi cukup baginya untuk eksis sebagai bintang. Inilah yang mengakibatkan bintang itu memudar dan meningkat gravitasinya. Dan karena itu al-Qur’an menyebut benda ini dengan kata al-jawari al-khunnas yang berarti yang berjalan dan berlari.

Fakta dan Angka

Mengenai bobotnya, Black Hole seberat bumi itu diameternya kurang dari satu sentimeter saja! Dan Black Hole seberat matahari itu diamenternya hanya 3 km. Subhanallah!

Black Hole ukuran sedang itu beratnya 10.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 kilogram, atau 10 pangkat 31, dengan diameter 30 km saja. Ada banyak Black Hole di pusat galaksi kita dan galaksi-galaksi lain, dan satunya memiliki berat jutaan kali berat matahari.

Bagaimana Ilmuan Melihat Benda ini?

Bagaimana ia bisa dilihat sedangkan ia tidak mengeluarkan pancaran cahaya? Muncul pemikiran dari seorang peneliti bahwa Black Hole itu memiliki ukuran tertentu, dan ia berjalan di ruang angkasa. Ia pasti akan lewat di depan sebuah bintang sehingga cahayanya tertutup dari kita, seperti kejadian gerhana matahari. Setelah ide itu dilaksanakan dan terbukti benar, maka para ilmuwan sepakat bahwa cahaya bintang tersebut tertutup karena lewatnya Black Hole, sehingga mengakibatkan tertutupnya pancaran cahaya yang bersumber dari bintang tersebut. Hal itu terjadi selama jangka waktu tertentu, kemudian bintang tersebut kembali menunjukkan sinarnya.

Sumber : http://www.eramuslim.com/
Ilustrasisi Video : What’s Inside a Black Hole?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.